Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Kenyataan


__ADS_3

Sean begitu terpukul dan kecewa saat mendapati rumah yang ada di pulau sudah tak dihuni oleh Gloria. Ia mengira Gloria melarikan diri darinya sebab Esther memang tak mengetahui kemana Gloria pergi sejak siang tadi.


Tapi, yang menjadi pemikiran Sean saat ini adalah bagaimana bisa Gloria keluar dari pulau sementara wanita itu jelas tak memiliki transfortasi untuk mengarungi lautan.


"Apa dia masih berada di pulau ini dan menginap disalah satu rumah milik warga yang tinggal di pulau?" otak Sean berpikir keras. Memang di pulau ini ada beberapa rumah yang ditempati oleh warga setempat, itupun hanya rumah singgah para nelayan yang terkadang tak bisa kembali ke kota sebab keadaan laut yang kadang sulit ditebak atau jika terjadi hujan badai.


"Atau, dia ikut kapal nelayan yang sesekali berlabuh di pulau ini?" Sean bermonolog lagi. Tapi, keyakinannya tidak mengatakan bahwa orang-orang Ayahnya yang membawa Gloria pergi, sebab ia yakin tak ada satupun yang mengetahui keberadaan mereka di pulau ini.


____


Dilain tempat, Richard murka karena ternyata Gloria berhasil lolos dari misi penangkapannya siang tadi.


Richard menatap nyalang pada Nico. Ia mencurigai pria itu adalah dalang dari kaburnya Gloria karena menurut keterangan salah seorang penjaga, terakhir kali Nico lah yang berinteraksi dengan wanita itu.


"Nico! Apa maumu sebenarnya? Apa kau mulai ingin mengkhianatiku?" tanya Richard. Batinnya merasa was-was, ia takut jika Nico mengingat Gloria, sebab Nico memanglah Owen yang Richard yakini sudah kehilangan daya ingatnya sebab selalu rutin diberikan obat oleh Prof. Jamie.


"Bukan begitu, Tuan! Wanita itu berhasil lolos tanpa sepengetahuanku. Memang aku sempat bicara dengannya tapi aku tidak mungkin menghianati Anda," jelas Nico yang tak lain adalah Owen. Ia memberi alasan tentang kaburnya Gloria, ia tentu tak bisa memberitahu tentang kejadian sebenarnya yang terjadi antara dirinya dengan Gloria.


Richard mendengkus, ia menatap Nico dengan lekat, seolah mencari kebohongan pria itu namun nihil, ia tak menemukan apa yang dicarinya.


"Jika kau curiga padaku dan aku memang berniat melepaskannya. Untuk apa aku memberitahumu mengenai posisinya!" imbuh Nico lagi, membuat Richard kembali berpikir bahwa penjelasan pria itu ada benarnya.


Kemarin, Nico mengatakan bahwa dia bertemu dengan wanita bernama Gloria di supermarket. Saat itu, Nico langsung meletakkan alat pelacak di saku jaket yang wanita itu kenakan, sehingga akhirnya mereka semua mengetahui keberadaan Gloria dengan sangat mudah karena alat pelacak yang sudah dipasang Nico. Jika memang Nico berniat melindungi Gloria, seharusnya Nico tak perlu melakukan semua itu, bukan? Nico juga tak perlu memberi tahu Richard mengenai pertemuannya dengan Gloria, begitulah pemikiran Richard.


"Baiklah, aku percaya padamu." Richard mengembuskan nafas berat. Ia tahu Nico telah kehilangan ingatannya dan tak mungkin melindungi Gloria, sebab kini Nico sudah menjadi anak buahnya yang mengabdi padanya dan berada dibawah kendalinya. Owen yang asli telah tiada, kini hanyalah Nico yang adalah seorang kacung bagi Richard.


"Apakah aku boleh kembali?" tanya Nico pada Richard.


Richard mengangguk singkat, tapi ucapannya selanjutnya berhasil membuat Nico menghentikan langkah sejenak.


"Besok, cari kembali Gloria! Bawa dia kehadapanku! Dia pasti sudah ada di kota ini dan tidak kembali lagi ke pulau itu," ujar Richard dengan seringaiannya.


Nico menoleh sekilas, sebuah senyuman kecil tersungging dari sudut bibirnya.


"Baik, Tuan." Nico melengos sembari berderap keluar dari ruang kebesaran Richard.


________


"Aku senang melihatmu sudah lebih baik, wajahmu tidak pucat lagi seperti kemarin malam," kata Oxela saat melihat Gloria duduk diseberangnya. Sekarang mereka tengah sarapan pagi bersama di meja makan.


"Terima kasih, Oxela ...."


Tak berapa lama, seorang baby sitter datang dan menyerahkan bayi pada Oxela. Seketika itu juga Gloria baru mengingat jika pertemuan terakhirnya dengan Oxela adalah ketika adik iparnya itu tengah hamil tua.

__ADS_1


"Xela, apa dia bayimu?" Gloria bangkit dari duduknya dengan wajah yang tampak sangat antusias.


"Ya, dia keponakanmu...." kata Oxela tersenyum senang.


"Bolehkah aku menggendongnya? Aku merindukan Jeff." Gloria menitikkan airmatanya namun ia juga menyunggingkan senyum bahagia melihat bayi perempuan di gendongan Oxela.


"Tentu saja boleh," jawab Oxela ikut tersenyum namun ia juga turut merasakan kesedihan Gloria mengenai Jeff.


Oxela menyerahkan bayinya pada Gloria. Gloria menimang bayi itu dalam gendongannya. Bayi perempuan itu tidak terganggu dengan perpindahan posisi itu, justru ia tampak nyaman dalam dekapan Gloria.


"Siapa namanya, Xela?"


"Briella," jawab Oxela.


"Briella, kau cantik sekali, nak." Gloria kemudian menatap Oxela. "Dia mirip sepertimu..." sambungnya sembari menyusut airmatanya sendiri.


"Iya, tapi matanya seperti Jade."


"Jeff juga memiliki mata persis seperti Owen...." kata Gloria yang semakin mengingat rupa tampan milik puteranya.


"Ah, Gloria... aku juga sangat merindukan Jeff," tandas Oxela yang kini ikut menangis. "Ada baiknya kita sarapan lebih dulu." Oxela hendak mengalihkan pembicaraan ini sebab ia tak sanggup jika terus membahas mengenai Jeff.


"Baiklah," ucap Gloria menurut. Ia pun mengembalikan Briel pada baby sitter.


"Apa Jared sering kesini?" tanya Gloria sembari menyuap makanannya.


"Kadang-kadang," jawab Oxela.


"Apa kau tahu, aku bertemu seseorang yang sangat mirip dengan Owen."


Ucapan Gloria berhasil membuat Oxela tersedak makanannya sendiri.


"Namanya Nico," lanjut Gloria. Ia menatap pada Oxela yang masih diam belum menanggapi ucapannya.


Oxela mengambil air minum dan meneguknya secara perlahan.


"Bagaimana menurutmu, Xela?" tanya Gloria.


"Apa kau yakin dia mirip kakakku?"


"Yakin, sangat yakin. Aku merasa dia adalah Owen."


"Gloria, mungkin kau sangat merindukan kakakku sehingga--"

__ADS_1


"Maksudmu aku tengah berkhayal? Semua yang ku lihat hanyalah perasaanku dan halusinasi karena aku sangat merindukan Owen?" Gloria menyela ucapan Oxela sebelum wanita itu selesai dengan kalimatnya.


"Bukan begitu maksudku," kata Oxela lembut. "Jika kau memang yakin dia adalah kakakku, kenapa namanya adalah Nico? Itu artinya mereka dua orang yang berbeda. Mungkin hanya mirip," tandas Oxela.


"No... no! Aku yakin dia Owen." Gloria bersikukuh pada keyakinannya.


"Jika begitu, apa pria bernama Nico itu mengenalimu?"


Gloria menggeleng.


"Itu artinya dia bukan kakakku!"


"Aku pernah mendengar sekilas, jika Owen akan kehilangan ingatannya setelah peristiwa hilangnya dia selama ini," lirih Gloria tercekat.


"Lupakan itu! Itu semua tidak mungkin," kata Oxela segera bangkit dari posisinya. Oxela juga meminta baby sitter untuk segera membawa bayinya ke teras belakang karena mereka akan berjemur dapn menikmati matahari pagi.


"Xela...." Gloria mencegah kepergian Oxela.


"Gloria, aku tahu kau belum bisa melupakan kakakku. Tapi mulai sekarang,vcobalah berdamai dengan keadaan."


Entah kenapa ucapan Oxela membuat Gloria terdiam. Ia membeku ditempat seolah ucapan itu seperti cambukan yang sangat menyakitkan.


"Maaf, maafkan aku Gloria. Aku hanya tidak mau kau menunggu sesuatu yang tak pasti termasuk tentang kakakku."


Gloria lemas, ia memegangi kursi terdekat yang ada disisinya demi menjaga keseimbangan.


"Sepertinya aku harus mengatakan ini padamu. Lupakanlah kakakku, dia telah tiada...." Oxela memegang pundak Gloria bahkan me re masnya kuat.


"Ma-maksudmu?"


"Sekitar dua bulan lalu, ruangan tempat penyekapannya terbakar dan dapat dipastikan jika kakakku tewas disana." Oxela terisak, tak lama dia menangis sambil memeluk Gloria dengan histeris.


"Maaf aku tidak memberitahumu langsung kemarin. Sebab, aku melihat keadaanmu masih sangat lemah. Jadi, yang kau lihat mirip dengan kakakku itu sudah pasti bukan dia. Dia sudah meninggal, Gloria."


"Tidak, itu tidak mungkin!" Gloria menggeleng tak percaya. Ia mundur perlahan dan kembali berpegang pada kursi makan terdekat sebab ia nyaris tak bisa berdiri saat mengetahui kenyataan ini.


"Tapi itulah kenyataannya! Jika kau tak percaya, tanyakan pada Jade atau Jared yang mengurus jenazahnya!"


"Tidak, Nico memiliki kemiripan 99% dengan Owen. Kau juga akan mengatakan jika mereka serupa jika bertemu dengannya."


Gloria pun berlari meninggalkan Oxela. Bahunya berguncang hebat sebab ia menangis sejadi-jadinya.


*******

__ADS_1


__ADS_2