Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Dinner


__ADS_3

"Jared, apa kau sudah menyelidiki siapa wanita yang dekat dengan Richard?"


Jared terdiam beberapa saat, kemudian berbisik di telingaku.


"Apa?" pekikku tak percaya dengan apa yang Jared katakan.


"Saya masih menyidikinya lebih lanjut, Tuan."


"Sia lan! Pantas saja dia tidak menganggap istrinya sama sekali!" Aku tersenyum licik, entah kenapa sekarang yang ada di pikiranku justru ingin mendapatkan Gloria seutuhnya. Setidaknya aku sudah tahu bahwa Richard benar-benar berselingkuh dari istrinya.


Sudah tiga hari aku dan Gloria tinggal bersama di Apartemenku. Aku tidak mau memaksanya, ku bebaskan dia untuk berpikir dan aku masih memberinya tenggang waktu agar bisa terbiasa dengan kebersamaan kami.


Sejauh ini aku belum merasa bosan dengan permainan ini. Ya, ya, permainannya bahkan belum dimulai. Belum ada skinship diantara aku dan Gloria, begitulah kenyataannya. Tapi, kesepakatan waktu yang diberikan Richard padaku terus berjalan sesuai dengan berjalannya proyek real estate. Jika sampai proyek itu selesai dan hubunganku dengan Gloria tidak ada kemajuan, jelas akulah yang paling merugi.


Dilain sisi, Gloria selalu merengek ingin pulang kerumah Richard, membuatku terkadang heran dengan dirinya. Bukankah suaminya telah memperlakukannya seperti ini? Kenapa dia tetap ingin bersama Richard? Apa dia begitu mencintai pria itu?


"Owen, Richard memang salah, tapi bagaimanapun aku adalah istrinya. Tidak baik aku tinggal disini terus bersamamu. Tempatku adalah dirumah suamiku. Jika Richard tidak mau menjemputku disini, setidaknya kau izinkan aku untuk pulang, ya?" Gloria kembali memohon padaku saat aku baru saja tiba di Apartemen.


Aku menatapnya malas. "Glo, aku memberimu kebebasan bukan berarti aku membebaskanmu untuk pulang." Aku berkata pelan, entah kenapa aku takut menyakiti hatinya.


Tidak ku sangka Gloria justru bersimpuh dikakiku, membuatku tercenung dengan sikapnya ini.


"Aku tidak punya siapapun di Negara ini, aku hanya punya Richard. Aku mohon, aku ingin pulang ke rumahnya!" mohonnya sambil menangis.


Aku terenyuh melihatnya, dia tidak tahu saja apa kelakuan Richard diluar sana. Ingin aku mengatakan padanya tapi aku tidak mau melihatnya sakit hati.


Aku membantu Gloria berdiri, memegang kedua pundaknya, menatap kedalam netra hitamnya yang bening dan berusaha meyakinkannya.


"Kau salah! Kau masih punya aku disini. Tenanglah, Glo! Aku tidak akan menyakitimu. I promise...." Entah kenapa kalimat itu meluncur begitu saja dari lisanku. Niatnya untuk meyakinkannya, namun aku jadi terjebak janji yang cukup berat dan kuucapkan sendiri kepadanya.


Gloria membekap wajahnya yang penuh air mata, dengan respon sigap aku justru merengkuh tubuhnya, membawanya kedalam dekapanku. Dia terisak disana.


"Aku tahu kau terpukul dengan sikap Richard, kan?" kataku membelai surai rambutnya yang halus. Dia mengangguk didadaku. Aku senang dia tidak menolak pelukanku, justru aku ingin dia nyaman dengan hal ini, sama sepertiku yang tenang saat dia berada dalam dekapanku. Bisakah ini berlangsung agak lama?


Sepersekian detik dari pikiranku itu, disaat itu pula Gloria seakan tersadar dengan keadaan.


"Maaf..." Gloria beringsut, menjauh dari tubuhku.


Dan aku? Entah kenapa ada rasa kecewa dengan penolakannya. Why?


"Kau mau makan apa, Owen? Aku akan memasak untukmu, kau pasti lelah seharian bekerja," ucapnya sembari menyeka pipi yang masih basah oleh airmatanya sendiri.

__ADS_1


Aku menggeleng. "Aku membiarkanmu disini bukan untuk menjadikanmu tukang masak atau pembantuku."


"Tak apa, setidaknya aku berguna untukmu. Jadi, tidak sia-sia aku ada disini."


Aku tertawa pelan. "Seharusnya kau lebih tahu apa gunamu berada disini, Glo!" sindirku.


Gloria mengadah, menatapku dengan netra yang berkaca-kaca. "Aku tahu, kau menginginkan hal lain."


"Ya, kau cerdas... seharusnya kau memang tahu apa mauku." Aku membuka simpul dasi yang masih ku kenakan sejak tadi, kemudian berjalan menuju kamarku dengan sikap tak acuh.


"Lalu, kenapa kau tidak memaksaku untuk melakukannya?"


Ucapan Gloria berhasil menghentikan langkahku.


"Aku tidak suka pemaksaan. Aku ingin kau bersedia untukku, barulah aku mau melakukannya!" jawabku mengendikkan bahu.


Gloria tampak terdiam, akupun masuk kedalam kamar untuk mandi dan membersihkan diri. Namun, sebelum melakukan itu aku kembali berbalik dan menatapnya.


"Aku mau mandi, kau bersiaplah... aku ingin mengajakmu dinner diluar malam ini," kataku sembari mengacak rambutnya sekilas.


Gloria menatapku, entah apa arti dari tatapannya itu, namun yang ku tangkap dari matanya justru sebuah pancaran kebahagiaan. Apa dia senang dengan ajakanku?


___


Gloria tampak anggun dengan balutan gaun malam yang simpel dan tidak terlalu terbuka. Rambutnya dikuncir kuda, menyisakan sedikit helaian didepannya. Aku suka.


Tak lupa dia juga mengenakan coat yang tampak menyempurnakan penampilannya.


"Kita makan dimana?" tanya Gloria saat kami masih didalam lift.


Aku tersenyum tipis sambil menggeleng.


"Aku pikir kau ada jamuan makan malam yang formal. Apa penampilanku berlebihan?"


Aku menggeleng lagi sambil terus tersenyum memandangnya.


"Apa arti senyumanmu itu, Owen?"


"Kau cantik, aku suka..." jawabku to the point.


Blush... tanpa dikomando, pipi Gloria sudah memerah mendengar pernyataanku. Walau aku berniat menggodanya, namun ucapanku itu bukan hanya jokes atau bercanda, aku serius bahwa dia memang cantik dan aku menyukai penampilannya malam ini. Tidak, bukan cuma malam ini, malam-malam sebelumnya juga, apalagi saat dia hanya mengenakan underwear saja.

__ADS_1


Aku memberanikan diri untuk meraih jemarinya, aku tidak mau berjalan dengan tangan kosong. Paling tidak, jika dia tidak mau menggandeng lenganku maka biarlah aku yang menggenggam tangannya.


Aku merasakan tangan Gloria bergetar saat ku sentuh, dia menatapku seolah bertanya 'apa ini?' namun aku hanya membalas tatapannya dengan senyuman yang sama.


Gloria tidak menolak genggamanku, aku senang dengan penerimaan kecilnya ini.


"Tidak bawa sopir?" tanya Gloria saat kami tiba di basement.


"Tidak, kita berdua. Just you and me." Aku tersenyum tipis melihat Gloria tercenung dengan ucapanku. Dia, membuatku gemas.


Aku membukakan pintu untuknya, kemudian beralih ke sisi pengemudi. Mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.


"Kau mau makan apa?"


"Apa saja," jawabnya sembari memandang kearah luar jendela mobil.


"Baiklah," kataku.


Beberapa saat kemudian, kami telah tiba disebuah Restoran klasik yang lumayan sering ku kunjungi untuk pertemuan meeting. Makanan disini cukup enak dan suasananya nyaman.


Kami duduk di lantai atas, meja kami menghubungkan dengan sebuah jendela kaca besar, dimana hamparan pemandangan kota terlihat jelas dengan kerlipan ribuan lampu.


Aku membebaskan Gloria untuk memilih menu makanan sesuai dengan seleranya.


"Kau tampak senang," ucapku pada wanita itu.


Gloria mengangguk. "Aku tidak pernah makan malam diluar seperti ini!" jawabnya antusias.


Aku mengernyit. "Benarkah? Apa Richard tidak pernah membawamu dinner diluar?"


"Tidak pernah."


"Sekalipun?"


"Yah, sekalipun. Hmm, pernah sekali, waktu mengajakku makan malam di Mansionmu dan berakhir dengan kesepakatan aneh diantara kalian." Gloria tertawa sumbang.


Aku tersenyum miring. "Kalau begitu, aku yang pertama mengajakmu makan malam di Restoran seperti ini?"


Tidak ku sangka Gloria justru mengangguk. Ah, pernikahan seperti apa yang dijalaninya bersama Richard selama delapan bulan ini? Kenapa rasanya aku tidak terima Richard memperlakukannya seperti ini?


"Aku merasa, Richard telah berselingkuh dibelakangku," kata Gloria dengan nada lirih.

__ADS_1


******


__ADS_2