Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Rumah tua


__ADS_3

Owen tiba bersama Sean di sebuah tempat rahasia dimana ia menyekap Richard.


"Jadi, dia ada disini?" Sean menyeringai, memperhatikan sebuah tempat yang kini ia datangi bersama Owen. Sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Rumah tua yang cukup besar namun tampak terbengkalai.


Dinding rumah itu sudah tampak mengelupas, bahkan lantai pekarangan juga lengket dengan lumut-lumut yang menyubur. Pagar berkarat dan sampah dedaunan kering yang berserakan. Rumah ini lebih layak menjadi ikon sebuah film horor daripada sebuah tempat menyimpan seseorang.


"Masuklah, Tuan akan menemukannya didalam." Owen menatap Sean penuh arti dan pria itu kembali menarik satu sudut bibir.


Mereka melangkah masuk, melewati sebuah pintu samping yang tidak terkunci. Seketika itu juga Sean kembali mengedarkan pandangan, ruangan didalam sangat remang, bahkan nyaris gelap tanpa cahaya. Semua jendela tertutup rapat, kacanya dipenuhi debu yang menebal, sebagian kaca lainnya justru tertutup tanaman yang merambat sehingga menutup penglihatan baik dari dalam ke luar maupun sebaliknya.


Jikapun ada seseorang yang meregang nyawa disini, lalu mayatnya dibiarkan, mungkin tidak akan ada yang mengetahui. Jikapun sampai terendus oleh orang lain, mungkin akan ditemukan dalam waktu beberapa hari kemudian atau bahkan hitungan bulan.


"Ternyata kau bisa juga ku andalkan," desis Sean mengagumi gerak cekatan partnernya kali ini.


"Sudah ku katakan ini tidak begitu sulit." Owen tersenyum tipis.


Sebenarnya, jauh didalam hati mereka masing-masing sudah memiliki pemikiran yang sama. Namun, keduanya urung mengungkapkan. Seakan itu semua tak penting untuk diakui satu sama lain.


"Dimana dia?" tanya Sean akhirnya.


Owen berderap pelan menuju ruang dimana Richard berada. Ia membuka pintu dan seketika itu juga Sean terbelalak melihat kondisi Richard saat ini yang membuatnya terjingkat kaget. Richard terikat dengan kondisi kaki yang tergantung sementara kepala hampir menyentuh lantai.


"Kau terlalu kejam mengerjainya!" ujar Sean sambil terkekeh. Seketika itu juga seorang yang tengah mereka bicarakan mulai bergerak meliuk-liukkan tubuh demi bisa terlepas dari ikatan dan keadaannya. Richard tidak menyadari kedatangan Sean dan Owen sebab sejak tadi ia begitu pening dan tertidur diposisi yang sangat tak nyaman ini.


"Jadi, kalian bekerja sama untuk melenyapkan ku sekarang?" tanya Richard di sisa-sisa tenaganya.


Owen hanya bersedekap santai sambil memasang wajah datar.


"Kau pintar juga..." gumam Sean seakan memuji kecerdasan Richard.


"Ku serahkan semua padamu!" kata Owen hendak beranjak pergi dari ruangan itu. Ia berpikir Sean akan mengeksekusi tanpanya, namun Sean ternyata menolak.


"Kau saja! Aku terlalu muak padanya!" kata Sean.


"Jangan katakan kau tidak berani menghabisinya, Sean!" ucap Owen. Tak ada lagi formalitas diantara keduanya sebab mereka sudah saling sama-sama tahu tanpa perlu sebuah penjelasan.


Tak ada lagi yang ditutupi Owen, membuat Sean berdecih singkat.


"Rupanya hanya sampai disini saja kemampuan aktingmu, heh?" sindir Sean pada Owen.

__ADS_1


Owen tersenyum smirk mendengarnya, ia sudah menduga jika Sean penuh perhitungan dan dapat menilai gerak-geriknya. Owen sudah tahu jika Sean telah mengenali dirinya sejak awal, namun pria itu memilih untuk tetap bungkam dan menikmati permainan yang dibuat oleh Owen. Istilahnya mereka memang tahu sama tahu.


"Aku pikir kau masih betah berpura-pura!" oceh Sean lagi.


Sean sendiri sempat bimbang mengenai Owen dan Nico, tapi jika pria disampingnya benar-benar Nico yang notabene-nya adalah anak buah Richard, mana mungkin Nico mau menyerahkan Richard dengan mudah kepadanya, bukan? Sean tahu taktik Owen, pria itu ingin Sean yang menghabisi Richard.


"Beraninya kalian bekerja sama dibelakangku!" kata Richard menimpali dengan murka. Ia mengira Sean dan Owen sudah berkomplot sejak awal untuk mengelabuinya.


"Hahahaha...." tawa Sean akhirnya pecah. "Apa kau mau ku habisi? Atau dengan Owen? Kau sungguh beruntung sebab ku beri keistimewaan Richard!"


"Keistimewaan apa maksudmu?" Richard masih bisa bertanya ternyata.


"Kau bisa memilih aku atau Owen yang akan mengakhiri hidupmu."


Owen terkekeh pelan saat Sean mengucapkan kalimat itu. Ia menggelengkan kepalanya samar.


Dari ruangan sebelah, Jade dan Jared menyaksikan bagaimana Owen dan Sean memperlakukan Richard. Sebuah cermin khusus yang tidak menarik perhatian.


Dari ruang tawanan tak akan melihat adanya Jared dan Jade diruangan sebelah-- sebab yang terlihat disana hanyalah cermin biasa yang memantulkan bayangan diri, sementara di bagian yang ditempati Jade dan Jared saat ini, justru bisa memantau kearah ruang tawanan itu. Cermin satu arah sengaja dipasang disana untuk memonitori keadaan tawanan.


Sementara disisi lainnya, Gloria kembali membekap mulut dengan tangannya sendiri, ia kehabisan kata-kata sebab mendengar secara langsung apa yang sedang terjadi.


Gloria tak menampik rasa haru dan bahagia karena mengetahui jika suaminya masih hidup, namun mendengar mereka akan menghabisi nyawa Richard membuat Gloria menggelengkan kepalanya. Demi apapun, ia tak pernah bermimpi menyaksikan sebuah pembunuhan secara live. Tapi sekarang akankah ia menonton kejadian mengenaskan itu di kenyataan tepat didepan matanya?


Penerangan juga hanya satu yaitu didalam ruang tawanan. Itupun lampunya hanya bohlam neon kecil yang berwarna kemerahan.


"Karena kita sama-sama dendam dengannya bagaimana kalau kita bagi dua saja!" tutur Sean bernegosiasi. "Aku kepalanya dan kau kakinya," lanjut Sean.


"Tidak, jika aku harus ikut menghabisinya juga, maka kepala adalah bagianku!" pungkas Owen.


Gloria tentu mendengar itu, tubuhnya bergetar hebat bahkan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, seolah ialah yang menjadi tawanan itu.


Tak lama, terdengar suara umpatan nyaring dari Richard. Richard berseru dan memaki. Namun, sesaat kemudian suara Richard justru terdengar memohon.


"Ampuni aku, Owen! Maaf telah mengusik kehidupanmu!" lirih Richard masih dalam posisi yang sama.


"Kau bilang apa? Aku tak mendengarnya!" hardik Owen sembari kakinya mendorong tubuh Richard yang menyebabkan tubuh pria itu terombang-ambing bagai sebuah ayunan.


Sean tertawa, kejadian ini seperti lelucon untuknya. "Buat dia duduk! Aku ingin melihat wajah sombongnya itu! Wajah yang sok berkuasa kini memohon ampunan!" kata Sean pada kedua bodyguard yang berjaga.

__ADS_1


Kedua penjaga itupun sigap, menggotong tubuh Richard yang tak mengenakan atasan, mendudukkan pria itu diatas kursi kayu yang ada disana tapi masih dengan keadaan tangan dan kaki yang terikat.


Richard kini bisa melihat jelas kedua orang didepannya. Bahunya berguncang, ia terisak penuh penyesalan. Ia melangkah terlalu jauh. Kekuasaan menggelapkan mata hingga menginginkan pembalasan dendam pada orang-orang yang pernah menyakitinya. Owen, Sean bahkan Gloria.


Seharusnya sejak awal Richard hanya menerima tahta dari Markus saja, lalu menjalankan semua bisnis gelap itu tanpa melibatkan masa lalunya yang seharusnya tak diungkit lagi.


Tapi, penyesalan Richard datang sangat terlambat. Ditengah-tengah nyawanya yang berada diujung tanduk. Tidak mungkin Sean ataupun Owen mau memaafkannya, sebab ia tahu ia sudah melangkah terlalu jauh.


Untuk Owen, Richard telah menghancurkan keluarganya. Dan untuk Sean, bukan cuma kasih sayang Markus yang ingin ia dapatkan seorang diri, juga harta yang harusnya mutlak menjadi milik Sean pun ingin Richard kuasai.


Sekarang, tidak ada ampun baginya lagi. Tidak akan ada. Richard meyakini itu saat melihat tatapan bengis penuh dendam dua orang yang ada dihadapannya.


"Owen, sekali lagi maafkan aku. Aku bersalah, sangat bersalah."


"Sean maafkan juga aku. Bagaimanapun kau menolaknya, tapi aku tetaplah adikmu. Darah yang sama mengalir dalam tubuh kita," tukasnya membuat Sean menelan getir menyadari hal yang disampaikan Richard memanglah kenyataan yang sesungguhnya.


Sean masih bisa menyalakan ponselnya, memilih icon bergambar kamera lalu mengubahnya menjadi mode video.


"Holla, Dia adalah Richard.... dia adikku, hahahaha! Kebetulan hari ini adalah hari terakhirnya." Sean memulai ucapannya. Owen hanya diam memperhatikan tanpa banyak bicara, keputusannya bulat untuk mendapat kepala Richard.


"Richard adikku, katakan pesan terakhirmu!" ucap Sean kemudian mengarahkan kamera ke wajah Richard lagi.


Merasa sudah meminta maaf pada Owen dan Sean. Kini batin Richard mengingat sebuah sunggingan senyum milik seseorang dalam benaknya.


"Gaby, istriku... maafkan aku, selama ini aku hanya memanfaatkanmu."


Sean terkekeh melihat Richard menurutinya untuk memberi pesan terakhir.


"Gloria, maafkan aku, sesungguhnya aku menyesal sempat menyakitimu. Dan juga... dan juga.... sebenarnya aku masih mencintaimu," lanjut Richard, membuat Sean menatapnya tajam dan langsung mematikan rekaman video.


Sementara Owen, ia menggelengkan kepalanya. Kesalahan besar mengakui perasaan untuk seorang wanita didepan suami wanita itu sendiri. Owen meraih pistol dan menodongkan senjata didepan wajah Richard.


Sean masih diliputi rasa terkejut sebab tak menyangka jika Richard mencintai Gloria juga. Sejatinya Sean tak pernah tahu jika Richard adalah mantan suami Gloria. Selama ini dia mengira Richard mengejar Gloria hanyalah karena dendam pada Owen-- yang entah apa sebab musababnya.


Sean tidak habis pikir dengan hal ini. Sepersekian detik berikutnya, suara seruan pistol terdengar seakan memekakkan telinga meski hanya satu kali tembakan.


Dor!


Tidak ada ampun untuk seorang pecundang seperti Richard. Pria itu meregang nyawa dihadapan kakaknya sendiri.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?!"


******


__ADS_2