Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Paket kiriman


__ADS_3

"Ya Tuhan...."


Gloria terkejut sekaligus terpana beberapa saat ketika melihat isi dalam kotak paket yang baru saja ia buka.


Bersamaan dengan itu, Owen tampak keluar dari kamar mandi dan mengamati istrinya.


"Sayang, apa itu?" tanyanya mendekat. Owen mendaratkan bo kong dan duduk tepat disebelah Gloria yang masih memangku kotak paketnya.


Owen memanjangkan leher demi bisa melihat isi dalam kotak sebab Gloria belum juga menjawab pertanyaannya.


"Sean...." lirih Gloria dan itu cukup terdengar di pendengaran Owen.


"Sean mengirimkan semua ini," kata Gloria berusaha bicara lebih detail. "Ini adalah barang-barang untuk pembuatan tembikar," imbuhnya.


Dahi Owen berkerut dalam. "Untuk apa dia mengirimkan barang-barang ini?" tanyanya tak paham.


Gloria menatap Owen dan menggenggam jemari sang suami. "Waktu di pulau, aku sempat mengalihkan pikiran dengan mencoba membuat tembikar. Ini salah satu hobiku dulunya."


"Jadi maksudmu, waktu di pulau itu Sean...." Owen tak bisa melanjutkan kalimat, meski dikepalanya sudah mendapat jawaban atas hal yang mulai dicernanya ini.


"Ya, Sean membuatkan ruangan khusus agar aku bisa menyalurkan hobiku yang satu ini," kata Gloria tersenyum.


Hati Owen cukup memanas mendengarnya, bagaimana tidak, ia sendiri tak tahu menahu mengenai salah satu hobi istrinya ini, sementara Sean justru sudah membuatkan Gloria tempat khusus untuk merealisasikan hobi wanitanya. Bukankah itu terdengar sangat manis?


"Jadi, dia mengirimkan ini semua agar kau selalu mengingatnya, begitu?" sarkas Owen.


Gloria malah terkekeh. "Kadang kau terlihat lucu sekali jika cemburu, Sayang!" ujarnya mencibir pernyataan Owen yang sarkasme.


Hhhh ....


Owen mendengkus pelan. Berjalan menuju lemari dan mengambil baju rumahannya. Ia bukan berlagak merajuk tapi ia benar-benar tak suka dengan kenyataan bahwa ada hal mengenai istrinya yang tak ia ketahui, sementara orang lain justru mengetahui sampai terlalu peduli dengan hal itu.


"Apa kau marah?" Gloria meletakkan kotak ke lantai dan berusaha mendekati posisi sang suami.


"Begitulah," jawab Owen terus terang.


"Mungkin Sean tidak bermaksud jahat, dia hanya merasa semua ini adalah milkku dan dia mencoba mengembalikannya." Gloria melingkari pinggang Owen dengan tangannya kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.


Owen memejam barang sejenak. Perlakuan Gloria tak bisa membuatnya marah terus menerus. Lagipula jika ia merajuk, ia juga yang akan rugi nantinya.


"Baiklah, aku sudah paham sekarang," ujarnya lesu. "Jadi, apakah kau masih mau melanjutkan hobi-mu ini? Jika ya, maka aku akan meminta pelayan menyiapkan ruangan untuk semua barang-barangmu ini."


"Apa kau tidak marah aku menggunakan semua pemberian Sean?" Gloria mendongak demi menatap Owen.


Owen menggeleng. "Aku akan menganggap ini semua memang kepunyaanmu dan bukanlah pemberian Sean."


"Suamiku memang terlalu sempurna," puji Gloria dan Owen memutar bola matanya.


"Kau kesal?" tebak Gloria.


"Tidak, justru aku akan membantumu menyusun semua barang-barang ini."


"Woaa... Tuan Zwart yang terhormat ternyata mau membantu istrinya!" kekeh Gloria.


Mereka tertawa bersama-sama. Semua masalah yang tak penting tak perlu diperbesar sedemikian rupa.


__


"Besok aku akan kembali bekerja." Owen berbicara sembari mulai sibuk membantu Gloria menyusun barang-barang pembuatan tembikar diruang yang sudah disediakan dalam Mansion.

__ADS_1


"Kau yakin? Apa kau tidak lelah?"


"Pekerjaanku sudah lama terabaikan. Ada baiknya aku muncul disana."


Gloria mengangguk, ia juga mulai menata dan meletakkan sebuah wadah untuk tempat penyimpanan tanah liat di sisi ruangan.


"Owen, kenapa kau sempat membahas Celine dengan Sean. Dan rencana mereka, sebenarnya apa yang mereka rencanakan?" tanya Gloria disela-sela kegiatan mereka ini.


"Sejak awal pertemuanmu dengan Sean sudah direncanakan. Itu yang aku tahu."


"Apa Celine yang merencanakannya?" tebak Gloria.


Owen mengangguki pertanyaan istrinya.


"Aku tidak menyangka kau punya informan sampai bisa mengetahui hal sejauh itu," kekeh Gloria.


Owen ikut tertawa pelan. Mendadak ia teringat James yang menjadi informan nya mengenai hal ini. Ia berhutang banyak pada sahabatnya itu dan juga pada Jamie.


"Jadi, sekarang dimana keberadaan Celine?"


"Aku sudah mengurusnya," kata Owen singkat namun Gloria memicing pada suaminya itu.


"Jangan bilang kau sudah membunuhnya, Owen!"


Owen justru terbahak. "Menurutmu?" tanyanya balik.


"Aku tidak bisa menebak yang kali ini."


Owen menggeleng, kemudian mendekat pada Gloria. Dalam sekali gerakan, ia sudah bisa membawa istrinya dalam gendongan.


"Aaa... Owen, turunkan aku!" pekik Gloria dalam gendongan suaminya.


"Oke, oke, baiklah..... aku menduga jika kau menelantarkannya entah dimana."


"Kenapa kau bisa berpikir begitu? Bukankah tadi kau mengira aku telah menghabisinya?"


Gloria mengetuk-ngetuk jari di dagunya. "Karena aku tahu sekejam-kejamnya suamiku, dia masih memliki nurani dan hati yang baik."


Owen tersenyum tipis. "Baiklah, karena jawabanmu benar maka aku akan memberimu hadiah. Katakan apa yang kau inginkan, hmm?"


"Apa, ya? Rasanya aku sudah memiliki segalanya saat bersamamu."


Owen tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, sepersekian detik berikutnya dia menyentuh ujung hidung Gloria dengan ujung hidung mancungnya sendiri, mengelus pelan disana membuat Gloria cekikikan dalam posisi masih berada di gendongan pria itu.


"Kalau kau tidak mau meminta hadiah padaku, berarti aku yang akan meminta hadiah padamu."


"Hadiah?"


"Huum.." Owen menganggukkan kepalanya dengan senyum kecil.


"Apalagi yang kau mau sebagai hadiah, Owen? Ku rasa aku tidak punya hadiah yang layak untuk diberikan pada orang yang sudah memiliki segalanya sepertimu," kekeh Gloria.


"Ada sesuatu yang bisa kau jadikan hadiah untukku," kata Owen sambil mengerlingkan matanya.


Seketika itu juga Gloria menangkap maksud suaminya.


"Baiklah, apa sesuatu itu?"


"Honeymoon kedua...."

__ADS_1


Dan Gloria terbahak mendengarnya.


_______


Beberapa tahun kemudian....


"Owen, tolong bantu aku meletakkan kue nya diatas meja." Gloria menjerit meneriaki suaminya. Ia masih sama seperti dulu, selalu membuat kue ulang tahun sendiri untuk orang-orang terdekatnya.


Owen datang dengan gerak cepat, lalu melihat kue ulang tahun yang sudah tampak dihias oleh sang istri.


"Istriku patut diacungi jempol, yeah...." kata Owen memberikan dua jempol pada sang istri. Memujinya.


"Sudah, cepat letakkan itu diatas meja ruang keluarga. Jeff pasti sudah menunggu disana."


"Siap, Nyonya!"


Owen membawa kue ulang tahun itu dengan perlahan sampai mencapai ruang keluarga dimana Jeff dan yang lainnya sudah berkumpul disana.


"Hallo Boy, lihatlah, ini kue ulang tahunmu, tadaaa...." kata Owen yang langsung meletakkan kue ke atas meja tepat dihadapan Jeff.


"Yeay, kue kue kue..." sahut Jeff riang. Ia melihat kue buatan Mommy nya dengan antusias.


Tak lama, Gloria ikut bergabung disana. Hari ini mereka akan mengadakan acara ulang tahun Jeff yang ketiga dan acara itu memang hanya diselenggarakan secara kekeluargaan saja. Hanya keluarga terdekat yang hadir serta sahabat-sahabat mereka.


Oxela, Jade, Briel, James, Renata dan Jamie turut hadir disana. Ada pula Jared dan beberapa kawan-kawan Jeff di daycare.


"Ayo boy! Tiup lilinnya saat semua sudah selesai menyanyikan lagu selamat ulang tahun!" kata Jade menyemangati Jeff yang super aktif itu. Jeff melonjak-lonjak didepan kue ulang tahunnya yang sudah dinyalakan lilin berbentuk angka tiga.


"Tiup lilinnya, sekarang Jeff!" pekik Oxela pula setelah semuanya selesai menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Jeff mematuhi perintah itu, beberapa kali hembusan ia lakukan dan akhirnya lilin pun padam.


Jeff kembali melompat kegirangan sebab berhasil membuat api di lilin itu menjadi padam.


Gloria segera mengambil pisau kue untuk membantu memotong kue ulang tahun itu.


"Sekarang, Jeff ingin memberikan kue ulang tahun ini pada siapa?" tanya Gloria.


Jeff tampak diam, bocah kecil yang tampak cerdas itu seolah tengah berpikir. Tak lama kemudian, sebuah nama tercetus dari bibir mungilnya.


"Lily...." kata Jeff pelan, membuat semua mata tertuju pada sosok gadis yang berdiri tak jauh dari posisi Renata. Gadis muda itu tersenyum manis dengan sikap kikuk.


"Wah, ternyata anakmu sudah bisa memilih dan melihat gadis cantik, Owen!" celetuk James disisi kiri Owen, membuat pria itu meringis mendengarnya.


"James.... Jeff itu masih kecil, lagipula Lily itu staff pengajar di daycare nya!" timpal Gloria mencebik.


Gadis bernama Lily itu mendekat ke arah Jeff setelah Gloria memberikannya izin, namun Jeff tidak langsung memberi potongan kuenya pada Lily, dia justru menarik tangan Jared yang berdiri kaku disamping meja.


"Uncle, berikan ini pada Lily...." Suara kecil Jeff yang sudah fasih bicara itu membuat Jared terbelalak kaget, pasalnya ia memang sedang menghindari sosok Lily.


Sementara itu, Lily sendiri mengulumm senyum akibat ulah murid kecilnya ini.


Jared menggaruk kening yang tak gatal, namun dia menerima juga piring berisi kue yang diserahkan Jeff kepadanya.


Tanpa basa basi atau kalimat apapun, Jared menyulangi Lily kue ulang tahun itu, sesuai instruksi dari Gloria.


Lily merundukkan badan demi bisa menyamakan tinggi dengan tubuh Jeff. "Good job, Jeff!" bisiknya di telinga Jeff.


"Yesss!" seru Jeff kesenangan karena merasa berhasil menjalankan misi.


*****

__ADS_1


__ADS_2