
Owen POV
Aku tidak pernah melihat sikap Gloria seperti ini sebelumnya. Dia benar-benar mendiamkan ku karena kedatangan Celine kemarin. Bahkan pagi ini dia tidak menyapaku walaupun aku sudah menggodanya beberapa kali. Dia sibuk mengurusi baby Jeff yang baru selesai dimandikan oleh Karina. Padahal Jeff sudah nyenyak didalam stroller, tapi dia bersikap seolah Jeff sedang mendengarkannya.
"Jeff, kalau nanti Jeff besar jangan menyakiti hati mommy ya, melahirkan itu sakit, Jeff. Pria tak akan pernah merasakannya, hanya wanita. Jadi, jangan pernah membuat mommy sakit hati ya...." oceh Gloria sembari mencium pipi Jeff beberapa kali.
Kenapa ucapannya seolah tengah menyindirku seperti itu? Aku memang tidak tahu sakitnya rasa wanita melahirkan, aku tahunya cuma membuatnya hamil saja. Ck!
Aku masih diam dan duduk di kursi makan, memperhatikan Gloria yang semakin mengganggu kenyamanan tidur Jeff.
"Nanti Jeff akan bangun jika kau terus mengganggunya seperti itu, Honey....." protesku pelan.
Gloria menatapku horor, kemudian berdecak lalu menatap Jeff kembali dengan tatapan teduhnya. Ya ampun, salah lagi kan aku. Dimana salahku, Tuhan?
"Sayang, bagaimana kalau besok kita pergi honeymoon? Jeff kan sudah terbiasa dengan Karina." Lebih baik memberi usul yang bagus, daripada semakin membuat singa wanita marah. Ehm, maksudnya singa cantik marah.
"Kau masih menginginkan honeymoon itu?" tanya Gloria sembari melirikku sekilas.
"Tentu saja, Sayang...." jawabku antusias.
"Memangnya kau mau mengajakku kemana?"
"Kemanapun kau mau ...." jawabku disertai senyuman paling manis yang ku miliki.
"Baiklah, tapi Jeff dan Karina ikut."
"Apa? Mana bisa begitu.... biarkan Jeff dirumah bersama Karina dan kalau perlu Oxela dan Jade ku minta menginap di Mansion."
Gloria memasang senyum masam.
"Kau egois sekali Owen, kita bukan lagi sepasang tapi kita sudah punya anak. Wajar Jeff ikut, aku tidak akan tenang meninggalkannya. Lagipula, Oxela itu sedang hamil tua, tiba-tiba dia mau melahirkan, bagaimana? Siapa yang menjaga anak kita?"
"Aku akan meminta bantuan Jared atau Celine!" jawabku spontan, karena hanya nama itu yang terpikir dibenakku secara tiba-tiba.
"Apa? Siapa? Sepertinya kau benar-benar menyebalkan, Owen!" hardik Gloria seraya berdiri dan berlalu membawa stroller Jeff ikut serta.
Aku mengusap kasar wajah, ternyata aku salah bicara lagi. Sebenarnya salahnya dimana? Kenapa akhir-akhir ini Gloria selalu mempermasalahkan tentang Celine? Bukankah kami tak memiliki hubungan. Aku juga sudah menikahi Gloria, bahkan aku tak memiliki perasaan pada Celine. Kenapa dia jadi marah super lama seperti ini?
______
Gloria POV
__ADS_1
Bagaimana bisa Owen mengajak bulan madu tapi tidak membawa Jeff ikut serta, apa dia tidak memikirkan keadaan Jeff nantinya? Dia juga membawa-bawa nama Celine untuk menjaga putera kami. Padahal dia tahu sejak kemarin aku mulai merasa tidak menyukai sikap wanita itu.
"Sayang, aku hanya memberi saran. Jangan seperti ini. Aku bukan tidak mau membawa putera kita, tapi aku memikirkan kondisi tubuhnya, ingatlah umurnya masih sangat kecil, aku hanya tidak mau dia kelelahan kesana kemari." Rupanya Owen menyusulku ke kamar.
"Justru karena dia masih kecil, dia harus ikut kemanapun aku pergi. Jika dia sakit atau apa, ada aku yang menjaganya bukan Celine!" kataku menekankan nama wanita itu.
"Iya, iya, ya sudah kita membawa Jeff ikut serta."
Aku diam tak menyahutinya. Dalam hati aku merasa puas.
"Satu lagi, jika kau benar-benar ingin mengajak berbulan madu ada satu syaratnya..."
"Apa?" tanya Owen.
"Jangan menyebut nama wanita lain saat kita bersama!"
"Maksudmu.... nama Celine?"
Astaga, dia menyebutnya lagi. Harus seperti apa aku mejelaskan padanya bahwa aku tidak mau membahas tentang wanita itu lagi.
Owen terkekeh tiba-tiba, mungkin dia memahami wajah suram yang ku tekuk saat ini.
"Sayang, sudahlah! Aku senang kau mencemburuiku, tapi jangan seperti itu. Kau sangat berlebihan."
Aku tak menggubris ucapannya, aku lebih memilih menggendong Jeff lalu meletakkannya dengan hati-hati ke dalam baby bed. Bayi tampanku tidur itu nyenyak, aku bisa mengerjakan hal yang lain.
"Kau mau kemana, Honey?"
"Aku mau pergi...." jawabku random.
"Pergi? Kemana? Biar ku temani."
"Tidak usah, aku mau pergi berbelanja kebutuhan rumah," jawabku asal.
"Astaga, sudah ada kepala pelayan yang akan mengurus hal itu di Mansion ini."
"Aku tetap mau pergi!" ketusku kesal.
Owen menarik lenganku. "Jangan mencari-cari alasan untuk menghindariku, Gloria!" katanya dengan suara khasnya yang penuh intimidasi.
Aku menciut, mengepalkan tangan menahan kesal.
__ADS_1
"Sayang, bisakah kita bicarakan semuanya secara baik-baik? Aku tidak mau ada apapun yang kau pendam," kata Owen sembari membingkai wajahku dengan jemarinya.
Aku menekuk leher, tidak mau membalas tatapan matanya yang selalu berhasil memporak-porandakan hatiku.
"Say something, apa yang kau rasakan? Jujur saja, semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak memikirkanmu yang seperti ini."
Secara perlahan-lahan aku mulai mendongak menatapnya, aku meneteskan airmata.
"Maaf, aku juga tidak tahu kenapa aku seperti ini.... mungkin ini efek lelah sejak aku melahirkan Jeff dua bulan lalu, entahlah...." ucapku terus terang.
"Ehmm.... aku mengerti," jawab Owen dengan sangat lembut.
"Dan satu lagi, aku benar-benar memikirkan tingkah Celine kemarin. Dia seperti hendak merebut mu dariku," ujarku hati-hati.
"Tidak sayang, perasaanmu yang sedang sen sitif. Celine tidak ada maksud apa-apa, semua murni untuk pekerjaan. Jangan seperti ini lagi, oke?"
Aku berdecak lidah. Tak suka dengan jawaban Owen yang tak sepaham dengan maksudku.
"Aku tetap tidak suka dia dekat denganmu," gumamku pelan.
"Baiklah, tanpa kau minta aku akan jaga jarak darinya. Dia akan ku pindahkan ke kantor cabang lain. Bagaimana?"
Aku menatap Owen dengan binar-binar antusias, memasang puppy eyes yang pasti akan membuat Owen menatapku gemas.
"Apa itu tidak apa-apa?" tanyaku memastikan.
Owen mengacak rambutku. "Tidak apa-apa, Baby.... aku berhak menentukan segalanya, termasuk kepindahan Celine. Dan kau, kau berhak meminta apapun padaku.... termasuk melakukan hal yang diluar batas," ujar Owen sambil sengaja memutar bola matanya.
Seketika aku terkekeh menyadari ucapan suamiku itu. Artinya, Owen memang bos-nya, tapi aku lebih hebat daripada dia sebab akulah yang bisa mengendalikannya. Hahaha, aku tersenyum jahat, jahat untuk menyingkirkan seseorang yang tak ku sukai. Lebih baik menuntaskannya sejak awal sebelum dia semakin bersikap menjadi-jadi.
"Apa kau puas, Nyonya Zwart?" tanya Owen dengan senyum smirk nya.
"Aku sangat puas!" ucapku yakin.
"Tapi aku belum puas sebelum memuaskanmu."
Kini giliranku yang memutar bola mata dihadapan Owen, membuat pria itu tergelak sambil mencubit gemas kedua pipi ini.
______
Maaf ya, kemarin gak bisa crazy up... lagi kurang sehat.
__ADS_1
Tolong bantu like, komen, hadiah, dan vote ya biar othor semangatππππ§‘π§‘π§‘π§‘π§‘πππππ