
Owen tengah melakukan meeting pagi bersama beberapa pekerjanya saat Oxela menghubunginya.
"Kenapa? Aku sedang meeting, nanti saja!" jawab Owen begitu panggilan ia terima.
"Kak, coba tebak aku bertemu siapa!" seru Oxela dari seberang panggilan.
"Astaga Oxela, aku sibuk! Bisa-bisanya kau mengajakku bermain tebak-tebakan," gerutu Owen.
"CK! Kau ini, kak. Aku bertemu Gloria disini!"
"Apa? Dimana kau?"
"Tempat pariwisata J, dia bersama suaminya."
Mendengar itu, Owen terdiam. Awalnya ia ingin sekali menyusul keberadaan Oxela, namun ia jadi mengingat saat dimana Gloria mencampakkannya beberapa bulan lalu.
"Sudahlah, aku sedang meeting penting. Hubungi aku jika ada hal yang penting saja!" kata Owen pelan.
"Jadi maksudmu yang ku beritahukan sekarang ini tidak penting?" omel Oxela.
Owen tak menyahut, ia memutus panggilan itu sebelah pihak. Mulai berusaha kembali fokus pada meeting nya hari ini.
Owen kembali menatap layar proyektor didepan sana--yang menampilkan grafik tentang perencanaan kerja selanjutnya sesekali ia mendengarkan Selena--sekretraris kantor-- menerangkan mengenai materi yang dibahas hari ini.
Meski pikirannya menjadi bercabang antara menyerap informasi terkait pekerjaan dan berita tentang Oxela yang sempat bertemu Gloria, tapi ia mencoba tetap tenang tanpa menunda rapat hari ini.
******
"Owen...."
Owen menatap ke arah pintu ruang kerjanya, ia melihat seseorang yang cukup membuatnya terkejut.
"Celine?"
Celine mendekati meja kerja Owen sambil memasang senyum simpul.
"Kapan kau kembali kesini? Bagaimana dengan masalahmu di UEA?" tanya Owen sembari kembali fokus pada pekerjaannya yang semula ia geluti sebelum kedatangan Celine ke ruangannya.
"Kemarin. Semuanya sudah beres, aku sudah bercerai dari suamiku," jawab Celine semringah.
__ADS_1
"Baguslah, itu yang kau inginkan, bukan?"
"Hemm, aku sudah terlepas darinya. Terima kasih, Owen. Semua ini berkat bantuanmu."
Owen hanya mengangguk samar. Dalam pikirannya kembali mengingat Gloria, sebab saat menolong Celine ia merasa Celine seperti Gloria yang ingin terlepas dari suaminya. Tapi sekarang semuanya jelas berbeda. Celine telah lepas dari belenggu rumah tangganya, sementara Gloria memilih kembali bersama Richard.
Mau bagaimana lagi, itu pilihannya. Ia tak mau memaksa perasaan wanita itu, sebab ia tak mau menyakiti. Gloria berhak bahagia dengan pilihannya sendiri meski itu membuatnya cukup kecewa dan sakit hati.
"Apa kau sibuk hari ini?" Celine kembali bertanya.
"Lumayan," jawab Owen.
"Jam berapa pekerjaanmu selesai? Bagaimana kalau kita makan malam bersama nanti, aku akan mentraktirmu," ucap Celine antusias.
"Kau sudah punya banyak uang, hah?" kekeh Owen.
"Tidak juga," jawab Celine sambil menggigit bibir.
"Baiklah, aku tidak akan melewatkan tawaranmu." Owen tersenyum kecil sementara Celine merasa sangat senang dengan penerimaan Owen kali ini.
_____
"Owen, bagaimana soal tawaranku?" tanya Celine saat keduanya mulai menikmati hidangan yang tersaji.
"Tawaran apa?" Owen mengernyit heran.
"Ehm... itu, waktu itu aku pernah mengatakan padamu bahwa aku akan membalas kebaikanmu meski tidak dengan uang," ujar Celine hati-hati.
Owen mengingat momen dimana Celine mengatakan hal yang dia maksud, sesaat berpikir, Owen langsung mengerti maksud wanita itu.
"Oh," jawabnya singkat.
"Bagaimana? Aku benar-benar ingin membalas kebaikanmu."
"Kalau soal itu tidak usah kau pikirkan, aku tulus menolongmu dan soal membalas kebaikan, ku rasa saat ini pun ... kau sudah membalas ku dengan bersikap tetap baik."
Celine tersenyum masam. "Owen, kau pasti memahami maksudku tentang membalas bukan dengan uang," katanya lagi.
"Aku tahu, aku memahami maksudmu tapi..."
__ADS_1
"Apa aku begitu buruk? Kau tidak tertarik padaku, begitu?" potong Celine cepat.
Owen tertawa pelan. "Bukan begitu, tentu kau cantik dan aku tertarik padamu--"
Celine langsung mengembangkan senyum cerahnya. "Benarkah?"
"Ya, untuk itu jangan menawariku hal aneh dengan alasan ingin membalas ku dengan sesuatu yang akan merendahkan harga dirimu."
"Owen... tentu aku tidak bermaksud merendah diri, kau tertarik padaku, kan? Kau juga mengatakannya barusan!"
"Ya, aku tertarik padamu sebatas teman. Kita sudah mengenal cukup lama, bukan?"
Glek...
Hati Celine terasa mencelos mendengar ucapan jujur dari mulut Owen.
"Kalau begitu, aku bersedia menjadi teman ranjangmu, Owen!" ucapnya pelan. "Sekalipun harus merendahkan diri, tak apa, sebab aku sadar betul dengan pertolonganmu yang begitu besar padaku," lanjutnya sambil menundukkan wajah.
Owen terkesiap mendengar penjelasan Celine yang terkesan blak-blakan itu.
"Celine, ku rasa pembicaraan semacam ini jangan dibahas lagi diantara kita sebab ini akan membuat mood baikku hilang!" tegas Owen.
"Kau mengatakan tertarik padaku tapi kau selalu menolakku, Owen. Bukan hanya sekarang tapi dari dulu. Jika dulu kau tak bisa menggunakan hati padaku, apa sekarang juga tidak bisa?" tuntut Celine dengan wajah merah padam.
"Tidak bisa!" jawab Owen mantap. "Sebab kita hanya teman. Just friend, never change!" tegasnya lagi.
Celine menatap nanar pada Owen, matanya mulai berkaca-kaca.
"Baiklah, jika kau tidak bisa menggunakan hati padaku sampai saat ini, aku rela jika kita hanya menjalin pertemanan untuk bersenang-senang."
Owen tersenyum smirk. "Menyerahlah, Celine... aku memang senang bermain wanita, itu benar, aku tak menampiknya. Tapi, jika kau memintaku untuk mempermainkan mu yang adalah temanku aku tidak tertarik." Owen meraih gelas berisi wine disampingnya, kemudian meneguk itu secara cepat.
"Jika kau sudah bisa membersihkan segala pikiranmu tentang aku, baru temui aku lagi."
"Kau mau kemana?" Celine menahan lengan Owen yang beranjak hendak pergi.
"Pulang! Ku rasa pertemuan dan pembahasan kita kali ini sudah cukup! Seperti kataku, kau bisa menemuiku lagi, jika dipikiranmu sudah tidak memikirkan mengenai hal semacam ini," kata Owen sembari melepas pelan tangan Celine yang sedang menggenggam pergelangan tangannya.
******
__ADS_1