
"Dimana Gloria? Dia harus segera pergi dari sini secepatnya!" kata sosok itu.
Sosok yang tak lain adalah Sean itu berbicara dengan intonasi tinggi dan tak sabar.
"Tuan Sean, tolong jelaskan apa maksudmu?" tanya Jared tak mengerti.
"Ini semua berawal dari kesalahanku... ah, lupakan hal itu. Sudah ku katakan pada Owen, bahwa Ayahku semakin hari semakin kejam dan berambisi. Dia akan menghabisi Owen atau entahlah, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada Owen. Aku kesini hanya ingin memberi Gloria peringatan sebab Ayahku menyuruh orang-orangnya untuk menghabisi Gloria!"
Jared dan Jade terbelalak mendengar hal itu.
"Gloria tidak bersalah, bahkan dia tidak mengetahui permasalahan diantara kalian!" kata Jade tak terima dengan hal ini.
"Benar, tapi Ayahku menganggap Gloria semacam hambatan dalam hidup Owen. Cinta membuat Owen lemah dan tidak bisa mengambil keputusan!"
"Bagaimana dengan Jeff?" tanya Jade.
"Tadi aku berniat membawanya, tapi itu sangat sulit sebab penjagaan ada dimana-mana."
"Jangan buang waktu, bantulah Gloria melarikan diri," tambah Sean.
Jared berpikir sejenak, kemudian menatap Jade seolah meminta jawaban.
"Nyonya Gloria syok karena Tuan Zwart tidak ikut pulang bersamaku," kata Jared memulai.
"Lalu?" Sean mengernyit heran.
"Aku tidak tahu harus mempercayaimu atau tidak, Tuan Sean!" senggak Jared.
Sean tertawa sumbang. Entah kenapa ucapan Jared seakan menamparnya. Ia memang penuh tipu muslihat, tapi ia sendiri juga tertipu oleh keputusan ayahnya yang menikam Owen padahal itu tidak ada dalam rencana mereka.
"Aku tidak mungkin bermain-main mengenai nyawa orang lain."
Jared berdecak sekilas. Ia mengingat ucapan Richard yang mengatakan bahwa jikapun nanti akan bertemu Owen kembali, dapat dipastikan jika Owen tak akan mengenalinya.
__ADS_1
"Sekarang katakan, apa Owen masih hidup?" cecar Jade ikut menimpali.
"Ku rasa saat ini dia masih hidup. Tapi, Ayahku memiliki 1001 cara untuk melumpuhkan orang-orang yang menghambat jalannya. Bisa saja hari ini dia berkata A besok sudah berganti Z. Bisa saja dia mengatakan membiarkan Owen tetap hidup tapi keesokan hari kita sudah melihat mayat sepupuku. Aku tidak bisa menduga pemikiran kolot pria tua itu!" kata Sean.
"Apa maksudmu?"
Suara itu membuat ketiganya menoleh. Gloria berdiri disana sambil menatap tajam pada Sean dari posisinya.
"Apa maksudmu tentang melihat Owen hidup dan besoknya melihat mayat? Mayat siapa?" tanya Gloria lagi sambil berjalan mendekat. Ternyata ia tak benar-benar tenang saat kembali ke kamarnya. Sehingga ia memutuskan untuk kembali menunggu Owen di ruang tamu. Tapi nyatanya ia malah mendengar percakapan antara Jade, Jared dan Sean yang ambigu.
"Gloria, bersiaplah! Aku akan membantumu melarikan diri!" kata Sean dengan argumennya, tak menjawab pertanyaan yang diberikan Gloria.
Gloria menggeleng keras. "Tidak! Untuk apa aku melarikan diri? Untuk apa aku percaya padamu!" tukasnya.
"Gloria! Aku tahu aku sempat menipu Owen. Tapi kali ini percayalah padaku. Aku tidak mau kau mati sia-sia!" kata Sean bersikukuh.
"Aku tidak paham apa maksudmu! Apa kau mengajakku kabur bersamamu, begitu?"
Sean mengangguk mantap. Jared menggeleng pertanda tak menyetujui saran itu sebab diapun tidak mempercayai ucapan Sean.
"Aku tidak tahu kenapa kau bersikeras melindungi ku? Kau hanya ingin menjebakku seperti kau menjebak suamiku, bukan?" kata Gloria geram. Ia mengepalkan tangannya, sebab ia dendam pada ulah Sean yang menyebabkan Jeff belum kembali sampai saat ini.
"Maafkan aku, Glo! Niatku kesini hanya melindungi mu. Terserah kau percaya atau tidak, tapi segeralah bersiap. Aku menunggumu disini. Tidak banyak waktu lagi!" desak Sean.
______
Gloria yang merasa kehidupannya bagai di jungkir balikkan, mau tak mau menyiapkan semua barangnya ke dalam satu koper berukuran sedang.
Gloria memang berkemas dan memutuskan untuk pergi, tapi bukan untuk ikut dengan Sean. Ia tak percaya pada pemuda itu. Ia akan pergi sendiri tanpa Sean. Semata-mata untuk waspada jika yang diucapkan Sean benar adanya bahwa nyawanya sedang terancam.
Sekalipun Gloria tak pernah menyangka, jika kehidupannya akan menjadi kacau balau dan terteror seperti ini. Ini semua karena ia memutuskan menikah dengan seorang Owen Zwart. Tapi, ia tak pernah menyesali keputusan itu sebab cintanya memang terlalu dalam untuk pria itu.
Gloria merasa belum bisa pergi sekarang sebab ia masih meyakini jika Owen dan Jeff akan kembali.
__ADS_1
Namun, sesaat setelah pikiran itu terlintas, ia mendengar suara keributan di lantai bawah.
Bahkan suara tembakan terdengar nyaring membuat kedua bola mata Gloria membulat sempurna. Ia sadar jika kini ia harus segera menyelamatkan dirinya.
"Owen, Jeff...." Kedua nama itu berulang kali disebut Gloria saat ia kalut hendak mencari jalan keluar dari dalam kamarnya.
Suara gedoran pintu membuat Gloria terkesiap. Sesaat kemudian pintu itu terdobrak dari luar, Gloria meringkuk disudut kamar bersebelahan dengan sebuah koper yang penuh dengan barang berharga miliknya.
"Ayo cepat kita pergi!"
Gloria mengadah, itu adalah Sean yang mengulurkan tangan kearahnya. Gloria menggeleng keras pertanda menolak. Ia ragu untuk mengikuti saran pria itu agar pergi bersama.
Namun sesaat kemudian Sean menyemprotkan sesuatu kedepan wajah Gloria. Gloria sempat bersin sesaat, sampai akhirnya limbung dan tak sadarkan diri.
Sean memanggul tubuh Gloria dipundaknya. Menyeret koper dan membawa itu keluar dari jalan yang paling aman sebab sebagian anak buah ayahnya telah tiba di Mansion Owen untuk menjemput dan mengeksekusi Gloria yang tak bersalah.
_____
"Dimana Gloria?" pekik seorang pria bertubuh jangkung. Pelayan yang berada di Mansion berlarian dan menghambur ketakutan, sebab kejadian ini bukan hanya mengejutkan mereka tetapi membuat mereka panik ingin ikut melarikan diri.
"Nyonya Gloria ada di kamarnya, di lantai 2," jawab seorang pelayan yang ditodongkan pistol dekat kepalanya. Mau tak mau ia pun menjawab jujur.
Jade, Oxela dan Jared sudah keluar dari Mansion ketika mendengar suara iringan mobil yang memasuki pekarangan rumah. Mereka keluar lewat pintu belakang, memasuki paviliun belakang dan disana menemukan sebuah jalan kecil yang ditutupi semak belukar. Itu adalah tempat persembunyian Oxela saat kecil, ketika mendiang Ayahnya kedatangan tamu yang menurut pandangan mata kecilnya-- berpenampilan menakutkan.
Mereka berhasil keluar dari Mansion dengan keadaan berjalan kaki. Jade segera menghubungi sopir untuk menjemputnya disisi jalan.
Sementara itu, Gloria yang tak sadarkan diri, dibawa oleh Sean menuju sebuah pintu rahasia yang menyambungkan dengan sebuah ruang bawah tanah. Mereka masih terjebak di dalam Mansion sebab penolakan Gloria menyebabkan mereka kehabisan waktu untuk kabur dengan cepat.
Didalam ruangan bawah tanah itu, Sean membuka koper Gloria, mencari sesuatu disana. Ia mengeluarkan jaket milik Gloria dan memakaikan itu pada tubuh sang wanita.
Ia menatap Gloria yang belum sadarkan diri, ia terpaksa memberi Gloria semprotan bius untuk membuat Gloria pingsan sementara, sebab ia tak mau beradu argumen dengan penolakan Gloria.
”Kau tahu, aku benar-benar menyalahkan diriku atas kejadian ini. Semua ini karena aku. Aku yang membuat Owen terlibat kembali.... untuk itu, aku akan bertanggung jawab terhadap hidupmu," tekan Sean menatap Gloria yang tidak berdaya.
__ADS_1
*****