Pulau Kematian

Pulau Kematian
Tertangkap


__ADS_3

Mona kewalahan menghadapi mereka, Nara sudah memeriksa Toto. Ia memberikan kapsul dan menyemprotkan sebuah botol obat berwarna hijau,


"Bertahanlah, Toto! ini sedikit sakit," ucap Nara. Benar saja sedetik kemudian Toto sudah menjerit-jerit, seluruh tulangnya seperti dilas kembali. Tetapi 5 menit kemudian ia merasakan hawa dingin di sekujur tulangnya, dan ia bisa bergerak dengan leluasa.


Toto melihat Nara, "Terima kasih, Nara! Bila kita selamat aku akan mentraktirmu makan di mana pun engkau mau," ucap Toto. Keduanya tersenyum dan kembali melesat ke kancah pertempuran.


Marta membantu Mona yang sudah mulai terdesak, "Apakah engkau baik-baik saja Mona?" tanya Marta.


"Kegelapan ini membuat pandanganku sedikit kabur, Nara! Aku bahkan tidak bisa melihat, bagaimana dengan Kirana?" Mona mengkhawatirkan Kirana yang kehilangan kaca matanya di ledakan gurun pasir.


Nara merogoh-rogoh saku celananya, "Teteskan ini, cepat! Aku akan melihat Kirana," ucap Nara memberikan botol tetes mata, ia berjaga di depan Mona menangkis para hatter dengan sebuah golok panjang dan lebar seukuran papan.


Tubuhnya yang mugil tidak membuatnya kesulitan untuk mengayunkan goloknya, ia selalu mengatakan, "Golok ini mengingatkanku akan kampung halamanku."


Mona melihat pandangannya sejelas ia melihat siang hari, "Akh, Nara obatmu selalu saja luar biasa!" puji Mona. Ia sudah berdiri menggenggam samurainya di sisi Nara, memberikan botol obatnya.


Nara dengan kelincahannya memasukkan kembali botol obatnya ke dalam sakunya, "Bukan aku yang hebat, Crabs si Kurang Asam itulah yang hebat. Ia benar-benar menciptakan obat yang luar biasa. Aku akan melihat yang lain!" ujarnya berlarian melintasi semua hatter dengan gesitnya.


Ransel kulitnya yang berwarna hitam, tempat ia menyimpan semua persediaan obatnya mengayun-ayun di punggungnya, tangannya masih memegang golok besar menebas semua hatter yang mendekatinya.


Ia mengunjungi Kirana, Kabir, Heru, Marta dan semua pion juga wanita beeluf yang membelot. Marta mampu melihat semua hal di sekitarnya, ia bisa melihat jangkrik di bawah kakinya, "Obat yang sangat luar biasa!" ia menyerang 3 hatter di depannya.


Ia sebagai wanita Korps Marinir benar-benar piawai menggunakan sangkur di tangan dan mulutnya, juga samurainya.


Ia bisa menebas ketiganya, dengan 3 kepala sudah menggelinding di tanah.

__ADS_1


Ia terus membantu teman mereka yang lain, Will yang benci bertempur dengan adu senjata, ia menggunakan senapan laser yang sudah dimodifikasi olehnya dan kedua sahabatnya.


Memudahkan ia menghabisi musuhnya, ia hanya tinggal menyentuhkan lasernya ke tubuh korban dan sebuah sengatan membakar habis tubuh korban.


Matahari mulai bersinar. Namun, pertempuran belum juga usai. Suara heli semangkin ramai berputar di atas mereka memberondong mereka dengan peluru, secepat kilat masing-masing berlarian menyelamatkan nyawa mereka.


Mereka kabur ke segala penjuru hingga tercerai berai, Kabir mencari Kirana dan meraih tangannya, Heru meraih tangan istrinya, masing-masing menyelamatkan pasangan. Bagi mereka yang tidak memiliki pasangan berlarian melintasi hutan kegelapan.


Mereka terpisah Toto, Zai, Will dan wanita beeluf mereka bersama. Mereka terus berlarian memasuki hutan yang gelap, walaupun hari sudah mulai siang. Keberuntungan bagi mereka adalah Nara telah memberikan 2 tetes obat mata yang luar biasa.


Tetes obat mata mampu menembus apa pun di depan mereka laksana sinar laser, mereka bisa melihat dengan jelas lawan bicara mereka dengan segala onderdil di balik baju tebal mereka.


Kesemuanya sedikit malu, akan tetapi mereka sudah tidak menghiraukannya lagi. Mereka terus berlari, hingga sebuah anyaman tali memerangkap mereka semua menjadi satu dan ditarik ke sebuah dahan pohon.


Mereka melihat sebuah peluru bazoka melesat ke arah mereka, kesemuanya sudah pasrah dan berdoa akan kematian yang begitu tragisnya. Mereka saling berpegangan tangan, peluru itu begitu cepatnya melesat ke arah mereka.


Akan tetapi tepat di dalam kurungan, peluru itu meledak dengan mengguyurkan sebuah asap putih. Ketiga pion dan ketujuh wanita beeluf langsung pingsan tanpa perlawanan, beberapa hatter langsung menurunkan perangkap mereka.


Bruk! Perangkap jatuh ke tanah, tubuh mereka terkulai lemah dan tidak berdaya lagi, para hatter datang mendekat. Mereka menyodok-nyodokkan senjata mereka untuk mengetahui keadaan para pion, "Mereka semua sudah pingsan," ujar salah satu hatter.


Mereka mendekati pion dan melucuti senjata mereka, kemuduan menggotong tubuh mereka dengan meletakkan ke sebuah batang kayu yang kuat. Kaki dan tangan mereka diikat ke sebuah batang kayu, para hatter memikul barang kayu dengan dua orang hatter.


Seakan semua pion dan beeluf bagaikan seekor hewan buruan yang sudah mereka tangkap, para hatter secepatnya menangkap mereka.


Para pion dan beeluf bergantungan di pikulan dengan tangan dan kaki terikat, mereka meneriakkan yel-yel kemenangan.

__ADS_1


Para hatter membawa Zai dan kawan-kawannya ke dalam hutan kegelapan ke bagian dalam lagi, semuanya melewati hutan dengan pepohonan yang sangat besar dan menyeramkan.


Kesemuanya memasuki hutan kegelapan semangkin dalam, di di tengah hutan yang gelap dengan dedaunan yang sangat lebat dan rimbun tersembunyi rumah yang begitu besarnya bergaya rumah Jepang di pedesaan.


Para hatter Menurunkan kesepuluh tawanan mereka meletakkannya di sebuah tiang, setiap 1 tiang mereka mengikat 5 orang tawanan mereka yang sedang pingsan.


Di kaki para tawanan ditumpuk kayu bakar yang kering para hatter berniat untuk membakar mereka, seorang pria bepakaian kimono berwarna abu-abu ke luar dari dalam rumah, para ninja berpakaian merah mengawalnya,


Pria berkimono abu-abu setengah tua dengan rambut putihnya juga bakiak yang berbunyi, memasuki areal hatter ia mengangkat tangan kanannya semua yel-yel pun terhenti.


Keheningan terjadi, semua hatter terdiam memandang ke arah pria berkimono. Seakan mereka menunggu sebuah perintah selanjutnya, "Kami sudah menyelesaikan semua misi, Tuan!" ucap ketua hatter.


Pria berkimono itu memandang dengan tajam ke arah para pion dan beralih ke arah hatter, "Kerja yang bagus!" ucapnya.


Ia meraba saku di dalam lengan kimononya, ia mengeluarkan sekantung koin dan melemparkannya kepada ketua hatter dengan tubuh penuh tato dan tindikan, semua wajahnya di cat dengan warna hitam sepekat malam.


Para hatter tertawa riang dan meninggalkan pria berkimono, "Besok, kita akan mengeksekusi para pion dan beeluf gang membelot. Semuanya akan disiarkan secara langsung," pria berkimono menatap semua ninja dan berlalau.


Ia memasuki rumah bergaya rumah pedesaan di Jepang, Bakiaknya berteplak-teplok di bumi, "Awasi, semua tawanan dan sandera yang dititipkan Alberto Kuro!" ucapnya di depan pintu rumah. Ia menoleh ke sampingnya, "Baik, Tuan Yamada!" ucap para ninja Serentak.


Bersambung ....


Terima kasih buat semua pembaca atas dukungannya, saya berharap karya saya menghibur semuanya.


Tetaplah memberi dukungan kepada saya. saya sangat mengharapkan like, komen, hadiah dan votenya.

__ADS_1


__ADS_2