
Bertahun-tahun Alberto memanfaatkan Pulau Beeluf menjadi Pulau Kematian. Dengan ribuan nyawa yang sudah terkorban di sana baik pion, tentara, hatter, beeluf, samurai, dan ninja.
Semua demi kepuasan Alberto ia melakukan banyak hal tanpa memikirkan perasaaan semua orang.
Namun, mereka tidak menyangka di saat usia senja keempat sahabat yang sudah berseberangan jalan itu.
Kini, mereka dikejutkan dengan kedatangan para pion yang luar biasa.
Mereka tidak menyangka kali ini, mereka bisa melihat di angkasa kegigihan para pion yang bersatu mampu menghancurkan kekuatan Alberto.
Membuat Yahmen dan kelompoknya selalu mengawasi semua pion, dan berusaha untuk membantunya begitu juga kelompok Mano.
Keberuntungan berpihak kepada mereka hingga mereka menjadi sekutu.
***
Kembali ke masa sekarang ....
Mano menatap Yahmen di dalam pelukan Aoi menatap pulau di seberang. Ia bersyukur kini mereka sudah menikah dan bahagia.
Walaupun segalanya diselingi kepedihan dan derita yang belum juga berujung.
"Yahmen, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Mano.
Ia meletakkan ikannya, dan mendekati Balian yang duduk di pinggir laut lepas.
Yahmen memandang Mano, ia melepaskan dirinya dari pelukan suaminya dan duduk di sisi Mano.
Mereka berempat menatap pulau di seberang, "Aku ingin, kita ke pulau itu. Aku ingin membantu Suku Hideng, yang tidak lain adalah kembaran dari Sepuh Rayan.
"Selain itu aku tidak ingin terjebak selamanya dengan perjuangan yang tak tahu kapan akan berakhir.
"Kita harus membantu para pion. Aku merasa berhutang kepada mereka, tanpa mereka selamanya kita akan bermusuhan karena kebodohanku," ujar Yahmen.
Ia menatap ke seberang, "Baiklah, aku setuju! Bagaimana dengan kalian berdua?" tanya Mano kepada Balian dan Aoi di sisi kanan-kiri para istri mereka.
"Aku akan pergi ke mana pun istriku melangkah," balas Aoi memeluk bahu istrinya dan sebelah jemarinya memainkan rambut panjang Yahmen yang sudah keperakan.
"Aku pun akan mengikuti, Harimau Gurunku!" balas Balian mengedipkan matanya ke arah Mano.
Mano merasa gemas dan mencubit pinggang Balian. Mereka tertawa, burung camar menyambar di permukaan laut.
__ADS_1
Elang menukik di kejauhan dan menguik, Yahmen menatap elangnya dan berkomat-kamit.
Si elang langsung berputar menjauhi Pulau Tak Bertuan dan terbang kembali ke Pulau Kematian.
Si elang kembali dengan cara berputar-putar untuk menghilangkan jejak agar tidak dicurigai Alberto dan kaki tangannya.
Si elang mendarat di lengan Yahmen berbicara dengan cepatnya dengan gayanya yang hanya Yahmen dan Mano yang tahu dan mengerti.
Mematuk-matuk tangan Yahmen dan Mano bergantian, setelah puas berbicara. Si elang kembali terbang tinggi menembus angkasa.
Kembali mengitari pulau demi pulau dan kembali ke Pulau Tak Bertuan.
"Si putih bilang, 'Para pion sudah bersama dengan Suku Hideng. Mereka akan mengadakan penyerangan lusa, aku sudah mengatakan kepada Sepuh Rayun. Besok malam kita akan ke sana!" ucap Yahmen.
Ketiganya menganggukan kepala, senja mulai tiba. Mereka kembali ke Tanah Tak Kasatmata, mereka menyusuri pulau dengan berlari riang.
Selepas magrib, Yahmen dan Mano mengumpulkan semua orang.
"Besok malam kita akan menyeberang ke Pulau Tak Bertuan, di sana kita akan membantu para pion dan Suku Hideng.
"Suku Hideng adakah suku yang dikepalai oleh adik kembar dari Almarhum Sepuh Rayan. Sepuh Rayun namanya, masih ada di sana.
"Apakah kalian setuju jika kita menghancurkan Alberto untuk selamanya?" tanya Yahmen.
Yahmen menitikkan air maranya, ia tidak menyangka semua beeluf kini bersatu. Ia berayukur kepada Mano, Balian, dan Aoi yang membuat pertahanan yang luar biasa di Tanah Tak Kasatmata.
Mereka membangunnya dan membuat semua orang menjadi kuat, selain itu para pion dengan keahlian dan kepintarannya telah mengajari mereka menggunakan senjata mutakhir yang digunakan tentara dan hatter robotnya.
"Terima kasih untuk, Ketua Mano, Ketua Balian, dan Ketua Aoi. Tanpa kalian bertiga, beeluf tidak ada apa-apanya.
"Dan terima kasih untuk kalian semua yang masih setia bersama kami menjadi seorang beeluf. Walaupun kalian tidak ada hubungan darah dengan beeluf," Yahmen memandang semua orang.
Ia menghela napas panjang, "Aku ingin bertanya, jika ada yang takut untuk berperang. Daripada kalian menjadi pengkhianat dan menceraiberaikan kami.
"Kebih baik katakan saja sejujurnya, kalian boleh pergi dari sini dan tidak usah mengikuti kami berperang.
"Aku tidak ingin ada Ambah-Ambah yang lain lagi," ucapnya bergetar.
Semua orang terdiam, mereka memahami sedih dan pahitnya kisah itu.
"Tidak Sepuh, hidup mati kami menjadi seorang beeluf. Percayalah kepada kami," ujar seorang pria.
__ADS_1
"Kami sudah bahagia di pulau ini, dan selamanya akan inggal di sini!" balas seorang wanita.
"Kami akan mati dan hidup menjadi seorang, beeluf!" teriak mereka serempak.
Yura meneteskan air matanya, di sisinya Ayesha dengan perutnya yang bundar. Kehamilannya sudah memasuki bulan ke-5,
"Ayasha sebaiknya, kau tinggallah di sini dengan ank-anak dan lansia. Kehamilanmu sudah semangkin besar," ujar Yahmen memandangnya.
"Iya, Ayesha. Biarlah kami yang pergi," timpal Mano.
Namun, Ayesha yang keras kepala ia tidak ingin tinggal sendiri. Sementara suami dan semua sahabatnya juga guru-gurunya bertarung di antara hidup dan mati.
"Tidak, Sepuh! Aku ikut, aku tidak bisa diam dan duduk menunggu berita. Aku ingin menemui suamiku dan semua sahabatku.
"Kumohon izinkanlah aku ikut," ucap Ayesha setengah meneteskan air mata.
Semua orang terdiam, "Tetapi, Nak! Bagaimana dengan kandunganmu?" tanya Yura.
"Aku baik-baik, saja Ibu!" balas Yura.
Yahmen dan Mano termenung, mereka tidak tahu harus bagaimana. Keduanya tahu, mereka telah mewariskan semua ilmu sihir mereka kepada Ayesha.
Bila kelak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ia dan Yuralah yang mengambil alih pulau dan semua beeluf.
"Percayalah Ibu, aku akan baik-baik saja!" jawab Ayesha.
Yahmen terdiam, ia terpekur mulutnya berkomat-kamit mengucapkan kebesaran nama Allah. Ia tidak tahu harus bagaimana, sehingga ia meminta jawaban dari Sang Pengusa alam semesta.
Yahmen tersenyum, ia telah melihat bayangan kebahagiaan di depan matanya.
"Baiklah, Ayesha. Akan tetapi, bial sampai di sana nanti, kau harus berjanji. Kau tidak boleh memasuki gedung Alberto walau apa pun yang terjadi, ingatlah itu!
"Walaupun di depan matamu aku, Aoi, Balian, Mano, Yura, atau suami dan semua pion dan semua beeluf sekarat.
"Kau tidak boleh memasuki gedung. Bisakah kau berjanji Ayesha?" tanya Yahmen.
Ayesha terdiam, ia pasti tidak akan bisa membiarkan semuanya sekarat. Ia tidak akan sanggup, tetapi ia ingin ikut mengadili dan menjatuhkan rezim Alberto.
Ia sudah lelah, ia juga ingin mengetahui putrinya herada.
"Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik. Akan tetapi, aku tidak bisa berjanji untuk tidak menolong semua orang yang kusayangi. Aku tidak peduli jika aku dan anakku akan mati!
__ADS_1
"Aku tidak ingin hidup dengan penyesalan, dan anakku pun tidak ingin hidup dengan rasa bersalah dan dikucilkan karena ingin menang sendiri."
Ayesha memandang semua orang, ia tidak peduli apa pun yang ada di benak mereka.