Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Selamat


__ADS_3

Begitu Yacht yang mereka tumpangi hampir tiba di pelabuhan yang ada di pusat kota, Nico kembali masuk ke dalam ruangan dimana Gloria berada. Ia benar-benar akan menepati janjinya, ia akan melepaskan Gloria untuk keluar dari Yacht tanpa kecurigaan siapapun.


Beberapa orang yang ikut dalam Yacht pribadi itu tampak lengah dan sibuk dengan diri mereka masing-masing karena sebentar lagi Yacht akan bersandar di bibir pantai. Disaat itulah Nico membawa Gloria ke sisi lain Yacht yang justru membuat Gloria keheranan.


"Kenapa kita malah ke belakang? Pintu keluarnya disana," protes Gloria.


"Jika melewati pintu itu kau akan tertangkap oleh mereka. Aku sudah berjanji akan melepaskanmu, kau sudah membayarku, kan? Jadi, percaya saja padaku."


Gloria mengangguk patuh, entah karena masih terhipnotis dengan aura pria yang ia yakini sebagai suaminya ini, atau justru ia memang sepercaya itu dengan Nico. Entahlah.


Nico mengambil sebuah pelampung yang tergantung, memakaikan itu ke tubuh Gloria dengan gerakan yang sangat cekatan.


"Lompatlah," kata Nico meminta Gloria melompat dari atas Yacht ke dalam laut setelah pelampung terpasang sempurna ditubuh sang wanita.


"Aku tidak bisa." Gloria gelagapan mendengar perintah itu. Tak pernah menduga jika Nico akan memintanya melakukan hal yang termasuk ekstrim baginya ini.


"Naik ke pembatas, lalu lompatlah!" perintah Nico sekali lagi.


Gloria menggeleng. Ia tak berani, ia tak memiliki kemampuan berenang yang mumpuni. Terlebih, air dibawah sana tampak sangat dingin.


"Kau tidak akan tenggelam. Aku menjamin itu!"


Sekali lagi Gloria menggeleng cepat. Nico berdecak lidah dan mendekat pada wanita itu, memojokkan Gloria sampai ke pagar pembatas Yacht, membuat posisi mereka sangat dekat satu sama lain.


Gloria menatap mata Nico bergantian dengan menatap ke bawah sana. Ia yakin Nico tak mungkin membahayakannya. Entah kenapa ia tak ragu mengelus rahang kokoh milik pria itu. Nico memejam sesaat demi merasakan sentuhan Gloria di sisi wajahnya, namun kemudian dia angkat bicara.


"Sebentar lagi Yacht akan bersandar dan berhenti. Kau tidak bisa lari jika semua pengawal itu menemukanmu masih berada disini," kata Nico menekankan kata-katanya.


Nico menyempatkan untuk mengambil jemari Gloria yang masih berada di sisi wajahnya, kemudian mengecup singkat telapak tangan wanita itu.


"Aku sudah memikirkan keselamatanmu. Melompatlah sesegera mungkin!" katanya.


Gloria tercekat dan menelan saliva dengan berat. Ia takut, tapi perlakuan pria ini membuatnya terbuai, belum lagi kata-katanya, Gloria memang harus memikirkan keselamatan dirinya.


"Ba--baiklah," jawabnya agak ragu. Ia mulai memanjat pagar pembatas Yacht, namun sesekali melirik Nico yang masih memandanginya dengan lekat.


"Aku takut!" seru Gloria dengan suara bergetar saat ia sudah berhenti memanjat dengan posisi yang lebih tinggi sekarang, membuatnya semakin gamang


Dari posisinya, Nico kembali memegangi pergelangan tangan Gloria sambil mengadah pada wanita itu.


"Cepatlah! Kau pasti bisa melakukannya," ujar Nico kembali meyakinkan dan menatap dalam ke netra Gloria. Nada suaranya mendesak Gloria untuk segera melakukan itu.


Akhirnya, Gloria mengangguk singkat sembari menarik nafas dalam.


Saat seruan pengemudi Yacht terdengar melalui pengeras suara untuk menyatakan bahwa sebentar lagi Yacht akan tiba di pelabuhan, saat itu jualah Gloria melompat ke dalam air lalu menceburkan diri.


______

__ADS_1


"Gloria ...."


Sayup-sayup Gloria mendengar namanya diserukan oleh seseorang. Ia mengerjap pelan hingga akhirnya benar-benar membuka matanya dengan lebar.


"Oxela?" Gloria terkesiap dan langsung terduduk. Ia mengucek matanya beberapa kali sebab mengira ia tengah bermimpi sedang bertemu Oxela sekarang.


"Ya Tuhan, aku merindukanmu...." Oxela segera memeluk tubuh Gloria yang terasa masih belum sadar sepenuhnya. Namun, ia membalas juga pelukan hangat yang diberikan adik iparnya itu.


Pelukan terlerai dan disitulah Gloria sadar bahwa mata Oxela telah basah dengan airmata.


"Maafkan aku, waktu itu membiarkanmu pergi bersama Sean karena kami tak punya pilihan lain."


"Tak apa, lagi pula Sean benar-benar menjagaku," jawab Gloria jujur.


"Ya, tapi cepat atau lambat kau harus pergi darinya karena kita tidak tahu apa rencana Sean selanjutnya. Aku tidak bisa membayangkan jika akhirnya dia menyerahkanmu pada Paman Markus."


Gloria menggeleng. "Sean tidak mungkin melakukan itu, dia benar-benar melindungiku dan takut aku ditemukan oleh anak buah ayahnya."


"Benarkah?" Oxela menatap Gloria seolah tak percaya dengan ucapan yang Gloria jelaskan.


"Ya," kata Gloria tak menjelaskan alasan sesungguhnya-- bahwa Sean memang takut kehilangannya karena merasa telah memiliki Gloria sekarang.


"Baguslah," kata Oxela sembari bernafas lega. "Kau pasti lapar, aku akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan makan malammu."


Oxela bangkit namun Gloria menangkap lengan wanita itu dengan cepat.


"Jangan banyak berpikir, kau harus memikirkan kesehatanmu lebih dulu karena dokter mengatakan tekanan darahmu sangat rendah," potong Oxela cepat.


Setelah mengucapkan itu Oxela berlalu menuju pintu keluar.


Gloria masih menatap ke penjuru ruangan, ia tak mengenali tempat yang sekarang ia naungi. Ini bukan kamarnya saat dulu tinggal di Mansion suaminya. Lalu, dimana dia sekarang? Kenapa pula bisa bersama Oxela?


Gloria memijat pelipisnya yang terasa nyeri, tapi ia berusaha mengingat momen pelariannya dari atas Yacht.


Sesaat setelah melompat, Gloria merasa terombang - ambing didalam air laut. Namun itu tak berlangsung lama sebab, kekalutan dan rasa ketakutan langsung mendominasi diri sehingga menyebabkannya tak sadar apapun lagi. Mungkin ia pingsan.


Tapi, setelah sadar, kenapa ia sudah berada di kamar ini dan bersama Oxela. Ada apa sebenarnya?


Gloria menelisik kearah dirinya sendiri, pakaiannya juga sudah berganti, tentu saja.


Kepalanya masih terasa berat, tapi Gloria memaksakan bangkit dari posisinya untuk mencapai pintu.


"Ya, dia sudah baik-baik saja. Sekarang aku memintanya untuk makan malam."


Suara Oxela yang sepertinya tengah menerima panggilan seluler itu-- terdengar di indera pendengaran Gloria, membuat rasa penasarannya tergelitik ingin tahu.


"Iya, baiklah.... aku akan meneleponmu lagi nanti." Saat mengatakan itu, rupanya Oxela mendapati bayangan Gloria yang sudah membuka pintu kamar dan tengah menatapnya, ia segera menyudahi pembicaraannya lewat sambungan ponsel itu.

__ADS_1


"Gloria ...." Oxela menghampiri Gloria dan tersenyum hangat. "Sebentar ya, pelayan sudah akan kesini mengantar makananmu."


Gloria mengangguk singkat.


"Sudah, kembalilah ke kamar. Kau harus banyak istirahat."


Gloria diam, pikirannya merasa ada sesuatu yang Oxela tutupi darinya.


"Tadi .... kau menelepon siapa?" tanya Gloria hati-hati.


"Oh, itu tadi Jade. Aku mengatakan padanya kau sudah ditemukan. Dia memintaku menjagamu dengan baik karena Jade sedang di luar kota sekarang."


Rasa penasaran Gloria akhirnya terjawab. Tapi, ada satu hal yang belum ia dapatkan jawabannya sampai saat ini.


"Bisakah aku tahu kenapa aku bisa bersamamu disini?"


Oxela terdiam, seperti menimbang-nimbang jawaban. Tapi, sesaat kemudian wanita itu angkat suara.


"Seseorang menemukanmu di bibir pantai, kebetulan Jared berada disana, ia mengatakan bahwa kau adalah kerabatnya lalu langsung membawamu pulang kesini," jelas Oxela.


Entah kenapa Gloria tak merasa puas akan jawaban yang Oxela berikan. Tapi, ia tak mungkin curiga pada adik iparnya sendiri, bukan?


"Lalu, ini dimana?"


"Ini Mansion Jade. Aku tinggal disini sejak menikah dengannya. Aku tidak mungkin membawamu pulang ke Mansion lama, sebab keadaan disana sekarang sudah dikuasai oleh Paman Markus."


"Kau tidak usah cemas tinggal disini, Gloria. Mansion ini dijaga ketat dan Paman Markus beserta antek-anteknya tidak mungkin berani mengganggu kediaman ini," imbuh Oxela.


"Baiklah, tapi ...." Gloria ragu mengutarakan kalimatnya.


"Kenapa?"


"Apa kau tahu kabar mengenai Jeff dan Owen?"


Oxela menatap sendu pada Gloria, kemudian dia menggeleng lemah.


"Sejujurnya aku tidak mau membahas hal ini karena ini akan membuatku kembali bersedih."


Gloria terdiam mendengar ujaran Oxela. Tak lama pelayan yang mengantar makan malam Gloria tiba dihadapan keduanya.


"Maaf nyonya, agak sedikit terlambat karena bubur dan sup-nya baru saja matang." Pelayan itu menunduk hormat dan sungkan didepan Oxela dan Gloria.


"Tidak apa," kata Oxela pelan, kemudian beralih menatap Gloria.


"Makanlah, lalu beristirahatlah.... jangan memikirkan hal berat, yang terpenting kau sudah kembali bersama kami disini," ujarnya sembari mengelus pundak Gloria beberapa kali.


*****

__ADS_1


__ADS_2