Pulau Kematian

Pulau Kematian
Pembalasan


__ADS_3

Alberto semangkin berang ia tidak menyangka segalanya semangkin kacau balau. Impiannya untuk menguasai dunia kandas di tengah jalan.


Segalanya menjadi hancur sejak ia salah memasukkan sasarannya kali ini, ia tidak menyangka semua pion yang dipilihnya kali ini bukanlah dari orang-orang yang berlatar hebat.


Semuanya hanyalah manusia-manusia biasa. Akan tetapi, mereka memiliki kekuatan yang luar biasa, Alberto terduduk lemas.


Ia semangkin kacau, ia memasukkan semua isi brankasnya. Disket, USB, dan segala hal yang ia perlukan.


Alberto ingin kabur lagi. Ia ingin meninggalkan kekacauan yang telah ia buat. Ia ingin pergi ke luar negri, ia tidak ingin jika rahasianya terbongkar ia semangkin kacau.


"Joe, kita akan meninggalkan pulau sekarang juga!" teriak Alherto, "persiapkan segalanya, begitu juga dengan Crabs. Kita harus ke Afrika," ujarnya.


Joe berlari dengan kecepatan penuh memberikan istruksi kepada Crabs agar mengikuti perintah dari Alberto.


Alberto dan petinggi-petingginya mulai kalang kabut, ia tidak peduli lagi jika mereka harus meninggalkan semua kaki tangan dan penanam saham di pulaunya mati mengenaskan.


Mereka sedang bertempur, tetapi Alberto memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


***


Sementara Kabir dan semua pion telah membunuh kawanan binatang, mereka terengah dengan kelelahan dan luka di sekujur tubuhnya.


Saat pintu-pintu mulai terbuka, Will, Toto, dan Zai melemparkan granat ke dalam lorong pintu.


Membuat ledakan hebat, sehingga semua hatter dan binatang yang mencoba masuk hangus terbakar akibat ledakan.


Pintu secara otomatis tidak bisa tertutup lagi, mereka menunggu sedikit lama. Semua pion saling memandang dan berlari dengan gilanya memasuki semua pintu.


Mereka berharap di setiap lorong pintu mereka berhasil membunuh musuh mereka, satu demi satu.


Mereka ingin menembus semua pertahanan Alberto dan menyeretnya juga mengadili mereka semua.


Para pion melompati sisa api yang masih membakar, mereka tidak lagi peduli jika nyawa mereka harus menjadi korbannya.


Mereka membunuh setiap hatter dan tentara yang mereka temui, kesemua orang tidak lagi memiliki rasa simpati kepada kaki tangan Alberto.


Kevin melihat atasannya ingin melarikan diri, ia dengan kecepatan penuh memberondongkan srnjatanya.


Dengan kemarahan Kevin ingin membunuh McQuinn. Ia melontarkan sangkurnya dan mendarat tepat di kaki McQuin.


"Jangan lari kau, sialan! Ternyata kaulah penjahat yang sesungguhnya!" ucap Kevin.

__ADS_1


Ia menghunuskan pedang lasernya membantai atasannya. McQuin berusaha untuk melawan dan mempertahankan nyawanya.


"Kevin, please! Aku tidak menyangka jika semuanya seperti ini? Tolong jangan bunuh aku?" mohon McQuinn.


Namun, Kevin tidak peduli lagi. Ia ingin mengakhiri atasannya yang rakus akan duit, tahta, dan wanita.


Ia tidak ingin tentara lainnya akan menjadi korban McQuinn lain. Ia terus membabat musuhnya.


"Kau tak berhak untuk, hidup! Kau hancurkan negaramu sendiri hanya untuk kepuasan sesaatmu!" teriak Kevin mengakhiri nyawa McQuin.


Kevin terjatuh terduduk ia melihat serpihan tubuh dari atasan yang sudah terbakar berlahan.


Kevin meninggalkan Mc Quin, yang menjerit-jerit minta tolong. Kevin tidak peduli, jeritan atasannya tidak mampu membayar sejuta tangis dan luka yang disebabkan olehnya.


Kevin mengejar para pion lainnya. Darmanto, Marta, dan Heru mengejar Jendral Balian.


Mereka ingin menuntut balas akan semua kematian dan penderitaan yang telah ia lakukan kepada ketiganya dan semua orang.


Mereka bertekad ingin menghabisi Jendral yang tidak bertanggung jawab tersebut. Ketiganya menghadang atasan mereka.


Balian terkesiap, ia tidak menyangka akan bertemu dengan ketiga anak buahnya yang baik yang sengaja ia kambing hitamkan.


Untuk sesuatu masalah yang sama sekali tidak pernah mereka lakukan.


Balian dengan tampang sangar dan cerutu terselip di bibirnya menenteng pedang laser, berusaha terlihat tidak terkejut maupun takut


"Akh, kalian ternyata hebat. Kalian masih bisa bertahan di pulau ini," katanya dengan santai.


"Hei, bedebah! Aku tidak menyangka di balik topeng kebaikanmu ternyata kau adalah penjahat yang sesungguhnya. Aku akan membunuhmu." Lirih Heru.


Ia tidak sanggup lagi berkata apa pun, Heru yang selalu mengidolakan Balian semenjak ia memasuki Angkatan Laut di bawah Korp Marinir.


Heru selalu berharap ingin menjadi sebagai Balian yang luar biasa.


Kini segala keteladanan yang dimiliki Heru kepada Balian sirna. Ia semangkin benci kepadanya.


"Sayangnya kau harus mati di tangan anggotamu sendiri, Balian!" ucap Heru penuh dengan rasa yang tidak mampu ia katakan.


Marta memandang Balian dengan penuh kebencian, "Kau tega menjebakku, dan menjauhkanku dengan putriku yang tidak memiliki Ayahnya lagi.


"Aku tidak menyangka tugas negara yang kau berikan hanya, fiktif! Kau hanya ingin memasukkanku untuk pionmu, sekarang kau tahukan kekuaatan dari AL?" ucap Marta bengis.

__ADS_1


"Sudahlah, aku lelah berbicara dengan manusia tidak memiliki hati ini. Akhiri saja, aku ingin minum kopi." Darmanto menarik pedang lasernya.


Ia langsung menyerang Jendral Balian. Balian berusaha untuk mengelak dan membalas, ia tidak menyangka ketiga anak buahnya yang tangguh benar-benar berhasil bertahan hidup.


Ia tidak menyangka Heru yang sudah ia nyatakan hilang selama 5 tahunan ini, masih mampu bertahan.


Balian mengingat setiap hari istrinya Ayesha selalu mendatanginya untuk menanyakan keberadaan suaminya beserta Nisa putri mereka yang masih berada di gendongannya berumur 3 tahun.


Balian jumpalitan, suara pedang laseng berdengung. Percikan bunga api berterbangan ke mana-mana.


Balian kewalahan melawan ketiganya yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Marta berhasil melukai Balian di kakinya, "Aaagh!" teriak Balian.


Kaki kanannya sudah hancur, ia terjatuh dengan darah dan api menjalar di tubuhnya.


"Tolong, selamatkan aku! Atau bunuh aku secara cepat! Aku masih atasan kalian,


"Ingat sumpah kalian! Saat dilantik menjadi salah satu anggota dari NKRI!" mohon Balian.


Ketiganya tersenyum, "Kami tidak pernah lupa akan sumpah kami, untuk menjaga kedaulatan NKRI dari penjahat sepertimu."


Ketiganya menjawab serempak, mereka meninggalkan Balian yang mengerang kesakitan.


Ketiganya menoleh ke belakang, Balian ingin menembakkan pistolnya ke arah mereka, Marta secepat kilat melemparkan sangkurnya tepat mengenai kening Balian.


Ia terjatuh tersungkur terbakar api, "Rasakan, sialan!" teriak Marta.


Ketiganya berlari menyusuri lorong terus mencari Alberto. Mona melihat Crabs dengan tangan palsunya berusaha untuk kabur dari gedung.


Mona berlari mengejar Crabs, Kirana melihat Mona megejar sesuatu. Ia pun berlari mengikuti Mona, ia melihat darah Mona semangkin deras mengucur.


Kirana takut bila terjadi sesuatu hal kepadanya, jiwanya sudah mulai dikuasai pedang iblisnya. Ia terus berlari di suatu kelokan lorong yang luas Kirana melihat Mona bertempur dengan Crabs.


Kirana tidak mrnyangka Crabs lihai bertempur dengan akat-alat sains ciptaannya.


Dari kedua Tangan Crabs Kirana melihat, sulur-sulur seperti pisau bedah berusaha mencakar tubuh Mona.


Kirana menyarungkan pedang samurainya mengganti dengan pedang laser hatter, ia menerjang dan menebas putus tangan Crabs.


"Aaagh! Ka-kau! Wanita sialan!" ujar Crabs. Ia tidak menyangka seseorang membantu Mona, menebas kedua tangannya.


Mona yang terjatuh sedikit hilang kesadarannya, pedang menguasai jiwanya.

__ADS_1


"Minggir, Kirana! Dia bagianku." Mona terangkat dengan sendirinya, matanya memerah.


"Mona, ingat do'a-do'a yang diberikan Ketua Aoi! Ingat Hendro! Jangan mau dikuasai pedang iblis, itu!" teriak Kirana.


__ADS_2