Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Suntikan obat


__ADS_3

"Dokter Mateo, waktumu sudah habis!" Seorang penjaga ruang bawah tanah menyela pembicaraan antara Owen dengan James. James memberi isyarat mata pada Owen agar pria itu memahami tentang penyamarannya.


Meski Owen belum mengerti kenapa James bisa berada disini, namun Owen mengangguk samar sebagai jawaban untuk James.


"Baiklah, aku permisi, Tuan..." James bangkit dari posisinya kemudian seorang penjaga mengawalnya untuk keluar dari ruangan pengap itu, sedangkan penjaga satunya kembali mengunci ruangan dimana Owen terkurung didalamnya.


Owen mengembuskan nafas kasar. Ia seakan tidak merasakan sakit lagi pada tubuhnya, mengabaikan itu atau lebih tepatnya mati rasa terhadap segala rasa sakit yang kini dideritanya.


Dikepalanya sekarang hanya memikirkan Jeff dan Gloria saja. Bagaimana keadaan mereka saat ini?


Meski James sempat mengatakan bahwa Jeff aman bersama Karina dan Gloria diselamatkan oleh Sean namun tetap saja ia merasa khawatir.


Terlebih ia tak mempercayai Sean begitu saja. Kenapa Sean harus menyelamatkan Gloria? Ia merasa Sean tak memiliki alasan khusus untuk menyelamatkan nyawa istrinya.


Otaknya tak bisa memikirkan apa alasan Sean melakukan itu, hanya satu kemungkinan yang terpikir, mungkin karena Sean merasa bersalah atas tindakan yang sudah dilakukan. Atau karena alasan klise, jatuh hati pada Gloria. Ah, kenapa pemikiran itu terlintas dikepalanya? Rasanya itu tak mungkin. Tapi, mendadak ia resah dan cemburu membayangkan kini Gloria berdua bersama Sean.


_____


"Profesor Jamie, segera lakukan tugasmu! Berikan obat itu pada Owen!" titah Richard pada salah seorang yang dipercayainya untuk menyuntikkan obat yang lambat laun akan merusak daya ingat Owen. Tentu obat itu sangat mudah didapat dalam kalangan mafia besar seperti mereka. Bahkan obat-obatan terlarang serta yang tidak berizin semua bisa mereka miliki dalam kemudahan.


"Baik, Tuan." Seorang Profesor bernama Jamie mengangguk patuh. Ia membuka lemari penyimpanan obat-obatan ilegal yang mereka miliki.


Memilah salah satu yang paling tepat. Lalu mengambil sampel itu yang terdapat disebuah tabung kecil berbahan kaca.


Tak lupa, Prof. Jamie mengambil beberapa alat suntikan untuk melanjutkan aksinya.

__ADS_1


"Kita kesana sekarang!" tegas Richard. Sementara itu, Markus hanya memperhatikan dengan seringaian yang terpampang nyata di wajah kejamnya.


"Lakukan apapun yang kau inginkan, Nak!" gumamnya senang. Ia merasa telah berhasil memberikan segala yang Richard inginkan. Bagai seorang Ayah yang senang telah berhasil membelikan mainan yang paling diminati sang anak.


Mereka semua berderap menuju ruang bawah tanah dimana Owen terkurung. Richard, Markus, Jamie dan beberapa pengawal yang ikut menyertai perjalanan mereka.


Setiba disana, Owen terkesiap saat melihat serombongan orang-orang keji yang berkomplot untuk menyiksanya.


"Kau yakin ini akan berhasil, Prof?" Markus bertanya sembari melirik ke arah Prof. Jamie.


"Tentu, Tuan. Jangan ragukan obat-obatan milikku," jawab Prof. Jamie dengan jumawa.


Richard menyeringai puas saat Prof. Jamie mulai melakukan aksinya. Membuka suntikan dari kemasan, lalu mengambil sampel cairan dalam bejana kaca dengan jarum suntik itu dan semua cairan obat yang mereka yakini akan mengacaukan pikiran Owen telah berpindah kedalam tabung alat penyuntik.


Owen menatap Prof. Jamie. "Aku tidak mau diberikan obat itu! Kau bukan dokter yang harusnya memberiku obat!" tolaknya tegas.


Owen memberontak, namun akhirnya Prof. Jamie berhasil memberikan suntikan disana. Owen meringis sekilas namun kemudian rautnya berganti menjadi penuh kekesalan dengan rahang yang mengeras.


"Nikmatilah penderitaanmu setelah ini, Owen!" kekeh Richard merasa telah berhasil menjalankan satu misi besar.


"Ini akan kita lakukan secara berkala, sampai ingatannya benar-benar hilang!" kata Prof. Jamie menerangkan sembari melirik Owen yang kini tak berkutik sebab pria itu merasa tubuhnya mendadak lemas setelah suntikan itu.


"Aku percayakan semua padamu, Prof. Jamie!" kata Richard menepuk pundak Jamie beberapa kali.


Setelah melakukan hal itu, mereka semua keluar dari sana.

__ADS_1


"Bagaimana dengan bayinya? Kenapa bayi itu tidak jadi dihabisi sampai sekarang?" tanya Markus pada Richard.


Richard terkekeh. "Bayi itu .... bukan ancaman yang besar, Ayah! Aku masih memiliki hati untuk tidak membunuhnya!"


"Jangan anggap remeh hal kecil, kelak dia akan menyimpan dendam jika tahu apa yang kita lakukan pada kedua orangtuanya. Aku sudah pernah menyaksikan sendiri bagaimana seorang anak memiliki dendam yang kuat. Dia adalah Owen, jadi aku tidak mau anaknya akan menjadi orang yang sama sepertinya, menjadi pecundang! Bayi itu lebih baik segera mati!" kata Markus tak berperasaan.


______


Sementara itu, Gloria menjalani kesehariannya dengan tak bersemangat. Sean memenuhi semua kebutuhannya namun tak sekalipun memberinya akses untuk keluar dari rumah.


"Belum saatnya kau keluar dari tempat ini," kata Sean datar.


"Sebenarnya kita ada dimana?" tanya Gloria dengan decakan keras.


"Jika kau benar-benar ingin tahu, kita ada disebuah pulau terpencil."


Gloria tertunduk lemas. "Itu artinya aku bukan cuma terkurung dalam rumah, melainkan disebuah pulau yang tak bisa memberiku akses kemanapun!" gumammya.


"Sabarlah, semua ini untuk kebaikanmu juga. Aku akan memberikan semua kebutuhanmu, jadi kau tidak perlu khawatir."


"Aku mengkhawatirkan anak dan suamiku." Gloria lesu bagai makhluk tak bertulang. Bagaimana ia tak khawatir, sedang ia tak tahu apa kabar dua orang yang menjadi bagian dalam hidupnya.


"Bisakah kau mencari tahu tentang keadaan Jeff dan Owen? Aku akan membalas semua kebaikanmu tentang itu! Paling tidak, berilah aku info mengenai mereka yang masih hidup atau tidak," kata Gloria tak bisa menahan airmatanya yang mengalir. Ia menatap Sean dengan tatapan penuh harap.


"Aku akan mengusahakannya."

__ADS_1


******


__ADS_2