Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Menerima


__ADS_3

"Aku akan menerima anak itu," ucap Richard saat mereka akhirnya tiba di Mansion.


Sebelumnya Richard dan Gloria sudah lebih dulu memeriksakan keadaan Gloria dan benar saja jika Gloria tengah hamil muda, mereka sama-sama tahu jika anak yang Gloria kandung sekarang bukanlah darah daging Richard.


Gloria mengadahkan wajah demi melihat Richard, ia mendapati Richard yang serius dalam ucapannya.


"Aku tidak bisa, Richard. Kita harus berpisah," jawab Gloria pelan.


"Lalu, kau akan kembali pada Owen? Apa kau pikir dia mau menerimamu? Jika dia menolakmu, bagaimana?"


"Entahlah, aku--"


"Lebih baik kau tetap bersamaku, apa kau mau hidup terlantar jika Owen mencampakkanmu? Terlebih, sekarang kau mempunyai nyawa lain didalam tubuhmu, pikirkanlah Gloria!" potong Richard.


"Aku tidak bisa, aku tidak bisa," isak Gloria.


"Sudahlah, aku tahu ini terjadi karena kesalahanku juga. Aku akan menganggap anak itu sebagai anakku, dia akan terlahir sebagai keturunan keluarga Jensen. Tetaplah bersamaku, Gloria!" mohon Richard dengan kesungguhan. Pria itu sampai bersimpuh dikaki Gloria agar Gloria mau mengikuti permintaannya.


Sebenarnya Gloria tidak tersentuh sedikipun dengan hal yang dilakukan Richard, tapi ucapan Richard ada benarnya. Ia tidak boleh egois sebab sekarang ada janin didalam kandungannya.


Bagaimana jika Owen menolaknya dan tidak mau menerima keadaannya? Terlebih jika Owen tahu ia hamil, lalu pria itu hanya menginginkan anak ini saja? Hal itu justru akan berimbas buruk untuk Gloria sebab Gloria tidak mau dipisahkan dengan anak yang nanti akan dilahirkannya.


____


Jared menatap atasannya yang belakangan hari semakin tempramental. Tepatnya setelah Gloria mengakhiri hubungannya dengan Owen. Kemudian, disusul dengan Richard yang menepati ucapannya dengan mengembalikan semua keuntungan proyek Real estate waktu itu. Richard juga memutus kerja sama yang sempat terjalin diantara mereka.


Semua yang dilakukan staff dan karyawan selalu salah dimata Owen. Jika ada kecacatan kerja yang masih bisa dimaklumi, Owen selalu memperkarakannya. Padahal sebenarnya, hal itu masih bisa diperbaiki dan dibicarakan baik-baik. Namun, Owen seakan tidak mau tahu, semua harus nampak sempurna dimatanya dan tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun.


Jika tidak, bersiaplah dengan kemarahannya.


Jared sendiri, yang setiap hari berada dimanapun Owen berada, harus pasrah saat menerima semburan kemarahan Owen. Sikap atasannya ini semakin parah saja, bahkan lebih parah daripada saat dulu ketika Owen merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Kemarahan itu semakin berlanjut tatkala Oxela menikah dengan Jade.


Jared menangkap, jika Owen tengah berada dalam fase puncak rasa iri yang hakiki. Ingin menikah juga, mungkin...


"Kakak, aku dengar proyek pembangunan menara yang akan dibangun sekitar dua Minggu lagi dibatalkan. Kenapa?" Oxela memasuki ruangan Owen, tanpa mengetuk pintu lebih dulu.

__ADS_1


Owen menatap marah pada Oxela.


"Kenapa? Apa aku yang akan terkena amukanmu kali ini?" sarkas Oxela. Ia sudah mendengar desas-desus dari hampir seluruh karyawan kantor yang menaungi divisinya -- mengenai perubahan sikap Owen yang menjadi tempramental akhir-akhir ini.


"Pergilah, Oxela! Jangan membuatku marah!" ucap Owen berdecak lidah.


Oxela tertawa sumbang. "Siapa yang mau membuatmu marah, kak? Coba pikirkan perubahan sikapmu ini. Jika kau terus seperti ini, perusahaan kita akan kehilangan banyak karyawan berpotensi. Dan aku, jika aku tidak kuat menghadapimu pun ... aku akan angkat kaki dari sini!" marah Oxela.


Jared menundukkan kepala, ia mendengar pertengkaran kakak adik ini untuk yang kesekian kalinya, bedanya sekarang, mereka bertengkar di kantor. Tidak biasanya.


Dalam pikiran Jared mengatakan, mungkin yang saat ini bisa mengendalikan Owen memang hanya Oxela saja.


"Sudahlah, urus saja suamimu! Jangan bekerja lagi ..."


"Oh begitu, oke, aku akan keluar dari perusahaan ini. Biar saja kau hancur sendiri! Urus semua peninggalan orangtua kita, Kak! Aku cukup ikut suamiku saja!" omel Oxela tak benar-benar serius dengan ucapannya.


"Ya, ya, ya, pergilah! Semua orang memang harusnya pergi meninggalkan aku! Aku layak untuk dicampakkan!" gumam Owen pelan, namun Oxela dan Jared mendengarnya.


Oxela memahami jika sang kakak belum reda dari rasa sakit hati terhadap kepergian Gloria, namun Oxela tak menyangka jika Owen sampai seperti ini. Ia mengira Owen dan Gloria tidak terlalu serius dalam menjalani hubungan meski ia pun berharap sang kakak menikah, hanya saja Oxela baru menyadari jika kepergian Gloria membuat sang kakak menderita.


"Jangan menyebut nama wanita itu, Xela.... bisakah?" lirih Owen, ia berdiri dari duduknya, memunggungi Oxela dan menatap ke arah jendela kaca lebar yang menampilkan pemandangan kota.


Oxela menatap Jared dan Jared memahami hal itu, Jared segera beringsut keluar dari dalam ruangan Owen.


Secara perlahan Oxela mendekati sang kakak, menepuk pundaknya dari belakang.


"Maafkan aku, Kak. Seharusnya aku menunda pernikahanku waktu itu."


"Ini tidak ada hubungannya dengan pernikahanmu."


"Tapi ucapanmu tadi cukup menyadarkanku kak, bahwa semua orang telah meninggalkanmu. Itu termasuk aku, kan? Keputusanku menikah membuatmu merasa ditinggalkan olehku juga, kan?"


Oxela mengapit lengan Owen, lalu bersandar dilengan sang kakak. Owen hanya menghela nafas panjang, tak tahu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh adiknya.


"Kakak lihat gedung-gedung disana itu," Oxela menunjuk kearah banyaknya gedung pencakar langit yang kini mereka tatapi. "Seperti itulah wanita, kak. Ada banyak... kau bisa mencari satu, untuk menggantikan posisinya," saran Oxela, ia tak mau menyebutkan nama Gloria lagi karena takut Owen akan kembali bersedih.


"Aku dulu juga begitu, Kak. Aku juga pernah patah hati, ditinggalkan. Tapi, pada akhirnya aku mendapat suami seperti Jade. Dia yang terbaik."

__ADS_1


Owen tersenyum tipis. "Begitukah?" tanyanya.


"Ya," jawab Oxela lantang.


"Apa kau benar-benar mencintai Jade?"


"Tentu saja, Kak!"


"Lalu, kalau Jade meninggalkanmu, bagaimana?"


"Kau mengucapkan hal yang tak baik, kak!" protes Oxela.


"Bukan itu maksudku, aku hanya ingin tahu bagaimana kau jika ditinggalkan Jade."


"Aku sangat mencintai Jade, kalau dia meninggalkan aku... pasti aku akan sangat terpukul, sedih dan mungkin hancur."


Owen tersenyum lagi, ia menatap Oxela dan mengacak rambutnya sekilas.


"Kalau begitu, jangan biarkan dia meninggalkanmu!" ucapnya.


"Tentu saja itu tidak akan terjadi!"


"Ku harap juga begitu! Aku tidak mau kau merasakan seperti aku!" ujar Owen membuat Oxela terdiam beberapa saat.


Oxela kembali mencerna ucapan Owen serta pertanyaan Owen tadi, hingga iapun memahami jika perasaan Owen terhadap Gloria sama seperti perasaannya terhadap Jade.


Inilah yang dirasakan Owen saat ditinggalkan Gloria. Terpukul, sedih dan hancur, sama seperti Oxela yang akan merasakan hal itu jika Jade meninggalkannya.


"Maafkan aku, Kak. Aku memahami apa yang kini kau rasakan." Oxela memeluk Owen, mendadak ia tertular kesedihan yang selama ini dirasakan sang kakak, membayangkan jika ia berada diposisi Owen yang ditinggalkan oleh orang yang dicintai.


Mungkin mudah bagi Oxela meminta Owen mencari wanita lain untuk menggantikan posisi Gloria, tapi jika hal itu ia kembalikan pada dirinya, ia pun tak mungkin dengan mudahnya mencari pengganti orang yang benar-benar ia cintai. Ia tidak akan sanggup.


"Sekarang kau sudah dewasa dan bisa memahami banyak hal. Ada beberapa hal yang tidak bisa diatasi dengan mudah," kata Owen mengelus kepala Oxela.


"Ya, dan salah satu hal yang tidak bisa diatasi dengan mudah adalah hal yang menyangkut perasaan," jawab Oxela.


****

__ADS_1


__ADS_2