
Owen pun membawa wanitanya masuk ke dalam Apartmen tanpa melepas ciumannya.
Rasa rindunya terhadap Gloria benar-benar ingin ia tuntaskan saat ini juga. Gloria miliknya dan akan selalu kembali kepadanya.
"Aku sangat merindukanmu," lirih Owen ditelinga sang wanita sembari menggigit kecil cuping telinga itu, membuainya dengan cum bu an yang intens serta menggebu-gebu.
Tangannya menelusup masuk, bergeri lya untuk mengeksplor segala bagian yang ia rindukan dari sosok sang wanita.
"Owen, aku kesini untuk--"
"Diamlah! Tak bisakah kau nikmati saja semua ini. Apa kau tidak merindukanku?" ujarnya sembari menenggelamkan wajah diceruk wanita itu.
"Ah, Owen..." Wanita itu memekik keras saat dengan sengaja Owen menyentuh titik sen sitif dibawah sana.
"Listen to me, kau hanya milikku! Kau mengerti?"
Sang wanita pun mengangguk pasrah dibawah kendalinya.
Owen mulai melepas semua yang ia kenakan. Kemudian, tanpa persetujuan siapapun, ia juga melu cuti pakaian wanitanya.
Ia memandang tubuh polos wanitanya dengan tatapan mendamba. Kerinduan, cinta, serta rasa kecewa pun tak luput dirasakannya, semua terasa menyatu menjadi sebuah gejolak, hingga ia tak sanggup untuk menahan gelora rasa yang menghantamnya bertubi-tubi saat ini.
"Kau terlalu lama meninggalkanku! Biarkan aku menghukummu kali ini," ucap Owen dengan suara parau.
Owen mendorong tubuh wanitanya hingga bersandar ditembok kamar, lalu ia menatap tajam ke netra sang wanita. Ia bertekad akan membuat wanita ini tak akan pernah melupakannya sampai kapanpun.
"Owen... ah!" Sang wanita terkesiap sesaat, ketika Owen dengan sengaja bersimpuh lalu memulai lagi dengan sentuhan lidah dibawah sana.
Suara de sahan wanita itu mulai terdengar serak dan mendayu, rasa yang diberikan Owen membuatnya terombang-ambing dalam sungai kenik matan. Melenyapkan rasa malu, hingga menginginkan Owen untuk melakukan yang lebih dari pada ini.
Mendengar itu, Owen pun menyeringai puas sambil tetap melakukan aksinya.
"Katakan apa yang kau inginkan sekarang, hmm...?" tanya Owen sembari tetap pada aktifitasnya dibawah sana.
"Aku... aku ingin kau memasuki ku!" ujar sang wanita yang sudah tak bisa berpikir lagi sekarang. Dipikirannya hanya ingin menyatukan ha s rat bersama Owen, padahal niat awalnya datang bukanlah untuk hal ini.
"Memohonlah padaku, Sayang!" ucap Owen dengan kharismanya yang tenang, namun kini ia sudah dialiri rasa yang penuh tuntutan.
"Please, Owen!"
Owen pun merasa sang wanita sudah sangat siap untuknya, ia bangkit dari posisinya yang berlutut, kemudian mulai merapatkan diri.
"Milikku..." de sah Owen saat mulai menyatukan diri. Tanpa sadar, ia menitikkan airmata bahagia sebab kini Gloria telah kembali padanya.
_____
Owen terbangun di pagi hari dengan kepala yang terasa berat. Tangannya mencari-cari sesuatu di sampingnya. Ya, dia mencari Gloria yang telah menghabiskan waktu semalaman bersamanya.
Tak merasakan ada seseorang saat menyentuh sisi tempat tidur, membuat Owen bangkit seketika, lalu melihat ke seluruh penjuru ruangan.
__ADS_1
"Gloria..." panggilnya, ia berdiri dan berjalan pelan menyusuri ruang kamar, membuka pintu kamar mandi. Namun, sejauh mata memandang tetaplah tak didapatinya sosok wanita yang ia cari.
"Honey,, kau dimana? Kau tidak pergi lagi, kan?" tanyanya seolah tengah berbicara pada Gloria.
Owen mengusap kasar wajahnya sendiri. Dia ingat betul jika tadi malam Gloria datang ke Apartmen ini. Tentu Glora tahu tempat ini sebab Owen pernah memintanya tinggal disini demi menghindari pertemuan dengan Oxela waktu itu.
"Gloria?"
Owen keluar kamar dan mencari Gloria sampai ke bagian ruang yang lainnya, tapi tetap saja tak ada siapapun disana.
"Astaga... aku tidak mungkin bermimpi kan?" ucapnya bermonolog dengan diri sendiri.
Owen kembali ke dalam kamar, mencari-cari sesuatu, entah apa.
"Tidak! Jelas malam tadi Gloria bersamaku disini. Apa aku mulai gila?" lirih Owen sembari melihat kearah tempat tidur yang berantakan sebab ulahnya bersama Gloria semalam.
"Haisss..." Owen mengerutu. Akhirnya ia memilih untuk mandi, lalu akan mencari tahu segalanya.
______
"Kau datang terlambat, Tuan?" sapa Jared begitu Owen tiba di kantor.
"Hmm," jawab Owen tak bersemangat.
"Apa kau menghabiskan malam bersama Nona Celine?" selidik Jared, pria itu memang acapkali menggoda sang atasan, namun hal itu cukup lama ia tinggalkan sejak Owen berubah menjadi tempramental.
"Kau tidak memberitahuku berita tentang kepulangan Celine dari UEA, Jared!" decak Owen.
"Maaf, Tuan. Ini permintaan Nona Celine sendiri, dia ingin membuat kejutan untuk anda dengan tiba-tiba sudah berada di Negara ini."
"Sejak kapan kau menuruti perintahnya, bukan perintahku?" sarkas Owen.
Jared pun memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan sang atasan lagi.
Owen mulai fokus pada pekerjaannya. Namun, sesaat kemudian dia ingat sesuatu. Dia menelpon Oxela lalu mengajaknya makan siang bersama-sama.
Terkadang, hanya Oxela yang mampu memahami segala problem hidupnya.
_____
"Jadi, maksudnya... semalam kakak dan Gloria menghabiskan waktu bersama, begitu?" tanya Oxela heran saat Owen menceritakan tentang kedatangan Gloria ke RC Apartmen.
"Ya, tapi pagi tadi dia sudah pergi tanpa mengatakan apapun padaku." Owen menyandarkan punggung ke sandaran kursi dengan lemas.
"Kau tidak bermimpi kan, kak?"
Owen menggeleng. "Tentu saja tidak, aku yakin itu!" jawabnya.
"Atau kau mabuk?" selidik Oxela.
__ADS_1
"Ya, ku akui aku memang sedikit--"
"No... no... no...!" potong Oxela cepat. "Sepertinya kau melakukan kesalahan, kak!" sambungnya.
"Apa maksudmu?" Owen kembali menegakkan tubuh.
"Kau menginap di RC Apartmen karena mengantar Celine, kan? Apa kau yakin yang datang menemuimu malam tadi adalah Gloria dan bukan Celine?"
"Oxela! Apa maksudmu, hah?" tanya Owen dengan wajah merah padam.
"Kak, tidak ada alasan bagi Gloria mendatangi Apartmen itu disaat hari sudah larut! Apalagi dia hanya pernah ke sana satu kali. Untuk apa dia datang?" tanya Oxela mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada di kepalanya.
"Dia pasti datang untuk menemuiku!" jawab Owen cepat.
Oxela menggeleng. "Tidak, kak! Kalau dia mau menemuimu pasti bukan datang ke RC Apartmen, pasti dia akan ke JF Apartmen. Bukankah dulu kalian tinggal bersama di JF?" terangnya.
Owen mengetuk-ngetuk jari dimeja, mencoba berpikir rasional seperti penjabaran adiknya. Yang dikatakan Oxela memang masuk akal, tapi yang diingatnya tetaplah Gloria yang datang lalu menemaninya semalaman.
"Aku pikir yang mendatangimu itu Celine, Kak! Bukan Gloria! Kau mabuk dan menyangka Celine adalah Gloria," pungkas Oxela.
Owen memijat pelipisnya sendiri. Jika benar Celine yang mendatanginya, itu berarti ia dan Celine telah melakukan hubungan yang terlalu jauh.
"Bagaimana, kak? Apa kau mulai mengingatnya?" desak Oxela.
"Aku hanya mengingat jika semalam aku dan Gloria telah melepas kerinduan kami," jawab Owen lesu.
"Astaga, Kak!" Oxela menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir. "Jika itu memang Celine maka semuanya akan semakin kacau!" tambahnya.
"Kalau itu benar Celine, ku rasa dia tak akan meminta pertanggungjawabanku. Aku akan menganggapnya... ehm... just one night stand."
"Meski begitu, dia tak akan melepaskanmu setelah apa yang terjadi diantara kalian, kak!" ucap Oxela dengan senyum kecut.
Owen pun menghela nafas berat.
"Sekarang kau juga tidak yakin, kan? Bahwa yang kau tiduri semalam benar-benar Gloria?" tanya Oxela lagi.
"Ya, aku rasa aku dalam masalah jika itu benar-benar Celine."
"CK! Jawabanmu menunjukkan keraguan sekarang."
Owen terdiam, dia mencoba mengingat tapi kepalanya semakin pusing.
"Sudahlah, Kak. Setidaknya Celine bukan istri orang, jikapun dia ingin mengejarmu aku tak akan melarang!" kata Oxela tertawa sumbang.
"Tidak, aku dan Celine hanya berteman, tidak akan pernah melibatkan perasaan!"
"Ya, karena kau sudah menutup hatimu, kak! Ku rasa Celine tidak terlalu buruk!"
******
__ADS_1