
Sean mengangguk. Gloria menjerit senang, dengan refleks memeluk Sean dengan euforia kegirangan. Sean terkejut dengan pelukan Gloria yang tiba-tiba, namun dia tak mencegahnya, justru merasa ikut senang dengan hal ini. Baru hendak membalas pelukan Gloria, ternyata wanita itu sudah melepaskan rengkuhannya.
"Ayo kita berangkat!" kata Gloria antusias.
Sean menggeleng. "Lakukan dulu penyamaranmu! Biar aku lihat!"
Gloria mengangguk patuh. Demi apapun ia amat senang karena akhirnya ia bisa keluar dari pulau terpencil ini.
Menjelang siang, Sean dan Gloria tiba di kota. Gloria mengenakan rambut palsu pendek, ia juga membuat semacam tahi lalat didekat dagunya. Tak lupa ia mengenakan kacamata hitam untuk menyempurnakan penyamarannya.
Sean sampai tak mengenali Gloria. Dia tersenyum sambil mengacungkan dua jempol atas penyamaran yang Gloria lakukan.
Mereka menyusuri kota. Membeli segala keperluan yang hendak mereka beli. Yang kebanyakan adalah bahan makanan untuk dimasak selama di pulau nanti.
"Kita ke supermarket!" kata Sean. Ia tak ragu menggandeng tangan Gloria sebab ia pun takut jika Gloria sampai dikenali seseorang. Ia juga takut Gloria mengambil kesempatan untuk kabur darinya hingga akhirnya dia tak bisa melindungi wanita itu lagi.
Sampai di supermarket, Gloria membeli beberapa kebutuhan wanita yang ia perlukan. Kemudian, entah kenapa pandangannya tertuju pada setumpukan makanan siap saji yang tersusun di rak teratas. Gloria ingin menjangkau namun tangannya tak bisa mencapai.
"Sean, tolong ambilkan itu untukku!" pintanya pada Sean. Ia menoleh kesamping, mengira Sean masih disampingnya, namun lambat laun dan tanpa disadari ternyata ia telah terlepas dari pengawasan Sean akibat keadaan yang cukup ramai.
Gloria tidak merasa takut, sebab ia merasa akan bertemu Sean lagi nantinya. Supermarket ini juga tak terlalu besar, pikirnya. Sean juga pasti akan segera mencari dan menemukannya. Gloria tak merasa ini sesuatu yang patut di khawatirkan karena dia bukanlah seorang balita yang hilang ditengah kerumunan.
Akhirnya, Gloria memutuskan untuk melanjutkan sesi belanjanya. Ia masih penasaran dengan makanan siap saji yang ingin diambilnya tadi. Ia berjinjit-jinjit ingin menjangkau namun sebuah tangan yang panjang, mendahuluinya untuk mengambil makanan serupa.
"Kau mau ini?" Pertanyaan itu membuat Gloria menoleh. Bukan, bukan karena pertanyaannya melainkan karena suara itu terdengar tak asing dan sangat familiar. Gloria terkesiap saat melihat sesosok pria tinggi yang kini berada disampingnya sembari mengulurkan makanan siap saja yang sejak tadi hendak ia ambil.
"Owen?" Suara Gloria bergetar, tentu dia mengenali pria itu. Pria itu adalah suaminya karena tak banyak berubah dari segi penampilan.
Pria yang disangka Gloria adalah Owen, justru mengernyit menatapnya.
"Ini aku, Gloria!" bisik Gloria pelan didekat pria itu. "Ya Tuhan, kau masih hidup..." Gloria ingin menangis namun dia menahan isakannya itu. Ia juga menahan rasa ingin memeluk Owen saat ini.
Pria itu meletakkan kembali kotak makanan siap saji yang tak kunjung diambil Gloria dari tangannya padahal ia sudah menyodorkan itu pada sang wanita.
Gloria mendekap erat lengan pria itu, tidak membiarkan tautan tangannya terlepas. Tapi, pria itu tampak risih.
__ADS_1
"Dengar Nona, kau mungkin salah mengenali orang! Aku bukan pria yang kau maksud!" katanya datar.
Gloria terbelalak. Dia tak mungkin salah mengenali orang. Tidak, dia benar-benar Owen. Kenapa Owen tidak mengenalinya? Apa karena penampilannya saat ini yang sedang menyamar sehingga Owen tak mengingatnya. Tapi, tadi ia sudah mengatakan bahwa dia adalah Gloria.
"Owen...." lirih Gloria tak menyangka saat pria itu justru menepis tautan tangannya.
"Maaf Nona, sekali lagi ku katakan jika kau salah orang," kata pria itu menekankan.
Gloria terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ia tak mungkin salah orang, ia mengenali sosok suaminya luar dalam. Tapi, ucapan pria ini membuatnya terguncang dengan satu pemikiran tentang ucapan Jared dimasa lalu--yang tak sengaja didengarnya--mengenai ingatan suaminya yang mungkin akan melupakan dan tak akan mengingatnya saat bertemu kembali.
"Owen, ini aku Gloria, istrimu!" Gloria mulai meneteskan airmatanya. Ia menatap dalam pada netra pria itu. Pria itu membalas sorot matanya dengan tak kalah dalamnya. Gloria bisa merasakan jika kerinduan terpancar lewat sorot mata itu.
Namun, suara seseorang membuat kontak mata diantara mereka terputus.
"Nico, apa kau sudah selesai?" Seorang pria bertubuh tegap datang menghampiri keduanya.
"Aku sudah selesai," kata pria itu, dia masih menatap Gloria dengan tatapan yang sama. Namun, Gloria sudah tak berani membalas tatapan itu sejak ia mendengar pria itu dipanggil dengan nama 'Nico'.
Setelah itu, kedua orang itupun pergi dari hadapan Gloria tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi. Gloria masih menangis, ia bahkan berjongkok didepan rak yang berjejer rapi, mengabaikan orang yang berlalu lalang di area itu dan menatapnya penuh selidik.
"Aku pikir aku kehilanganmu!" Sean menatap Gloria dan memutuskan untuk segera kembali pulang ke pulau.
_______
"Minumlah," kata Sean menyodorkan segelas air soda kehadapan Gloria. Mereka baru tiba di pulau saat hari sudah menggelap.
Gloria mengangguk patuh seperti biasanya. Ia tak mau Sean curiga, sebab ia tak berniat menceritakan tentang pertemuannya dengan sosok mirip Owen di supermarket tadi.
Ia meneguk air soda dan merasakan tenggorokannya menjadi segar, namun itu tak bisa menyegarkan hatinya yang mendadak gundah. Tak dipungkiri, ia ingin bertemu sosok itu lagi untuk memastikan jika itu benar-benar Owen atau tidak.
"Kau banyak diam setelah kita pergi hari ini," kata Sean.
Gloria menoleh dan mencoba menyunggingkan senyum.
"Mungkin aku hanya lelah," katanya beralasan.
__ADS_1
"Ya, kau takut kehilangan jejak ku tadi. Sampai kau terduduk dilantai...." kelakar Sean mengingat saat dia menemukan Gloria di supermarket tadi, keadaan Gloria seperti tengah menangis.
Gloria hanya tersenyum tipis dan memilih kembali meneguk air soda nya.
"Jika kau lelah, istirahatlah...." ujar Sean.
"Hmmm," gumam Gloria. Wanita itupun bangkit dari posisinya. Namun, tanpa pernah ia sangka Sean memegang pergelangan tangannya.
"Ada apa?" tanya Gloria datar, ia menatap pada genggaman tangan Sean yang tidak juga dilepaskan dari pergelangannya.
"Gloria.... ku pikir, aku---"
"Aku sangat lelah. Bisakah kita membahasnya besok?" potong Gloria cepat. Gloria merasa kehilangan mood sebab pertemuannya dengan sosok mirip Owen tadi. Sementara itu, Sean merasa Gloria menghindarinya, padahal ia berniat mengutarakan perasaannya pada wanita itu.
"Baiklah, beristirahatlah...." kata Sean. Rupanya pria itu ikut berdiri, tanpa persetujuan siapapun, dia membelai wajah Gloria dengan jemarinya.
Gloria terbelalak dengan perlakuan manis Sean. Ia mencurigai jika Sean mulai menggunakan hati dengannya. Gloria menangkap tangan Sean, secara pelan ia menurunkan jemari itu yang sempat membingkai wajahnya.
"Apa pantas kau memperlakukanku begini? Aku wanita yang sudah bersuami," kata Gloria tegas.
Sean terdiam. Dia tidak menyangka jika Gloria masih menganggap bahwa statusnya adalah seorang wanita bersuami. Sebab, sudah enam bulan tidak mengetahui kabar Owen lagi, dalam artian status Gloria saat ini tidaklah jelas.
"Apa kau akan tetap menganggap statusmu sebagai seorang wanita bersuami jika ternyata Owen sudah tewas."
"Sean!!!!" Gloria memekik keras. Ia tak suka dengan ucapan Sean itu.
"Gloria, kau bahkan tidak tahu apa kabar Owen diluaran sana!"
"Diamlah, Sean! Aku tidak suka kau mencampuri urusan rumah tanggaku. Sampai kapanpun aku akan menganggap Owen masih hidup! Aku meyakini itu!" kata Gloria marah.
Sean menggeleng tak percaya dengan jawaban Gloria itu. "Mungkin kau akan menganggapnya tewas jika sudah bertemu dengan jasadnya," gumam Sean membuat kemarahan Gloria semakin menjadi-jadi.
"Aku tidak tahu apa yang kau inginkan! Tapi, berhentilah membahas hal ini. Aku lelah!" Gloria berlalu meninggalkan Sean.
"Yang sekarang aku inginkan adalah kau, Gloria!" gumam Sean sambil menghempaskan bo kongnya ke sofa. Ia merasa menjadi pecundang sebab menginginkan istri dari sepupunya yang ia pun tak mengetahui kabar Owen lagi sebab sudah lama meninggalkan kediaman ayahnya.
__ADS_1
*******