
Mano hanya memandang semua orang dengan penuh pertanyaan,
"Ini di mana? Memang ada apa?" tanya Mano ia tidak mengerti akan banyak hal.
Ia melihat raut-raut wajah mereka penuh dengan rasa khawatir yang berlebihan, ia merasa ada sesuatu yang telah terjadi.
"Ini di Pulau Kematian, di sini. Kami harus belajar menjadi kuat," ujar Muti, "kami harus bertahan hidup dari kejamnya tirani dari seorang Alberto Kuro."
Muti memandang Mano, ia menceritakan segala sepak terjang Alberto Kuro. Mano mendengarkan dengan terdiam, ia tidak menyangka nasib membawanya ke tempat lebih mengerikan dari rumahnya sendiri.
Muti mengajaknya makan di balai bambu bersama anak-anak dan para lansia, ia memandang segalanya dengan perasaan iba.
Nguikan elang mendarat di lengan Muti, mereka saling berbicara. Mano tidak mengerti apa yang telah terjadi, tetapi ia menyadari banyak hal yang sudah terjadi.
Ia mencoba untuk memahami banyak hal, Yahmen dan para wanita kembali. Yahmen diam dengan seribu bahasanya, "Sudahlah, apa kau menemukan Balian?" tanya Muti.
Yahmen hanya menggeleng, ia mencuci tangannya di pancuran di bawah pohon. Para wanita yang ikut dengannya mengatakan,
"Kami tiba, semua hatter tebing telah meninggal tidak ada yang tersisa, kami sudah menguburkannya. Kami tidak menemukan Balian," ujar Ambah.
Muti diam, ia memandang ke arah hutan bambu. Ia tersenyum, "Sudahlah sebaiknya kalian makan!" balas Muti.
Semua orang diam dengan seribu bahasanya,
Mano tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya memandang Yahmen.
Hari berganti, Mano belajar bela diri dan bermain tombak dan pedang di bawah pengawasan Rayan dan Muti.
Mano hanya melihat Yahmen pulang pergi seperti angin, terkadang Mano melihatnya duduk di dahan pohon dengan bermain serulingnya yang sedih dengan rambutnya yang terterpa angin.
Mano tidak pernah melihat wajahnya, ia selalu memakai cadarnya. Berbeda dengan semua wanita beeluf lain yang selalu membuka cadarnya bila tiba di Menara Pasir.
Mano ingin berbicara kepada Yahmen, tetapi Yahmen selalu saja diam dan pergi menjauh. Ia selalu saja membawa wanita yang terluka parah, ia selalu menolong orang.
Akhirnya kumpulan beeluf menjadi ramai dan banyak, akan tetapi semuanya wanita. Tiada satu pun seorang pria muda semuanya setua Rayan, Mano tidak tahu mengapa?
__ADS_1
Mano ikut dengan Yahmen, Muti, Yura membantu klan samurai yang di serang tentara Alberto. Seorang tentara menerjangnya dengan sebuah pedang, Mano menghindar dan dengan cekatan membalasnya ia berhasil menebas putus kepala musuhnya.
Darah menyembur ke wajahnya membuat ia terkesiap, ia tidak menyangka ia tertegun. Untuk pertama kalianya Mano membunuh seseorang dengan menebasnya.
Ia tidak menyadari seorang tentara ingin membunuhnya, di saat ia masih berdiri dengan tombaknya dan darah di sekujur wajah dan tubuhnya.
Sebuah pedang hampir saja menebas kepalanya jika tidak tombok Yahmen menyelamatkannya.
"Jangan bengong! Bila kau masih mau hidup!" teriak Yahmen.
Membuat Mano terkesiap, akhirnya ia membulatkan tekadnya untuk bertahan. Kemenangan dipihak mereka.
Beeluf berhasil menyelamatkan klan samurai, itulah pertama kali Mano bertemu dengan Balian. Pemuda sedikit sangar tetapi sangat tampan.
Untuk pertama kali di sepanjang hidupnya hatinya bergetar, ia tidak tahu tentang sebuah perasaan itu.
Keduanya saling pandang, Yahmen memperhatikan keduanya dan berlalu.
Mano juga melihat seorang Jepang yang dekat dengan Yahmen, tetapi ia tidak begitu peduli.
Sejak saat itu mereka selalu ke mana pun bersama membantai tentara Alberto, hingga lambat laut mereka bersahabat.
Hamoir saja meninggal terbunuh dikepung oleh tentara Alberto, ia melawannya dengan gesitnya. Akan tetapi, mereka menggunakan M60 memberondong Yahmen dari puncak tebing.
Membuat ia terluka, Mano yang kebetulan lewat ia membunuh tentara Alberto dan mengambil m60 tentara dan memberondong tentara hingga tewas.
Ia menggendong Yahmen pulang ke Menara Pasir, semua orang bersedih. Rayan dan Muti berusaha untuk mengobatinya dengan segala cara, hingga seminggu kemudian Yahmen sadar dari komanya.
Ia di dalam kepompongnya mulai bergerak, semua orang menangis sedih termaduk Mano.
Yahmen yang terkenal pendiam, memiliki sejuta kasih sayang. Di dalam diamnya ia selalu saja memberikan perhatian kepada semua orang tanpa membedakannya.
Untuk pertama kalinya Mano dan semua orang melihat wajah cantiknya. Dulu hanya Muti dan Rayanlah yang mengetahui bagaimana wajah Yahmen.
Kini, semua orang mengetahui di balik cadarnya, Yahmen memiliki wajah yang cukup cantik.
__ADS_1
Mano megingat saat ia masih di dunia peradapannya, ia pernah melihat film-film. Ia seperti melihat salah satu wajah artis yang mirip dengannya, Mano terpukau
"Aku di mana?" ujar Yahmen. Mano mendekatinya di hati Mano yang paling dalam ia merasakan kelegaan yang luar biasa, ia masih bisa melihat sahabatnya sembuh dan kembali di tengah-tengah mereka.
Itu adalah hal yang paling menggembirakan di hati Mano. Yahmen melihat Mano dan semua orang, "Terima kasih!" ujar Yahmen menatap Mano.
Mano menggenggam tangan Yahmen, "Akulah yang berterima kasih kepadamu!" bisik Mano menangis.
"Jangan menangis, aku belum mati!" ujar Yahmen tersenyum. Mano tersenyum membalas perkataan Yahmen.
Semua orang bersuka cita, menyambut kesembuhan Yahmen. Untuk pertama kalinya Muti membiarkan semua orang berpesta musik, semua orang bergembira.
Yahmen meniup serulingnya, ia tidak lagi melantunkan lagu sedihnya. Semua orang terpukau melihat wajah cantiknya yang teduh bermain musik, semua orang berkumpul di Menara Pasir.
Kawanan rusa berdatangan dan ikut meramaikan suasana, Muti menangis haru. Untuk pertama kalinya ia melihat Yahmen tersenyum dan tertawa, membaur bersama semua orang.
Biasanya ia hanya memandang dan memperhatikan dari kejauhan. Sejak kematian orang tua mereka, Yagmen menjadi pendiam.
Ia hanya melatih dirinya dengan bela diri dan bermain tombaknya atau hanya meniup serulingnya di Hutan Kegelapan.
Yahmen banyak menghabiskan waktu luangnya untuk semua itu, ia juga berlarian di gurun dengan gulungan badai pasirnya yang mengerikan.
Membuat Alberto tidak pernah ingin menerbangkan helinya melintasi gurun, karena mereka mengira selalu ada badai pasir di sana. Semua itu adalah ulah Yahmen.
Sejak saat itu mereka sedikit akrab, Yahmen hanya di luar memakai cadarnya. Ia banyak bergaul dengan anak-anak, mengajari anak-anak berlarian mengejar rusa nakal.
Mengajari semua anak-anak ilmu bela dirinya, ia masih saja membawa orang-orang luka dari luar.
Suatu waktu Mano melihat Yahmen meniup serulingnya yang menyayat hati di tebing hatter, Mano memandangnya dan menikmati alunan sedih itu.
Di bawah sinar bulan, Yahmen terlihat bak bidadari berpakaian merah berambut panjang dengan serulingnya duduk di tebing tinggi hatter dengan bunga lila di sekelilingnya.
Ia begitu cantiknya, "Ada apa Mano?" tanya Yahmen.
Ia menghentikan serulingnya, tanpa melihat ia mengetahui Mano yang datang.
__ADS_1
"Ke luarlah dari persembunyianmu, duduklah di sini!" ujar Yahmen lagi.
Mano melompati tebing-tebing terjal, ia duduk di samping Yahmen.