Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Malam kelabu


__ADS_3

Gloria


Richard tersenyum penuh kepuasan diatas ditubuhku yang terasa remuk redam. Aku benar-benar tidak bisa menjaga diriku dari serangan buasnya. Dia benar-benar mengendalikan aku bagai boneka percobaan. Tidak punya hati dan belas kasih.


Jangan tanyakan apa yang aku rasakan, jangankan menikmati apa yang diperbuatnya, aku justru merasa telah di p e r k o s a oleh suamiku sendiri.


Aku menangis tanpa suara. Air mataku bagai bendungan sungai yang membludak, keluar begitu saja tanpa bisa ku tahan.


"Breng sek!"


"Baji ngan!"


Aku mengumpatnya terus menerus namun Richard seakan tidak mendengar makianku. Aku menutup diri, merasa rusak dan tak berharga. Baru kali ini aku merasa diriku amat kotor. Tidak layak untuk siapapun lagi. Tapi bukan berarti aku pasrah untuk terus dijadikan alat percobaan untuk Richard. Sampai matipun aku tidak bisa melupakan kekejamannya yang telah memaksaku.


"Sudahlah, Gloria! Kau berlagak seperti gadis saja! Padahal kau sudah lebih dulu menyerahkan diri pada pria selain suamimu!" sarkasnya. Ia berkata sembari memunguti pakaiannya yang terserak dilantai.


"Setidaknya Owen tidak pernah memaksaku," ucapku tergugu.


Aku pun mencoba duduk bersandar di kepala ranj ang, tapi aku tidak bisa menghentikan airmataku yang tak kunjung berhenti akibat kejadian malam ini. Demi apapun, aku ingin mencakar wajah Richard atau memberinya pelajaran yang lebih dari itu, sayangnya aku menyadari jika aku adalah wanita yang lemah dan tidak punya daya untuk melawan kekuatan Richard yang jauh diatasku.


Richard berdecih mendengar jawabanku. "Itu artinya kau sukarela memberikan tubuhmu untuk dia, begitu?"


Aku membuang pandangan, tidak mau menatap Richard yang menyeringai kearahku.


"Kalau kau tidak melawanku dan tidak mengatakan tentang cintamu pada lelaki itu aku juga tidak akan memaksamu seperti ini."


Aku diam sembari mere mas selimut yang ku gunakan untuk menutup tubuh polosku. Ucapan Richard benar-benar menunjukkan bahwa dia tak merasa bersalah sedikitpun kepadaku.


"Aku sangat membencimu," ucapku tajam. Richard justru terkekeh pelan.


Setelah dia selesai memakai kembali seluruh pakaiannya, dia mendekatiku yang menyudut diujung ranj ang. Tangannya terulur, hendak menyentuh pucuk kepalaku, namun aku segera menghindar agar tak mendapat perlakuan itu.

__ADS_1


"Yang perlu kau ingat adalah aku yang suamimu. Bukan dia!" paparnya padaku dengan senyuman miring.


Aku tidak tertarik untuk menjawab apapun ucapannya lagi, karena saat ini aku tengah meratapi nasibku sendiri.


"Aku tidak menyalahkanmu karena telah memberikan tubuhmu padanya, aku tahu sejak awal aku yang salah telah menyerahkan mu pada dia. Tapi, aku tidak menyukai jika kau berkata mencintai dia. Kau paham itu!" Richard berkata pelan, namun penuh penekanan.


Aku hanya menatap kosong ke arah dinding-dinding kamar. Yang ku ketahui saat ini adalah aku sangat membenci Richard dan aku ingin segera pergi jauh dari dirinya.


Secara mendadak, kepingan-kepingan kenangan tentang Richard melintas dikepala. Bagai rekaman film yang diputar ulang dalam ingatanku.


Dulu, aku menghabiskan banyak waktu untuk memikirkannya. Saling menerima demi melabuhkan cinta. Ajakannya untuk menikah, membuatku merasa diatas angin. Melambungkan ku seperti berada di mimpi terindah yang menjadi kenyataan.


Bahkan, keseriusannya dia buktikan dengan menempuh perjalanan sampai ke kota kelahiranku untuk menjemputku agar menjadi miliknya. Mewujudkan segala keinginan, hingga berakhir pada ikatan pernikahan.


Aku mencintai Richard dengan segala tentang dia yang ku ketahui, begitupun aku merasa dia mencintaiku dengan segala pembuktian cintanya.


Aku selalu mengharapkannya, bahkan disetiap malam sunyi setelah kami resmi menikah dan dia tak kunjung menjadikanku istri yang sesungguhnya.


Entah sejak kapan mulanya, aku jadi sering mabuk dan menghabiskan banyak waktu di Club' untuk melupakan ke-abai-an Richard terhadapku. Richard tidak peduli, dia lebih sering tak pulang ke rumah bahkan menganggapku tidak ada.


_____


"Nyonya!"


Suara pekikan Gabby yang memasuki kamar membuatku mengerjap-ngerjap.


"Nyo-nyonya... tidak apa-apa?" tanyanya dengan wajah pias. Aku segera menyadari kenapa wajah Gabby tampak seperti itu, rupanya kondisiku saat ini memanglah sangat memprihatinkan.


Badanku hanya ditutupi selembar selimut dengan tubuh yang tergeletak di lantai. Aku menatap ruangan kamar yang berantakan akibat kemarahanku semalam seperginya Richard dari kamar ini.


"Gabby..." lirihku, suaraku serak bahkan nyaris hilang.

__ADS_1


"Nyonya, biar aku bantu berdiri..." Tangan Gabby terulur dengan tubuhnya yang sedikit dibungkukkan. Aku meraihnya dengan lemas tanpa tenaga yang tersisa.


"Apa Nyonya ingin mandi? Biar aku membantumu, Nyonya!" ucap Gabby sembari mulai menyediakan segala keperluanku untuk digunakan seusai mandi.


Aku yakin, dari tatapannya Gabby seolah ingin tahu apa yang telah terjadi kepadaku. Namun, dia sepertinya mengerti batasannya di rumah ini.


Gabby membantuku mandi, menyiapkan air panas di bathub beserta aromaterapi.


"Jika ada yang Nyonya butuhkan lagi, segera beritahu aku. Sarapan pagi akan diantar lima belas menit kemudian," ucapnya disertai senyuman yang nampak dipaksakan.


Aku menangkap wajah Gabby yang prihatin akan kondisiku saat ini.


"Gabby, kau sudah berjanji akan membantuku keluar dari Mansion ini, kan? Bantu aku... please, jangan ingkari janjimu."


Gabby memejamkan mata sejenak. "I-iya, Nyonya. Aku akan membantumu, aku tidak tega melihatmu seperti ini," ucapnya dengan berbisik-bisik.


Baiklah, tampaknya Gabby tak perlu mendengar cerita mengenai apa yang terjadi padaku. Dia pintar dan dia bisa menyimpulkan dengan sendirinya, ya, sepertinya begitu.


"Terima kasih, Gabby. Aku tahu kau wanita yang baik."


___


Siang menjelang sore, aku dan Gabby berjalan secara berjingkat-jingkat di dapur untuk menjalankan misi pelarian diri.


"Nyonya, aku hanya bisa membantu nyonya satu kali, jika rencana ini tidak berhasil, aku benar-benar minta maaf tidak bisa membantu dilain waktu," bisik Gabby.


Aku mengangguk paham, aku tahu, dengan Gabby membantuku itu berarti dia telah menggadaikan pekerjaannya di Mansion ini. Semoga saja berhasil dan tidak ada yang tahu jika Gabby yang telah membantuku kabur.


Sebelumnya Gabby sudah memberiku pakaian ganti. Aku mengenakan pakaian pelayan agar tidak ada yang mencurigai ku, baik dari rekaman CCTV ataupun para pelayan lain yang mungkin akan melihat keberadaanku.


Ku rasa ini akan berhasil, tapi entah kenapa jantungku tetap berdegup kencang.

__ADS_1


Disaat aku hampir mencapai pintu keluar, tubuhku terasa sangat ringan. Pandanganku berubah menjadi abu-abu dan tiba-tiba semuanya gelap.


*****


__ADS_2