Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Kedatangan


__ADS_3

Kedatangan Owen, Gloria, Jeff serta Hans ke Mansion keluarga ternyata disambut hangat oleh Oxela dan Jade yang sudah menunggu kepulangan mereka.


"Gloria, nice to meet you." Oxela dan Gloria saling memeluk layaknya teman lama yang baru kembali bertemu, padahal keduanya tidak seakrab itu, bertemu pun hanya sekali dan itupun tanpa unsur kesengajaan.


"Nice to meet you too, Xela..."


"Wah, keponakanku?" Oxela langsung merunduk ingin melihat tampang baby Jeff didalam stroller.


"Jangan ganggu puteraku, Xela," decak Owen dengan nada tak suka.


"Aku hanya ingin melihatnya, ternyata wajahnya mirip sekali denganmu, Kak. Semoga dia tidak menyebalkan sepertimu," kata Oxela berlagak mencebik.


Mereka semua pun tertawa beriringan.


Beberapa pelayan langsung membawakan beberapa barang Hans dan Gloria ke kamar yang sudah disediakan untuk mereka di dalam Mansion itu.


Oxela ngotot menjagai Jeff yang tertidur di Stroller. Dia meminta Gloria agar langsung beristirahat karena dia yakin jika calon kakak iparnya itu pasti lelah karena perjalanan tadi.


"Adik ipar yang pengertian," kata Gloria terkikik.


Oxela ikut tertawa. "Sudah sana, beristirahatlah..." katanya mengibaskan tangan sebagai isyarat menyuruh Gloria segera berlalu.


Sementara itu, Owen, Jade dan Hans ingin menghabiskan sisa sore dengan bermain Jenga.


Jenga adalah permainan yang bertumpu pada kemampuan dan kehati-hatian dalam melepas blok-blok kayu di bagian bawah, dan seberapa tinggi bisa menyusunnya.



Mereka bermain sambil mengobrol ringan.


"Kapan kalian menikah, Owen?" tanya Jade memulai.


"Dua atau tiga hari dari sekarang, maybe."


Jade mengangguk pelan.


Sementara Hans ikut menimpali. "Bukankah itu terlalu cepat? Bahkan Orangtuaku baru ku beri tahu pagi tadi," timpal Hans.


"Ya, dan kemungkinan hari ini mereka sudah dalam perjalanan untuk terbang dan menuju kesini," jawab Owen tenang sembari fokus menarik satu blok kayu permainan dengan hati-hati.


"Hah? Kau bercanda?" tanya Hans melotot.

__ADS_1


Owen menggeleng samar. "Tidak, semua sudah ada yang mengurus. Termasuk baju yang akan kau kenakan nanti di pernikahanku dengan Gloria."


Hans terkekeh. "Mr. Perfect," oloknya.


Owen hanya mengendikkan bahu cuek. "Aku hanya ingin semua berjalan lancar dan Gloria bahagia karena kehadiran keluarganya. She's everything to me," jawab Owen.


"Wuh... akhirnya kau bisa merasakan apa itu cinta, Owen!" kata Jade girang. "Jadi, ku rasa kedepannya kau jangan lagi mengejek tingkahku dan Oxela," lanjutnya.


Owen terbahak mendengar kalimat Jade, sementara Hans hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kau tidak berniat menikah, Hans?" Kini Jade beralih menanyakan pria Indonesia itu.


"Aku belum menemukan yang tepat."


"Kau mau ku kenalkan dengan para penyiar berita yang bekerja di kantorku?" tawar Jade berkelakar.


"Aku tidak tertarik."


"Jangan bilang jika kau straight," kekeh Jade.


"Hahaha, aku masih normal."


Setelah memastikan Baby Jeff tidur nyenyak. Gloria membuka kaca kabinet dan menggesernya perlahan. Ia berjingkat pelan, keluar dari area kamar dan berdiri di pembatas balkon.


Mengembuskan nafas perlahan, meresapi panorama malam sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Malam ini cerah, hanya ia belum bisa memejamkan mata untuk tidur, meski seusai makan malam bersama di Mansion tadi, ia langsung memutuskan untuk masuk kembali ke kamarnya.


Beberapa saat termenung dengan pikiran yang melayang entah kemana, akhirnya Gloria merasa cukup tenang. Sedikit banyak, ia merasa lega sebab akhirnya Owen menerimanya kembali. Meski pada kenyataannya, Owen pula yang memintanya kembali.


"Belum tidur?"


Gloria tersentak kaget, kala sepasang tangan kini melingkari pinggangnya dari belakang.


"So-sore tadi .... sepertinya aku terlalu lama tidur, jadi .... sekarang aku belum mengantuk," jawab Gloria tercekat, sebab pria ini seperti sengaja mengembuskan nafas hangat ke area lehernya.


"Apa kau betah disini?"


"Sejauh ini, ya." Gloria berusaha rileks, ia menatap ke depan dimana bulan bersinar dengan terangnya. Mengabaikan Owen yang bukannya berhenti, kini justru menjadi-jadi, karena sudah mengecupi ceruk lehernya.


"O--owen..." Gloria mencoba melepaskan tangan Owen yang melingkarinya.

__ADS_1


"Hmm?" Owen terus saja dengan kelakuannya itu.


"Tidurlah, besok kau pasti punya jadwal yang sangat padat." Gloria akhirnya berhasil membuka jeratan tangan Owen ditubuhnya.


Owen menatap Gloria dengan tatapan lesu. "Honey, aku merindukanmu .... jangan mencoba menghindariku seperti ini," ujarnya dengan wajah menyedihkan.


Gloria sebenarnya tak tega, tapi dia harus bisa menahan diri paling tidak sampai pernikahan mereka terjadi nanti.


"Apa kita akan menikah bulan depan?" tanya Gloria, ia kembali mencoba mengalihkan perhatian Owen dengan pertanyaannya kali ini.


"Bulan depan katamu?" Owen tersenyum smirk. Kalau saja tidak menunggu kedatangan orangtua Gloria, pasti ia akan menikahi wanita ini besok atau jika perlu sekarang juga.


"Jadi .... kapan?"


"Seharusnya tiga hari lagi, tapi karena kau terus menghindariku seperti sekarang maka sepertinya dua hari kedepan kau sudah berstatus sebagai istriku."


Gloria menyengir, memasang wajah tak berdosa. Trik menghindar nya ketahuan oleh Owen.


"Kalau nanti sudah jadi istriku, aku tidak mau mendengar alasan apapun. Jangan mengalihkan perhatianku. Jangan mencari cara untuk menghindariku." Owen menatap Gloria penuh intimidasi.


Gloria menganguk pasrah. "Baik, Tuan," katanya dengan intonasi menyedihkan.


Owen tertawa melihatnya. "Ya sudah, aku akan tidur. Kau jangan terlalu lama melamun disini ya."


"Ke-kenapa?" Perasaan Gloria mendadak tidak enak.


"Disini banyak ...." Owen sengaja menjeda kalimatnya.


"Banyak apa, Owen?" Gloria mengguncang lengan pria itu.


"Banyak angin malam, itu tidak baik untuk kesehatanmu," jawabnya dengan senyum tipis.


Gloria memukul pelan lengan Owen. "Sudah pergilah!" katanya.


"Kenapa senang sekali mengusirku!" Owen menggerutu pelan, kemudian menarik Gloria dalam dekapannya.


"I love you ...."


"I love you too ...."


******/

__ADS_1


__ADS_2