Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Ingin mengendalikan


__ADS_3

Saat Gloria keluar dari kamar mandi, Owen tidak berada dalam ruang kamar. Kemana pria itu? Gloria menghela nafas panjang dan memutuskan untuk mengenakan pakaiannya sambil menunggu Owen kembali.


Owen membuka pintu kamar saat Gloria sudah terbaring diatas ranjang sambil menonton televisi. Wanita itu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Darimana?" tanya Gloria pada pria itu.


"Menerima telepon," jawab Owen sekenanya.


"Kenapa harus diluar?" Mata Gloria memicing penuh rasa ingin tahu. Bukankah jika menelpon bisa didalam kamar saja?


Owen tak menjawab pertanyaan Gloria, ia hanya mengendikkan bahu cuek. Kemudian berjalan pelan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual pembersihan diri.


Gloria memandangi punggung suaminya yang berlalu, entah kenapa perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tengah disembunyikan Owen darinya. Sikap sang suami mendadak misterius seolah ia tak boleh mengetahui suatu hal itu. Entahlah, tapi batin Gloria mencoba menepis segala pemikiran itu sebab ia tak mau merusak momen bulan madu mereka.


Sepuluh menit berlalu, Owen sudah selesai dengan acara mandinya. Ia keluar hanya mengenakan secarik handuk saja.


Seperti janjinya pada Owen, Gloria memberanikan diri menghampiri pria itu. Ia akan berusaha lebih aktif, menggoda suaminya.


_____


Owen terkesima melihat Gloria yang mulai berjalan perlahan kearahnya. Masalahnya, ternyata wanitanya hanya mengenakan lingerie transparan berwarna hitam. Membuatnya tersenyum smirk karena gerakan Gloria ini bagai tayangan slow motion yang menaikkan bi rahinya seketika.


Ia baru menyadari jika sejak tadi, Gloria sengaja menutupi hal ini dibalik selimut tebal yang dikenakan diatas tempat tidur.


Ia hanya berdiri mematung, menikmati kala Gloria semakin mendekat, membelai wajahnya yang penuh has rat. Jemari lentik itu menyusuri dahi, tulang hidung hingga ke rahangnya yang kokoh.


Dengan gerakan sigap, ia meraih tengkuk Gloria dan ingin menyatukan bibir mereka namun tanpa pernah disangkanya, wanita itu justru menghindar.


Gloria tampak menggeleng pelan. "Jangan terburu-buru, nikmatilah.... aku yang akan memimpin kali ini, jadi biarkan aku yang mengendalikanmu," bisik istrinya sen sual-- tepat didepan wajahnya.


Seketika ia merasa takjub dan mere mang, benarkah Gloria yang akan mengendalikannya malam ini? Rasanya tidak sabar berada dalam kendali wanita ini. Ia tak menjawab, diam, dan memilih mengikuti saran Gloria untuk menikmati.


Sekarang, jemari lentik itu mulai bergerilya diatas dadanya, mengelus dan seolah menggambar sebuah lukisan abstrak disana dengan sentuhan telunjuknya. Membuatnya mendesis tertahan. Ia semakin penasaran, apalagi itikad yang akan dilakukan Gloria selanjutnya.


Jika istrinya ini tak memiliki inisiatif, maka jangan salahkan jika ia yang kembali memegang kendali untuk memulai segalanya, sebab ia merasa tak sabar dengan perlakuan Gloria yang sangat perlahan-lahan. Ia ingin segera, karena sesuatu dibawah sana sudah on fire dan siap menjelajah sekarang juga.


Gloria menatapnya intens, ia membalas tatapan itu dengan tak kalah dalam. Pandangan mata yang bertemu seolah mengisyaratkan cinta yang begitu besar. Membelai pundaknya yang te lanj ang, kemudian mengalungkan kedua lengan dilehernya.


Untuk pertama kalinya, Gloria yang lebih dulu melabuhkan ciuman di bibirnya. Mengecupnya pelan, mencoba menggodanya dengan gigitan kecil yang menuntut balas.


Oke, ia menyerah dan tergoda. Ia membalas ciuman itu dengan rasa tidak sabar. Saling berbagi saliva, mengeksplor lebih dalam penuh tuntutan lebih.


Gai rah itu sudah membara, berkejaran dengan has rat luar biasa yang berpadu menjadi satu, saat kemudian tangan Gloria nakal menarik handuknya.


Ia tak peduli, ini yang ia nantikan. Ia ingin menyentuh dua buah sin tal yang menggoda dibalik baju tipis Gloria, namun lagi-lagi Gloria menahannya. Entah apa maksudnya, Gloria justru tersenyum penuh arti sambil membisikkan kalimat yang membuatnya tak habis pikir.


"Jangan menyentuhku, biarkan aku yang menyentuhmu!"


Sepertinya, Gloria mau menyiksanya. Mana mungkin ia bisa mengabulkan permintaan wanita itu, sedang didepan matanya ada sesuatu yang seakan menggoda untuk ia ja mah.


"No!" kata Gloria saat ia mencoba menyentuh bo kong padat istrinya. Ia mendengkus tertahan. Apalagi saat Gloria justru beringsut menjauh entah mengambil apa.

__ADS_1


Semenit kemudian, wanita itu kembali dengan sebuah dasi miliknya.


"Untuk apa?" tanyanya dengan suara serak menahan sesuatu yang belum tersalurkan.


Gloria tak menjawab, justru menarik kedua tangannya dan menyimpul dasi itu disana. Sialan, Gloria mengikat tangannya.


"Honey, apa yang kau lakukan?"


"Biarkan aku menghukummu!" kata Gloria tertawa pelan.


"Oh, come on.... jangan siksa aku seperti ini. Biarkan aku menyentuhmu juga!"


Gloria menggeleng dan ternyata sudah selesai dengan ikatan ditangannya. Oke, ia memilih kembali menikmati saja sensasi baru ini meski ini cukup menyiksanya.


Ia pikir Gloria akan menciumnya lagi, namun sayang, tak sesuai harapan, istrinya malah bersimpuh didepan tubuhnya yang polos. Sekarang, ia semakin tidak tahan karena Gloria tengah menatapi miliknya yang sudah on fire sejak tadi.


"Baby, apa yang kau la---" Ucapannya terhenti, berubah menjadi era ngan saat Gloria justru meng ulum miliknya didalam mulut wanita itu. Ia menggeleng tak percaya dengan tindakan Gloria.


Hah, apa istrinya baru saja menonton film biru? Perbuatan Gloria diluar prediksinya tapi ia menikmati ini, rasanya benar-benar berbeda.


"Akh.... Gloria," ucapnya kembali menge rang saat Gloria m e n j i l a t n ya bagai memakan ice cream.


Gloria menatapnya dari bawah sana, membuatnya yang juga tengah melihat ulah istrinya itu menjadi serba salah.


"Bagaimana rasanya?" tanyanya penasaran.


"Good...." kata Gloria susah payah karena tidak melepaskan kegiatan barunya itu.


"Bisakah kau buka simpul dasi di tanganku?"


Gloria menghentikan aktifitas sejenak, menatapnya dengan tatapan berkabut. "Kenapa?" tanya wanita itu.


"Aku sangat ingin menyentuhmu," katanya memelas.


"Memohonlah," ucap Gloria seolah sengaja mempermainkannya kali ini. Ia bahkan melihat kilatan licik dimata wanita itu.


"Hah!" Ia mendengkus pelan. "Please...." ucapnya benar-benar memohon dan jika ikatan ini benar-benar terbuka maka tiada ampun bagi istrinya yang licik ini.


"Coba ulangi lagi," ucap Gloria menggigit bibir.


"Please, ku mohon...."


Gloria pun berdiri, namun tangan wanita itu masih saja memegang miliknya yang me ne gang.


Dengan tak rela, Gloria akhirnya melepaskan tangannya dari ikatan.


Hah, akhirnya ikatan tangannya terlepas juga.


Oke, kini gilirannya.


Ia menatap Gloria dengan tatapan sangat lapar. Ia adalah singa dan Gloria ada mangsa. Gloria santapannya kali ini. Secara harfiah, tidak akan ada mangsa yang bisa lepas dari terkaman singa kelaparan seperti dirinya. Apalagi Gloria telah memberinya umpan sejak tadi, sehingga dengan sikap tak sabar ia yang akan membalik keadaan. Menjadi pemegang kendali.

__ADS_1


"Owen..." Benar saja, wanita itu langsung protes kala ia mengangkatnya ala bridal style. "Apa yang kau lakukan?" tanya Gloria panik, sebab melihat kabut ga irah diwajahnya yang pasti sangat terpampang jelas.


"Mau membantingmu di atas ra n jang!" ucapnya random.


Gloria memejamkan mata saat ia berlagak ingin mencampakkan wanita itu. Sayangnya, meski ia dikejar has rat yang menggebu, namun tak mungkin ia benar-benar membanting istrinya meski hanya ke atas tempat tidur.


Ia meletakkan tubuh Gloria dengan perlahan, membuat mata wanita itu mengerjap keheranan.


Saat Gloria hendak bicara, ia segera menyumpal bibir Gloria dengan ciumannya. Melakukan yang sejak tadi tak ia lakukan karena tangan yang terikat, ia mulai me re mas dan me milin benda kenyal milik istrinya.


Sekarang baru benar, Gloria berada dibawah kendalinya dan kungkungannya. Mendengar des ahan dari wanita itu, saat jarinya menyelip masuk ke lu bang surgawi dibawah sana.


"O...wen...." Suara Gloria terputus-putus menyebut namanya berulang kali.


"Kau sudah sangat siap, aku akan masuk!" ucapnya tanpa basa-basi.


Gloria tak menjawab, namun membentangkan kaki selebar mungkin, memberinya akses untuk masuk.


"I'm coming, baby....."


Ia merasakan jika Gloria terkesiap sesaat, kemudian mulai mengikuti ritme yang ia lakukan.


"Akh... Akh..."


Suara mereka bersahut-sahutan, saling berlomba mengejar puncak yang paling tinggi.


Beberapa saat memacu, ia merasakan istrinya akan segera keluar. Sesuatu terasa sangat menjepit dibawah sana.


"A-ku akan sam...pai," ucap Gloria ngos-ngosan.


Ia pun semakin menghujamkan miliknya. Membuat Gloria me nge rang lepas. Bahkan itu terulang beberapa kali sampai akhirnya ia yang akan segera tiba di puncak itu.


Mereka menghabiskan malam dengan kegiatan yang sama beberapa kali. Baru tertidur menjelang pagi.


Ia menghadiahi Gloria kecupan beruntun disekujur tubuh istrinya itu. Dunia bagai milik mereka berdua, melupakan segalanya ketika ber cinta, hanya ada ia dan Gloria saja.


"Astaga, Owen.... aku harus melihat Jeff, jangan mengurungku dikamar. Ingat, kita bukan lagi berdua!"


Ucapan Gloria menyadarkannya dari harapan dan angan-angan kata 'dunia milik berdua'.


Gloria benar, sudah ada Jeff diantara mereka.


"Okey, lakukan sekali lagi di kamar mandi."


"No!" tegas Gloria.


"Jika kau menolak, aku akan memintanya di pantai."


Gloria menatapnya dengan mata membola, seolah mengatakan 'Apa kau bercanda?'


"Aku tidak main-main, aku akan melakukannya diruang terbuka!" ujarnya seolah menjawab isi kepala sang istri.

__ADS_1


*******


__ADS_2