Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Jared-Lily /12


__ADS_3

Hari masih nampak terang saat Jared memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah hotel berbintang.


Lily mengadah pada bangunan menjulang yang kini berada dihadapannya. Untuk apa Jared mengajaknya kesini?


"Jared, untuk apa kita kesini?" tanya Lily. Demi apapun, meski pergaulannya cukup bebas dan sering menghabiskan waktu di club' dia tak pernah sekalipun meminum alkohol atau datang ke hotel bersama pria seperti ini. Jikapun dia ke hotel, hanya untuk makan di restoran yang mungkin ada didalamnya atau menginap bersama teman teman perempuannya.


Hidup Lily memang datar-datar saja, sebab ia tak mau membuat masalah dalam kehidupan keluarganya yang sudah cukup sulit. Bertaruh di club' pun baru akhir-akhir ini ia lakukan itupun untuk mencari biaya tambahan kemoterapi ibunya.


"Kau tadi mengatakan mau memiliki aku seutuhnya, bukan? Sekarang akan ku buktikan padamu!" tukas Jared.


Glek


Lily menelan saliva dengan cepat. Tapi entah kenapa tenggorokannya terasa tercekat. Saat Jared keluar dari mobil, ia tidak ikut turun juga. Ia mendadak gugup luar biasa.


"Ayo!" Rupanya Jared membukakan pintu mobil untuk Lily dan menunggunya didepan pintu agar gadis itu segera keluar.


Dengan perasaan serba salah akhirnya Lily keluar juga.


"Jared, ini ... ini apa maksudnya?"


"Sudah diamlah!" jawab Jared yang kini meraih tangan Lily, digenggamnya itu lalu membawa sampai ke depan meja resepsionis.


Lily hanya bisa diam tak berkutik, ia mendengar Jared memesan satu kamar president suite, membuat matanya membola. Kepala Lily sudah dipenuhi hal gila sekarang.


"Come on!" ujar Jared kembali membawa Lily untuk memasuki lift setelah menerima kartu akses.


Lift itu mengantarkan mereka ke lantai yang cukup tinggi. Entah angka berapa disana sebab Lily sudah tidak bisa konsentrasi lagi sekarang. Saat ini yang dia pikirkan adalah apa yang mau dilakukan Jared padanya di sebuah kamar hotel.


Tanpa Lily sadari, rupanya mereka telah tiba di depan pintu sebuah kamar. Jared tampak mengakses kartu kunci dan kembali menarik tangan Lily untuk memasuki ruangan kamar.


Lily hanya bisa diam bagai kerbau yang di cocok hidungnya, bisa dikatakan jika saat ini Lily hanya pasrah saja.


Begitu Jared meletakkan kartu disebuah slot, maka lampu ruangan pun otomatis menyala. Tampaklah kamar yang berukuran sangat besar. Ada sebuah ran jang dengan ukuran nomor satu, terbalut dengan sprei warna putih. Bantal dan guling yang tersusun rapi. Jangan lupakan jika aroma ruangan ini juga sangat harum. Disebuah sudut ada sofa berbulu lembut lengkap dengan mejanya. Sebuah TV LED berukuran besar serta disisi ruang lainnya ada pintu yang Lily yakini adalah sebuah kamar mandi.


Jared masih menggandeng tangannya, dan kini mendudukkannya di sofa berbahan lembut tadi.


"Apa kau lapar?" tanya Jared padanya. Pria itu berdiri dihadapannya.


"Tidak."


"Kau yakin? Kau harus mengisi tenagamu untuk menghadapiku!" ujar Jared penuh intimidasi.


Lily mengerjap-ngerjapkan mata untuk mencerna ucapan Jared kali ini.


"Kenapa kau jadi diam? Bukankah tadi kau menantang ku!" Jared menipiskan bibir.


"A-aku tidak menantang mu." Suara Lily terdengar kikuk.


"Benarkah? Kau yang menginginkan diriku seutuhnya, bukan? Apa aku perlu mengulangi kata-katamu tadi?"


Lily menggigit bibir bawahnya, ia tadi hanya asal berucap. Maksudnya tadi adalah memiliki cinta Jared seutuhnya. Harusnya dia meralatnya sebelum Jared memberi sebuah keputusan aneh dengan mengajaknya ketempat ini.


"Kau salah menanggapi ucapanku," kata Lily pelan.


Jared terus saja menatapi Lily yang kini tampak salah tingkah. Entah kenapa Jared jadi sangat ingin mengganggunya dengan menggoda gadis ini.


Jared akhirnya ikut duduk disebelah Lily. "Apa kau pernah pergi ke hotel bersama seorang pria seperti ini, Lily?" tanyanya.


"Apa? Ehm... tidak pernah!" jawab Lily semakin salah tingkah karena posisi Jared sekarang sangat dekat dengan dirinya.

__ADS_1


Jared mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, apa aku yang pertama?"


"Hmmm...."


"Apa kau yakin tidak lapar?" Jared kembali memastikan. Diraihnya tangan Lily yang bertumpu pada lutut kemudian menggenggamnya kemudian.


"Ti--tidak...." Lily memejam saat Jared mengecup telapak tangannya dalam waktu beberapa detik.


"Kenapa?" Tatapan pria itu kini menghunus kedalam jantung Lily. Demi apapun, sekarang Lily seperti kehabisan nafas saat pria itu memangkas jarak diantara mereka.


"Kesalahan besar, aku paling tidak suka ditantang, Lily!" ujar Jared didepan wajah Lily. Lily bahkan bisa merasakan hangat nafas pria itu, membuatnya kembali merapatkan mata tidak berani menatap Jared.


"Hari ini, sekarang .... kau akan mendapatkanku seutuhnya." Jared meraba bibir Lily dengan sapuan telunjuknya.


Lily hanya bisa diam merasakan desiran aneh disekujur tubuhnya.


"Seperti keinginanmu," imbuh Jared lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Lily. Ia tidak berniat hanya mengecup saja, ia mel umat nya dalam membuat tubuh Lily bergetar karena ini benar-benar yang pertama baginya.


Lily sudah yakin jika ia kehabisan oksigen sekarang tapi Jared belum melepaskan tautan mereka.


Sampai Lily mendorong pelan dada bidang pria itu, barulah Jared seakan tersadar dari keadaan.


Lily terengah-engah, mengatur nafasnya yang tak beraturan sekarang. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya seolah telah lama tak bernafas.


Jared mengulas senyum tipis. Ia bisa menebak jika ini pertama kalinya bagi Lily. Keberuntungan sedang berada dipihaknya. Pilihan istri yang tidak salah. Jackpot, batin Jared tersenyum puas meski baru sampai di fase ini saja.


"Jared, maksudku ingin memiliki seutuhnya bukan seperti ini." Lily berusaha mengutarakan isi kepalanya.


"Lalu?"


Jared menghela nafas panjang, ucapan Lily seakan menyadarkannya sesuatu.


"Maaf, maafkan aku..." katanya kemudian. "Aku tidak berpikir kesitu, aku berpikir kau--"


"Sudahlah," kata Lily memotong ucapan Jared. Ia tahu tadi ujarannya memang ambigu sehingga pantas saja jika Jared salah mengartikan.


Sekarang keadaan hening karena kesalahpahaman ini. Jared melirik Lily dengan ujung matanya, begitu pula Lily melakukan hal yang sama. Saat pandangan mata mereka tak sengaja bertemu justru mereka jadi terkekeh serentak.


"Dasar mesum!" cibir Lily membuat Jared mengurut pelipisnya sendiri.


"Tidak biasanya aku salah mengartikan, biasanya dugaanku selalu tepat sasaran," kilah Jared.


"Hmm, mungkin karena di kepalamu memang sudah bercokol hal-hal mesum saja!" ejek Lily lagi.


Jared tertawa. "Aku lelaki normal, itu wajar saja! Apalagi melihatmu yang--" Jared tak melanjutkan kalimat sebab ia menyadari kesalahan dalam berkata, ia hampir saja keceplosan memuji bentuk tubuh Lily.


"Yang apa?" tanya Lily dengan dahi berkerut dalam.


"Yah, yang begitulah!" Jared menyengir, membuat Lily kembali mengulumm senyuman.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita pergi dari sini! Sebelum aku berpikiran jauh...." Jared berdiri dari duduknya sementara Lily malah berniat mengerjai pria ini.


"Kenapa pergi? Bukankah kau sudah check in disini dengan tarif yang cukup mahal permalam-nya?"


"Jadi, kau mau tetap disini?"


Lily mengangguk. "Aku tidak pernah menginap di kamar hotel yang sebesar ini. Jadi, malam ini biarkan aku tidur disini."

__ADS_1


"Dan aku?"


"Kau boleh memesan kamar lainnya atau jika kau mau disini juga tak masalah bagiku!" tukas Lily dengan menahan geli.


Jared bisa menebak jika sekarang Lily tengah berniat mengerjainya.


"Baiklah, aku akan meladeni permainanmu ini!" batin Jared terkekeh.


"Ya sudah, aku tidur disini juga. Tapi apabila aku lepas kendali jangan salahkan aku ya." Jared memberi peringatan agar Lily sadar bahwa sudah terperangkap dengan jebakannya sendiri.


Lily tertegun dengan jawaban Jared. Jelas saja, sudah tahu pria ini mesum. Kenapa dia malah mengerjainya. Jared juga sempat mengatakan tidak suka ditantang, Justru lily bersikap seolah menantangnya sekarang.


"Jadi kau mau tidur disini juga?" Lily menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Hemm..."


"Kalau begitu kau tidur di sofa ya."


"Aku yang membayar untuk menginap disini jika kau lupa."


"Tapi kan aku tidak pernah memintanya."


"Tapi kau bilang tak masalah jika aku tidur disini."


Lily mengurut dahi. Pusing melandanya. Salahnya sendiri jika sudah begini.


"Ya sudah, aku saja yang tidur di sofa," kata Lily memberi keputusan.


Jared malah terbahak, perdebatan mereka mengenai hal ini tidak akan kelar sampai esok pagi jika begini.


Jared membingkai wajah Lily yang tertekuk. Saat itu juga pandangan Lily jadi terfokus menatap Jared.


"Hari ini kau sangat menggemaskan. Aku jadi ingin menciumimu lagi. Boleh, ya?" Jared berucap dengan suara yang sangat lembut membuat Lily terhipnotis.


Lagipula, jika ingin mencium kenapa harus meminta izin seperti ini? Bukankah saat pertama tadi Jared tak mengatakan apapun lebih dulu. Jika begini Lily sudah tahu apa yang hendak Jared lakukan selanjutnya, sehingga jantungnya kembali berdetak kencang.


Saat Jared kembali mendekatkan wajah, Lily tak kuasa untuk kembali memejam. Tapi, berkat ucapan Jared yang meminta izinnya, kali ini ia jadi lebih siap dengan ciuman Jared.


Jika yang pertama Jared mencium Lily dengan menggebu-gebu, yang kali ini berbeda. Lily bisa merasakan perbedaannya, sekarang Jared melakukannya dengan sangat lembut dan penuh buaian.


"Enghh...." Tanpa sadar, Lily mele nguh dalam has rat saat Jared menyelipkan lidah kedalam mulutnya. Sebenarnya Lily malu karena dia tidak ahli, tapi ciuman Jared yang membuainya membuat naluri kegadisannya hadir dan tak ingin kalah dalam mengimbangi Jared. Akhirnya, mereka saling membalas satu sama lain. Lily merasa lebih rileks dan menikmati tempo lambat yang Jared sentuhkan pada bibirnya.


Saat ciuman itu usai, Jared menatap Lily dengan tatapan berbeda. Seolah dimata pria itu ada semacam kabut yang tidak bisa Lily definisikan.


"Kau suka?" tanya Jared sambil mengusap bibir Lily yang basah karena ulahnya.


Lily mengangguk sebagai jawaban untuk Jared.


Berkat ciuman kali ini, Jared jadi mengetahui kenyamanan Lily yang lebih menyukai segalanya dimulai dengan perlahan.


"Jika kita terus intens seperti ini, aku yakin perasaan sukamu terhadapku akan berubah menjadi cinta," ujar Jared tersenyum tipis.


"Tapi, apa kau juga akan mencintaiku?"


"Sebenarnya aku tidak sulit jatuh cinta, Lily. Hanya saja, hatiku belum menemukan orang yang tepat."


"Dan aku?" Lily menunjuk dirinya sendiri.


"Kau orang yang ku pilih, entah kenapa hatiku mengatakan jika kau adalah orang yang tepat. Cepat atau lambat aku yakin akan menaruh rasa itu .... kepadamu." Jared pun mengelus pipi Lily dengan sangat lembut.

__ADS_1


******


__ADS_2