
"Owen, maafkan aku. Baiklah, kita tidak akan membahas hal ini lagi." Celine mengejar kepergian Owen yang kehilangan mood sebab pembahasannya yang konyol.
"Baiklah, ku harap kau menepati ucapanmu."
Celine mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya sudah, ku rasa aku harus pulang," kata Owen.
"Jangan marah begini, aku kan sudah minta maaf," ucap Celine dengan wajah memelas.
"Ya, tapi aku harus kembali."
"Bagaimana kalau kita ke Seventeen Club', aku ingin bersenang-senang malam ini tapi aku ingin kau ikut," ajak Celine.
"Aku sudah lama tidak ke tempat semacam itu."
"Itu bagus, ayo kita kesana!" Celine menatap Owen dengan tatapan penuh permohonan. Sebenarnya Owen sangat malas, tapi ia tak tega selalu menolak ajakan Celine.
"Baiklah," jawabnya memutuskan.
Mereka pergi ke Club' malam itu, Celine bersenandung mengikuti music yang diputarnya didalam mobil Owen. Melihat sikap Celine yang ceria membuat Owen menyunggingkan senyum, sedikit banyak ia menjadi cukup terhibur.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah Club' dalam kota. Club' ini bukan tempat yang sama saat dulu Owen bertemu Gloria, sehingga ia cukup merasa enjoy dan tak terlalu mengingat pertemuannya dengan wanita itu.
"Owen, ayo kita turun ke sana!" ajak Celine menarik lengan Owen.
Owen menggeleng pelan. "Tidak, aku tidak pandai melakukan hal itu. Kau saja yang turun!" kata Owen.
Celine menyerah, akhirnya ia turun ke lantai dansa seorang diri.
Penampilan Celine yang s ek si serta wajahnya yang cukup cantik membuat banyak mata pria yang memandang ke arah wanita yang kini tengah meliukkan badan mengikuti irama musik yang bertendum keras.
Owen hanya memperhatikan Celine saja dari tempatnya, sesekali ia me nyesap minumannya, sesekali berikutnya ia kembali mengingat Gloria.
Sudah hampir setengah jam mereka berada di club' itu, sampai terdengar suara keributan dilantai dansa.
Owen terkesiap saat melihat Celine sedang bertengkar dengan seorang wanita disana.
"Astaga..." gumam Owen pelan, ia bangkit dan memutuskan untuk membawa Celine pulang.
Owen menangkap tubuh Celine yang memberontak hendak melanjutkan aksi pertengkarannya dengan wanita yang menjadi lawannya.
"Lepaskan aku, Owen! Dia yang lebih dulu menarik rambutku!" marah Celine.
"Ayo pulang!" jawab Owen santai, beginilah Celine yang ia kenal sejak dulu, si pembuat onar.
"Biarkan aku menghajarnya, Owen!"
Wanita yang menjadi lawan Celine tertawa pelan seolah mengolok karena Celine tak bisa membalasnya lagi.
"Lihat! Dia mengejekku, Owen!"
__ADS_1
Owen lelah menahan Celine yang terus memberontak, akhirnya ia membopong tubuh Celine di pundaknya bagai membawa sekarung beras. Celine yang tak puas, malah memukuli punggung Owen sepanjang perjalanan menuju tempat parkir.
"Masuk!" titah Owen, Celine menggeram marah kemudian masuk juga kedalam mobil Owen.
Owen menutup pintu setelah memastikan Celine duduk dengan baik di seat mobil, kemudian dia ikut masuk ke dalam seat pengemudi.
"Kau mengajakku bersenang-senang, kan? Bukan mengajakku untuk menyaksikanmu bertengkar disana!" sindir Owen sembari menyalakan mesin mobilnya.
Celine hanya berdecak lidah.
"Aku tidak mengerti kenapa wanita selalu memperumit masalah!" keluh Owen saat mobil sudah mulai bergerak meninggalkan area club'.
"Dia menarik rambutku! Bukan salahku jika kekasihnya mengajakku berdansa!" omel Celine.
Owen malah terkikik mendengarnya.
"Jelas itu salahmu, Nona!"
"Aku tidak salah! Aku tidak menggoda kekasihnya hanya berdansa saja. Masih tahap wajar," sanggah Celine bersikeras.
Owen hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau tinggal dimana sekarang?" tanya Owen.
"RC Apartmen."
"Oh, baguslah...."
"Aku punya apartmen juga disana. Sepertinya malam ini, aku menginap disana saja karena aku cukup banyak minum tadi dan sekarang kepalaku lumayan pusing," jawab Owen terus terang.
"Kau mabuk? Biar aku menggantikanmu mengemudi!"
"Tidak usah, masih bisa, gedung itu sangat dekat dari sini."
"Are you sure?"
Owen mengangguk samar.
"Ku kira kau sedang banyak masalah, Owen..." lirih Celine namun tak berani menatap ke arah wajah Owen, ia lebih memilih untuk memandang ke luar jendela mobil.
"Ya, hidup memang banyak masalah..."
"Apa ini soal wanita?" selidik Celine.
Owen hanya mengendikkan bahunya dengan cuek.
"Sepertinya kau butuh pelarian agar bisa move on!" kikik Celine.
"Entahlah, aku tidak mau melibatkan orang lain dalam masalahku."
"Oh, jadi karena ini kau menolakku? Karena kau tidak mau melibatkan aku? Padahal aku bersedia saja menjadi pelarian mu!" ujar Celine mulai menatap serius pada Owen.
__ADS_1
"Kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal ini lagi, bukan?" sarkas Owen.
Celine memiringkan kepala sambil mengangkat tangan tanda menyerah. "Okay, Sorry...."
____
Owen masuk ke dalam unit Apartmen yang berada satu gedung dengan Apartmen yang ditinggali Celine. Apartmen ini jarang ia tempati.
Awalnya ia membeli Apartmen ini untuk bisnis property, semacam disewakan atau dijual kembali saat harganya melambung tinggi.
Tapi, menginap disini sesekali tak ada salahnya. Owen juga menyewa maid untuk tetap menjaga kebersihan sekaligus untuk melihat - lihat keadaan tempatnya.
Owen menghempaskan tubuh di ranjang kingsize yang ada di dalam kamar utama. Menutup matanya, tanpa berniat mengganti pakaiannya sama sekali.
"Gloria...."
Seperti apapun ia bertekad melupakan wanita yang telah mencampakkannya itu, tetaplah ia sulit merealisasikannya.
"I miss you..." lirihnya lagi. Entah karena faktor minuman yang mulai bereaksi atau karena alam bawah sadarnya yang memang sangat merindukan wanita ber-iris-mata hitam itu, ia benar-benar tak kuasa menahan rindu.
Greppp
Ia bangkit dari posisinya, membuka lemari kaca yang menyimpan banyak botol minuman disana. Kerap ia sediakan karena Apartmen ini kadang ia kunjungi juga untuk melepas penat dengan minum-minum bersama Jared, sebab ia jarang ke Club' lagi setelah ia bertemu Gloria waktu itu.
Mulai menuang minumannya kedalam gelas. Meneguknya sampai tandas dan akhirnya ia benar-benar mabuk. Puas? Ya, ia puas dengan kelakuannya ini tapi tidak ada yang bisa membuatnya lebih puas ketimbang kembalinya Gloria kedalam hidupnya.
Kenapa ia bisa sehancur ini saat ditinggalkan Gloria?
Tidak pernah terpikir olehnya, bahkan tak ada dalam kamus hidupnya harus merasakan kegalauan hanya karena seorang wanita.
Banyak wanita yang datang dan pergi dalam hidupnya, hanya untuk kesenangan semata tanpa melibatkan perasaan. Tapi, kenapa saat ia mengikrarkan cintanya pada wanita itu, Gloria justru mencampakkannya?
Ting Tong
Ting Tong
Bell Apartmen Owen ditekan dari luar, ada tamu yang datang. Tapi, selarut ini?
Dengan langkah sempoyongan, Owen membukakan pintu Apartemennya.
Owen memandangi wanita yang berdiri kaku tepat diambang pintu, dihadapannya.
"Owen, kau tampak mabuk?"
Owen mengangguk. "Gloria... kau disini? Kau kembali padaku?" jawab Owen dengan seringaian kebahagiaan.
"Owen, aku hanya ingin---"
Ucapan wanita itu terputus saat Owen membungkam mulutnya dengan ciuman panas.
*****
__ADS_1