Pulau Kematian

Pulau Kematian
Pemakaman yang mengharu biru


__ADS_3

Mano meniup seruling perak pemberian Yahmen, harta pusakanya yang paling berharga.


Meniup lagu yang sering dinyanyikan Yahmen untuk alam. Mengiringi barisan kano membelah lautan.


Kesedihan dan tangisan masih merundungi mereka semua.


Lautan dan angin bersahabat mengantarkan barisan kano ke seberang secepatnya.


Seakan mereka pun turut berbelasungkawa akan kematian pejuang-pejuang yang gagah berani itu.


Barisan lumba-lumba berbaris membiarkan arak-arakan kano menyeberangi lautan. Biasanya para lumba-lumba tidak peduli.


Kali ini, mereka diam di tengah lautan berjejer dan menaikkan kepala mereka dengan menyemburkan air dari lubang dikepalanya.


Sebagai rasa belasungkawa akan kepergian semua orang dan si peniup seruling untuk alam.


Semua orang melihat di tembok pembatas ratusan orang yang telah menjadi bayangan arwah tersenyum dan kawanan srigala milik Aoi menantikan mereka.


Semua orang terkesiap, para arwah begitu menantikan para pejuang mereka yang membebaskannya dari sebuah tirani Alberto.


Lagu yang dilantunkan Mano mengalun seiring dengan kekuatan sihirnya membelah keheningan, hanya suara air yang mengiringinya.


Masing-masing berbicara dengan hati mereka dan kesedihan yang jelas tergambar.


Burung-burung camar mengitari mereka.


Elang Ayesha dan Mano masih menguik dengan lantunan kepiluan di angkasa berputar-putar mengiringi barisan.


Ayesha di sisi Heru saling bergandengan tangan. Mereka begitu bersedih, Ayesha tak henti-hentinya menangis.


Ia mengenang semua kasih Yahmen, Mano meniup seruling dengan deraian air mata.


Semua orang mengingat kebaikan Yahmen, Aoi, dan 11 pejuang hatter. Bayangan-bayangan mereka berlarian dan bertempur di Pulau Kematian masih memenuhi semua benak semua orang.


Di seberang, barisan lansia dan anak-anak menantikan mereka. Seakan-akan, siang-malam mereka berada di sana untuk menantikan kabar berita.


Semua orang berdiri berharap cemas. Bayangan arwah dari leluhur dan korban dari tirani Alberto serta kawanan srigala melayang di atas tembok pembatas dalam siluet putih berbentuk manusia dan srigala.


Lolongan srigala yang entah dari mana mengaung panjang di sertai lolongan yang bersahutan tiada habisnya. Kesedihan di antara lolongan panjang itu.

__ADS_1


Barisan kano terperanjat akan semua fenomena yang luar biasa disuguhkan oleh alam, mendung menghiasai cakrawala.


Seakan semuanya turut bersedih. Lantunan seruling masih terus menggema. Bunga-bunga bermekaran, pucuk-pucuk daun mulai bertumbuhan di sela dahan dan ranting.


Burung-burung berkicauan lirih di dahan-dahan pohon. Semuanya dirundung kesediahan yang dalam.


Mereka berusaha memberikan sesuatu yang terbaik untuk si peniup seruling yang selalu mengabdikan diri kepada alam.


Kini, ia pulang kembali ke pulaunya. Ke tempat di mana ia berjuang dan menghabiskan banyak waktunya, untuk bertempur dan membela suatu kebenaran dan menghentikan suatu kekejaman.


Para pion bergandengan dengan pasangannya, saling mengeratkan genggaman. Mona dan Hendro saling berangkulan.


Kirana dan Kabir menggenggam erat tangan mereka di kano, begitu juga dengan semua orang.


Seakan bagai mimpi mereka telah selamat dari semua malapetaka yang diciptakan Alberto.


Semua pion mengingat awal pertama mereka menginjakkan kaki di pulau dengan ketakutan dan kebingungan.


Semua perjuangan dan darah yang telah mereka berikan dan nyawa yang mereka ambil dari lawan mereka.


Semua orang memandang kedua belah tangan mereka yang penuh dengan darah dan air mata.


Di pulau ini pula mereka mengerti arti kesetiaan, kehormatan, dan persaudaraan. Mereka menemukan segalanya, karena seorang Yahmen, Aoi, 11 pejuang hatter dan semua beeluf, Suku Hideng.


Andaikan kematian menjemput mereka pun, mereka telah ikhlas. Segala kekejaman Alberto menempa mereka menjadi kuat dan penuh tanggung jawab juga dedikasi.


Seperti permintaan keduanya sebelum mereka meninggal, di mana keduanya selalu menghabiskan waktu dan bersedih.


Bunga-bunga lila yang biasanya mekar di malam purnama dan musim kemarau. Kini, dengan indahnya mekar di sepanjang tebing.


Mereka menerima kedua manusia yang selama ini selalu berlarian, tertawa, menangis, dan berjuang di tebing mereka.


Sesampainya di seberang, mereka menggali kuburan dan menguburkan mereka, Hanya Aoi, Yahmen, di tebing hatter di ceruk bebatuan.


Sepuh Rayun dengan kekuatan sihirnya, membuat sebuah lubang. Mereka menguburkan keduanya di sana.


Menandainya dengan sebongkah batu besar sebagai nisan yang bertuliskan. "Aoi Si Srigala Tebing dan Yahmen Si Elang Beeluf"


Ukiran itu begitu indahnya disematkan Sepuh Rayun. Untuk cucu terakhir mereka. Anak dari sepupu mereka, Ayah Bahale Ketua Beeluf terdahulu.

__ADS_1


Semua memanjatkan doa-doa dan meletakkan bunga indah di sana.


Sementara 11 pejuang hatter mereka makamkan, di lembah hatter kampung halaman mereka.


Di antara bunga-bunga kuning dan merah, di mana pertama kali mereka berlari menyelamatkan diri dari pembunuhan di malam kelam itu.


Sebagai tonggak awal mereka berjuang untuk kebebasan, dendam, dan amarah yang menguasai jiwa muda mereka.


Pedang hitam mereka masing-masinglah, sebagai nisan penanda kuburan masing-masing dengan ukiran nama yang diberikan oleh Balian dan Mano di gagang pedang.


Mano menancapkan semua pedang mereka dengan sihir sebagai nisan mereka, agar tiada seorang pun yang mampu mengambilnya.


Anak-anak hatter, beeluf, dan lansia berlarian menyambut mereka kembali dengan tangisan.


Semua anak pejuang hatter bersedih, mereka kehilangan ayah dan ibu mereka. Pernikahan hatter dan beeluf membuat mereka harus kehilangan keduanya.


Balian, Mano, dan Sanna memeluk mereka semua. Lima puluh anak-anak hatter sebagai tonggak penerus dari Klan Hatter.


"Aku akan menjaga kalian, anak-anakku!" ujar Balian dan Mano. Usia mereka yang senja, dan mereka yang terlambat menikah.


Membuat Mano dan Balian tidak memiliki keturunan dari 13 pejuang hatter. Balian bersedih dan ia bersyukur masih memiliki kesempatan mengurus begitu banyak anak di akhir hidup mereka.


Anak-anak hatter menangis memeluk Balian dan Mano, Sanna tersenyum. Ia tidak menyangka abangnyalah sebagai orang tua anak-anak mereka.


Sanna mengingat masa kecil dulu, Balianlah yang selalu melindungi ke-12 anak-anak hatter yang menangis sedih. Kala malam mengingat kedua orang tua mereka yang telah tiada.


Kini, di saat uban memenuhi kepala sang kakak. Ia pun masih harus mengurus kembali 50 orang anak seperti dulu yang pernah ia lakukan kepada orang tua mereka.


Balian, Mano, dan Sanna berjanji menyayangi mereka di lembah hatter sebagai anak mereka.


Para beeluf yang dipimpin Ayesha dan Heru, kembali menempati Menara Pasir dan dan berjanji membangun daerah itu.


Suku Hideng masih tinggal di Pulau Kematian. Iring-iringan heli terbang mendarat di Pulau Kematian.


Semua orang terkesiap, mereka lupa jika trio mekanik menyiarkan segalanya dari Pulau Tak Bertuan hingga ke Pulau Kematian dengan kelihaian mereka.


Membuat pemerintah mengambil alih semuanya. Pemerintah membawa seluruh keluarga para pion, dan membawa bantuan sembako dan obat-obatan juga dokter.


Pemerintah di semua negara telah menangkap dan mengadili semua yang turut andil di dalam kejahatan mereka atas Pulau Kematian dan Pulau Tak Bertuan.

__ADS_1


__ADS_2