Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Melumpuhkan


__ADS_3

"Jadi, kau sudah merencanakan ini?" gumam Richard lesu.


Melihat itu, Owen segera menendang pistol di tangan Richard dengan kakinya yang jenjang, membuat pistol terlempar ke sembarang arah dan jauh dari jangkauan Richard.


"Owen!" seru Richard yang memundurkan langkah namun ia mengepalkan tangannya erat-erat.


"Kau bisa mati tertembak dengan sangat mudah. Tapi aku tidak mau membiarkanmu mati begitu saja, kau harus mati ditanganku!" kata Owen dengan seringaian liciknya.


"Owen, kau akan menyesal telah bermain-main denganku!" ancam Richard.


"Kau mengancam ku? Padahal hari ini juga kau akan habis, Richard!"


Owen meninju wajah Richard, hingga akhirnya mereka berkelahi dengan saling berbalas pukulan. Owen sudah menyiapkan momen ini, tentu dia tak mau kalah. Sementara Richard masih dilanda syok karena ternyata Owen tak pernah melupakan masa lalunya.


Belum reda pemikiran Richard mengenai ingatan Owen, ternyata Owen sudah melakukan serangan balasan yang tidak main-main.


"Dimana orang-orangku, Owen?" tanya Richard dengan nafas menderu ditengah-tengah pertikaian mereka.


"Mereka sudah berada dalam genggamanku!" kata Owen.


Sebelumnya para penjaga dirumah itu telah diberikan Formula khusus oleh Prof. Jamie-- yang menyebabkan semuanya akan tertidur dalam waktu cukup lama. Owen juga sudah mengasingkan mereka semua ke sebuah tempat rahasia.


Owen tahu jika hari ini Richard akan sibuk mengurusi warisan Markus, sehingga dia mengambil kesempatan untuk melakukan hal itu hari ini juga tanpa mau membuang waktu lagi.


"Beraninya, kau!" hardik Richard. Pria itu pun langsung memberi serangan balasan dengan meninju perut Owen. Owen yang geram justru memukul kepala Richard menggunakan kepalanya sendiri, membuat mereka berdua merasakan sakit tapi tentunya Richard lebih sakit lagi karena tidak menduga hal itu.


Sampai akhirnya Richard tumbang dibawah kaki Owen dengan wajah babak belur.


Owen berdecih lalu meludahi wajah Richard yang pingsan. Ia juga merasakan ngilu akibat pukulan Richard ditubuhnya. Owen menyentuh pipi bagian dalam dengan lidahnya sendiri sambil meringis.


Sudah, semua tentang Richard sudah ia akhiri hari ini. Rasa jengah dengan sikap Richard yang pongah dan berkuasa, sudah bisa ia tuntaskan sampai disini, selanjutnya tinggal mengeksekusi saja hingga Owen benar-benar merasa puas dan lega.


Dengan sempoyongan, akhirnya Owen menyeret langkah ke arah luar, lalu memanggil salah seorang kepercayaannya yang sempat dia masukkan kedalam Mansion-- tanpa sepengetahuan siapapun.


"Urus dia, aku muak sekali dengannya!" kata Owen tak acuh. Kemudian pria pun berjalan ke arah paviliun belakang dimana kamarnya berada.


Owen tak terlalu mengkhawatirkan perkiraan Sean nanti-- jika mendapati Mansion dalam keadaan kosong, sebab Sebentar lagi Mansion akan kembali diisi oleh orang-orang dari pihak Owen untuk menggantikan para penjaga yang sudah terkurung. Sean tak akan tahu yang mana orang-orang Ayahnya atau bukan, sebab selama ini Sean tak pernah memperhatikan hal itu secara detail.

__ADS_1


*******


"Nico?" Sean terkejut mendapati Owen yang duduk santai sambil menyilangkan kaki di sofa.


"Dimana Richard?" tanya Sean yang keheranan melihat Mansion tanpa kehadiran adik tirinya yang sok berkuasa itu.


Owen masih diam, dia menilai pergerakan Sean. Semua yang terjadi siang tadi jelas membuat semua rencananya untuk mengadu domba Sean dan Richard berantakan dan merubah segala rencana awal.


Meski Sean tak memiliki orang-orang yang mampu melindunginya seperti kepunyaan Richard.


Tapi, seperti yang Owen perkirakan jika Sean selalu penuh perhitungan dan tidak tergesa-gesa, membuat Owen harus berpikir keras untuk menghadapi sepupunya ini.


"Tuan Richard sedang pergi ke pergudangan senjata, ada sedikit masalah disana," kilahnya. Ternyata Owen masih ingin menyembunyikan jati dirinya didepan Sean, ia masih menikmati perannya sebagai Nico didepan sepupunya ini.


"Oh, baguslah.... kalau perlu dia tidak usah kembali," kata Sean tersenyum miring.


Sean berderap ingin pergi meninggalkan Mansion, tapi Owen kembali membuka suara.


"Apa anda begitu membencinya?" tanyanya penuh selidik.


"Haruskah aku menganggapnya ada jika dia berasal dari hubungan gelap antara ayahku dan ibunya?" sarkas Sean.


Owen sadar, semakin lama ia menjadi Nico maka semakin lama pula semua masalah ini berakhir.


Tapi, tidak! Ia harus bertahan sedikit lagi sampai pelampiasan dendamnya pada Sean berakhir sempurna. Seperti Markus yang mati tanpa sisa bahkan tak bisa mengucapkan sepatah katapun diakhir usia.


"Entahlah," jawab Owen. Ia ikut beranjak dan mendekati posisi Sean. "Lalu, apa yang ingin anda lakukan terhadap dia?" tanyanya kemudian.


"Aku membebaskannya, asal dia menyadari posisinya. Sayangnya Richard terlalu besar kepala. Apalagi wasiat ayahku membagi rata warisannya untuk kami berdua. Menurutmu, apa yang harus ku lakukan pada Tuan-mu itu?" Richard balik bertanya. Entah kenapa ia bisa menceritakan semua ini pada Owen. Mungkin ia masih merasa dekat dengan sosok sepupunya itu meskipun kini Owen tak mengingat pertalian keluarga diantara mereka. Begitulah batin Sean.


"Kalau saya jadi anda, saya akan memikirkan dua hal dan melakukan salah satunya saja. Yang pertama, menuntut hak di pengadilan, tentu itu adalah cara baik-baik. Tapi saya lebih suka cara yang kedua...." Owen sengaja menggantung kalimatnya.


"Apa?"


"Melenyapkannya."


Sean tersenyum smirk sembari mengangkat kedua bahunya didepan Owen.

__ADS_1


"Itu terserah anda, Tuan. Tapi, seperti yang sudah saya katakan bahwa Tuan Richard sebenarnya cukup berhak, karena dia mau menggantikan posisi Tuan Markus, sementara anda tidak." Owen tersenyum penuh arti saat mengatakan itu dan entah kenapa Sean justru menangkap maksud itu.


Sean pun mengangguk. "Kau benar, sepertinya dia layak mendapatkan bagiannya," ujarnya dengan kilatan licik.


******


"Oxela, bisakah hari ini aku keluar dari Mansion?" tanya Gloria. Dia merasa jenuh sudah terkurung dalam mansion selama seminggu penuh. Dia ingin melihat dunia luar untuk sekedar menjernihkan pikirannya.


"Kau tahu itu terlalu beresiko, bukan?" ujar Oxela.


"Aku jenuh...." Gloria memberengut dan mencebikkan bibir.


"Sudahlah, jangan begitu. Kau bisa melakukan kegiatan apapun di Mansionku. Tidak perlu keluar dari sini karena semua orang-orang jahat itu tengah mencarimu."


"Hfffff....." Gloria menghela nafas berat.


"Kau bisa berolahraga, menonton, berenang ataupun membaca di perpustakaan Mansion."


"Semua sudah ku lakukan...." gumam Gloria.


"Bagaimana kalau hari ini kita ke rumah temanku?" Tiba-tiba Jade datang dan menimpali obrolan para wanita itu.


Oxela dan Gloria segera menoleh pada kedatangan Jade.


"Benarkah?" tanya keduanya nyaris bersamaan. Oxela juga sudah jenuh dirumah saja sebenarnya.


Jade merasa keadaan sudah mulai kondusif sebab orang-orang Richard termasuk pria itu sendiri juga telah dilumpuhkan. Bahkan berada ditangan Owen sekarang. Jadi, ia mempunyai rencana untuk mengajak Oxela dan Gloria mengunjungi satu tempat.


"Iya, kita kesana siang ini," jawab Jade semringah.


Kedua wanita dihadapannya lebih semringah lagi. "Yes yes yes!" seru Oxela kegirangan.


"Tapi, untuk apa kita ke rumah temanmu, Jade?" tanya Gloria. Ia cukup senang bisa keluar dari Mansion, tapi jika dirumah teman Jade akan berakhir membosankan, ia lebih memilih tidur seharian di Mansion saja.


"Ada yang ingin ku perlihatkan pada kalian berdua."


Seketika itu juga Gloria dan Oxela saling berpandangan satu sama lain.

__ADS_1


*******


__ADS_2