
Owen tiba di Mansion Paman Markus. Kedatangannya disambut oleh beberapa orang yang dulunya pernah menjadi anak buahnya. Ya, mereka sekarang bekerja pada Paman Markus.
"Dimana Pamanku?" tanya Owen dengan nada dingin pada salah seorang penjaga pintu di Mansion itu.
"Tuan Markus sedang di ruangannya bersama Tuan Sean."
Owen ingin segera masuk, namun sang penjaga menggelengkan kepala sebagai isyarat agar Owen tidak memasuki ruangan itu.
"Apa aku tidak boleh masuk kesana?" tanya Owen tersenyum miring.
Penjaga itu kembali menggelengkan kepala sebagai jawaban untuk pertanyaan Owen.
"Sayangnya aku tidak butuh persetujuan siapapun untuk memasuki ruangan ini!" Owen berucap sambil melirik beberapa ajudan yang ikut serta bersamanya. Dengan sekejap, pintu itu terdobrak lalu terbuka.
Owen tak terkejut mendapati Paman Markus yang sedang bersedekap santai dikursi kebesarannya, seolah memang tengah menunggu kedatangan keponakannya itu. Sedangkan Sean, sebenarnya tidak berada di dalam ruangan yang sama. Entah dimana keberadaan sepupunya itu.
"Apa yang kau lakukan, Paman?" tanya Owen dengan intonasi meninggi pada sang Paman.
__ADS_1
"Hah, kau benar-benar datang? Apa kau lupa kesepakatan kita? Tidak seharusnya saling mencampuri urusan masing-masing, bukan?" sarkas Paman Markus. Tentunya kedatangan Owen sudah diduganya, ia menghadapinya dengan santai-santai saja, karena merasa sekarang Owen tak memiliki kendali apapun atas dirinya meski semua miliknya berasal dari keponakannya itu.
"Paman! Kau harus ingat jika kekuasaanmu saat ini bukan berarti kau bebas menyakiti puteramu sendiri," kata Owen tenang.
"Aku tidak menyakiti Sean. Aku hanya memberinya pelajaran berarti, agar dia menurut padaku, dia terlalu pembangkang!"
Owen menggeleng samar. "Dengan cara memberinya suntikan obat? Kau ingin membuat puteramu menjadi idiot agar dia menuruti keinginanmu!" sarkasnya.
Paman Markus bergeming. Sesekali mendengkus pelan.
"Aku tidak akan mencampuri urusanmu jika saja ini tidak berkaitan dengan tahta kerajaan gelap yang ku berikan. Jika memang Sean tidak mau mewarisi itu, tidak ada gunanya kau memaksanya!" tegas Owen.
"Jika begitu, jangan salahkan aku jika semua yang kau punya saat ini akan kembali padaku!" ancam Owen.
Suara tawa menggelegar terdengar dari mulut pria tua itu. Paman Markus berdiri dari duduknya, kemudian membentangkan tangannya selebar mungkin. "Ambilah jika kau bisa!" tantangnya.
Owen tahu konsekuensinya apabila dia menginjakkan kaki ke Mansion milik sang Paman. Keributan akan terjadi dan kutukan kerajaan hitam yang sebenarnya berawal dari mendiang Ayahnya, akan kembali diperebutkan. Dunia semacam ini, tidak akan membuatnya benar-benar bisa terlepas dari jeratan didalamnya.
__ADS_1
Perseteruan mengenai tahta dan warisan kerajaan gelap tidak akan pernah berakhir secara turun temurun meski Owen sudah berusaha melepaskan diri dan menyerahkan segalanya pada sang Paman.
Owen bisa saja tak menggubris hal ini, tapi ia tak mau menumbalkan Sean, karena sejatinya ia memahami kemauan Sean yang sama seperti dirinya. Terlepas dari belenggu hitam ini. Jika ia tak menuntut Paman Markus dan membiarkan saja, maka Sean akan terus disakiti oleh Ayahnya sendiri.
Disini, hati nurani Owen yang harus dipermainkan, terlebih semua ini karena dirinya. Karena warisan tahta yang ia berikan pada sang Paman. Ia tak mungkin membiarkan Sean menjadi mangsa Pamannya yang rakus.
"Aku semakin tua, kerajaan bisnisku harus memiliki pewaris. Semuanya berjalan lancar sampai detik ini. Mendiang Kakakku, akan bangga karena aku mampu meneruskan tahtanya. Tetapi, keturunan kami sama-sama tidak mau meneruskan semua ini. Bukankah itu sangat aneh?"
Owen diam mendengar ucapan sang Paman yang jelas-jelas menyindirnya, bahkan membawa-bawa Almarhum Ayahnya. Ia mengepalkan tangannya frustrasi. Tak bisakah ia benar-benar keluar dari belenggu ini? Ia hanya ingin hidup tenang. Kenapa semuanya kembali terungkit saat Paman Markus semakin menua.
"Aku heran, kenapa kau dan Sean mau melepaskan begitu saja semua ini? Semua yang kami bangun dengan susah payah."
".... kau tahu kenapa aku mengungkit semua ini? Karena aku akan pensiun, jadi sudah seharusnya Sean mewarisi semua yang sudah ku miliki. Kalau bukan dia, siapa lagi?"
Kali ini, Owen tak tahan lagi ingin menjawab ucapan sang Paman.
"Kau tidak seharusnya memaksa Sean! Berikan kekuasaanmu pada orang lain. Kau punya orang kepercayaan bukan? Dia pasti dengan senang hati menerima tahtamu!" kata Owen.
__ADS_1
Paman Markus menggeleng. "Tetap saja dia bukan keturunanku! Semua yang dibangun mendiang Ayahmu dengan tetesan darah bahkan mengorbankan nyawa .... akan ku berikan pada orang lain? Yang benar saja, Owen!" Paman Markus terkekeh sumbang diujung kalimatnya.
******