Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Ketahuan


__ADS_3

Sesuatu yang ku temukan didalam lemari benar-benar membuatku terhenyak. Semua baju dan barang-barang yang aku belikan untuk dia, masih tersusun rapi disana.


Semua barang itu tak dibawa serta olehnya. Apa sebegitu tak maunya dia membawa segala benda yang ku berikan? Padahal semua barang-barang ini memiliki kenangan untuk kami.


Sebenarnya apa kesalahanku? Kenapa aku seperti dicampakkan olehnya. Bahkan semua yang ku berikan seperti tidak ada artinya sehingga dengan mudahnya dia meninggalkan segalanya disini. Menjadi momok untuk diriku sendiri yang akhirnya harus menyimpan benda-benda ini.


Aku menggenggam salah satu baju tidur pemberianku untuk dia. Rasanya semakin sesak saat aku bahkan masih mengingat bagaimana dia mengenakan baju berbahan satin ini.


"Apa kau suka?"


"Aku tidak suka."


"Kenapa?"


"Ini bukan baju tidur, tapi ini lebih seperti baju yang kekurangan bahan."


Aku bahkan masih mengingat dialog perbincangan kami malam itu, sesaat setelah baju ini ku berikan kepadanya dan memintanya untuk mencobanya.


Mengingat hal itu, aku menjadi tertawa, tentu tawa yang ku paksakan. Tawa yang terdengar getir sebab jiwaku terasa merindukannya saat ini juga.


Aku meletakkan kembali baju tidur itu, tanpa berniat untuk mengobrak-abrik isi lemari. Biar, biarkan semuanya berada disana tanpa ada yang mengganggu. Kelak, saat aku bisa melupakannya mungkin aku akan melihat semua barang ini dengan perasaan yang biasa saja.


"Jika memang ini kemauanmu, aku akan mencoba melupakanmu juga." Sebuah keputusan yang akhirnya terucap. Entah aku bisa menghapus dia dari kehidupanku atau tidak, aku belum mengetahuinya, tapi mencoba tidak ada salahnya, bukan?


Jangan salahkan aku yang mencoba melupakannya, sebab ini semua karena pilihannya sendiri.


_____


Malam harinya aku memutuskan untuk mengunjungi Mansion keluarga untuk menemui Oxela bersama Jade, kekasihnya.


Meski sebenarnya aku ingin mencari keberadaan Gloria, namun niat itu masih ku redam sebab aku masih menunggu laporan dari Jared yang terbang ke Indonesia bersama beberapa orang-orang suruhan ku untuk menemukan sosok wanita itu.


"Kakak," sapa Oxela sembari memelukku singkat. Ia mengernyit melihatku, entah kenapa.


"Mana Jade?"


"Sebentar lagi dia tiba," jawab Oxela, namun masih menunjukkan raut penuh selidik ke arahku. "Sebenarnya kau kenapa, kak?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Oxela menatapku lekat, penuh kecurigaan dan tampangnya itu menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, aku bisa melihatnya.


"Tidak ada."


"No, no, no! Sore tadi suaramu terdengar berbeda saat menelpon ku, dan terbukti jika sekarang raut wajahmu juga tidak seperti biasanya." Oxela mengetuk jari didepan bibir sembari memperhatikanku dari atas hingga bawah. "Sepertinya kau banyak masalah, kak. What's wrong?" lanjutnya.


Aku menggeleng. "Sudahlah, tidak ada masalah apapun. Ayo tunggu kedatangan Jade di meja makan." Aku melangkah menghindari Oxela, tidak mau mendengar pertanyaannya yang lainnya.


Tak lama menunggu, kekasih adikku itupun datang. Aku memintanya duduk dimeja makan yang sama. Kami berbincang ringan dengan akrab padahal ini adalah momen pertama kalinya aku bertemu dengan Jade.


Kami membicarakan perihal kehidupan sehari-hari, mengenai bisnis dan olahraga. Ternyata Jade adalah pemilik salah satu stasiun televisi.


Aku cukup puas dengan pencapaiannya diusia muda. Setidaknya, adikku akan hidup dengan berkecukupan dan tidak kekurangan apapun. Meski aku tidak menilai seseorang dari status sosialnya, tapi hal semacam ini memang patut ku pertimbangkan demi masa depan Oxela tentunya.


"Kau serius ingin menikah dengan adikku?" tanyaku menatap Jade.


Lelaki berambut hitam legam itu mengangguk mantap, sedikit banyak aku bisa melihat keseriusannya pada Oxela dan aku cukup cermat dalam menilai perangai seseorang. Aku yakin Jade adalah laki-laki yang baik untuk Oxela.


Aku tidak mau nasib pernikahan Oxela akan sama seperti Gloria atau seperti Celine yang lebih miris sebab mengalami kekerasan oleh suaminya sendiri. Aku ingin Oxela bahagia dengan orang yang benar-benar mencintainya.


Aku bisa melihat senyum kebahagiaan yang terpancar di wajah Oxela malam ini dan aku merasa lega akan hal itu. Aku berharap adikku itu akan selalu bahagia, tidak seperti aku. Tidak, jangan pernah dia merasakan keterpurukan seperti yang tengah ku alami saat ini.


"Dua Minggu lagi." Jade menjawab dengan yakin, meski jawabannya membuatku terkejut sebab merasa itu terlalu cepat, namun aku menyetujui keputusan pemuda itu.


_______


Oxela menghampiriku begitu Jade sudah dia antarkan sampai kedepan pintu keluar Mansion.


"Apa?" tanyaku tanpa benar-benar berminat, aku tahu sorotan mata Oxela seakan penuh intimidasi saat ini.


"Kau menginap disini kan, kak?"


"Tidak, aku kembali ke Apartmen."


Oxela menggeleng. "Fix, kau ada masalah. Apa ini menyangkut wanita yang tinggal di Apartmenmu?" tanyanya.


Aku terkesiap, darimana Oxela tahu mengenai hal ini. Bukankah Gloria sudah ku minta pindah setelah menyadari kecurigaan Oxela waktu itu?

__ADS_1


"Apa maksudmu, Xela?" tanyaku pelan sembari terkekeh hambar. Bersika bodoh seolah tak memahami apa yang Oxela maksudkan.


Oxela ikut terkekeh. "Kak, kita sudah mengenal sejak kecil. Kau tidak bisa membohongiku dengan mudah," ucapnya dengan senyum penuh kepuasan seolah telah mendapatkan piagam penghargaan sebab bisa mengetahui rahasiaku.


Aku terdiam, lebih tepatnya membeku. Aku tidak tahu jawaban apa yang patut ku berikan kepada adik perempuanku itu.


"Aku ke Apartmenmu. Aku melihat banyak barang wanita disana."


Hah... aku menghela nafas panjang. Terang saja, Oxela memang pasti dapat mengetahui, sebab barang-barang Gloria memang ada disana bahkan sampai saat ini meski wanita itu sudah pergi, entah kemana.


"Aku penasaran, akhirnya aku mengecek CCTV ruangan." Oxela terkikik diujung kalimat.


Tapi, ucapan Oxela memberiku sebuah kata kunci. 'CCTV ruangan'. Apa aku perlu mengecek itu juga, untuk mencari tahu apa yang Gloria lakukan dalam sepekan kepergianku, sehingga secara tiba-tiba dia memutuskan untuk pergi?


"Aku melihatnya, Kak!" Oxela menghela nafas berat."So sorry.... termasuk kejadian di sofa ruang tamu, sekitar.... tiga bulan yang lalu," sambungnya sembari menggigit kuku jarinya sendiri.


Ucapan Oxela membuatku tersadar akan suatu hal. Astaga, ternyata tingkahku ketahuan oleh adikku sendiri.


"Oh my God.... kau benar-benar keterlaluan Oxela!" senggakku. Tapi, adikku itu hanya menyengir kuda sambil menatapku.


"Seharusnya kau tidak terlalu lancang mencari info sampai sejauh itu." Lagi, aku memperingatkannya.


"Maaf, Kak. Tapi... meski aku belum berkenalan dengan wanita itu, aku suka dengan caranya memperlakukan kakak. Kalian terlihat serasi, sudah layaknya suami istri. Kenapa tidak menik---"


"Stop! Kita tidak usah membahasnya!" potongku cepat sebelum Oxela menyelesaikan kalimatnya.


"Okey, we don't talk about her..." Oxela pun mengangkat kedua tangan seolah menyerah. Namun, ucapannya yang selanjutnya membuatku tidak bisa menjawab lagi.


"Tapi, aku menyimpulkan jika kakak dan dia sedang ada masalah. Right?"


Karena aku diam, Oxela kembali bersuara untuk kesekian kalinya.


"Baiklah, ku anggap kekusutan wajah kakak dan gelagat kakak yang tak biasanya hari ini adalah karena terpicu dari masalah diantara kalian."


"Sudahlah, urus saja tentang persiapan pernikahanmu dengan Jade, jangan mengurusi aku!"


"Itu urusan lain, sekarang aku ingin membicarakan tentangmu. Kak, aku senang kau sudah memiliki kekasih! Tapi, aku juga sedih jika kau terlihat seperti ini. Katakan padaku apa masalahnya, aku akan membantumu!" Oxela berucap dengan sangat serius, membuatku sulit untuk menyanggahnya lagi.

__ADS_1


****


__ADS_2