Pulau Kematian

Pulau Kematian
Dibekap


__ADS_3

Kabir dan ketiganya menyusun rencana dengan sangat matangnya berharap mereka dapat menemukan di mana


persembunyian Alberto Kuro, "Ke manakah si bedebah itu bersembunyi?" tukas Kabir di saat mereka sedang berada di gua air terjun.


"Kemarin, aku sudah berusaha mengikuti mereka ke lantai atas. Dan semua ruangan sudah aku susupi tapi ..., aku tetap tidak menemukannya," sambung Darmanto.


Mereka membentuk lingakaran, menyusun hasil curian. Sebentar lagi para pion akan datang mengambil semua itu, mereka menunggu sedikit lagi untuk ke luar gua.


Junaid menghenyakkan bokongnua dan bersandar ke dinding gua,


"Aku ..., sudah memasang semua bom di semua lantai. Andaikan sesuatu terjadi dengan kita aku harap ssmua bom itu berfungsi dengan baiknya," Junaid menimpali.


Heru terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia merasakan ada sesuatu yang mengerikan akan terjadi,


"Semua pion dan beeluf akan menyusul saat ledakan terjadi! Tapi ..., aku tidak tahu rasanya aku belum yakin dengan semua ini." Heru menyesap kopinya.


"Pelabuhan selalu dibuka dan ditutup, dan hanya orang-orang kepercayaan Alberto saja yang bisa membukanya. Mereka licin sekali," ucap Kabir,


"sudah 5 Armada mengirimkan bantuan, hanya saja semuanya tidak penuh. Sepertinya mereka mencicil tentara, seperti mencicil kredit panci saja!" sambung Kabir.


"Sudahlah, bagaimanapun tidak ada salahnya mencoba keberuntungan kita. Andaipun kita kalah, mau bagaimana lagi.


"Junaid, berhati-hatilah! Aku lihat Si Leher Beton kembali mengumpulkan kawanannya, aku tidak yakin mereka tidak diam saja!" ucap Darmanto.


"Iya, dan bukan aku saja! Kalian juga semua harus benar-benar. Berhati-hati," balas Junaid.


"Ayo, kita kembali! Aku tidak ingin mereka curiga." ajak Heru.


Keempatnya mengendap-endap ke luar dari gua, dan berjalan secepatnya ke arah dapur dan samping kastil.


Satu demi satu memasuki barak tidur, hanya saja mereka tidur layaknya seorang tahanan. Walaupun semua di dalam kamar dengan jelusi itu begitu lengkapnya,


tetapi semua bangunan mirip seperti sebuah bilik penjara dengan jelusi di depan kamar.

__ADS_1


Di setiap kamar terdapat satu temoat tidur tingkat dengan 2 orang tentara sebagai penghuninya.


Sedikit oun mereka tidak memiliki orivasi sedikit pun, di kamar mandi dan di semua ruangan memakai cctv. Alberto benar-benar menawan mereka walaupun mereka adalah kaki tangannya.


Alberto tidak memberikan kebebasan sedikit pun kepada semua orang di pulau, ia memasung mereka.


Mereka berempat terpisah tidur, tidak satu lorong tempat tidur. Kabir tidur dengan Malvin, ia tidur di tempat tidur tingkat atas dan ia di bawahnya.


Kabir sudah mulai memejamkan mata, tiba-tiba sebuah tangan membekap mulut dan memagang kakinya juga tangannya.


Kabir berusaha meronta dengan sisa kekuatannya, ia berusaha untuk mengumpulkannya. Ia langsung menendang orang yang memegang kaki dan mengulurkan tangannya,


meraih kepala si penyusup dan membantingkannya ke sisi kayu tempat tidur, hingga darah menyrmbur memenuhi seprai putih.


Ia juga membenturkan kepalanya ke arah si pembekap hingga si penyusup terhuyung, memegang kedua sisi kepalanya.


Kabir mencoba melawan, di dalam ruangan kamarnya yang sempit. Ia tidak begitu mengenali para tentara yang mencoba untuk menyekap dan membunuhnua,


"Ayo, tangkap! Alberto ingin ia hidup-hidup," ucap seorang tentara.


Ia mengangkat mereka dan membantingnya ke besi jeruji, "Dasar bedebah, kalian bermain curang!" Kabir langsung melayangkan tinjunya.


Kabir memukul dan menendang tentara yang mengeroyoknya, akan tetapi seseorang di belakangnya memukul kepalanya, "Akh!" lirihnya.


Bruukk!


Ia jatuh terkapar, dua orang tentara salah satunya adalah Jordan menarik tangan Kabir, di kiri-kanan menyeretnya dengan menarik tangannya mereka membiarkan kakinya terseret ke lantai.


Semua tentara ke luar dari bilik masing-masing mencoba mencari asal keributan, "Ada apa? Apa yang kalian lakukan?" ujar seorang tentara yang selalu berjaga dengan Kabir.


Seorang tentara di belakang Jordan mendorongnya masuk kembali ke balik jeruji kamarnya, "Diam kau! Urus saja urusanmu!" bentaknya.


Ia tersenyum mengejek, si tentara bernama kevin memandang lurus ke depan di balik jerujinya. Ia langsung memakai perlengkapan seraggamnya,

__ADS_1


dan ke luar kamar dengan berjalan mengendap-endap, mengikuti kepergian mereka menyeret Kabir.


Di lorong kamar yang lain, seorang tentara memasukkan kantongan plastik ke kepala Heru. Akan tetapi, secepat kilat Heru menusukkan belati kecilnya yang terselip di balik lengan bajunya tepat ke leher si tentara.


Darah menyembur ke luar dari nadi yang terputus, Heru langsung berdiri menerjang 3 pria lain yang mencoba menangkapnya.


Heru berlari dan menembak ketiganya, alarm bergema semua tentara di lorongnya terbangun. Mereka berhamburan mengambil senjata, Heru terkepung dari belakang dan depan lorong kamar hingga ia berinisiatif melompat ke lantai bawah.


Ia mendarat di lantai dan berlari menghindari berondongan sangkur dan peluru, secepatnya bersembunyi. Para tentara dan alarm heboh,


Heru melihat beberapa tentara di lantai 3 menyeret Kabir ia beringsut mendekatinya. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya.


Ia kembali bersembunyi memperhatikan sejenak,


karena ia melihat seorang tentara sedang mengendap-endap di belakang Kabir, dan melompati tentara dan menusukkan sangkurnya kepada 2 orang yang berada tepat di belakang tentara yang menyeret Kabir.


Jordan dan seorang temannya mengokang senjata ingin menembak ke arah Kevin, Heru langsung menembak Jordan dan temannya.


Kevin dan Heru saling pandang, "Apa yang terjadi?" tanya Heru. Kevin berjongkok memeriksa Kabir, "Aku tidak tahu, mereka mengambilnya dari sel kamarnya. Ayo, selamatkan Sardi!" ujar Kevin.


Kevin memapah Kabir, dan Heru menembak semua tentara yang menodongkan senjata ke arah mereka. Darmanto dan Junaid masih berlompatan dari lantai ke lantai,


dengan bergantungan menggunakan tirai-tirai dan kabel untuk memuluskan mereka mencari tempat teraman, sekali-kali mereka menembakkan pistol otomatisnya.


Keduanya bertemu di lantai 2 dan terus berlari mereka melihat Heru, Kabir, dan seorang tentara sedang berlarian menembak ke segala arah.


Heru berulang kali mengganti senjata dengan membunuh tentara yang lain, Kevin berusaha untuk menembak di sela ia memapah Kabir.


"Jangan lepaskan, mereka! Mereka adalah penyusup, yang tidak lain adalah pion! Siapa yang berhasil mendapatkannya akan mendapatkan 2 M uang tunai!" ucap sebuah suara.


Gaungan suara dari mikrofon bergema di seluruh ruangan, para pion berkumpul di kantai 2 mereka sudah terkepung. Heru memasukkan kapsul obat ke mulut Kabir dan menyemprotkan botol obat, mereka bersembunyi di balik tangga darurat.


Kevin memandang keempatnya, "Para pion? Kalian para pion?" ujarnya, Junaid dan Darmanto sudah menodongkan senjata ke kepala Kevin.

__ADS_1


Kevin hanya diam tidak bergeming dan tidak berusaha melawan, "Jangan, tembak! Dia yang menyelamatkan Kabir!" balas Heru.


Ia menyentuh dan menurunkan senjata temannya, "Apa kau yakin, Kak?" tanya Darmanto. Heru hanya menganggukkan kepalanya, ia masih mencoba memberikan pertolongan kepda Kabir.


__ADS_2