
"Owen, ak-aku ada di-di belakang Restoran."
Suara Gloria terdengar tercekat sambil menahan isak.
Aku tidak menyahut, langsung memutus panggilan sebelah pihak. Aku bergerak menuju area belakang Restoran. Namun, langkahku terhenti karena mendapati pemandangan yang membuatku geleng-geleng kepala.
Richard. Pria yang berstatus suami Gloria itu tengah duduk dengan seorang pria lain yang tampak lebih muda darinya. Biar ku tebak, pria yang bersamanya itu adalah kekasihnya sebab mereka tampak mesra.
Oh my... meski di Negara ini pasangan seperti mereka sudah dilegalkan, bagi diriku yang normal tentu merasa risih melihat interaksi yang terjalin diantara mereka. Mereka bahkan tak segan-segan saling merangkul dan mengecup jemari dengan mesra.
Aku ... bergidik ngeri melihatnya.
Tapi, tunggu ....
Apa ini yang membuat Gloria terisak saat ku telepon tadi?
Tidak... dia tidak boleh menangisi Richard lagi. Sejak awal bahkan pria itu sudah memanfaatkannya demi menutupi jati diri yang sesungguhnya.
Aku mengabaikan keberadaan Richard, lagipula aku harus segera pergi sebelum Richard melihatku dan lagi aku harus segera menemukan Gloria.
Aku berjalan pelan, menyusuri jalanan berpasir. Tak membutuhkan waktu lama, aku segera mendapatkan sosok Gloria yang tertunduk sembari mencoret-coret pasir dengan sebatang ranting. Kelakuannya membuatku tersenyum samar.
"Kenapa kau menangis?" Aku ikut mendudukkan diri di samping Gloria. Tanpa alas, membiarkan celana yang nanti akan ikut berpasir.
Gloria membuang pandangan, menatap lautan lepas yang terhampar disepanjang pulau. Ia terlihat tak berani menatapku.
"Glo, apa kau masih mencintainya?"
"Apa maksudmu?" tanya Gloria pelan, nyaris berbisik.
"Kau melihat Richard, kan?"
Gloria mengangguk, namun belum berani menatapku. Aku mengelus rambutnya yang sudah kusut masai, mencoba meresapi apa yang tengah ia rasakan saat ini. Pasti ia syok kala melihat dengan langsung perilaku menyimpang pria yang ia kenali sebagai suaminya.
Aku mendekat pada tubuh Gloria, merangkulnya dan menyandarkan kepalanya yang lesu di bahuku. Sedikitpun Gloria tak menolak, ia menerima perlakuanku dengan pasrah.
"Kau masih berharap padanya, kan? Maka dari itu kau menangisinya disini," kataku menebak.
Gloria bergerak, sepersekian detik berikutnya ia menatapku lekat, tatapan itu sendu, menyimpan kesedihan namun Gloria masih menyunggingkan senyum yang ku tafsirkan sebagai senyum kegetiran.
"Aku tidak berharap apapun lagi padanya."
__ADS_1
"Tapi, kau menangisinya?"
"Aku menangisinya karena diriku sendiri. Diriku yang terlalu bodoh menunggunya selama ini. Tapi syukurlah, aku sudah benar-benar melepasnya dan tidak menyisakan sedikitpun rasa untuknya. Jadi, rasa sakit yang ku rasakan hanya karena merutuki kebodohanku sendiri."
Aku tertegun, Gloriaku yang polos bisa menjabarkan perasaannya dengan begitu lugas dan menunjukkan keteguhannya mengenai rasa.
"Benar, aku memang menangisinya tapi bukan berarti aku masih mencintainya." Gloria menatapku dengan senyum getir yang sama.
"Sudah ku katakan padamu jika yang aku cintai saat ini adalah kau! Apa kau kira semua ucapanku hanya main-main!" imbuh Gloria secara tegas.
Aku tak kuasa menjawab, terhenyak, bibirku mendadak kelu. Lagipula, aku merasa Gloria memang perlu mengeluarkan segala beban dihatinya jadi aku hanya mendengarkannya saja.
"Owen, aku sudah merendahkan harga diriku dengan berada di sisimu. Menjadi partner-mu tanpa bisa menuntut status darimu. Aku bahkan mengungkapkan rasa kepadamu meski berujung penolakan. Tapi, kau malah menuduhku masih mencintai Richard!" Gloria berdiri dari duduknya, berjalan menuju bibir pantai dengan kedua tangan yang dilipat didada.
Aku ikut berdiri, menyusul langkah pelan Gloria dibelakang tubuh wanita itu. "Maafkan aku, Glo. Aku tahu tak seharusnya aku mengatakan hal itu, aku salah mengartikan tangisanmu. Sekali lagi, maafkan aku."
"Bisakah satu hari saja aku tak mendengar kata maafmu?" tanya Gloria lirih.
"Why?" Aku heran dengan permintaannya kali ini.
"Aku tidak suka ada kata maaf. Aku tidak mau mendengar permintaan maaf!"
"Ya, tapi kenapa?"
Aku memeluk tubuh Gloria dari belakang, menyusupkan wajah diceruk lehernya. "Maaf, sekalipun kau marah mendengar hal itu aku akan tetap mengatakannya karena aku memang selalu bersalah kepadamu," bisikku.
Gloria menggeleng. "Hindarilah membuat kesalahan, dengan begitu kau juga tak akan mengucapkan kata maaf terus menerus."
"Aku akan mencobanya, hmm..." Aku mengendus aroma tubuh Gloria yang harum.
Dengan gerakan cepat, aku membalik tubuhnya dan membawa wajahnya berada tepat didepan wajahku. Dahiku menyentuh dahinya, kemudian aku mengelus cuping hidungnya dengan ujung hidungku. Gloria tersenyum kecil dan aku membalasnya dengan melengkungkan sudut bibir dari jarak kami yang sangat dekat.
Kami saling tersenyum satu sama lain. Keributan kecil yang sering terjadi diantara kami selalu runtuh ketika mataku menatap kedalam iris hitam milik Gloria, ia seperti gadis yang terhipnotis akan pesonaku, sejujurnya aku geli melihatnya namun aku senang karena ia akan mencair begitu saja.
Sehingga, kami berdua selalu lupa pada dunia, mengabaikan berapa banyak orang yang berada ditempat yang sama, serta tidak peduli akan ada banyak saksi mata yang menyaksikan ulah kami yang diliputi candu yang bergelora.
Aku ingin sekali segera mereguk manisnya sang ranum yang kini hanya berjarak setengah senti dari bibirku. Namun, suara seseorang terdengar menginterupsi diantara kami.
"Gloria!"
Sang Pengganggu, perusak suasana. Aku mengutukmu, sialan!
__ADS_1
"Gloria!" Sekali lagi, suara tegas nan dingin itu memecah keintimann kami, membuat Gloria mau tak mau beringsut sembari mendorong dadaku agar menjauh dan berjarak darinya.
Aku menoleh pada pemilik suara dan ku dapati si pengganggu ada disana, menatap kami berdua dengan tatapan nyalang, seolah aku dan Gloria adalah pasangan yang baru saja tertangkap basah sedang berselingkuh.
Meski nyatanya memang begitu, namun Richard harusnya sadar bahwa dialah yang telah mengantarkan Gloria kepadaku.
Aku berdecak lidah, tersenyum miring pada Richard yang memasang wajah kaku.
"Kau disini?" sapaku pada Richard dengan nada sumbang.
Richard tak menjawab basa-basiku, matanya terfokus pada Gloria dan seketika itu juga Gloria tertunduk.
"Aku ingin bicara, Sayang!" kata Richard. Aku diam saja, mencoba menjadi pendengar yang baik meski telingaku panas mendengar Richard menyebut Gloria dengan panggilan 'sayang'.
"Aku juga ingin bicara padamu." Gloria menaikkan pandangan, mulai berani menatap pria yang katanya adalah suaminya itu.
"Kita bicara disana!" Richard menunjuk sebuah cabana yang agak menjorok ke bibir pantai. "Berdua!" lanjutnya tegas.
Gloria menatapku sejenak, seolah memberi isyarat memohon izinku. Aku menjawabnya dengan gelengan samar, tidak mengizinkannya, tentu saja.
"Kau tidak punya hak melarang istriku, Tuan!" sarkas Richard kepadaku. Pria itu bahkan menekankan kata 'istriku' seolah ingin menyadarkanku bahwa Gloria mutlak miliknya.
Sebenarnya, aku bisa saja membungkam mulut Richard dengan jawaban telak dariku, namun aku tidak mau beradu argumen dengannya, hanya akan membuang waktuku saja.
Richard pun segera beranjak menuju tempat yang ia tunjuk. Sementara Gloria masih berada di sebelahku dalam posisi membeku.
"Aku akan bicara padanya. Beri aku waktu." Akhirnya Gloria bicara sembari menatapku-- seolah ingin meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kau akan kembali, kan?" tanyaku memastikan.
"*I'll n*ever leave you," kata Gloria lirih.
"Aku pegang janjimu. Aku menunggumu."
Gloria mengangguk, dengan berat hati ku biarkan ia mengikuti langkah Richard yang sudah hampir tiba di cabana.
Aku tahu mereka memang harus bicara namun entah kenapa ada perasaan takut menggelayuti ku. Aku takut Gloria memutuskan untuk kembali pada Richard meski Gloria sudah mengetahui borok suaminya itu.
Kemarin aku sangat percaya diri jika Richard tidak akan menggangguku dan Gloria, sebab Richard tak akan terlibat perasaan dengan istrinya itu. Namun, sekarang aku merasa kekurangan rasa percaya diri, bahkan rasa itu nyaris menginjak angka nol, sanking kalutnya aku demi mengingat bila Gloria akan termakan bujuk rayu Richard lagi.
"Tidak, dia mencintaiku. Dia tidak mungkin kembali pada Richard. Lagipula dia sudah melihat sendiri has rat menyimpang suaminya," batinku mencoba menengahi kemelut hati yang ku rasakan.
__ADS_1
*****