Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Menenangkan diri


__ADS_3

Awalnya aku ingin ke sebuah tempat hiburan yang mungkin bisa menghiburku sesuai dengan namanya. Namun, aku justru membawa diri menuju ke Pierchic, sebuah tempat yang ku pikir bisa membuatku lebih tenang.


Suasana yang diberikan oleh tempat ini memang menenangkan karena letaknya berada di dermaga Laut Arab. Tapi begitu aku sudah menginjakkan kaki disana, barulah aku menyadari jika tempat ini seharusnya didatangi oleh sepasang kekasih. Berbanding terbalik dengan keadaanku yang baru saja ditinggalkan oleh wanita yang saat ini sulit untuk ku sebutkan namanya sebab aku merasa begitu kecewa terhadap dia.


Aku lupa, jika Pierchic adalah salah satu tempat paling romantis untuk kencan malam. Tapi, semuanya sudah terlanjur. Alhasil, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan duduk disudut tempat itu.


Entah kenapa aku lebih memilih untuk memesan beberapa kaleng softdrink daripada menghabiskan malam dengan berbotol - botol minuman keras.


Dari tempatku, aku bisa melihat banyaknya pasangan yang menghabiskan waktu bersama disini.



Aku menatap nanar ke arah salah satu pasangan yang nampak serasi. Dimataku, mereka seolah tengah mengolok keadaanku yang mungkin nampak sangat menyedihkan. Baiklah, aku akan menikmati malam ini secara sadar sambil menghabiskan minuman berkarbonasi yang sama sekali tidak menyehatkan.


Aku meminta bantuan pelayan tempat itu untuk memberikanku kotak obat, aku membersihkan luka ditangan ku yang darahnya sudah tampak mengering. Kemudian membalutnya dengan kain kasa.


Aku kembali meratapi kepergian wanita itu, dia--yang tak mau ku sebutkan namanya--seharusnya ada disini. Harusnya ku bawa dia bersamaku agar dia tidak meninggalkanku seperti ini.


Jeratan cinta yang dia berikan kepadaku, membuatku tidak bisa melepaskannya begitu saja. Tapi, kenapa dengan mudahnya dia pergi?


Bahkan, dia masih menggunakan fasilitas yang ku berikan untuk membeli tiket pesawatnya. Kenapa dia salah menggunakan semua itu? Kenapa dia salah mengartikan kebaikanku kepadanya? Kebebasan yang ku beri bukan berarti dia bebas sesuka hati meninggalkanku seperti ini.


Dia, seharusnya dia ikut bersamaku. Kemanapun aku pergi. Aku menyesal meninggalkannya jika akhirnya harus menahan kekecewaan sedalam ini akibat keputusannya yang secara tiba-tiba.


Pukul dua belas malam waktu setempat, aku memutuskan kembali ke Apartmen. Namun diperjalanan aku nyaris menabrak seseorang, membuatku mau tak mau keluar dari dalam mobil.


"Maafkan aku, aku tidak begitu fokus. Kau tidak apa-apa, Nona?" Aku mencoba menanyakan keadaan perempuan yang hampir ku tabrak, ia tampak meringkuk ketakutan ditengah jalan. Ini salahku, aku yang terlalu laju dalam mengemudi karena masih dikuasai amarah dan kekecewaan.


Secara perlahan, wanita itu mengadah demi melihatku. Kami sama-sama terkejut satu sama lain.


"Celine..."


"Ng, Owen...." suaranya terdengar bergetar.


Celine adalah satu-satunya teman perempuan yang paling dekat denganku ketika kami sama-sama bersekolah di jenjang Senior High School.


"Kau sedang apa disini?" tanyaku cukup terkejut mendapati sosok yang ku kenal dinegara yang asing.


Celine tampak mematut raut wajah yang aneh, ekspresinya pun tidak terbaca. Aku berinisiatif mengajaknya ke mobilku sebab tak mungkin berlama-lama ditengah jalan.


"Celine, are you oke?"


Celine mengangguk pelan.

__ADS_1


"Kau tinggal di Negara ini? Katakan alamatmu, biar ku antarkan pulang," ucapku sembari memasang seatbelt.


Celine masih diam, aku menunggu jawabannya sembari menyetel GPS mobil untuk menuju alamat yang akan diberikan wanita itu.


"Aku tidak punya tempat tinggal disini," jawab Celine akhirnya.


Aku terkejut dan menatapnya heran. "Seriously? Apa kau sedang liburan disini? Baiklah, katakan dimana tempatmu menginap."


Celine menggeleng lemah. "Sebenarnya aku kabur dari suamiku."


"What??"


"Dia memukuliku, Owen. Tolong bantu aku keluar dari negara ini."


Aku menggeleng pelan. Beberapa saat berpikir akhirnya aku mengemudikan mobil dan membawa Celine ke Apartmenku.


Aku membawa Celine bukan karena ada maksud tertentu, tapi aku melihatnya seperti Gloria, memiliki masalah dengan suami dan ingin segera keluar dari Negara yang asing baginya. Bedanya, terhadap Celine aku merasa kasihan tapi pada Gloria aku memang tertarik sejak awal.


"Turunlah," ucapku begitu tiba di basement Apartmen yang ku tinggali.


"Kau membawaku kemana, Owen?"


"Ini tempatku menginap selama berada di kota ini. Aku akan memesankan satu unit berbeda untukmu sampai masalahmu selesai."


"Owen... itu berlebihan, kau akan menghabiskan banyak uang untukku. Carikan saja aku hotel."


Celine mengangguk pelan. Sebenarnya hubungan pertemanan diantara kami sempat merenggang sebab Celine yang pernah mengungkapkan rasa padaku, dulu. Saat itu aku tidak terpikir untuk menjalin hal bernama 'cinta', aku terlalu sibuk mengurusi peninggalan bisnis yang diwariskan oleh mendiang Ayahku. Baik bisnis legal maupun ilegal. Belum lagi dendam orangtua yang mau tak mau harus ku balaskan.


Sejak ku tolak, Celine menjauh dengan sendirinya dariku tanpa pernah ku minta. Mungkin dia berkecil hati atau apa, aku tak mau repot memikirkannya.


Dulu, aku menolaknya karena aku merasa tidak layak didampingi oleh wanita manapun. Sehingga aku takut menjalin hubungan dengan siapapun. Aku juga tak tertarik pada temanku sendiri, Celine. Hanya pernah sekali jatuh cinta, kepada Zahra, itu saja.


Dan sekarang aku mencintai Gloria tanpa memikirkan wanita yang lainnya. Sayangnya Gloria meninggalkan aku, miris sekali.


"Owen, aku merasa tidak enak atas pertolonganmu ini." Celine menatapku dengan wajah sendunya.


"Sekarang ku tanya padamu, jika bukan aku, kau akan meminta pertolongan kepada siapa lagi?"


Wanita itu tertunduk lesu, kemudian menggeleng lemah.


"Ya sudah, anggap saja pertemuan kita yang kebetulan hari ini adalah jalanku untuk menolongmu."


"Te-terima kasih banyak," ujarnya terdengar sungkan.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo turun!" ajakku sembari keluar dari mobil.


Sambil berjalan menuju lobby, aku menelepon Jared agar menyusulku.


Aku memperkenalkan Jared kepada Celine begitu asistenku itu tiba.


"Celine, setelah ini kau bisa katakan apapun yang kau butuhkan pada Jared. Dia akan membantumu." Aku bergerak menuju lift disusul Jared dan Celine-- setelah selesai dengan urusan penyewaan satu unit Apartmen untuk ditinggali wanita itu.


"Ah ya, katakan pada Jared mengenai permasalahan rumah tanggamu. Nanti akan ku sewakan pengacara yang bagus."


Celine menatapku bengong, kemudian suaranya mulai terdengar.


"Kau serius? Owen... kau selalu baik padaku. Maaf atas kelakuanku yang dulu sempat terlalu kekanak-kanakan," kata Celine tertunduk.


"Hmm..."


"Apa kau ada masalah?" Rupanya Celine sedang menebak keadaanku.


"Tidak," sanggahku mencoba memasang senyum.


"Benarkah? Wajahmu terlihat kusut dan itu...." Celine menunjuk ke arah tanganku yang terbalut kain kasa.


"Oh ini... hanya luka karena insiden kecil." Aku melirik Jared yang tertunduk, memberi kode lewat sorot mata agar dia tak menceritakan masalah ini nantinya kepada Celine misal wanita ini menanyakannya.


Celine mengangguk meski raut wajahnya nampak tak percaya dengan kata-kataku.


Celine keluar lebih dulu dari dalam lift sebab lantai apartemen yang ku sewakan untuknya berada satu lantai dibawah unit milikku.


"Jangan beritahukan hal apapun pada Celine terkait masalah pribadiku. Urus masalahnya sampai selesai dan bantu dia keluar dari Negara ini. Jika dia punya izin tinggal disini tolong bantu mencabut izin itu," pesanku pada Jared.


"Iya, Tuan."


"Kau sudah dapatkan alamat Gloria di Indonesia?" tanyaku lagi.


"Sudah, Tuan."


"Baiklah, segera urus penerbangan kita secepatnya."


"Tuan, apa tidak sebaiknya kami saja yang mencari Nona Gloria ke Indonesia?"


"Kenapa? Aku ingin ikut menjemputnya!"


"Maaf, Tuan... tapi entah kenapa saya merasa jika Nona Gloria masih berada di Negara kita."

__ADS_1


"Apa??"


*****


__ADS_2