Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Janji temu


__ADS_3

"Tuan, ada tamu yang ingin menemui Anda."


Aku mendengar suara Jared yang berucap datar, tanpa melihatnya pun aku tahu jika kini ia tengah berdiri diambang pintu ruanganku.


"Siapa?" tanyaku tanpa mengalihkan atensi dari depan tab yang sedang ku perhatikan.


"Tuan Jensen."


Seketika itu juga aku mendongak demi menatap wajah Jared, asistenku itu mengangguk seolah mengerti rasa kekhawatiranku.


"Bilang padanya aku sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Temui aku jika sudah membuat janji. Alihkan dia! Aku tidak mau menemuinya," ucapku tegas.


"Baik, Tuan."


Setelah Jared menutup pintu ruanganku, aku pun memijat pelipis yang terasa pening. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku harus menjadi pengecut seperti ini dengan menghindari pertemuan dengan Richard. Apa ini resikonya jika aku menginginkan milik orang lain?


Aku gusar, tentu saja. Entah apa maksud kedatangan Richard ke kantorku siang ini. Padahal proyek Real Estate baru berjalan setengahnya, seharusnya aku masih bisa tenang menemui pria itu karena waktuku bersama Gloria pun sepertinya masih panjang, itupun jika Richard benar-benar menepati janjinya untuk membawa Gloria setelah proyek itu benar-benar telah selesai.


Ah, kenapa aku berlebihan sekali? Kenapa aku harus jadi pengecut untuk menemuinya? Kedatangannya ke kantorku tidak mungkin untuk membahas tentang Gloria. Masih banyak waktu, wanita itu akan pulang bersamanya sekitar 4 sampai 5 bulan lagi, itupun jika aku mengizinkan, karena seperti tekadku, Gloria tidak akan beralih dari sisiku sebelum aku memutuskan segalanya mengenai nasib hubungan tak jelas diantara kami.


Aku melirik tablephone yang ada disisi kiriku, menekan line agar menyambungkan panggilan ke bagian Receptionist.


"Apa Tuan Jensen masih disana?"


"Baru saja pergi setelah dia meninggalkan pesan tertulis dimeja kami, Tuan." Jawaban dari seberang panggilan membuatku terdiam beberapa saat.


"Baiklah," ucapku tak acuh. Bersamaan dengan tertutupnya panggilanku, pintu ruanganku kembali terdengar diketuk dan aku tahu jika itu Jared.


"Masuk."


"Tuan Jensen sudah pergi. Dia bersikukuh ingin menemui Anda hari ini, Tuan." Jared mencoba menjelaskan padaku tentang apa yang ia ketahui.


"...saya mendengar, Laura meminta Tuan Jensen agar meninggalkan pesan di meja Receptionist," kata Jared mengarah pada sang penyambut tamu didepan lobby kantorku.


"Hmm..." Aku mengibaskan tangan pada Jared sebagai isyarat agar dia keluar dari ruanganku. Aku butuh menyendiri dan berpikir beberapa saat mengenai hal penting apa yang ingin disampaikan Richard hingga dia harus mendatangi kantorku seperti ini.


_____


Jam kerjaku sudah habis, aku turun ke lobby bersama dengan Jared yang setia berjalan dibelakangku. Aku pun mendapati Laura yang berdiri dibalik meja Receptionist.


"Mana pesan yang Tuan Jensen tinggalkan untukku?" tanyaku datar.


Laura segera menyerahkan sebuah buku tamu, aku langsung membukanya dan membaca pesan singkat yang Richard lampirkan disana.


"FGH street. Pukul 18:00, sore ini. Kita harus bicara, Mr. Zwart!"


Instingku mengatakan jika ada suatu hal yang mendesak ataupun tidak beres. Aku memang harus menemui pria ini. Melenyapkan rasa pengecut didalam diriku. Karena Richard bukanlah seseorang yang bisa membuatku gentar. Dia hanya batu kerikil kecil, bukan sandungan yang bisa membuat ku terjatuh. Aku bahkan bisa sangat mudah untuk membuatnya tersingkir--jika aku mau.

__ADS_1


"Jared, aku akan menyetir sendiri. Kau pulanglah," ucapku sembari melirik Jared disisiku.


"Tapi, Tuan...." Jared ingin memprotes, namun aku segera mengangkat tangan agar dia berhenti bicara.


_____


Pukul 18:00 waktu setempat, aku tiba di FGH street, tempat dimana Richard membuat janji temu denganku. Tempat ini cukup lengang, entah karena hari beranjak petang atau karena aku yang memang jarang ke tempat-tempat semacam ini.


Tempat ini bahkan tidak bisa dibilang seperti taman kota lagi, melainkan sudah terbengkalai dan tidak layak untuk didatangi. Kenapa Richard tidak menemuiku di Restoran atau di cafe saja? Entahlah...


"Kau datang Tuan Zwart...?"


Aku berbalik badan dan mendapati Richard yang memasang senyuman miring.


"Apa yang mau kau bicarakan padaku?" tanyaku to the point.


Richard duduk di bangku yang ada diseberangku.


"Sebagaimana Proyek kita yang sudah berjalan setengahnya, sekarang aku menginginkan istriku untuk kembali ke rumah."


Apa pria ini bercanda? Cih... Seenaknya saja dia mengaturku!


"Bukankah itu terlalu cepat? Perjanjian kita, Gloria akan kembali setelah proyek itu selesai."


"No."


"Tuan Zwart, apa kau lupa? Keuntungan yang ku dapatkan dari proyek ini hanya setengah. Kau membagi dua keuntungannya untuk masing-masing dari kita. Ku pikir kau tidak lupa mengenai hal itu."


"Lalu? Apa hubungannya keuntungan itu dengan kepulangan Gloria?" tanyaku sinis, meski aku sudah bisa menebak kemana arah pembicaran si breng sek ini.


"Itu artinya, Gloria juga harus pulang saat proyek sudah berjalan setengahnya."


"Damned..." gumamku menggeram. Aku pikir akulah yang sempat menjadi pengecut karena tak mau menemui pria ini. Nyatanya Richard lebih parah daripada aku, karena dia hanya pecundang yang mencoba bermain denganku. Sepertinya dia salah orang kali ini.


Aku menggelengkan kepalaku, tak habis pikir dengan tipu muslihat yang sedang dimainkan Rihard padaku.


"Ku pikir kau sudah puas bersenang-senang dengan istriku. Bagaimana? Apa dia mau bermain-main denganmu? Ku rasa tidak! Itu tidak mungkin kecuali kau memaksanya," ucap Richard percaya diri. Mungkin dia terlalu yakin jika Gloria telah menolakku selama ini.


"Jika aku tidak mau memulangkan Gloria kepadamu, bagaimana?" tanyaku menantang.


"Keuntungan itu akan menjadi milik perusahaanku seutuhnya."


"Oh, jadi hanya sebatas keuntungan itu yang kau inginkan? Bukan karena memang menginginkan istrimu kembali?" sarkasku.


"Gloria akan kembali sendiri padaku, tapi itu nanti setelah keuntungan ini benar-benar ku dapatkan sepenuhnya. Jika kau tidak setuju, tak apa... Gloria bisa pulang sekarang juga karena kita sudah sama-sama mendapat keuntungan bukan?"


Aku hendak menyanggah ucapan pria dihadapanku ini, tapi dia kembali melanjutkan kalimat yang membuatku terkekeh hambar.

__ADS_1


"Meskipun aku tidak yakin jika kau bisa mendapatkan Gloria," sambungnya.


"Kau terlalu percaya diri, Tuan Jensen!"


"Ya, karena Gloria hanya memiliki aku, dia tidak mungkin menghianatiku."


"Benarkah? Tidak mungkin katamu? Apa yang tidak mungkin setelah istrimu tinggal bersama dengan pria lain selama dua bulan dan kau sendiri yang mengantarkannya?"


"I dont care, sebenarnya aku tidak peduli. Apapun itu terserah, keuntungan ini yang lebih penting buatku. Jadi... bagaimana? Bisakah aku dapat keuntungannya semua?"


"Boleh saja!"


Richard tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi..." Aku sengaja menggantung kalimatku diudara.


"Tapi apa?" tanyanya tampak penasaran.


"Lepaskan Gloria untukku!"


Richard tertawa kencang. "Are you kidding me? Tidak akan!" jawabnya tegas.


"Apa yang kau pertahankan darinya? Sementara menyentuhnya saja kau tidak pernah. Secara tak langsung bahkan kau sudah menjual istrimu padaku."


Richard tersenyum miring. "Kau sudah sejauh itu rupanya, hingga kau mengetahui jika aku tidak pernah menyentuhnya!"


"Tentu saja! Sudah ku katakan tadi jika apa saja bisa terjadi jika istrimu tinggal bersama dengan pria, apalagi pria itu sepertiku!" Kini giliranku yang menjawabnya dengan sikap percaya diri tinggi.


"Baiklah," Richard menghela nafas sejenak. "Ambil dia, tapi berikan saham milikmu untukku, bagaimana?"


Dasar kepa rat licik, dia benar-benar menganggap istrinya semacam barang untuk dibarter dengan kekayaan. Wanita yang ku inginkan justru bernasib tak baik karena menikah dengan pria seperti Richard.


"Aku tidak akan mengembalikan Gloria padamu! Aku juga tidak mau mengikuti satupun kesepakatanmu! Siapa kau hingga berani mengaturku, hah?"


Richard terkekeh pelan, sesaat kemudian ia bertepuk tangan dan beberapa orang datang mengerumuni aku yang seorang diri.


Oh, come on! Ini seperti dejavu buatku. Seperti kejadian lama yang terulang kembali, jika dulu aku lah yang memerintah anak buah untuk menghajar dan mengeroyok orang lain, sayangnya sekarang aku lah yang menjadi orang lain itu--yang sepertinya akan merasakan bagaimana rasanya dikeroyok beramai-ramai.


Aku sudah berhenti dari dunia semacam itu. Fokus mengembangkan usaha yang masih berjalan. Tapi sekarang? Apa aku harus merasakan hal semacam ini? Hanya karena seorang wanita? Mempertahankan keuntungan dan wanita? Yang dua-duanya tidak bisa ku lepas begitu saja untuk si breng sek Richard?


Sebenarnya aku masih punya pilihan, melepaskan Gloria dan terhindar dari memberikan keuntungan tak masuk akal untuk Richard. Namun, aku tidak bisa. Lebih tepatnya, aku tidak mau melepaskan Gloria, tidak akan!


Apa ini semacam karma yang datang kepadaku?


Atau....


Pembalasan semesta untukku? Atas tingkah dan perbuatan dimasa lalu?

__ADS_1


*****


__ADS_2