Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Diluar perjanjian


__ADS_3

"Ayah! Apa yang kau lakukan pada Owen?" Sean menatap nyalang pada sang Ayah. Sementara Markus hanya tersenyum miring menanggapi pertanyaan anaknya.


Dengan santai, Markus menyesap segelas wine yang ada ditangannya.


"Kenapa? Kau marah? Kau tidak mau tahta itu, kan?" katanya balik bertanya pada sang anak.


"Ya! Tapi rencana awal kita adalah agar Owen menyerahkan diri dan mengambil alih miliknya lagi. Bukankah itu yang kau inginkan? Semua ini memang hak Owen! Kenapa kau malah menikamnya?" tukas Sean kesal.


"Awalnya ku pikir begitu, tapi aku berubah pikiran!"


"Kenapa? Apa ayah benar-benar akan memberikan semuanya pada Richard? Ingat ayah! Richard tidak memiliki hubungan darah dengan kita!"


Markus menggeleng samar. "Tapi aku mempercayainya lebih daripada Owen! Dia lebih ambisius daripada Owen yang bersikap mau tak mau dengan kehidupan gelap ini."


"Tapi Ayah---"


"Sudahlah, Sean! Kalaupun Owen mengambil alih semuanya, apa kau yakin dia tidak akan membalas perbuatanmu kemarin yang sudah mengelabuinya?" Markus tersenyum mencibir ke arah puteranya sendiri. Disaat itulah seorang bodyguard masuk kedalam ruangan.


"Dia sudah kami tangani, Tuan. Selanjutnya tinggal menunggu perintah Anda," jelas Bodyguard berkepala plontos itu.


Markus melambai-lambaikan tangannya menyuruh orang itu segera berlalu setelah memberi penjelasan. "Ah, satu lagi .... urus bayi itu dan pastikan istrinya juga harus meregang nyawa. Owen akan memiliki kehidupan baru setelah ini!" titahnya yang diangguki sang bodyguard.


Mendengar itu, Sean terbelalak pada sang Ayah.


"Kau benar-benar keterlaluan Ayah! Aku membantumu dalam misi penculikan Jeff, dengan tujuan agar Owen menyerahkan diri dan mau kembali ke tahta nya. Tapi, perbuatanmu ini diluar perjanjian kita!" geram Sean.


Sepersekian detik berikutnya, Sean berbalik arah, ia berderap menuju pintu keluar.


"Jangan campuri urusanku, Sean! Sudah cukup kau tidak mau mewarisi tahta itu. Setelah ini, biar semua menjadi urusanku!" Ucapan Markus membuat Sean menghentikan langkah sejenak. Namun setelah itu, ia benar-benar pergi dari hadapan sang Ayah.


_____


Kepulangan Jared tanpa Owen membuat keadaan Mansion semakin kacau.


"Dimana Owen, Jared?" Gloria mencecar Jared begitu melihat sekeliling namun tidak menemukan suaminya.


Jared memberi respon hanya dengan gelengan lesu.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Gloria menatap Jared dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tuan berada dalam ruangan yang berbeda denganku. Saat aku memaksa masuk, aku tidak bisa menemukannya lagi disana, Nyonya!" terang Jared dengan suara bergetar.


Suara tangisan Oxela membuat sesi tanya jawab antara Gloria dan Jared terhenti.


"Paman Markus pasti telah menyakiti Kakakku," lirih Oxela sambil terduduk lesu.


"Tidak, bukankah dia adik mendiang ayah kalian? Kenapa dia harus menyakiti Owen?" tanya Jade menimpali.


"Entahlah, tapi watak Paman Markus memang sulit ditebak." Oxela kembali menangis histeris.


Sementara Gloria, entah bagaimana perasaannya saat ini. Jeff belum kembali ke pangkuannya, sekarang ia harus menerima kenyataan tak jelas tentang keberadaan Owen. Apa suaminya masih hidup? Atau justru telah tewas? Ia tak tahu. Airmatanya mengucur deras namun ia tidak bisa mengeluarkan suara isakan seperti sang adik ipar. Perasaannya saat ini sulit dikatakan. Jika ada kata lebih parah dari hancur, mungkin itulah yang saat ini ia rasakan.


Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju ambang pintu masuk. Membuat semua orang yang ada disana menatap kepergiannya dengan rasa terheran-heran.


"Gloria, kau mau apa disana? Ayo masuk! Hari semakin larut!" ucap Jade memberi saran.


Gloria tak menyahut. Ia larut dalam dunianya sendiri. Menatap hampa kearah pekarangan rumah.


Oxela perlahan menghentikan tangis, ia dan Jade bertatapan satu sama lain sebab merasakan perasaan yang tak enak.


"Aku akan berdiri disini, tetap disini menunggu Jeff dan Owen kembali..." ucap Gloria tanpa ekspresi dan tidak menatap pada Oxela.


Seketika itu juga, Oxela terbayang dengan mendiang ibunya. Apa dulu ibunya seperti Gloria? Ia tak mengetahui hal itu sebab ia masih terlalu kecil untuk menyaksikan sang ibu yang depresi akibat tewasnya sang ayah. Tapi, apa benar sekarang Gloria mengalami hal serupa karena tidak kembalinya Owen beserta Jeff ke Mansion mereka?


Dengan tangan gemetar, Oxela mencoba meraih pundak Gloria, ia merangkul wanita itu dan mencoba membawanya ke dalam pelukan.


"Aku tahu kau sangat terkejut dengan hal ini, tapi ku mohon jangan begini..." lirih Oxela sambil memeluk Gloria.


Gloria menggeleng, kemudian melepas pelukan Oxela. "Kau ini kenapa, Xela? Kita tidak perlu menangisi Owen. Dia akan kembali, sebentar lagi dia akan kembali! Dia hanya perlu waktu lebih lama untuk mengambil Jeff dari pamannya!" kata Gloria tersenyum namun pipinya banjir dengan airmata.


Oxela mendekap Gloria cepat. "Gloria, jangan begini.... tolonglah," katanya kembali terisak.


Jade menghampiri keduanya, ia mengkhawatirkan kedua wanita itu.


"Sayang, biarkan Gloria tenang dulu! Kau juga perlu menenangkan diri. Masuklah ke kamar kita. Aku akan bicara pada Gloria," kata Jade bijak. Ia menjadi penengah karena kedua wanita ini tampaknya benar-benar butuh ketenangan.

__ADS_1


Sementara Gloria, Jade meyakini jika istri Owen ini pasti lebih syok daripada Oxela. Jelas saja, dua orang yang berarti dalam hidup Gloria belum kembali kesisi wanita itu, padahal sejak tadi Gloria sudah antusias menyambut kepulangan Owen yang dikiranya akan membawa Jeff kembali.


"Gloria, aku yakin apapun keadaan Owen saat ini.... dia pasti akan menemukan cara untuk pulang. Kau tidak usah cemas, suamimu sudah mengarungi dunia semacam ini sejak dia kecil." Jade memberi kata-kata yang barangkali bisa menenangkan Gloria.


"Tapi, aku ingin menunggunya. Aku akan menyambut kepulangannya bersama Jeff," lirih Gloria.


"Ya, dia akan kembali... tapi dia akan marah jika melihatmu berdiri didepan pintu seperti ini. Istirahatlah dulu, tunggu dia dikamar kalian."


"Baiklah, aku akan kembali ke kamar. Tapi, bisakah kau memberitahunya nanti? Maksudku, jika dia pulang nanti katakan padanya untuk langsung menemuiku," pinta Gloria dengan wajah memohon.


"Aku akan memberitahunya," kata Jade memaksakan senyuman.


Gloria melewati tubuh Jared yang membeku dekat sofa ruang tamu.


"Jared, bercandamu keterlaluan! Owen akan kembali. Dia hanya menjemput Jeff. Seharusnya kau menunggunya tadi, bukan pulang lebih dulu!" ucap Gloria sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.


Jared menghela nafas berat. Ia yakin Gloria syok dengan kenyataan ini. Ia menatap Jade yang juga tengah melihat kearahnya.


"Apa rencanamu selanjutnya? Apa kau melihat jika mereka menghabisi Owen?" tanya Jade sembari mengusap wajah dengan kasar.


"Aku belum tahu, Tuan. Aku tidak melihat Tuan Zwart, tapi aku melihat darah yang berceceran. Aku yakin itu darahnya."


"Astaga...." Jade menghembuskan nafas panjang. "Bagaimana jika mereka benar-benar menghabisi Owen?" sambungnya tercekat. Ia tidak tahu bagaimana menenangkan dua wanita dirumah ini. Terutama Gloria. Belum lagi nasib Jeff yang juga Jade khawatirkan, bagaimanapun iapun menyayangi bayi kecil itu.


Pembicaraan mereka teralihkan karena mendengar suara mobil yang menderu. Atensi keduanya pun jadi beralih menatap kearah pintu Mansion yang masih terbuka lebar.


Sebuah mobil double kabin berhenti tepat didepan pekarangan.


Tap


Tap


Tap


Derap langkah terdengar cukup nyaring karena suasana hari memang mulai beranjak larut dan hening. Tak menunggu lama, sesosok wajah familiar pun tiba disana. Dihadapan Jade dan Jared.


"Dimana Gloria? Dia harus segera pergi dari sini secepatnya!" kata sosok itu.

__ADS_1


******


__ADS_2