Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Jared-Lily /5


__ADS_3

"Ayo, mulailah memohon pada Lily!" kata George tak sabaran. Sebenarnya ia ingin melihat apakah Lily mau menerima Jared, karena George penasaran-- mengira Lily tidak normal--sebab tak pernah nampak Lily menjalin hubungan. Padahal, semua orang sepermainan mereka tahu, jika Hary-- sangat menyukai gadis 26 tahun itu.


Jared menatap Lily seolah memberi isyarat agar gadis itu menerimanya nanti. Lily malah membuang pandangan kearah lainnya dan tak mau menggubris Jared.


Tampaknya Jared harus menerima resiko jika nanti ditolak oleh Lily dan berakhir di toilet club' untuk menjadi tukang bersih-bersih disana.


Jared ragu, ia menggaruk lengannya yang tak gatal. Ia menatap Lily yang masih enggan melihatnya.


Sepersekian detik dari itu, Jared akhirnya berlutut didepan Lily, membuat Lily terperangah tak percaya karena ternyata Jared benar-benar mau melakukan hal konyol seperti ini atas permintaan George.


"Lily Jane Garcia ... malam ini, aku ingin melamarmu. Bersediakah kau menerimaku dan menjadi istriku?" ucap Jared sambil menggenggam tangan Lily dan mengadah pada gadis itu.


Untuk beberapa detik, Lily terpana. Ia tahu jika ini dilakukan Jared karena kalah bertaruh. Ini hanya permainan. Tapi, sejak kapan Jared hafal nama lahirnya dengan lengkap seperti itu?


Lily berkedip-kedip gelisah. Ia mengigit bibir, suara Jared seakan menghipnotisnya. Melambungkannya pada masa lalu dimana ia pernah mengelu-elukan sosok pria ini, bahkan didepan kakaknya yang pada waktu itu masih berstatus sebagai kekasih Jared. Ia tidak kuasa untuk menolak, membayangkan Jared akan menerima hukuman membersihkan seluruh toilet club', entah kenapa rasa hatinya tidak rela.


"Andai saja kau melamarku atas dasar keinginanmu sendiri. Andai kau benar-benar serius memintaku menjadi istrimu," batin Lily sesungguhnya berharap. Tapi, ia tak mau kehilangan harga diri didepan Jared, sehingga selama ini ia bersikap tak acuh pada pria itu.


Sebenarnya, Lily masih mengagumi sosok pria itu, apalagi saat mereka dipertemukan lagi secara tak sengaja di daycare ketika Jared mengantarkan Jeff. Jared yang sekarang juga tampak semakin berwibawa dan dewasa. Pas seperti tipenya dan berbeda dengan teman sepermainannya yang lain yang masih bersikap kekanakan.


"Lily... kau mau menerima lamaran ku, bukan?" Jared mengadah pada Lily-- dari posisinya yang masih berlutut. Jared menatap kedalam netra cokelat milik Lily, seolah memohon padanya agar tidak menolak.


"Ya, aku menerimamu, Jared." suara Lily terdengar mantap menjawab.


Jared langsung berdiri dari posisinya yang bersimpuh, dalam hitungan detik dan tidak disangka siapapun, dia justru membawa Lily kedalam gendongannya. Jared kegirangan karena akhirnya Lily menerimanya juga. Padahal ini hanyalah taktik agar mereka segera keluar dari club' itu sebab Jared merasa tak punya muka lagi disana akibat kekalahannya dan harus menerima hukuman melamar Lily didepan semua orang.


Bersamaan dengan itu suara orang-orang disana terdengar penuh huru-hara memberikan selamat pada Jared dan Lily yang kini dianggap mereka sebagai pasangan yang akan segera menikah.


Disudut yang lain, Hary yang juga menyaksikan itu hanya bisa tersenyum getir.


"Apa kau puas?" Jared menatap George. "Apa sekarang kami bisa pergi dari sini?" tanyanya lagi.


George hanya terkekeh, rasa penasarannya terjawab bahwa Lily ternyata masih normal, hanya saja selera Lily adlah pria dewasa seperti Jared bukan pria kekanakan seperti Hary. Begitulah George menyimpulkannya.


George pun melambaikan tangan sebagai isyarat mengusir Jared dan Lily agar segera pergi dari tempat itu.


Dengan senang hati Jared membawa Lily keluar dari area club', ia baru menurunkan Lily setelah tiba didepan mobilnya.


"Kau ini apa-apaan!" Lily memukul dada Jared.


"Apanya?" tanya Jared merasa tak berdosa.


"Untuk apa kau menggendongku? Huh!"

__ADS_1


Lily hendak pergi karena sekarang ia harus menyadari bahwa semua yang terjadi barusan--semua ucapan Jared untuk melamarnya--hanyalah sebuah permainan mereka berdua saja.


Tapi, Jared segera menangkap tangan gadis itu, mencegahnya pergi.


"Kenapa kau suka sekali mencegat tanganku!" tukas Lily menatap nyalang pada Jared. Ia ingin segera pergi dari hadapan pria itu karena sebenarnya ia sedang terburu-buru untuk menetralkan detak jantung dan menata hatinya kembali agar tampak biasa saja didepan Jared.


"Jangan kembali kesini lagi untuk bertaruh!" kata Jared penuh intimidasi.


"Kenapa? Apa hak mu melarangku!"


"Mereka semua sudah tahu jika kita akan menikah, kalau kau kembali kesini itu artinya permainan kita ketahuan. Lagipula, mereka akan menganggapku pria tak bertanggung jawab jika membiarkanmu untuk tetap ikut taruhan setelah melamarmu hari ini!"


"Aku tidak peduli. Ini kan hanya permainan, kau tak benar-benar melamarku. Aku akan tetap kesini." Lily bersikukuh.


"Kenapa kau keras kepala sekali? Ah, apa kau memang membutuhkan uang banyak?"


Lily terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan Jared.


"Katakan padaku! Untuk apa kau bertaruh? Untuk apa uang-uang itu?" tanya Jared penuh intimidasi.


"Aku tidak perlu menjelaskannya padamu! Semua urusanku bukanlah urusanmu!"


Lily menepis tangan Jared dan kembali beranjak, Jared mengejar gadis itu dan kembali menangkap tangannya. Dengan gerak sigap, Jared mendorong tubuh Lily sampai punggung gadis itu tersandar di sisi mobil dan kedua tangan Jared pun mengurung posisinya, Lily harus pasrah karena sekarang ia tak bisa kemanapun lagi.


"Jika aku mengatakannya padamu, apa kau mau peduli? Jika tidak, maka lupakan saja pembahasan ini!"


"Ya! Aku bertanya karena aku peduli! Cepat katakan!" desak Jared.


Lily menghela nafas panjang sebelum akhirnya berkata.


"Ibu--ibu sedang sakit dan membutuhkan banyak biaya untuk kemoterapi." Lily tergugu saat menjawabnya.


Jared melihat mata Lily mulai mengembun, entah bisikan darimana ia justru membawa gadis itu dalam dekapannya.


"Tenanglah, semua pasti bisa teratasi." Jared mengelus punggung Lily secara berulang dengan sangat lembut.


Dalam posisi ini, Lily merasa sangat nyaman, ia membalas pelukan Jared dan menangis didada bidang pria itu.


"Aku akan membantumu soal biaya itu," putus Jared akhirnya.


Lily melerai pelukannya, ia mengerjap sambil mengadah pada Jared. "Benarkah?" tanyanya dengan mata yang basah.


"Hmm," Jared mengangguk, sambil kedua tangannya berada di pundak Lily sekarang.

__ADS_1


"Aku tidak mau membebanimu!" tolak Lily.


"Tidak akan, aku punya tabungan. Ku rasa itu akan cukup membantu."


Lily terdiam, ia tak bisa berkata apapun lagi. Ia tak menyangka Jared akan membantunya. Ia masih mengira semua ini adalah mimpi, termasuk berada dalam pelukan Jared beberapa saat tadi.


"Masuklah ke mobil, aku akan mengantarmu."


Tanpa protes, Lily memasuki mobil dan memasang seatbelt.


"Jared?"


"Hmm?"


"Apa tabunganmu itu tak masalah jika digunakan untuk membantuku?"


"Tidak masalah," jawab Jared jujur.


"Apakah tabunganmu itu untuk persiapan menikah?" tebak Lily.


Jared tergelak, ia melirik Lily dari ekor matanya sambil tetap fokus mengemudi.


"Jujur saja, aku tidak memiliki calon untuk menikah. Bagaimana bisa tabunganku itu kau anggap sebagai tabungan untuk pernikahan." Jared masih saja terkikik geli.


Entah kenapa, ucapan Jared yang mengatakan hal itu semacam angin segar untuk Lily, tapi tetap saja ia tak mau menunjukkan ketertarikan pada Jared. Sebab, tak mengatakannya saja pria ini sudah sangat percaya diri, apalagi jika ia mengungkapkan. Bisa-bisa Jared besar kepala.


"Aku akan segera menggantinya nanti."


Jared mengangguk meski ia tak berminat menerima uang dari Lily. Baginya, Dientin--ibu Lily-- sudah seperti ibunya sendiri karena sikap wanita itu masih saja hangat padanya meski hubungannya dengan Rose telah lama kandas.


"Kalau aku boleh tahu, kenapa kau belum menikah sampai sekarang? Ehm... maksudku, selain tidak punya calon, apakah---apakah karena kau belum bisa melupakan masa lalumu?" tanya Lily ragu-ragu.


Jared menatap Lily lama, seolah hendak protes dengan pertanyaan gadis ini.


"Maksudku masa lalu, bukan tentang kakakku saja. Bisa saja dengan gadis yang lain, begitu...." ralat Lily.


"Baiklah, karena kau benar-benar ingin tahu, aku akan jujur padamu. Aku sudah melupakan Rose sejak lama. Bagiku tidak akan ada lagi tempat kosong untuk seorang penghianat!" pungkas Jared--membuat Lily agak tertohok sebab yang dimaksudkan Jared-- bagaimanapun juga tetaplah kakaknya.


Tapi, disisi lain hati Lily merasa senang, itu artinya Jared sudah tak mencintai Rose lagi. Apakah mungkin hati pria ini bisa menancapkan nama Lily nantinya? Atau itu sebuah kemustahilan, mengingat Lily adalah adik Rose.


Apalagi, Jared juga pernah menudingnya sama dengan Rose. Padahal pacaran saja dia tak pernah, sebab dia sibuk mengurusi ibunya yang sakit sakitan, ditambah sibuk mencari uang begitu lulus sekolah.


******

__ADS_1


__ADS_2