
Kabir menahan semua perihnya, ia berusaha untuk kuat, "Berhati-hatilah ! Pedangnya beracun," teriak Kabir.
Pandangannya sudah berkunang-kunang, ia hampir ambruk. Sebuah kilatan pedang melesat secepat kilat ke arah lehernya, "Trang!" Kirana secepat kilat menangkis kilatan pedang yang hampir saja menebas leher Kabir.
Tiba-tiba keberanian Kirana datang, ia melindungi Kabir dengan kemampuannya, kini ia benar-benar lihai bermain pedangnya. Keadaanlah yang membuatnya semangkin mampu untuk mempertahankan nyawanya.
Semua orang berusaha menyelamatkan nyawa masing-masing, Nara mendekat memasukkan sebuah kapsul ke mulut Kabir, "Makan ini Kirana! Lindungilah Kabir, berhati-hatilah!" Nara memberikan sebutir kapsul yang langsung dimakan oleh Kirana, rasanya sedikit pedas.
Ia berusaha sekuat tenaga melindungi Kabir, Ini saatnya aku melindunginya, ia sudah banyak melindungiku batinnya.
Dentingan pedang membahana di sekitar hutan bambu yang gelap dan pekat serta guyuran hujan, kilatan petir sedikit menambah cahaya penerangan. Tidak berapa lama Kabir siuman dari pingsan akibat racun yang berasal dari pedang musuh.
Kabir kembali ke medan perang kini ia merasakan sedikit ringan seperti ada kekuatan baru.
Mereka berhasil mengalahkan para ninja, bau amis darah memenuhi sekitaran hutan bambu.
Para pion terengah di atas pijakan tanah tempat mereka berdiri dengan masih menggengam pedang masing-masing. Tetesan air hujan membasahi sekujur tubuh, mereka Kabir duduk bersujud terengah dan lelah wajahnya penuh dengan air hujan yang terus menetes dari langit.
Keheningan terjadi, Kabir menggenggam pegangan pedang dengan kedua telapak tangannya. Sampai kapan semua ini berakhir batinnya, "Aaaaaagghh!" teriaknya menengadah ke langit membelah malam.
Guyuran hujan menerpa wajahnya, semua kepedihannya semangkin membayang. Wajah ibu dan adiknya menari di pelupuk mata, "Ibu ... aku ingin pulang!" ucapnya tanpa sadar. Ia benar-benar benci akan semua kejadian ini. Tangannya sudah berlumuran darah akibat perbuatan seorang Alberto Kuro.
Semua pion terdiam dengan keheningan dan pikiran yang semerawut, mereka lelah namun keadaan terus memaksa untuk terus maju menebas semua musuh mereka yang datang.
Mereka berdiri entah berapa lama di situ, mencoba mencerna segala hal yang terjadi. Mereka bergerombol menjauhi arena kejadian memasuki hutan bambu lebih dalam lagi. Mereka beriringan di dalam diam, mereka lelah, basah kuyup dan kedinginan.
Langkah kaki mereka terseok-seok menahan amarah dan kebencian, namun mereka tidak mampu untuk melampiaskannya.
Keheningan terjadi mereka terus saja berjalan tanpa arah dan tujuan.
Mereka tidak tahu entah sudah berapa lama berjalan, hingga semburat jingga fajar pun telah muncul di ufuk timur.
Mereka tidak peduli lagi dan terus berjalan, hutan bambu semangkin lebat dan mereka berhenti di sebuah rumah di tengah hutan.
Semua pion saling pandang memegang erat senjata, mencoba untuk masuk dengan cara mengelilingi rumah, mereka takut semua itu adalah jebakan.
"Kosong!" ucap Hendro dan Darmanto, semuanya berlahan dan penuh kewaspadaan memasuki ruangan.
__ADS_1
Sebuah ruangan kosong dan sepi juga bersih. Di tengah ruangan yang bergaya rumah Jepang sebuah monitor virtual monogram Alberto Kuro terpampang, Alberto menyambut mereka dengan senyuman.
"Selamat! Para pion yang luar biasa! Untuk saat ini, aku memberikan waktu untuk kalian bersantai dan beristirahat gunakanlah sebaik-baiknya. Makan dan minumlah sepuasnya," ucapnya di balik meja kerjanya,
"karena setelah ini. Aku akan memberikan banyak lagi tantangan menarik!" ucapnya.
Para pion mendengus kesal, namun tidak satu pun yang menanggapinya mereka benaran lelah, Nara memunggungi Alberto Kuro begitu juga dengan yang lain, mereka sibuk menghangatkan tubuh mereka bergerombol tanpa memperdulikan monitor di belakang mereka.
Alberto Kuro begitu murkanya, ia mematikan siarannya, "Sebaiknya kita berburu makanan, aku tidak mau memakan apa pun yang Alberto sediakan," ucap Heru ke luar ruangan.
"Aku akan menemanimu," ucap Zai bangkit berjalan ke arah pintu.
"Aku juga!" ucap Toto.
"Berhati-hatilah!" jawab yang lain serempak.
Kabir, Kirana dan Marta mencari air bersih di pinggir sungai yang mengalir deras dengan berbagai bunga teratai yang mengapung.
"Andaikan ini bukan sebuah neraka, alangkah cantiknya di sini!" Kirana memetik setangkai bunga teratai. Kabir melihatnya dengan tatapan sedikit mendamba, Kirana begitu cantik! Batinnya.
Ia menampung air dari pancuran bambu, ia lupa air telah luber.
"Kirana memang sangat cantik, ia juga baik. Kabir, airnya luber!" Marta tersenyum melihat Kabir terkejut dan buru-buru mengangkat ketel airnya.
"Bila semua ini selesai, aku ingin mengatakan perasaaanku kepadanya Kak," ucap Kabir sedikit malu.
"Mengapa harus menunggu lama? Kita tidak tahu, esok atau lusa kita masih di sini. Aku hanya minta, bila kalian selamat. Tolong kunjungi putriku di Riau, ini foto dan alamatnya." Marta memberikan sebuah foto gadis kecilnya yang memakai baju tentara kecil bersama dengan ibunya yang memakai baju dinas AL.
"Aku berharap, kita akan selamat semua. Percayalah Kak!" jawab Kabir, ia tidak ingin membuat gadis kecil itu menunggu lama kedatangan ibunya untuk pulang. Gadis kecil itu pasti butuh kehangatan pelukan ibunya.
"Siapa nama gadis kecilmu Kak?" tanya Kabir memperhatikan wajah manis putrinya.
"Marina!" Marta membelai wajah mungil di foto, ia sangat rindu akan putrinya. Namun apalah daya, kini ia harus bertahan hidup di pulau yang kejam dan penuh darah di tangannya.
Mereka mengambil air dengan sebuah ceret dan membawanya ke api yang berkobar di tengah ruangan seperti di sebuah rumah di jepang. Mereka memasak air dengan cara menggantungkan ceret di salah satu pengkait yang tepat di letakkan di atas api yang berkobar.
Nara, Mona dan yang lain sudah mengganti pakaian mereka dengan yang bersih dan mandi. Mereka telah memanggang irisan daging dan ikan yang dibawa oleh Zai, Toto dan Heru.
__ADS_1
“Mandi dan gantilah baju kalian, agar lebih nyaman!" perintah Nara.
Yang lain berhamburan ke kamar mandi dan mencari pakaian di sebuah lemari dengan pintu dorong ke arah samping.
Mereka makan dan minum air hangat untuk pertama kalinya sejak mereka di Pulau Kematian.
"Sudah berapa lamakah kita di sini?" tanya Marta. Ia sudah tidak ingat lagi sudah berapa lama berada di Pulau Kematian. Setiap harinya yang ada hanyalah peperangan, dan pertempuran yang tidak ada kunjung habisnya.
Semua saling pandang tidak ada yang menghitung hari, "Aku tidak tahu!" jawab Mona.
"Aku juga tidak menghitungnya," jawab Mona.
Mereka makan dengan hening, berusaha untuk menikmati kenyamanan dan kedamaian saat ini. Mereka tidak tahu masihkah ada lagi hari esok untuk mereka, mereka berusah menikmati setiap momennya.
"Kabir, tolong petanya? Aku ingin melihat ke arah mana perjalanan kita sekarang." Heru menyelesaikan makannya dengan cepat seperti Darmanto, Junaid dan Marta mungkin didikan yang mereka dapatlah yang membuat kebiasaan mereka.
Keempatnya merubungi peta, Nara mencoba membaca buku panduan dan memperhatikan semua obat-obatan yang ada di dalam ransel miliknya dan milik Zai dan Toto.
Will mengasah samurai dan sangkurnya ia lebih banyak diam, sejak ia bangkit lagi dari kematianya. Ia begitu dendamnya akan Alberto Kuro.
Mona membaringkan tubuhnya di samping Hendro yang juga memeriksa senjata lasernya ia begitu penasaran akan senjata hebat itu. Nara memberikan buku panduan akan senjata laser itu yang juga tanpa sengaja ia curi.
Kabir mengajari Kirana menggunakan dua pedang sekaligus di ruangan sebelah mereka,
mereka tetap waspada dengan segala kemungkinan, hujan kembali datang siang itu.
Cuaca yang begitu cerahnya berubah menjadi gelap, "Apa yang terjadi? Tidak mungkinkan kalau Alberto Kuro juga mampu mengendalikan cuaca?" tanya Zay dengan polosnya.
"Aku pun tidak tahu, memang dia Tuhan?" jawab Mona sekenanya.
" Bersiaplah, dengan segaka kemungkinam yamg akan terjadi!" kata Heru melipat peta dan memberikan kepada Kabir semua bersiaga di balik semua jendela dan ointu yang tertutup rapat.
Nara memberikan semua obat-obat kepada masing-masing orang, "Ingat! Bila kalian merasakan sedikit terluka atau mau tidur gunakan kapsul warna putih, bila kalian ingin mengobati luka bersihkan dulu luka,” Nara menghitung obat di tangannya,
"dan semprot dengan botol ini, bila kalian ingin kekuatan dan masib berpikir waras gunakan kapsul biru," ia memberikan masing-masing 2 butir dan 1 botol ke tangan semuanya. Ia memakai kembali ranselnya begitu juga Toto dan zai mereka seperti dokter keliling.
Masing-masing dari mereka menyimpan semuanya dengan aman, dan berusaha mengingat petunjuk dari Nara si Dokter cantik.
__ADS_1
"Baik, Bu Dokter!" jawab mereka serempak dan tertawa.