Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Pemberian


__ADS_3

Tak perlu mendatangi Sean, karena begitu Owen dan Gloria hendak bersiap kembali ke Mansion, rupanya pria itu yang lebih dulu mengunjungi kediaman Jade.


Sebenarnya, apa yang Sean inginkan? Sejak kemarin dia terus memaksa untuk bicara dengan Gloria hingga mendatangi Mansion Jade berulang kali. Batin Owen cukup meradang. Ia memang tak marah jika Sean mencintai istrinya, karena Owen merasa itu adalah hak pribadi seseorang. Selagi Gloria tak membalas perasaan Sean, menurut Owen itu tak masalah. Tapi, jika Sean bersikap terang-terangan tanpa menghargainya seperti ini, emosinya tersulut juga.


"Aku akan menemanimu menemuinya," putus Owen akhirnya.


Seorang penjaga mengantarkan Sean ke beranda Mansion setelah Owen mengizinkan Sean untuk masuk.


Sean duduk dihadapan Owen dan Gloria, dia menatap Gloria lama, sampai Gloria tak berani melihat kearah pria itu.


"Bisakah kau tidak melihat istriku seperti itu? Itu membuatnya tidak nyaman." Owen berdehem sekilas dan menegur sikap Sean yang kurang menyenangkan dimatanya dan dimata sang istri.


"Ah, maaf...."


"Katakan apa yang mau kau bicarakan!" ujar Owen lagi.


"Aku hanya ingin pamit."


"Pamit?" Dahi Owen berkerut dalam, sementara Gloria kembali menatap pada tamunya ini.


Sean mengembuskan nafas pelan. "Aku akan meninggalkan negara ini. Aku akan memulai usaha baru ditempat lain, warisan dari ayahku sangat mampu menyokong niatku itu," terang Sean membuat Owen diam dan berpikir.


"Apa niat ini sudah kau pikirkan baik-baik?" tanya Gloria menimpali.


Sean menatap Gloria kemudian mengangguki pertanyaannya.


"Ku rasa tidak ada gunanya lagi aku disini.... aku tidak mempunyai kenangan berarti bersama sosok ayahku. Dan image ayahku sebagai mantan seorang mafia cukup membebaniku. Aku tidak mau dikaitkan dengannya lagi."


"Bagaimana dengan semua usaha peninggalan ayahmu?" tanya Owen.


"Untuk itu, aku sudah memutuskan akan menjual semua asetnya. Baik yang legal maupun ilegal, dan juga...." Sean membuka ransel yang ia kenakan, kemudian mengeluarkan sebuah map dari sana.


"Ini .... ini adalah surat kepemilikan perusahaan legal dalam bidang industri pangan. Aku berniat menyerahkannya padamu, Owen," imbuhnya.


Owen terperangah kaget, begitupula Gloria.


"Anggaplah ini sebagai permintaan maaf ku, aku menyerahkan ini untuk masa depan Jeff. Ku harap saat dia dewasa nanti, Jeff bisa mengelolanya dengan baik," tandas Sean.

__ADS_1


"Untuk apa kau melakukan ini, Sean?" tanya Gloria.


"Ya, kenapa kau mengkhawatirkan masa depan Jeff? Aku juga masih mampu mewarisinya usaha milikku!" tukas Owen.


"Kalian jangan berpikir macam-macam. Aku tidak bermaksud jahat, ini hanya sebagai bentuk permintaan maafku sebab aku pernah ikut andil dalam penculikan Jeff waktu itu. Ini adalah keputusan mutlak." Sean menekankan kata-katanya sembari kembali meletakkan map diatas meja sebab Owen tak mau menyambut berkas itu dari uluran tangan Sean.


Owen membeku, tidak bisa menyahut ucapan Sean lagi. Sementara Gloria menunduk sebab melihat tatapan Sean yang entah kenapa membuatnya merasa bersalah. Tatapan Sean penuh kepedihan dan Gloria meyakini jika kali ini niat Sean tulus tanpa ada sesuatu hal dibalik kebaikannya.


"Aku minta maaf atas kesalahanku yang memulai segalanya. Tapi, kita sama-sama tahu niatku waktu itu hanya menghindar dari tahta mendiang Ayahku, bukan sepenuhnya untuk menculik Jeff dan ikut kerja sama dengan Ayah dan Richard."


"....kesalahanku satu-satunya hanyalah ikut andil dalam penculikan Jeff. Setelah itu aku tidak mengetahui lagi rencana jahat yang mereka susun. Aku sebenarnya cukup malu bertemu dengan kalian selaku orangtua Jeff. Jadi, jangan tolak pemberianku untuk putra kalian."


Owen juga menyadari semua ucapan Sean benar adanya. Tapi mendadak Owen ingin membahas soal Celine pada Sean.


"Soal rencanamu dan Celine?"


"Ah, soal itu .... awalnya dia ingin memanfaatkanku untuk membuat kau dan Gloria berpisah, tapi nyatanya aku yang mengambil kesempatan untuk merencanakan penculikan Jeff waktu itu. Aku sudah berkata yang sebenarnya!" Sean membentuk jari menjadi huruf V tanda bahwa dia tidak berbohong.


"Ada apa dengan Celine?" celetuk Gloria yang tak tahu menahu dengan hal ini. Lagipula, ia memang sudah lama tak mendengar kabar wanita itu.


"Nanti akan ku ceritakan," kata Owen singkat sembari menggenggam jemari istrinya.


"Jadi, apa kalian sudah memaafkanku? Agar aku bisa melanjutkan hidup dengan lebih baik tanpa dibayangi rasa bersalah." Sean tersenyum simpul.


"Aku belum yakin kau sungguh-sungguh. Tidak akan ada yang bisa menjamin semua penyesalan dan permintaan maafmu ini adalah kebenaran.


Sean terkekeh pelan. "Tak apa, aku tak memaksamu untuk percaya. Aku paham aku pernah mengelabuimu dulu. Semoga suatu saat kau bisa memaafkanku, Owen."


Owen mengangguk pelan.


"Aku sudah memaafkanku, Sean." Gloria menatap Sean. Untuk beberapa saat pandangan mereka bertemu dan Sean senang Gloria mau menatapnya seperti itu serta masih mau menyebut namanya lagi.


"Thanks, Gloria." Entah kenapa suara Sean bergetar saat menyebut nama wanita itu. Oh istri orang ....


"Untuk menjamin kata-kataku, kau masih bisa mengawasiku dengan caramu sendiri, Owen!" ujar Sean sebelum akhirnya pamit undur diri.


_______.

__ADS_1


Sore itu juga, Owen membawa anak dan istrinya untuk kembali pulang ke Mansion mereka.


Rumah adalah tempat pulang yang paling menenangkan. Karena sejatinya, kemanapun kita pergi, sejauh apapun kita melangkah, tujuan akhirnya tetaplah kembali ke rumah.


"Aku tidak menyangka akhirnya kita kembali ke sini lagi. Semuanya masih tampak sama." Gloria semringah begitu tiba di rumah.


"Ya, rumah memang tempat ternyaman. Lelah sudah berpura-pura menjadi sosok orang lain diluaran sana," keluh Owen sembari memasuki pintu kamar mandi.


Gloria hanya terkekeh menanggapinya.


Tok


Tok


Suara pintu kamar terdengar diketuk saat Gloria baru saja meletakkan Jeff yang tertidur ke dalam box bayi.


Gloria membukakan pintu dan mendapati seorang pelayan disana.


"Ada apa?" tanya Gloria pada pelayan itu.


"Ada kiriman paket untuk anda, Nyonya!"


"Wah, aku baru tiba disini sudah mendapat paket saja." Gloria tertawa pelan.


"Paket ini tiba pagi tadi. Sebelum menerimanya penjaga keamanan sudah memeriksa isinya lebih dulu untuk menjaga keselamatan semua penghuni rumah. Nyonya bisa membukanya dengan tenang," terang pelayan itu dengan senyum tipis.


"Ah terima kasih. Boleh ku tahu apa isinya?"


Pelayan itu menggeleng. "Anda boleh langsung melihatnya, Nyonya."


Pelayan itu pun meminta beberapa orang yang ikut membawa paket untuk meletakkan kotak-kotak itu disudut kamar Gloria.


Selepas perginya sang pelayan dan orang-orang yang meletakkan kotak paket, Gloria melirik ke arah pintu kamar mandi. Owen belum selesai dengan aktivitas mandinya. Gloria pun memutuskan untuk membuka kotak-kotak paketnya. Ada sekitar empat kotak yang berukuran cukup besar. Kotaknya juga lumayan berat untuk diangkut Gloria seorang diri.


Saat membuka isi kotak yang pertama, Gloria langsung terkejut melihat isinya.


"Ya Tuhan...." gumam Gloria tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.

__ADS_1


******


__ADS_2