
2 Minggu Kemudian ....
James masih melakukan misi penyamarannya untuk memulihkan keadaan Owen. Tapi, ia belum menemukan cara untuk mengeluarkan Owen dari ruang bawah tanah.
Hari ini adalah kesempatan terakhir bagi James untuk membantu Owen karena keadaan Owen semakin membaik dan jasanya tidak diperlukan lagi untuk pengobatan Owen selanjutnya.
"Apa Jared tahu aku masih hidup?" bisik Owen pada James.
"Tidak, keluargamu tak satupun mengetahui keberadaanmu, aku tidak memberitahunya untuk berjaga-jaga, aku takut salah mengambil tindakan," jawab James dengan berbisik sembari membuka perban diperut Owen. Perban itu tak akan dipasang lagi sebab lukanya sudah benar-benar kering.
".... Oxela sudah melahirkan seorang bayi perempuan."
"Syukurlah, apa mereka sehat?"
James mengangguk.
"Ah, ada seorang pria yang rutin menyuntikkan obat untukku seminggu tiga kali. Ku pikir itu adalah obat untuk mengacaukan daya ingatku, tapi---"
"Tapi sejauh ini kau merasa baik-baik saja?" potong James dengan senyuman tipis.
Owen mengangguk.
"Kau akan merasakan efeknya tidak lama lagi," terang James.
"Apa tidak ada cara untuk membuat obat itu tidak bereaksi? Aku tidak mau kehilangan ingatanku, lagipula setiap obat itu sudah masuk kedalam tubuhku, aku merasa sangat lemas."
__ADS_1
James menggeleng. "Misi utamaku saat ini menyembuhkan lukamu, Owen! Satu lagi, membebaskanmu dari sini. Soal obat itu.... aku tidak mempunyai penawarnya," katanya menghela nafas berat.
_____
Brak!!!
Pintu ruang bawah tanah itu didobrak keras. Richard datang bersama orang-orangnya, namun tidak terlihat Markus disana. Dan kali ini, Richard tampak menggendong seorang bayi laki-laki yang tak lain adalah Jeff.
Bayi itu merengek-rengek dalam gendongan Richard, membuat Owen hendak berdiri dari posisinya demi bisa meraih sang putera.
"Jeff..." lirih Owen melihat bayi tampannya. Bayi itu menatapnya seolah mempunyai keterikatan batin padanya. Tatapan Jeff berbinar sendu, begitupun ia menatap sang putera dengan sorot kerinduan yang jelas.
"Aku memberikanmu kesempatan agar kau bisa melihat bayimu untuk terakhir kalinya!" desis Richard membuat Owen terbelalak.
"Breng sek! Pecundang! Puteraku tidak memiliki kesalahan apapun! Biarkan dia tetap hidup!" kata Owen geram.
"Bisa saja! Tapi, memohonlah padaku! Bersujud dikakiku, apa kau mau?" kata Richard dengan tawa sumbang disertai tangisan Jeff yang tiba-tiba terdengar nyaring.
Owen mengepalkan tangannya.
"Jika kau melakukannya, aku akan pastikan nyawa anakmu tidak berakhir hari ini," tambahnya lagi.
Permintaan Richard benar-benar menjatuhkan harga diri Owen sebagai seorang pria. Tapi, bukan hal itu lagi yang harus dia pertimbangkan. Melainkan nyawa Jeff adalah yang utama. Mau tak mau, ia harus menghilangkan segala harga dirinya dan melakukan hal yang diinginkan oleh Richard meski itu membuatnya seperti seorang budak yang tak berharga sama sekali.
"Baiklah." Dengan beringsut pelan, Owen hendak berdiri dan menghampiri posisi Richard.
__ADS_1
Richard tertawa, "Merangkaklah dari posisimu sampai kedepan kakiku!" titahnya membuat rahang Owen mengeras.
Menarik nafas dalam, Owen merangkak menuju keberadaan Richard. Ia memilih menurut tanpa mengeluarkan protes, membuat sunggingan di bibir Richard terlihat semakin melengkung.
Namun, begitu tiba didepan pria itu, dia menarik kaki Richard hingga menyebabkan pria itu terjermbab jatuh namun masih mendekap Jeff dalam pelukannya. Richard tak menyangka dengan perlawanan yang Owen lakukan secara tiba-tiba.
"Sh*ttt!!!" maki Richard atas keberanian Owen.
Beberapa orang pengawal langsung menodongkan pistol ke arah Owen secara bersamaan tanpa perlu dikomando.
Richard menggeram marah, Jeff yang masih berada ditangannyabpun segera diangkatnya tinggi-tinggi seolah bersiap untuk menghempaskan bayi itu.
Owen meneguk saliva dengan berat tapi ia masih bisa menyunggingkan senyuman tipis, mengejek Richard.
"Tak bisakah kau melawanku sendiri dengan tangan kosong? Tidak perlu menjadikan seorang bayi yang tak berdosa sebagai umpannya? Atau kau terlalu takut? Hingga kau membawa sekomplot orang untuk menyerang ku?" sarkas Owen.
Richard berdecih. Ia menyerahkan Jeff pada salah seorang pengawal yang berada disampingnya, kemudian menatap Owen dengan nyalang. Ia juga memberi isyarat agar semua todongan senjata yang dihujamkan ke arah Owen segera dihentikan, sebab ia akan melawan Owen sendirian.
"Jadi kau mengajakku duel?" Richard tertawa sumbang, mengerti undangan yang Owen tawarkan. Ia meregangkan otot lehernya sejenak kemudian mulai mengepalkan tinjunya.
Tentu Richard akan meladeni tantangan Owen, sebab ia tak mau dianggap pengecut oleh lawannya itu. Ia akan dengan senang hati beradu kekuatan dengan Owen bahkan dengan senang hati ingin menghabisi Owen dengan tangannya sendiri.
Sedangkan Owen, ia memang punya rencana tersendiri dengan tersulutnya kemarahan Richard yang sengaja ia buat.
Owen melirik sekilas pada seorang yang kini menggendong Jeff, kemudian dia mengangguk samar pada orang itu sebelum akhirnya dia memulai aksi perlawanan pada Richard yang berubah atensi dan hanya fokus kepada Owen saja.
__ADS_1
******