
"Apa itu? Aku akan berusaha mengabulkannya."
"Aku akan mengatakannya saat kita tiba di pulau."
"Baiklah." Aku mengecup puncak kepala Gloria dan merangkulnya kedalam dekapanku.
Kami berada diujung Yacht sambil memandang langit yang mulai menjingga. Sebentar lagi matahari akan terbenam ke peraduan dan aku tidak ingin melewatkan pemandangan sunset pantai petang ini, sebab momen ini akan mengingatkanku pada wanita yang berada dalam dekapan.
"Apa kau menyukai liburan dadakan kita?" Aku melirik pada Gloria yang sesekali menghirup udara sembari menghembuskannya pelan, ia tampak rileks dan aku senang dengan hal itu.
"Sure, it's not bad. Aku merasa terlahir kembali di hari ulang tahunku. Pengalaman pertamaku naik Yacht," kata Gloria sembari tertawa renyah.
"Benarkah?" Aku lebih senang karena selalu menjadi orang pertama yang memberinya beberapa kenangan terbaik dalam hidup.
"Ini salah satu momen ulang tahunku yang terbaik." Gloria menatapku dengan senyuman yang paling manis. Tampaknya dia benar-benar bahagia.
"Kau mau menungguku sampai aku kembali, kan?" tanyaku sembari mencoba merapikan rambutnya yang meriap-riap sebab angin yang cukup kencang berhembus.
Gloria hanya tersenyum tipis yang ku anggap sebagai jawaban bahwa ia pasti akan menungguku. Akupun menyelipkan helaian rambut wanita itu kebelakang cuping telinganya.
Tak berapa lama, kami mulai menyaksikan panorama matahari yang terbenam diufuk barat. Aku semakin mengeratkan dekapan pada tubuh ramping Gloria, rasanya tidak ingin momen romantis ini cepat berakhir.
Mataku terpana tatkala Gloria mengucapkan beberapa kalimat dalam satu tarikan nafas.
"I love you ..."
"...never leave you,"
"...bisakah kau menjanjikan hal yang sama denganku?"
Aku menggeleng pelan sambil melengkungkan bibir. "Aku tidak bisa menjanjikan hal itu. Aku hanya berjanji tidak akan menyakitimu."
"Penolakanmu membuatku sakit," lirih Gloria dengan suara sumbang.
"Aku tidak menolakmu, aku hanya tidak mau menjanjikan sesuatu yang bisa ku ingkari karena aku tidak yakin," terangku.
"Baiklah, dengan cara apa agar kau yakin dengan perasaanmu?" Gloria terdengar serius.
"Entahlah." Aku bisa melihat Gloria yang tersenyum kecut mendengar ucapanku.
"I want to kiss you..." Aku mengalihkan pembicaraan yang akan berakhir dengan pertengkaran kami lagi.
"Again,"
"Again,"
"...and again! Ku rasa, aku tidak akan pernah bosan dengan hal ini."
Aku pun mulai membelai bibir Gloria dengan ujung jariku lalu memangkas jarak diantara kami.
Kali ini, bukan lagi aku dan Gloria yang memandangi panorama sunset. Melainkan, matahari lah yang harus menjadi saksi momen penyatuan bibir kami.
__ADS_1
Diujung Yacht, dengan langit jingga keunguan yang menaungi, serta angin laut yang ikut membelai sekujur tubuh. Momen yang akan terekam mutlak dalam ingatanku dan ku harap, akan juga dikenang oleh wanitaku, Gloria.
_______
Kami tiba di Pulau saat hari mulai menggelap. Kami menyempatkan diri membeli pakaian agar segera bisa menggantinya.
"Sekarang, katakan apa hadiah ulang tahunmu?" Aku menggenggam jemari Gloria sembari menatapnya lekat.
Gloria tertunduk, kemudian menoleh kembali demi menatapku. "Semua surat-surat pentingku di rumah Richard, termasuk paspor dan yang lainnya."
Aku tidak mengerti kenapa Gloria sangat menginginkan hal itu. Apa itu sangat penting hingga ia meminta hal itu untuk hadiah ulang tahunnya?
"Hanya itu?" tanyaku memastikan.
"Iya, aku akan mendaftarkan perceraikanku."
Kini aku sadar jika semua itu memang sangat penting untuk Gloria. Entah kenapa aku ikut senang dengan tindakannya yang tegas untuk segera bercerai dari Richard.
"Baiklah, besok semua itu sudah ada dihadapanmu. Kau puas?"
Gloria mengangguk berulang dengan pupil mata yang berbirnar-binar.
"Kita cari penginapan, oke!" Aku bangkit, mengulurkan tangan pada wanita itu dan Gloria pum segera meraihnya.
Kami mulai menyusuri jalanan yang didominasi dengan pasir pantai.
Namun, mataku tak sengaja melihat Gloria yang menguap beberapa kali.
"Sedikit," jawab wanita itu.
"Baiklah, kita ke penginapan itu saja," ucapku menunjuk sebuah Resort.
"Hmm." Gloria mengangguk patuh dan aku mengacak rambutnya dengan lembut.
Sampai di Penginapan yang terbilang cukup lumayan untuk pulau kecil ini, aku langsung mengajak Gloria untuk mandi dan membersihkan diri.
"Kau saja yang lebih dulu," kata Gloria, dia tampak sibuk membereskan belanjaan kami yang sempat terbeli tadi.
"Tidak usah menyusun itu, kau harus mengutamakan tubuhmu," ucapku tersenyum kecil.
Gloria memicing kearahku.
"Aku hanya takut kau sakit. Baju itu sudah basah berkali-kali dan kering dengan sendirinya di tubuhmu." Aku merujuk pada dress floral yang masih Gloria kenakan.
"Baiklah," ucapnya seraya bangkit dan hendak menuju kamar mandi.
Namun, aku yang memang sudah berdiri diambang pintu ini membuatnya memberi isyarat mata agar aku segera menyingkir.
"Bersama, ya!" ucapku setengah merengek seperti anak kecil yang mengekori langkah ibunya.
Gloria menggeleng keras. Namun, aku tetaplah aku yang akan memegang kendali atas segalanya.
__ADS_1
"Owen," protes Gloria begitu aku ikut menyerobot masuk ke dalam kamar mandi juga.
Aku hanya tersenyum smirk menanggapinya.
"Hanya mandi!" kata Gloria lebih seperti mengancam. Aku menaikkan sebelah alis disertai senyuman culas yang terus tersungging.
______
Aku tahu Gloria mengantuk, meski begitu aku tidak mengizinkannya untuk langsung tidur setelah acara mandi bersama kami, aku memaksanya agar makan malam terlebih dahulu.
"Kita makan diluar saja, agar rasa ngantukku hilang." Gloria akhirnya memberi usul dan aku menyukai sarannya itu.
"Padahal jika saat mandi tadi diselingi kegiatan lain, pasti ngantukmu akan hilang juga," kelakarku menggoda Gloria. Aku yakin Gloria memahami maksud perkataan ku ini.
Gloria memutar bola mata dan mencebikkan bibir dengan malas.
Aku pun terkekeh melihatnya yang malas-malasan, namun aku tetap menyukai sikapnya itu.
Setelah mengenakan jaket yang cukup tebal untuk melindungi tubuhnya dari terpaan angin malam yang cukup menusuk di Pulau ini, barulah Gloria menyusulku yang sudah bersedekap didepan pintu--bersiap untuk meninggalkan kamar.
Kami pun mulai berjalan bergandengan, keluar dari Resort yang menjadi tempat menginap.
Kami mencari Restoran yang barangkali bisa menarik minat untuk mencicipi makanan yang disajikan disana.
"Owen, aku ke toilet sebentar." Gloria berucap setelah kami tiba disebuah Restoran pinggir pantai yang sudah kami pilih, lebih tepatnya ini adalah pilihan Gloria.
Aku mengangguk, memilih memasuki area tempat makan itu lalu menuju sebuah meja yang terletak diujung-- yang memberi akses pemandangan laut lepas dimalam hari.
Seorang pelayan menghampiri dan menanyakan pesananku. Aku memesan makanan untukku dan untuk Gloria, sebab aku mulai mengetahui apa yang dia sukai dan tak sukai.
Beberapa menit menunggu, aku tidak mendapati Gloria kembali. Sampai makanan pesanan sudah tersaji diatas meja, wanita itu belum juga kembali kehadapanku.
Kemana dia?
Perasaanku mulai tidak enak, apa terjadi suatu hal yang membuat Gloria telat kembali?
Sudah hampir 40 menit, namun Gloria belum nampak didepanku, hatiku mulai merasa khawatir, cemas dan akhirnya aku bergerak meninggalkan meja yang sudah menyajikan makanan itu.
Aku berjalan cepat menuju dimana keberadaan toilet namun aku tidak menemukan Gloria disana.
Aku tidak mungkin masuk ke dalam toilet wanita, lain halnya jika aku pergi bersama Jared, mungkin asistenku itu yang akan ku suruh masuk lebih dulu untuk mencari keberadaan Gloria didalam sana.
Aku sampai terlupa akan satu hal. Ah, harusnya aku menghubungi ponsel wanita itu.
Aku langsung menelepon ke nomor Gloria, namun panggilanku tidak dijawabnya. Sampai panggilanku yang keempat, akhirnya panggilan itupun tersambung.
"Kau dimana?" tanyaku begitu Gloria menerima sambungan selulernya.
Gloria tidak menjawab, hanya suara isakan yang terdengar.
"Kau kenapa?" cecarku. "Jangan membuatku cemas, katakan apa yang terjadi padamu dan katakan keberadaanmu, SEKARANG!"
__ADS_1
*****