Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Kenyataan Baru


__ADS_3

Pagi ini, aku terperangah mendapatkan sebuah info yang dikirimkan Jared melalui email. Aku menggelengkan kepala tidak percaya. Aku terkekeh samar. Terang saja, sebab selama ini aku juga sempat dikelabui oleh seorang pria bernama asli Richard Marc Jensen.


Aku meraih gagang tablephone, menghubungi line untuk menyambungkan panggilanku pada Jared yang berada diluar ruangan.


"Masuk!" ucapku datar saat mendengar ketukan pintu. Aku tahu itu Jared.


Jared masuk lalu berdiri kaku di hadapanku seperti biasanya.


"Darimana kau mendapatkan info ini?"


Jared tersenyum tipis. "Saya menyewa seseorang untuk mengikuti Tuan Jensen selama sebulan full."


"Apa ini akurat?"


"Tentu saja, lampiran bukti foto-fotonya ada disana, Tuan."


Aku terkekeh sumbang. Jelas saja ini info yang sangat mencengangkan.


"Mereka sering mengadakan pesta untuk kalangan yang sama."


"Pesta?"


"Se ks party!" jelas Jared.


Oh my... beginikah kehidupan Richard yang sesungguhnya? Lalu, untuk apa dia menikahi Gloria?


_____


Aku dan Gloria sarapan bersama seperti biasanya. Gloria tidak menyiapkan sarapan untukku karena sudah ada maid yang bekerja di Apartemen ini.


Disaat kegiatan itu, ponselku berdering dan Oxela lah menelepon.


"Kenapa?" tanyaku pada panggilan yang sudah tersambung.


"Aku akan ke Swedia, lusa!"


"Bukankah kau baru kembali dari LA, Minggu lalu?" Aku tidak mengerti pada Oxela. Kenapa akhir-akhir ini dia sering sekali ke Luar Negeri. Bahkan sebulan sebelum ulang tahunnya kemarin dia baru ke Indonesia dan setelah berulang tahun dia juga sudah ke Los Angeles.


"Aku akan menemui orangtua Jade, Kak!"


Aku menghela nafas panjang. "Baiklah, terserah kau saja. Pastikan setelah pulang dari Swedia kalian akan menikah!"


"Iya kakakku yang tampan! Setelah pulang dari sana pastikan kau juga punya waktu luang agar bisa ditemui. Jade sudah ingin bertemu kakak berulang kali, tapi kau tidak punya waktu, kak! Dasar kakak menyebalkan!" gerutu Oxela dari seberang panggilan.


"Hmm," jawabku datar. Padahal aku ingin terkekeh mendengar Omelan Oxela itu.


Aku memutus panggilan dan beralih menatap Gloria yang sejak tadi menatapku.


"Oxela?" tanya Gloria.


"Ya," jawabku pelan. "Dia akan ke Swedia. Semoga saja dia segera menikah. Agar tanggung jawabku berkurang sedikit," kataku tersenyum kecil.


"Dia akan menikah?"


Aku mengangguk.


"Kau tidak ingin menikah juga seperti dia?"


"Belum terpikirkan."


"Oh...."


Hening beberapa saat sampai Gloria kembali bersuara.

__ADS_1


"Owen, bolehkah jika hari ini aku pulang?"


Pertanyaan Gloria membuatku memicing kearahnya. Pulang? Apa maksudnya pulang ke rumah Richard? Aku tidak tahu apa niat Gloria menyatakan pertanyaan ini. Apa dia sungguh-sungguh ingin pulang atau hanya mengerjaiku saja?


"Hanya sebentar," lanjut Gloria dengan tatapan melembut.


"Tidak!"


Satu kata yang keluar dari bibirku membuat Gloria memandangku dengan pupil mata yang membesar, kecewa.


Apa segitu ingin pulangnya dia? Ku pikir pembahasan semacam ini sudah cukup lama tidak kami bahas. Kenapa sekarang dia membahasnya lagi? Apa dia mulai bosan padaku?


"Maaf, aku hanya ada keperluan disana... sebentar." Gloria tertunduk, tidak berani menatapku yang jelas mengintimidasinya dengan pandangan lekat.


"Keperluan apa? Aku akan menyediakan apapun yang kau perlukan, tidak usah kembali kesana!" ucapku dingin. Aku meraih gelas kopi dan menyesapnya pelan. Pembicaraan ini membuatku cukup kehilangan mood.


Setelah aku tahu info detail mengenai Richard, aku tidak takut jika Richard akan berniat merebut Gloria dariku. Aku sangat meyakini hal itu. Tapi, jika Gloria yang ingin kembali pada pria itu. Aku harus bagaimana agar dia mengurungkan niat itu?


"Aku hanya ingin mengambil paspor beserta surat-surat lainnya. Itu masih tertinggal dirumah Richard. Aku akan memerlukan itu nantinya."


"Kau tidak akan kemanapun! Biarkan Jared yang mengurus semua itu."


"Tapi..."


"Tetaplah disini..." Aku bangkit dari dudukku, bersiap untuk pergi bekerja seperti biasanya. Namun secepat kilat Gloria sudah mencegat lenganku. Dia menatapku dengan tatapan yang jika aku tidak salah mengartikan--sepertinya menyimpan kesedihan disana. Entah apa.


"Owen, aku bosan disini."


"Kau bisa keluar jika kau mau, aku juga membebaskanmu berbelanja, kan?"


Gloria menggeleng lemah. "Bukan itu ..."


"Lalu?"


"Sudahlah, lupakan," ucapnya lemah.


Aku menghela nafas sejenak. Instingku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ia pendam.


Aku mendekat padanya, memegang pundaknya dan mencoba menatap matanya walau ia seperti enggan untuk membalas tatapanku. Gloria hanya menundukkan pandangan.


"Listen to me, aku membebaskanmu bukan berarti kau bisa pulang ke rumah Richard. Percaya padaku, semua yang kau perlukan nanti akan ku usahakan. Lalu, apalagi yang kau risaukan, hmm?"


"Sebenarnya aku ingin tahu bagaimana kabar Richard."


Ucapan Gloria membuatku memejamkan mata sejenak. Terhenyak. Entah kenapa ini terasa menyakitkan untukku. Kenapa Gloria masih ingin tahu kabar pria itu?


"Setidaknya aku ingin tahu kenapa dia tenang-tenang saja membiarkanku hidup denganmu selama dua bulan ini," imbuhnya memperjelas.


"Untuk apa?"


"Aku hanya ingin tahu, tidak lebih."


"Rasa ingin tahu adalah arti bahwa kau masih mengharapkannya," ucapku pelan namun Gloria mengibaskan tangan didepanku.


"Bukan, bukan begitu Owen!"


"Lalu?"


"Aku sudah bisa menyimpulkan bahwa dia tidak memiliki rasa padaku. Tapi, aku hanya ingin tahu kenapa dia menikahi ku jika ternyata aku hanya dijadikan barang seperti ini. Aku ingin tahu siapa kekasihnya jika dia benar-benar menyelingkuhi ku!" Gloria berkata tegas, sorot matanya menunjukkan keseriusan.


"Kau tidak perlu tahu hal itu!" kataku pelan.


"Why?"

__ADS_1


Aku hanya menggeleng samar.


"Jangan bilang jika kau sudah tahu semuanya! Katakan padaku, Owen!" desak Gloria.


"Apa yang ingin kau ketahui?" tanyaku tanpa minat. Aku malas menjelaskan problematika rumah tangganya dengan Richard yang memang sudah ku ketahui dari Jared beberapa waktu lalu.


"Semuanya!"


"Kau yakin? Aku takut kau sakit hati..."


"Aku sudah muak sakit hati dan aku sudah tidak memedulikan hal itu."


"Kekasih Richard..." Aku ragu mengatakannya. Entah kenapa aku tidak mau membuka aib pria itu meski aku tahu bahwa Gloria perlu mengetahui hal ini.


"Siapa? Katakan padaku!"


"Sekarang ku tanya padamu... untuk apa kau tahu? Kau akan sakit hati. Kau hanya perlu fokus padaku saja," kataku melembut. Aku membelai wajah Gloria dan dia memegang jemariku yang berada disisi wajahnya. Kami saling berpandangan satu sama lain. Aku berharap ini bisa mengalihkannya.


"Beri tahu aku, aku tidak akan sakit hati."


"Benarkah?"


Gloria mengangguk berulang.


"Baiklah, aku akan jujur padamu tapi..."


"Tapi?"


"Tapi kau juga harus jujur padaku. Apa kau masih mengharapkan Richard?" tanyaku memastikan.


"Tidak."


"Kau serius?"


"Ya, maka dari itu aku ingin mengambil semua surat-surat yang tertinggal dirumahnya. Aku akan mengurus perceraian. Setelah hubungan kita berakhir, aku akan pulang ke Indonesia. Itu keputusanku."


Aku cukup speechless dengan ucapan Gloria yang dikatakannya sebagai keputusan itu.


"... jadi, aku tidak akan sakit hati jika mengetahui siapa kekasih Richard yang sebenarnya. Ini hanya rasa penasaran dalam diriku, aku hanya ingin tahu kenapa Richard menikahi ku jika sebenarnya dia tidak mencintaiku dalam pernikahan kami," sambung Gloria panjang lebar.


"Yang ku ketahui, Richard menikahimu untuk menutupi jati dirinya didepan public. He's not straight. Jadi ku rasa dia tidak pernah mencintaimu!" ucapku terus terang.


Hal ini yang juga membuatku terkejut saat mengetahuinya, namun ini suatu jawaban yang jelas mengapa Richard tidak pernah menyentuh Gloria sama sekali sepanjang pernikahan mereka. Ini pula yang membuatku tidak takut jika Richard akan merebut Gloria dariku. Sebab dari segi perasaan, itu tidak mungkin terjadi karena Richard yang tidak normal tak akan mungkin memiliki perasaan pada Gloria sedikitpun. Dia murni memanfaatkan Gloria saja selama ini.


Gloria terperangah beberapa saat. Ia menatapku dengan tatapan kebingungan.


"Jadi, selama ini Richard menjadikanku alat untuk menutupi perilakunya yang menyimpang?" tanya Gloria dengan suara tercekat.


"Sepertinya begitu. Dia memanfaatkan kepolosanmu, ku rasa."


Gloria tercenung. Aku jadi khawatir dengan keadaannya.


"Glo, are you oke?"


Gloria mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Seriously?" tanyaku memastikan.


"I'm oke, aku hanya terkejut mengetahui hal ini."


"Semuanya akan baik-baik saja. Kau tidak akan kembali padanya, kan?"


Gloria membeku. Entah apa yang dia pikirkan kini. Aku tidak tahu, hanya saja aku memaklumi keterkejutannya itu.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2