Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Mengurus Penjahat kecil


__ADS_3

Suara gedoran pintu terdengar sangat nyaring. Tapi sang pemilik Apartmen belum kunjung membukakan pintu. Sampai suara seseorang terdengar sayup-sayup menjawab dari dalam ruangan.


"Sebentar!"


Tak berapa lama, pintu pun dibuka dari dalam, menampilkan sesosok wanita yang terbelalak kaget mendapati tamu yang tak diundang.


"O--Owen ...." Pemilik Apartmen itu tergagap sembari menutup mulutnya dengan tangan.


Owen berjalan maju untuk melangkah masuk ke dalam Apartmen itu, gerakannya tampak sangat mengintimidasi, membuat lawan bicara yang masih terkejut dengan kedatangannya semakin terpojok mundur.


"O--Owen, bu-bukankah .... seharusnya .... kau sudah tewas?" Perkataan itu terucap disertai dengan raut wajah pias.


Owen hanya memasang wajah datar, semakin memajukan langkah dan membuat seorang didepannya kembali berjalan mundur seirama degan langkah Owen yang mendekat.


Pintu Apartmen ditutup oleh Owen, menyisakan hanya mereka berdua dalam ruangan itu. Dengan sikap tenang, Owen duduk bersedekap di sofa ruang tamu.


"Ternyata sudah cukup lama, ya ...." Owen memulai kata-kata dengan suara berat miliknya, membuat seorang didepannya merasa tercekat dan sulit menjawab dengan kata-kata.


"A-apa maksudmu dengan 'sudah cukup lama'?" tanya sang lawan bicara yang kini menelan ludah dengan susah payah.


"Sudah cukup lama kita tidak bertemu." Owen menjeda kalimatnya.


".... dan sudah cukup lama aku membiarkanmu, Celine!" Owen pun tersenyum miring menatap Celine yang kini terduduk lemas di seberangnya.


"Ehm.... aku tidak memahami apa maksudmu, Owen!" Celine masih mau berkilah dan berlagak bodoh dengan kedatangan Owen saat ini, meski ia sudah dapat mengira jika Owen mengetahui rencana jahatnya di masa lalu.


"Kau pasti mengira aku sudah tewas, ya!" sindir Owen dengan senyum tipis.


"Hmm, berita kematianmu sudah tersebar, jadi pantas saja jika aku terkejut dengan kedatanganmu." Celine memaksakan untuk melengkungkan bibirnya dihadapan Owen.


Owen terkekeh. "Jadi, kau mengira aku hantu atau manusia?" tanyanya masih bisa berkelakar.


Celine menggeleng pelan.

__ADS_1


"Jadi, apa pengakuan dosamu padaku, Celine?" tanya Owen mulai mengalihkan pembicaraan secara to the point.


"Ma-maksudmu?" Celine membuang pandangan ke arah lain.


"Selagi aku masih bermurah hati untuk mendengarkannya, maka akuilah!"


"Owen...." Suara Celine melirih.


"Kau tidak punya banyak waktu untuk mengakui itu!" hardik Owen dengan intonasi naik.


"Owen, aku bisa jelaskan semua yang terjadi beberapa bulan ke belakang, sebenarnya...."


"Kau kehabisan waktu, Celine! Sudah ku katakan waktumu tidak banyak!" Owen memotong ucapan Celine seolah memang tak memberi waktu untuk wanita itu memberikan penjelasan lebih.


Celine terduduk dibawah kaki Owen, ia memohon sambil tersedu-sedu. Sementara Owen sudah muak melihat ekspresi wanita itu.


"Aku mohon, maafkan aku! Aku menyesal!" Celine sudah bisa menduga jika kedatangan Owen ke Apartmennya hari ini adalah karena Owen sudah mengetahui rencana liciknya dimasa lalu bersama Sean.


"Breng sek!" umpat Owen. "Rencanamu memang tak berjalan, tetapi kau yang membuat Sean memasuki kehidupanku lagi, b**ch!" senggak Owen sambil berdiri dari duduknya, membuat Celine tergugu dengan buliran bening yang sudah membasahi pipi wanita itu.


Celine tak menyangka Owen akan menyebutnya dengan panggilan terhina seperti itu karena rencana jahatnya dimasa lalu. Lagipula, ia tak menyangka jika Owen masih hidup.


"Owen, apa kau sadar, aku berniat melakukan itu karena aku sangat mencintaimu.... aku ingin membuatmu kembali padaku!" Celine menangis sambil mendekap kaki Owen.


"Aku tidak mau mendengar alasanmu. Ku rasa selama ini aku sudah terlalu bermurah hati pada orang yang salah! Kau penjahat kecil yang bisa ku musnahkan sejak lama, Celine! Tapi kau malah bermain-main dengan berniat merusak kebahagiaan keluargaku!" murka Owen. Ia mengibaskan kakinya, membuat Celine terlonjak dari posisi yang memeluk kakinya itu.


"Menyingkir lah!" kata Owen geram sebab Celine kembali beringsut dan bersujud dikakinya.


"Owen, maafkan aku!" seru Celine disertai Isak tangisnya. Namun, Owen tak mau mendengar seruan yang terasa berdengung dikepalanya itu.


Owen keluar dari Apartmen Celine dan memberi kode pada tiga orang yang sudah menunggunya diluar pintu. Ketiganya memang ikut menyertai saat ia menuju Apartmen Celine.


"Aku sudah selesai bicara dengannya! Urus dia dan jangan sampai dia muncul di hadapanku lagi!" titah Owen ketika ketiga orang itu mendekat padanya.

__ADS_1


"Ah ya, jangan biarkan dia memperoleh pekerjaan apapun. Biarkan dia merasakan bagaimana pahitnya mencari makan untuk bertahan hidup," tambahnya lagi.


Owen tak ingin lagi bermain-main pada Celine yang suatu saat bisa menjadi kerikil dalam kehidupannya. Tapi, ia masih punya hati untuk tidak membunuh wanita itu ditangannya sendiri. Ia memutuskan untuk mengasingkan Celine ke negara krisis, agar Celine musnah dengan sendirinya akibat keadaan yang sulit dan menghimpit.


______


"Apa maksudmu? Gloria ingin bertemu denganku?" Owen terkejut kala dini hari mendapat panggilan mendadak dari Jade.


"Dia bukan ingin bertemu kau, Owen! Tapi, dia ingin bertemu Nico. Dia bahkan berkomplot dengan Oxela dan mereka sudah satu suara untuk bisa bertemu dengan Nico."


Owen tertawa pelan. Tawa pertamanya yang tulus sejak semua masalah ini terjadi. Ia tak habis pikir dengan pemikiran Gloria dan Oxela yang justru terang-terangan meminta pada Jade untuk melakukan penyekapan demi sebuah pertemuan dengan sosok Nico. Ia yakin, mereka berdua pasti sangat penasaran akan siapa Nico.


Jika ia menyetujui untuk momen pertemuan ini, artinya ia harus bersiap untuk kembali berakting didepan Gloria bahkan kini didepan Oxela yang mengenalinya dari kecil.


"Aku rasa aku tidak bisa bertemu dengan mereka secara terang-terangan, bakat aktingku sangat jelek!" kelakar Owen membuat Jade berdecak lidah diseberang sana.


"Ya sudah, jika memang begitu kau tidak usah menampakkan diri jika semua anggota Richard kembali mendatangi Mansionku," jawab Jade memberi usul.


"Hmmm, aku memang tidak akan ke Mansionmu lagi sebelum aku menyelesaikan urusan dengan Richard. Saat ini, aku belum mau identitasku terbongkar didepan adik dan istriku...."


"Baiklah, Owen. Semua ku serahkan padamu saja!"


Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Owen bersamaan dengan terputusnya panggilan selulernya bersama Jade.


^^^[Wanita itu sudah kami bereskan, Tuan. Kami pastikan dia tidak akan menginjakkan kaki lagi di Negara ini.]^^^


Owen tersenyum tipis, masalah Celine sudah selesai. Kini ia harus memilih mau menyelesaikan urusan dengan Sean lebih dulu, atau justru langsung dengan Richard.


Tapi, ia juga tengah memikirkan rencana brilian untuk kakak dan adik itu. Jika Richard dan Sean bisa saling menghancurkan satu sama lain, maka ia tak perlu bersusah payah untuk mencari ide demi menghancurkan keduanya secara bergantian.


”Permainan akan segera dimulai, maka bersiaplah," gumamnya pelan sembari kembali menyimpan ponsel ke tempat semula.


*****

__ADS_1


__ADS_2