Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Masa kehamilan


__ADS_3

Sampai saat ini, status pernikahan antara Richard dan Gloria masihlah resmi. Namun sejak Gloria hamil, Richard tak pernah memaksakan kehendaknya. Mereka lebih seperti teman yang tinggal bersama. Tidak pernah ada kontak fisik lagi diantara mereka.


Richard menjauh dengan sendirinya, ia ingin Gloria merasa nyaman dulu dengannya, ia mau Gloria terbiasa lagi padanya dan ia tak mau Gloria menganggapnya musuh.


Dalam plan yang telah disusun Richard, ia ingin meluluhkan hati Gloria dulu, sembari ia pun memupuk perasaannya sendiri terhadap sang istri. Semua ia lakukan agar chemistry diantara mereka kembali tumbuh tanpa adanya paksaan. Ia ingin Gloria melihat pada sikap pedulinya tanpa mengingat kesalahannya dimasa lalu.


Setelah Gloria bisa melunak padanya, ia akan memperbaiki segalanya, termasuk dengan menerima anak yang Gloria kandung meski ia sadar jika itu bukanlah darah dagingnya.


Gloria melewati awal-awal kehamilannya dengan cukup sulit. Ia kerap tak berselera makan, menyebabkannya tak bertenaga hingga bobot tubuhnya menurun drastis.


Setiap makanan yang masuk, akan keluar lagi dari mulut Gloria. Mual yang menyiksa bukan cuma di pagi hari, tapi di siang bahkan di malam hari pun ia akan memuntahkan semua yang sempat ia masukkan kedalam perut.


Keadaan itu membuat Richard tak tega melihat kondisi Gloria yang memprihatinkan. Namun Gloria mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja.


Seringkali Richard menawarkan sesuatu yang kiranya membuat Gloria berselera, namun Gloria hanya bisa memakan roti kering dan teh panas, selebihnya dia akan menolak tegas. Jangankan dimakan, masih dihidangkan didepan matanya saja dia sudah merasa mual.


"Aku khawatir bayinya akan kekurangan nutrisi, Gloria..." Richard masih saja membujuknya untuk makan, padahal Gloria pun tak menginginkan keadaan seperti ini.


"Percuma aku makan jika nanti akan ku muntahkan."


"Setidaknya isilah perutmu itu," ucap Richard bersikukuh.


"Aku lelah harus muntah, lebih baik kondisi perutku kosong jadi tidak ada lagi yang akan ku muntahkan," jawab Gloria bersikeras.


"Ibu hamil keras kepala!" gumam Richard kesal. Namun melihat pada keadaan Gloria, rasa kesalnya kembali hilang, berganti dengan rasa prihatin yang mendalam.


"Baiklah, aku akan bekerja. Jika ada yang kau inginkan segera beritahu Lauren atau kau hubungi saja aku biar aku membelikannya untukmu," ujar Richard mengalah.


Seperginya Richard Gloria malah menyalakan televisi, menggonta ganti saluran yang agaknya bisa menarik minat untuk ia tonton.


Pilihannya jatuh pada sebuah acara dalam negeri yang menampilkan pemberitaan mengenai salah satu tempat pariwisata yang tengah digandrungi masyarakat saat ini.

__ADS_1


Ia menatap antusias pada tempat wisata itu, dan gejolak keinginannya justru menuntunnya untuk menuju tempat itu sesegera mungkin.


Gloria mengelus perutnya yang belum nampak membuncit. "Tenanglah, nanti kita kesana, sayang..." ucapnya lemah lembut seolah berbicara pada janin yang ada dalam kandungannya.


Ia bergegas mandi, bersiap dan mematut diri didepan cermin. Wajahnya cantiknya tampak pucat namun ia menutupi itu dengan sapuan make-up ringan.


Gloria mulai menelepon Richard, ia ingin menyampaikan niatnya untuk pergi ketempat pariwisata itu saat ini juga sebab keinginannnya itu tidak bisa ditunda lagi.


Selama dua bulan ini memang Gloria belum pernah kemanapun, ia jarang keluar rumah, selain belum mendapat izin dari Richard, ia pun dalam kondisi tak sehat. Hanya sesekali saat memeriksakan keadaanya barulah ia dan Richard pergi ke dokter kandungan.


Kali ini, Gloria ingin mencoba peruntungannya. Mungkin saja Richard berbaik hati untuk memberinya akses keluar rumah. Meski ia tak yakin namun mencoba tidak ada salahnya, apalagi hubungan keduanya mulai membaik.


"Richard, aku ingin keluar hari ini."


"Kemana?" tanya Richard dengan suara datar dari seberang sana.


"Tempat pariwisata J," jawabnya.


"Kau sedang bekerja, biar aku pergi sendiri saja."


"Tidak apa-apa, kita bisa pergi bersama."


Gloria tak bisa membantah lagi, meski sebenarnya ia ingin pergi sendiri saja. Namun, ia sadar betul jika Richard tak mungkin membiarkannya pergi sendiri begitu saja.


______


Gloria menghirup nafas dalam-dalam, tempat pariwisata yang mereka kunjungi benar-benar indah dan cocok untuk melepas penat. Tak terlalu ramai sebab hanya beberapa orang yang ada ditempat seperti ini ketika weekdays.


Terdapat danau yang tenang ditengah-tengah tempat ini. Pemandangan sekelilingnya adalah bukit-bukit yang berbaris rapi. Meski perjalanan yang ditempuh dari Mansion Richard ketempat ini cukup lama, namun semua terbayarkan dengan pemandangan yang didapat setelah tiba ditempat itu. Udaranya juga bebas dari polusi, sangat menyejukkan.


"Kau senang dengan tempat seperti ini?" tanya Richard.

__ADS_1


Gloria mengangguk.


"Aku pikir kau hanya senang ke Club' malam," ejeknya.


"Jangan ingatkan aku pada tempat semacam itu!" keluh Gloria, bagaimanapun itu mengingatkannya pada saat pertama kali mengenal Owen. Ia ingin menghapus sosok itu dan tak mau mengingatnya lagi meski itu sangat menyiksanya sebab melupakan orang yang dicintai bukanlah hal mudah.


Richard terkekeh, ia mencoba merangkul Gloria, mencari kesempatan--mungkin dengan jalan-jalan seperti ini bisa membuat Gloria jatuh cinta padanya lagi.


Namun, Gloria menepis pelan tangan Richard, menjauhkan posisi agar tak terlalu dekat dengan pria itu.


"Jangan memaksaku," ucap Gloria memperingatkan. Richard langsung bersikap menyerah dan tak mau memaksakan keinginannya pada Gloria.


Mereka pun mulai berjalan menyusuri sisi danau, di ujung sana ada semacam cafe yang estetik, Richard mengajak Gloria kesana untuk menikmati secangkir teh atau kopi.


"Gloria ..."


Gloria menoleh kepada seseorang yang menyapanya dibelakang tubuh, ia mendapati seorang wanita cantik disana, namun ia mengernyit sebab tak mengenali wanita itu.


"Kau memanggilku?" tanya Gloria masih dengan raut kebingungannya.


Wanita itu mengangguk dengan senyuman tipis. "Ini... suamimu?" tanyanya mengarah pada Richard yang berdiri disisi tubuh Gloria.


"Ya, aku suami Gloria," jawab Richard langsung.


Wanita itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sorry, aku tidak mengingatmu... apa kita pernah mengenal sebelumnya?" tanya Gloria.


Richard ikut menyimak, sebab yang ia tahu Gloria memang tak memiliki banyak teman di Negara ini, apalagi tampang wanita ini menunjukkan dengan jelas jika dia bukanlah wanita Indonesia.


******

__ADS_1


__ADS_2