
Siang harinya, Gloria yang sudah memutuskan untuk ikut ke kediaman teman Jade pun mulai bersiap. Selang lima belas menit kemudian mereka berangkat menggunakan satu mobil.
Beberapa saat dalam perjalanan, akhirnya mobil yang menyupiri kepergian mereka semua tiba disebuah Mansion yang sangat besar, bahkan melebihi besarnya Mansion Jade.
"Aku tidak pernah tahu kau mempunyai teman di sekitar sini, sayang." Oxela menyerukan pendapatnya. Jade hanya tersenyum simpul.
"Ayo kita turun!" kata Jade lantas turun dari posisinya yang duduk disebelah sopir.
Oxela, Gloria beserta seorang baby sitter yang menjaga Briel pun mengikuti jejak Jade dengan ikut turun dari mobil.
Kedatangan mereka rupanya sudah ditunggu oleh pemilik Mansion. Seorang wanita cantik dengan kulit eksotis tersenyum ke arah mereka semua.
"Hallo, Jade...." sapanya ramah.
Jade menjabat tangan wanita itu, kemudian menatap pada istrinya. "Hallo Renata.... ini Oxela, istriku."
"Hai, Oxela...." Wanita bernama Renata itu beralih menjabat jari jemari Oxela, senyumnya masih merekah.
"Hallo Renata," jawab Oxela ikut tersenyum.
Tapi mendadak Renata melirik pada satu wanita lain yang ikut datang bersama Jade. "Kau pasti Gloria!" tebaknya.
"Kau mengenalku?" tanya Gloria terkejut. Dia tak mengenal sosok didepan ya tapi wanita ini begitu fasih dan tepat menduga soal namanya.
"Maaf kita memang belum berkenalan sebelumnya, Gloria." Renata mengulumm senyum. "Tapi jika melihat suamiku kau pasti tidak merasa asing dengannya," lanjutnya.
Sepersekian detik berikutnya, mereka dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang datang dan bergabung di beranda Mansion.
"Sayang, kenapa mereka tidak diajak masuk!" ucap seseorang itu yang membuat Oxela dan Gloria terperangah.
"James?"
"James?"
Kedua wanita itu kini beralih menatap Jade seolah bertanya sejak kapan Jade berteman dengan James? James adalah sahabat Owen, begitulah pemikiran Gloria dan Oxela saat ini.
"Ternyata suamiku cukup famous," kelakar Renata membuat semuanya terkekeh. "Ya sudah, ayo masuk! Ayo, ayo!" ujarnya mempersilahkan.
Saat mereka semua sudah masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu mansion. Seorang baby sitter tampak keluar dari dalam ruangan lain sambil menggendong seorang bayi gembul yang sangat tampan.
Disaat itu juga, Gloria seakan terpana dan terhipnotis oleh suasana. Kilasan momen terbaik bersama bayi itu terasa terpantul-pantul dikepalanya seolah sedang ada track record yang tengah di putar.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Gloria ingat betul pemilik wajah yang serupa dengan bayi itu, suaminya. Bayi itu duplikat suaminya versi junior. Warna iris mata dan bentuk wajah yang nyaris serupa.
Tanpa bisa dielakkan lagi, Gloria berdiri dari duduknya, matanya seakan hanya fokus pada satu titik saja--menatap sang bayi--begitupun dengan telinganya, hanya bisa mendengar bayi itu yang kini sudah jelas bisa berceloteh sambil melambai-lambaikan tangan seolah tengah memanggilnya.
"Jeff...." Lidah Gloria sangat ringan memanggil nama puteranya. Tanpa bertanya pada siapapun atau tanpa menunggu penjelasan dari siapapun Gloria sangat yakin jika yang ada didepannya kini adalah puteranya, Jeff.
Tangan Gloria terulur, tidak ada yang mampu mencegah pergerakan wanita itu, bahkan baby sitter yang menggendong sang bayi pun dengan sukarela menyerahkan bayi itu agar berpindah kedalam gendongan Gloria.
"Jeff...." katanya lagi, kali ini terdengar lirih disertai isakan, namun senyuman kebahagiaan jelas muncul tersungging dari sudut bibir wanita itu.
Semua yang berada dalam ruangan itu menyaksikan momen yang sungguh memilukan sekaligus membahagiakan itu. Mereka terenyuh, namun juga merasa sangat bahagia, semacam perasaan yang bertolak belakang bercampur padu menjadi satu.
"Bagaimana bisa Jeff ada disini?" Kali ini suara Oxela terdengar nyaring. Ia bahkan menutup mulutnya dengan sebelah tangan menandakan sikap yang benar-benar speechless.
"Ceritanya panjang, Sayang." Jade menyahut. Namun seketika itu juga Oxela jadi menyadari sesuatu, bahwa selama ini Jade telah menyembunyikan hal besar darinya, termasuk tentang keberadaan Jeff bahkan tentang kehidupan bayi itu.
"Kau harus jelaskan secara detail padaku!" tuntut Oxela menatap tajam suaminya.
Jade mengangguk. Ia tahu setelah ini akan ada banyak pertanyaan dari Oxela untuknya.
Gloria tidak fokus lagi pada perdebatan suami istri tersebut. Atensinya teralihkan hanya pada sang putera.
"Jeff, ini Mommy...." kata Gloria sambil menciumi pipi gembul Jeff seolah tidak akan melepaskan bayinya itu sama sekali.
Mendengar itu, Gloria memeluk sang putra kemudian kembali mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke hampir seluruh bagian tubuh puteranya. Rindunya teramat berat, bahkan sulit untuk ditanggungnya.
"Ya Tuhan, Jeff anak Mommy...." Gloria meneteskan air mata bahagia. Mendung diwajahnya berangsur mulai tergantikan dengan raut cerah. Tampaknya kebahagiaan itu masih berpihak padanya, padahal selama ini ia sudah putus asa dalam belenggu kesedihan.
"Gloria, kau bisa duduk dulu.... tidak apa sambil menggendong Jeff, tidak akan ada lagi yang akan mengambilnya darimu." Renata melingkari pundak Gloria, seakan mereka sudah mengenal lama, sikapnya sangat bersahabat dan penuh kehangatan.
Gloria menurut, ia pun duduk disebelah Renata, entah kenapa Gloria juga merasakan bahwa aura Renata sangat bisa membuatnya tenang.
"James... bisa--bisakah kau menjelaskan, bagaimana bisa Jeff berada disini?"
James mengangguk. "Nanti akan ku jelaskan," katanya.
"Aku mau tahu sekarang!" tuntut Gloria sambil menatap Jamas penuh permohonan. Matanya tampak berkaca-kaca, membuat James akhirnya tak tega dan mengalah.
"Baiklah."
James menceritakan bagaimana ia bisa menyelamatkan Jeff dari Mansion Markus enam bulan yang lalu. Tidak ada kebohongan, James menceritakan segalanya tentang Jeff pada Gloria. Termasuk bagaimana ia dan Owen bekerja sama untuk mengeluarkan Jeff dari sana.
__ADS_1
"Jadi, waktu itu Owen masih hidup dan mengalami luka tusukan? Dan kau dokter yang mengobatinya?" tanya Gloria dengan suara bergetar.
"Ya."
"Setelah kejadian itu? Apa Owen benar-benar tewas dalam kebakaran?"
James terdiam, ia melirik pada Jade dan mereka seolah berbicara lewat isyarat mata. Jade tentu tak mau melanggar permintaan Owen untuk jangan dulu memberitahu Gloria tentang dirinya.
"Soal itu aku tidak tahu. Aku hanya berada disana sampai Jeff keluar dari sana. Setelah itu aku tidak tahu." James terpaksa memberi alasan, sebab ia juga tak mau terlalu banyak bicara yang justru akan menjadi Boomerang untuknya nanti. Bisa-bisa Owen akan marah padanya jika ia buka mulut soal penyamaran sahabatnya itu.
"Jadi, kau tidak tahu apa Owen masih hidup atau sudah tewas?"
James mengangkat bahunya kemudian menggeleng lesu.
"Aku melihat seorang pria yang mirip dengannya, demi apapun jangan mengatakan aku berhalusinasi," kata Gloria dengan nada tegas. Ia mulai terbuka pada James dan semua orang yang ada disana. "Jadi, aku masih berharap besar! Aku berharap, dugaanku mengenai pria itu tidak salah. Aku berharap dia adalah suamiku. Owen masih hidup!" sambungnya penuh rasa yakin.
Renata mengelus pundak Gloria berusaha menguatkan.
"Kau wanita yang kuat. Aku tahu itu dari sorot matamu, semoga harapanmu benar-benar terkabul," kata Renata. Entah kenapa setiap kalimat yang diucap Renata seakan membuat Gloria tenang. Entah dimana James menemukan wanita seperti ini.
Renata dan James benar-benar tampak serasi menurut Gloria.
"Sudahlah, kita membahas yang lain dulu. Aku tidak sanggup jika membahas hal menyedihkan terus menerus." James berusaha mengalihkan pembicaraan ini. Ia tahu hati Gloria sedang tak baik-baik saja. Dalam hati, James merutuki Owen yang membuat Gloria seperti ini karena misi penyamaran sebagai Nico.
"Kenapa kau menikah tapi tidak mengundang kami!" celetuk Oxela yang diam sejak tadi. Tampaknya Oxela pun ingin mengalihkan perhatian dari pembicaraan tentang kakaknya yang juga membuatnya bersedih.
"Maaf, waktu itu pernikahan kami sangat mendadak." Renata menimpali.
James pun mulai menceritakan detail pernikahannya dengan Renata yang sangat terburu-buru. Semua itu karena kehadiran Jeff. Kebetulan saat menyelamatkan Jeff, ia dan Renata belum menikah. Mereka larut dalam kesibukan masing-masing sehingga pernikahan jadi tertunda.
"Renata adalah seorang psikiater di Rumah Sakit milikku. Kami sama-sama sibuk dan selalu menunda pernikahan. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk mempercepat pernikahan karena adanya Jeff diantara hubungan kami. Jeff membawa keberuntungan untuk kami," terang James.
Pantas saja Renata pandai membawa diri dan bersikap hangat seolah mengerti keadaan Gloria, rupanya wanita dengan senyuman teduh itu adalah seorang psikiater. Pasti Renata bisa melihat sorot kesedihan dan kebahagiaan Gloria saat ini.
"Maaf, Jeff jadi merepotkan kalian." Gloria tak enak hati. "Pasti kalian jadi menunda bulan madu juga, kan?" tebaknya.
James dan Renata saling berpandangan satu sama lain. "Ya begitulah," jawab mereka serentak sambil terkekeh.
"Oh, maafkan aku!" ujar Gloria kembali merasa bersalah.
"Tidak apa, kami sangat menyayangi Jeff. Lagi pula aku belum mendapatkan tanda-tanda bahwa akan mengandung seorang bayi, dengan adanya Jeff itu menjadi semacam penghibur untuk kami berdua," kata Renata dengan senyuman teduh.
__ADS_1
"Itu artinya setelah ini kau dan James harus melakukan bulan madu yang panjang!" celetuk Gloria sembari memainkan tangan Jeff yang ada dalam pangkuannya. Ia membuat Jeff seolah tengah bertepuk tangan sekarang.
*******