
Tidak butuh waktu lama, aku sudah tiba di kediaman Richard. Mansion itu tampak senyap, hanya saja aku yakin jika Richard ada didalam sana.
Tak mau berbasa-basi kepada seorang pelayan yang datang menyambut kedatanganku, aku langsung menanyakan keberadaan Richard.
"Tuan Jensen sedang tidak ada di Mansion, beliau sedang pergi ke luar kota," ujar seorang pelayan yang ku tafsir berumur akhir 50-an, mungkin dia adalah kepala pelayan disini.
Tapi, aku tidak mungkin percaya begitu saja dengan ucapannya. Mengingat track record kehidupan Richard, bisa saja pria itu yang meminta kepala pelayan untuk berbohong kepadaku.
"Baiklah, aku akan kembali lagi setelah Richard pulang dari luar kota," ucapku berlagak percaya dan menyerah.
Sudut mataku menangkap sebersit senyum puas dari ujung bibir wanita itu. Kilatan matanya juga menunjukkan rasa lega atas jawabanku. Intuisi ku memang cukup tinggi untuk menebak perangai seseorang. Hal itu pula yang selalu memicu ku dalam menilai orang lain. Baik itu Jared, Gloria, Richard bahkan yang terakhir adalah Jade, kekasih Oxela.
Jika kali ini aku tak salah menilai, maka dapat ku pastikan kalau Richard sebenarnya berada dalam kediamannya ini namun tidak mau menemuiku dengan alasan ke luar kota.
Aku undur diri dari hadapan wanita baya itu, kembali memasuki mobilku namun mendadak aku mendapatkan sebuah ide agar tetap berada di Mansion milik Richard.
Layaknya aktor yang sedang memainkan peran, aku berlagak mengeluh sebab mobilku tidak bisa dinyalakan.
"Ah, sial...." umpatku keras sembari membuka kap depan mobil. Lagi-lagi aku sengaja mencabut salah satu kabel onderdil agar aksiku berjalan lancar.
"Ada apa, Tuan?"
Benar saja, kepala pelayan itu terhuyung-huyung menghampiriku.
"Mobilku bermasalah, sepertinya rusak."
"Biar saya minta penjaga kebun untuk melihat keadaan mobil anda," tawar pelayan itu.
"No! Ini sudah terlalu malam, pasti dia sedang tidur nyenyak. Aku akan menelepon bengkel atau montir kepercayaanku saja, meski aku tidak yakin masih ada bengkel yang buka di jam ini," ujarku sembari menatap kearah penunjuk waktu yang melingkar dipergelangan tangan.
__ADS_1
Pelayan itu terlihat gusar saat aku memainkan ponsel. Aku tahu pasti, dia ingin aku segera meninggalkan tempat ini. Wajahnya menunjukkan kekesalan yang tak bisa ditutupi, aku yakin jika saat ini aku tak berada didepannya, pasti dia sudah mengomel karena kejadian menyebalkan ini.
"Sorry, apa aku boleh menggunakan kamar mandi?" tanyaku. Aku mulai melancarkan aksi yang akan ku jalankan.
Pelayan itu tampak gelagapan. "Ehm... saya tidak bisa menerima tamu asing untuk masuk," paparnya.
"Aku rekan bisnis Richard. Jika kau menganggapku asing maka aku akan meninggalkan identitasku padamu dan juga mobilku masih berada disini, aku tidak mungkin merampok," pungkasku membuatnya tidak berkutik.
"Mak-maksud saya bukan begitu, Tuan."
"Jadi? Kau tadi mengatakan aku orang asing, bukan?" Aku berlagak mengeluarkan dompet untuk menyerahkan kartu identitas.
"Tidak perlu, Tuan."
"Jadi, aku boleh menggunakan kamar mandi, kan?"
Wanita itu tak langsung menjawab, justru terdiam beberapa saat. Aku tahu ini tidak akan mudah untukku menerobos masuk ke dalam Mansion Richard. Meski aku bisa menggunakan cara kasar untuk memaksa masuk bahkan menggeledah seeluruh isi kediamannya, namun aku masih memilih cara baik-baik sebelum aku memastikan Gloria benar ada pada Richard.
Sikap wanita ini, membuatku semakin yakin jika ada sesuatu yang ditutupinya.
"Baiklah, Tuan. Anda bisa menggunakan toilet luar," ujarnya sambil menunjuk kearah lainnya.
Sebenarnya aku tidak puas dengan hal ini. Tapi, ini lebih baik, sambil mencari tempat lain agar aku bisa leluasa mengamati kediaman Richard.
"Kau mau menungguiku?" sarkasku pada wanita yang terus mengikutiku sampai ke depan pintu toilet luar. "Atau kau mau sekalian ikut masuk ke toilet juga?" sambungku sembari menaikkan sebelah alis.
Wanita baya itu menggeleng cepat.
"Bagus, itu namanya kau mengerti privasi!" ucapku dengan senyum miring.
__ADS_1
Wanita itupun beringsut menjauh. Melihat keadaan itu aku segera mengambil kesempatan untuk mengamati sekitar.
Dalam keadaan remangnya cahaya malam di Mansion Richard, aku tidak mendapatkan apapun jalan untuk menuju ke area dalam rumahnya. Padahal aku sangat ingin masuk kesana dan mengecek sendiri ada atau tidaknya Gloria disana.
Aku memilih masuk kedalam toilet. Dan ternyata aku masih memiliki keberuntungan meski tak banyak tapi ini lebih baik daripada tak sama sekali. Keberuntungan itu adalah, toilet luar yang ku masuki ini satu dinding dengan area dapur bersih. Aku bisa melihat dari celah angin yang dipasang, memang benar ini menyambungkan akses ke dapur bersih rumah itu.
Akupun mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana demi mulai menjalankan rencana pertama yang ku pikirkan secara mendadak saat aku ingin menuju Mansion Richard tadi.
Aku meletakkan benda itu diantara celah angin, aku yakin tidak akan ada satupun yang menemukan benda ini disini.
Tak lupa aku menekan tombol On, pertanda menyalakan benda itu. Ya, itu adalah penyadap suara. Aku harus mendapatkan info dari diriku sendiri sebab saat ini aku tidak bisa mengandalkan Jared maupun yang lainnya.
Sudah terlanjur berkecimpung, jadi aku ingin puas menuntaskan segala keingintahuanku dengan usahaku sendiri, sebab menunggu Jared terlalu lama dan meminta bantuan yang lainnya, tidak bisa ku percaya sejak kejadian Robin dan Meyer tempo hari yang membiarkan Richard menemui Gloria dengan mudahnya.
Mengingat hal itu, aku menjadi kesal lagi dengan tangan yang refleks terkepal.
Aku keluar dari dalam toilet dan mendapati pelayan tua itu sudah berdiri disana seolah menungguiku.
"Apa anda sudah selesai, Tuan?"
"Sudah," jawabku singkat. Aku belum puas hanya meletakkan satu penyadap suara. Aku ingin meletakkan beberapa lagi dibagian lain dari Mansion ini.
"Apa montirnya sudah datang?" tanyaku mengalihkan perhatian pelayan itu.
Pelayan wanita itu menggeleng dengan wajahnya yang kaku.
Tentu saja tidak akan ada montir yang datang, sebab aku hanya berakting menghubungi bengkel tadi.
"Baiklah, aku akan menungggu didepan," ucapku dengan senyuman culas. Sengaja memamerkan itu pada sang pelayan.
__ADS_1
*****