Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Keputusan


__ADS_3

Owen memperhatikan Gloria yang sibuk bersiap. Wanita itu menghias wajah dengan make-up tipis setelah mandi dan berganti pakaian didalam kamar mandi. Benar-benar bersikap menutup diri.


Jeff masih nyenyak di atas tempat tidur saat Owen meninggalkan kamar lalu menyusul Gloria yang tengah sibuk membuat sarapan di area kecil yang tidak cocok dikatakan sebagai dapur.


"Jika kau mau sarapan enak, kembalilah ke penginapanmu. Aku hanya membuat omelet," kata Gloria masih sibuk didepan kompor.


Owen tak menjawab, dia memperhatikan penampilan Gloria yang sudah cantik dan rapi. Mau kemana dia?


Gloria menikmati sarapannya, dia memang bersikap cuek pada Owen namun Owen tersenyum kala mendapati secangkir kopi yang pasti disediakan Gloria untuknya.


"Terima kasih, aku merindukan kopi buatanmu juga," kata Owen pelan, kemudian mulai menyeruput kopinya.


Gloria menghela nafas. "Setelah selesai dengan kopimu, pergilah..." ucapnya dingin.


"Kenapa kau terus mengusirku? Aku tidak pernah mengusirmu saat kau tinggal ditempat ku," sindir Owen.


"Aku akan bekerja. Jadi lebih baik jika kau tidak disini."


"Kau bekerja? Lalu, siapa yang menjaga Jeff?"


"Hans akan menjaganya."


"Hans belum kelihatan," papar Owen.


Gloria juga heran, kemana kakaknya semalaman tidak pulang, malah sengaja meninggalkannya bersama Owen dirumah ini.


"Sebentar lagi dia akan kembali."


"Kau bekerja di Bar sepagi ini? Bukankah Bar hanya buka di malam hari?" selidik Owen.


"Aku kerja di Bar memang malam hari. Yang pagi ini aku bekerja di sebuah toko souvenir pinggir pantai."


"Banyak sekali pekerjaanmu," kata Owen heran.


"Aku harus membiayai hidupku dan Jeff, apalagi sekarang ada Hans disini... Kalau aku bekerja, Jeff akan mengonsumsi susu formula dan itu tidak murah! Aku juga harus menabung untuk masa depan Jeff, kalau hidupnya tidak layak, dia bisa diambil alih oleh dinas sosial, aku tidak mau!" jawab Gloria tak acuh.


Owen tercengang, jadi Gloria bekerja keras demi menghidupi diri dan puteranya. Kenapa ia jadi merasa sebagai pria yang tak berguna begini?


Gloria membersihkan sisa sarapan dan cangkir bekas kopinya, membawa itu ke sudut kamar mandi. Namun, Owen menghalangi jalan wanita itu saat hendak keluar dari area yang cukup sempit itu.


"Menyingkir lah, aku hampir terlambat."


"Tapi, Hans belum kembali. Apa kau mau meninggalkan Jeff dan tetap bekerja?"


Gloria terdiam, tak tahu mau menjawab apa, dia juga bingung sekarang. Mana mungkin dia tetap bekerja jika Hans tak pulang.


"Aku... tetap disini, ya. Biar aku menjaga Jeff."


Glora tertawa pelan. "Seorang sepertimu menjaga bayi? Apa bisa?" tanyanya.


"Kau meremehkan ku?"

__ADS_1


Gloria mengulumm senyum sambil geleng-geleng kepala.


"Gloria, kau tahu aku tidak suka memaksamu. Tapi, kali ini ku mohon... kembali ke sisiku demi putera kita."


Gloria tertegun saat melihat ketulusan di mata Owen, ia sulit berkata-kata. Bagaimana ia menolak keinginan pria ini.


"Aku tidak pernah mengatakan bahwa Jeff adalah puteramu, dia puteraku!" lirih Gloria.


"Lalu, apa semua data di rumah sakit itu? Kau yang mengisi datanya, kan? Ayah Jeff adalah aku. Aku juga masih ingat saat aku membuatnya!"


Gloria berdecak lidah. "Tapi, aku sudah pernah kembali pada Richard... dan dia sudah menyentuhku waktu itu."


Owen terdiam beberapa saat. "Richard menyentuhmu? Apa saat itu dia telah sembuh?"


"Begitulah, dia menjadikanku bahan percobaannya."


Owen tertawa sumbang. "Lalu, kau mau mengatakan jika Jeff adalah anak Richard, begitu?"


Gloria tak menjawab, dia mencoba menghindar dari Owen namun Owen tak memberinya akses untuk bisa keluar dari area sempit ini.


"Meski kau menghindar sampai lari ke ujung dunia pun, kau tidak bisa menyanggah bahwa Jeff tetap puteraku. Wajah Jeff adalah duplikasi ku!"


"Terserahlah, minggir!" Gloria hendak mendorong dada Owen agar pria itu menyingkir, namun Owen lekas menangkap tangan Gloria, membawa jemari itu kedepan wajahnya lalu mengecupnya perlahan.


Gelenyar aneh langsung melingkupi diri Gloria, untuk sesaat dia tertegun, sampai tak sadar bahwa Owen semakin merapatkan diri padanya, merundukkan wajah lalu melabuhkan bibirnya diatas bibir Gloria.


Sentuhan itu membuat Gloria lupa diri, dia menikmati saat Owen semakin memperdalam ciumannya. Awalnya Owen hanya berniat mengecup namun lama kelamaan semakin intens sebab menyadari jika Gloria membalasnya.


Owen lebih dulu melepaskan diri, sebab merasakan jika Gloria sudah terengah-engah. Ia menatap wajah wanita itu kini memerah, ia mengelusnya pelan.


"Comeback to me...." ucap Owen didepan wajah Gloria.


Gloria tertunduk, tidak menjawab, kemudian mendorong tubuh Owen dan pergi menuju ruang kamar.


Owen tersenyum tipis, kemudian menyusul langkah Gloria. Dalam hatinya, ia berharap Hans jangan dulu kembali.


"Beri aku jawaban, Gloria... apa kau senang melihatku mengemis seperti ini?" lirih Owen.


Gloria diam, dia memunggungi posisi Owen yang berdiri di ambang pintu.


"Kalau kau mengira aku akan mempermasalahkan semua yang terjadi padamu, itu salah! Aku tidak perduli semua itu!"


Gloria berbalik demi menatap Owen. "Kau yakin? Kau tidak akan mengungkitnya suatu hari nanti?" tanyanya serius.


"Ya, kita lupakan semua itu. Kita sekarang memiliki Jeff yang harus kita jaga bersama-sama."


Owen mendekat, kemudian duduk di bibir ran jang. Refleks, Gloria kembali menyampingkan tubuh, menatap Jeff yang masih terlelap disampingnya.


"Lihatlah Jeff... apa kau mau selama hidupnya dia tidak memiliki ayah?"


Gloria terduduk. "Dia memiliki Ayah!" omelnya.

__ADS_1


"Ya dan itu aku."


"Bukan, ayahnya adalah Hans. Hans yang menjaganya."


"Tapi aku yang membuatnya."


Gloria berdecak tak bisa menjawab lagi.


Owen menahan tawa, ia senang melihat Gloria yang dengan raut wajah marah tapi tidak bisa menyanggah ucapannya lagi, seperti ini.


Owen meggenggam tangan Gloria. Tidak ada penolakan dari wanita itu. Owen tahu dan ingat betul jika wanitanya ini selalu plin-plan. Jadi sekarang ia ingin meyakinkan Gloria kembali agar mengambil keputusan yang paling benar.


"Baiklah, karena aku tidak mau memaksamu... aku akan memberimu waktu beberapa hari untuk berpikir," kata Owen akhirnya.


Gloria mengangguk. Owen tersenyum hangat menatapnya.


"Hari ini tidak usah bekerja, Hans seperti nya belum mau kembali..."


Gloria mengangguk lagi.


"Aku kembali ke resort, ya. Aku masih ada pekerjaan." Owen hanya ingin melihat reaksi Gloria saat ia memutuskan pergi, ia ingin tahu apakah wanita itu rela jika ia pergi dari sisinya sekarang. Padahal meetingnya dengan Tuan Brandy sudah tuntas kemarin.


Dan benar saja, Gloria menundukkan wajah tanpa menjawab ucapan pamit dari Owen.


Owen berdiri dari duduknya. "Kau tidak mau mengantarku sampai depan pintu?" tanya Owen.


Gloria menggeleng.


"Baiklah, aku pergi..."


"Owen!!" panggil Gloria cepat.


"Ya?" Owen menoleh.


"Kapan kau kembali untuk menagih jawabanku?"


"Kau butuh waktu berapa hari untuk memikirkannya? Jika kau butuh waktu tiga hari, aku akan kembali tiga hari kedepan. Jika kau akan menjawabnya besok maka aku akan kesini lagi besok," kata Owen tersenyum tipis.


"Ka-kalau aku ... menjawabnya sekarang?" tanya Gloria tampak gugup.


"Jawablah!"


"Aku... aku mau kita kembali bersama." Gloria menggigit bibir.


"Benarkah?"


Gloria mengangguk, Owen langsung memeluk tubuh ramping wanita itu. Bahkan mengangkatnya tinggi.


"Terima kasih, aku tidak akan mengecewakanmu," kata Owen mengecupi pucuk kepala Gloria bertubi-tubi.


*******

__ADS_1


__ADS_2