
"Maaf jika aku mengganggumu Yahmen," Mano memandang Yahmen.
"Tidak, aku senang kau menemaniku!" balas Yahmen.
"Tebing ini indah!" ucap Mano. Ia memandang hamparan stepa yang sedikit terang tertimpa cahaya rembulan purnama.
"Iya, lebih cantik masa lalu. Saat belum berlumur darah akibat Alberto. Sekarang setiap hutan, gurun, tebing semuanya tercemar oleh darah." Yahmen memandang hamparan luas di depannya.
"Apakah kau ingin membebaskan pulau dari Alberto Kuro?" tanya Mano.
Ia memetik bunga berwarna lila dan menyelipkannya di rambutnya. Yahmen hanya memandangnya dan tersenyum dan kembali memandang purnama.
"Aku bersumpah akan menyelamatkan orang-orang dan pulau dari tirani Alberto. Walaupun nyawaku taruhannya," balas Yahmen menatap bulan.
Suara hutuan burung hantu dan binatang malam menambah suasana semangkin mencekam, Yahmen kembali meniupkan serulingnya.
Sekawanan rusa melompati stepa di bawah tebing berlarian di antara semak. Mano mendengarkan alunan seruling Yahmen.
"Aku berjanji padamu! Aku akan membantumu menghancurkan Alberto hingga ia pergi selamanya dari pulau ini."
Mano merebahkan punggungnya di bebatuan, kilauan pedang di punggungnya membuat sinar yang indah di antara tebing.
Yahmen masih terus mengalunkan serulingnya, "Kau tahu, Yahmen. Aku berterima kasih kau telah menyelamatkanku, dan menjadi sahabatku.
"Aku bersumpah akan menjadi sahabat dan membalas semua perlakuan Alberto kepada klan beeluf!" janji Mano.
Ia merasa hanya Pulau Kematianlah rumahnya, dan tidak ada yang memberikan cinta dan kasih sayang selain Klan Beeluf.
Ia ingin hidup dan mati di Pulau Kematian, tiada tempat yang lain lagi.
"Bila kelak aku mati, tolong kuburkan aku di tebing ini di antara bebatuan. Agar setiap waktu bunga lila ini menemaniku, sebagai tanda persahabatan kita dan aku pernah ada di sini Yahmen!" ujar Mano.
Ia merasa senang berada di tebing hatter di musim kemarau di saat purnama tiba. Ia merasa segalanya menjadi indah dan luar biasa, Yahmen menghentikan serulingnya.
Ia menatap Mano di sebelahnya, ia pun merebahkan tubuhnya. Kedua wanita yang sangat cantik itu menjulurkan tangannya seakan meraih bulan di angkasa.
"Bila kau yang pertama mati aku akan menguburkanmu di tebing ini, jika aku yang pertama mati. Kau pun harus berjanji menguburkanku di tebing ini juga!" balas Yahmen.
__ADS_1
Mano memandang sekilas ke arah Yahmen, "Baiklah, aku berjanji!" ujar Mano memberikan jari kelingkingnya.
Yahmen membalasnya dan keduanya berpandangan, mereka tersenyum dan tertawa.
"Sebagai tanda persahabatan kita selamanya, aku berikan serulingku padamu. Belajarlah untuk menggunakannya, kelak bila kita terpisah aku harap kau melantunkannya."
Yahmen memberikan serulingnya kepada Mano, "Terima kasih! Aku pasti belajar, Aku hanya punya belati ini, kau tahu aku mengambilnya dari salah satu musuhku. Aku tidak punya apa-apa, inilah dariku untukmu.
"Menemanimu di setiap waktumu, Yahmen!" balas Mano.
Keduanya saling bertukar barang berharga mereka, Yahmen memberikan seruling peraknya dan Mano memberikan belati emasnya, "Kita saudara selamanya!" ujar keduanya.
Sejak saat itu Yahmen mengajari Mano meniup seruling, ia sendiri meniup serulingnya dari bambu yang diberikan oleh Aoi.
Mereka menikmati purnama, Balian dan Aoi datang melompati tebing mendekati mereka.
"Woi, apa kami mengganggu?" tanya Balian.
Kedua wanita cantii itu menoleh kepada mereka, "Kemarilah!" balas Yahmen
Mano ingin menyiksanya dulu, untuk pelajaran bagi pria jangan melecehkan kaum wanita. Akan tetapi, Balian menginginkan kematian yang cepat bagi musuhnya.
Sehingga keduanya bertengkar di depan musuhnya dan para akhirnya pedang keduanya mencincang musuh mereka menjadi beberapa bagian.
Kemudian keduanya pergi begitu saja, Yura datang membawa pion wanita ke Menara Pasir. Yura hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Balian dan Mano, berbeda dengan Aoi dan Yahmen yang seiring sekata.
Aoi selalu menuruti Yahmen dan Yahmen selalu nendengarkan Aoi. Namun, Balian dan Mano selalu saja bertentangan.
"Padahal jika mereka bersatu, mereka sangat kuat!" batin Yahmen. Ia melihat keduanya membeku di tebing hatter dengan diam, Balian di sisi Mano pun hanya diam.
Keduanya delalu saja bertengkar dan selalu adu pukul dan pedang mereka. Akan tetapi, tidak ada yang benar-benar saling melukai, walaupun mereka selalu bertengkar.
Semua orang tahu jika keduanya saling menyayangi, Balian selalu saja bersama Mano ke mana pun mereka bertempur.
Sebaliknya Mano sendiri pun tidak bisa jauh dari Balian bila bertempur ia tidak bisa konsentrasi, sehingga Muti selalu membuat mereka di dalam 1 kelompok.
Mereka selalu membawa kemenangan dan tidak ada seorang pun anggota mereka yang mati, mereka selalu pulang dengan selamat.
__ADS_1
Selain itu Mano dangat pintar menyelinap ke kastil dan mencuri berbagai bekal makanan dan senjata.
Dari semua orang hanya Manolah yang pintar menggunakan pistol, yang lain begitu ketakutan.
Masa lalunya yang kelam selalu mengingat ia menembak si mucikari sehingga ia selalu mampu menggunaka senjata api.
Mano selalu tertawa dan bermain dengan semua lansia, karena ia sangat kekurangan kasih sayang dari umur 10 tahun.
Mano selalu mencuri obat dari Crabs yang masih muda, ia menggunakan obat untuk semua lansia.
Akan tetapi, pada saat itu Crabs belum menciptajan botol obat yang di semprotkan dan para beeluf selalu menolak meminum obat dari Crabs. Membuat Mano kesulitan untuk menyelamatkan mereka yang terluka.
Selain itu, tidak ada satu pun seseorang yang bergelar dokter di antara para pion kala itu.
Alberto selalu mampu menghancurkan semua pion, dan mendatangkan berpuluh-puluh orang dari luar.
Mano selalu ingin mencuri di kastil, akan tetapi Muti yang terlalu fanatik akan agama dan aturan Islam melarangnya mencuri.
Ia selalu bertengkar dengan Muti, walaupun keduanya saling menyayangi. Mano selalu tidur dengan Muti walaupun mereka sering bertengkar.
Mano menginginkan agar menggunakan teknologi Alberto untuk menghancurkan Alberto, ia pernah mencuri heli dan menerbangkannya ingin mengajak mereka ke luar dari pulau.
Akan tetapi, semua orang tidak menginginkankannya sehingga Mano menerbangkan heli dan melompat dari jarak 10 meter dari ketinggian di angkasa.
Dan menabrakkan heli ke salah satu menara di kastil yang membuat Alberto harus berbulan-bulan memperbaikinya
Akhirnya, ia harus dihukum oleh Muti ke Tanah Tak Kasatmata.
Muti begitu murkanya, ia takut bila terjadi apa-apa dengan Mano, "Bagaimana kalau kau mati, Mano!" teriak Muti.
Dan muti sendirilah yang mengantarkannya ke TanahTak Kasatmata, di dihukum selama sebulan tanpa ada yang menemaninya.
Mano hanya diam saja dan iklas menerima hukuman dari Muti, tetapi dengan diam-diam ketiga sahabatnya selalu mengunjunginya.
Membuat Mano tidak merasakan kesepian, ia sangat bahagia dengan semua itu.
Muti senditi pun tahu akan semua hal itu, tetapi ia berpura-pura tidak mengetahuinya.
__ADS_1