
Sementara Nara, Junaid, Darmanto, Toto, Will, Heru, dan Marta. Mereka masih berlarian dan mencoba mencari tempat persembunyian, hujan mulai datang.
Mereka belum menemukan tempat berteduh dan bersembunyi, mereka hanya melihat hutan-hutan kecil tanpa gua dan bebatuan.
Ketujuhnya duduk di bawah sebuah pohon, mereka tidak berani bersandar ke pohon mana pun. Guntur mulai membelah di angkasa, mereka hanya diam tak bergeming.
Rintik hujan yang semangkin derasnya, klontangan suara hatter kembali lagi. Mereka hanya saling pandang dan tidak bersuara, mereka sangat lelah.
Namun, ketujuhnya berusaha untuk siaga. Bunyi klontangan besi semangkin mendekat mereka berusaha untuk siaga, di belakang mereka para tentara beringsut berjalan mengikuti si hatter robot.
Ketujuh pion berusaha untuk tidak bersuara dan bergerak merundukkan tubuh semangkin menyatu dengan tanah, air mulai bergenang di rerumputan di bawah tubuh mereka.
Kilatan senjata dan pedang memantulkan cahaya, sehingga memudahkan para pion menghitung berapa banyak tentara dan hatter yang mulai mendekat di depan.
Seekor ular bergerak merayapi tubuh Will ia berusaha untuk diam dan tidak bergerak, di saat ular ingin mematuk punggungnya.
Darmanto secepat kilat menangkap dan mendekap si ular, hingga mati. Semua orang bernapas lega, sayangnya suara kresekan dari rerumputan
—akibat ular sawah dan Darmanto berkelahi membuat si hatter menembakkan pelurunya ke arah mereka.
Toto menarik tubuh Darmanto untuk berguling menghindari tembakan, desingan peluru menghujam ke arah mereka.
Para pion pun membalas serangan itu, mereja bergulingan untuk menghindari peluru menembus tubuh mereka.
"Akrg, sial! Aku tertembak," ujar Toto. Darah mulai mengucur di lengan atasnya, Nara berusaha untuk menjangkau Toto.
Akan tetapi, tembakan membuat ia tidak bisa bergerak menjangkau Toto. Junaid dan Heru bergerak secepatnya bak kadal mengarah ke samping mendekati tentara, ia melemparkan granatnya.
Duar!
Suara ledakan membuat para tentara melompat tewas dan terluka, si hatter memutar tubuhnya dan menembak ke arah tentara.
"Si hatter robot tidak bisa membedakan mana teman dan mana lawan!" ucap Heru.
__ADS_1
Namun, baru saja ia mengatakannya. Sebuah peluru dari si hatter mengarah kepadanya, untung saja ia melambungkan tubuhnya ke sisi kanan.
Sehingga membuat peluru hatter mengenai pohon di belakang mereka, gaungan sirine kembali berteriak nyaring.
Membelah malam hujan petir, Marta dengan sigapnya menyerang si hatter dengan menerjangnya dengan menancapkan sangkurnya,
ke dua belah kaki di hater dengan kedua tangannya yang memegang dua sangkur sekaligus.
Si hatter jatuh terduduk tetapi masih mampu berdiri, ia tidak merasakan sakit apa pun ia masih ingin menembakkan pelurunya.
Marta memutar tubuhnya dan menusukkan sangkurnya ke pelipis si hatter hingga tubuh hatter bergetar dan ambruk.
Marta sudah kembali menggulingkan tubuhnya yang basah kuyup, dan penuh dengan goresan luka akibat tajamnya rumput dan duri.
Ia tidak peduli lagi, nyawanya dan nyawa para sahabatnya lebih penting, Nara beringsut pelan mendekati Toto dan memberikan kapsul obatnya yang mulai sedikit mencair akibat guyuran hujan Toto segera menelannya dengan menengadahkan mulutnya untuk menampung air hujan.
"Bertahanlah, To! Aku tidak bisa mengambil pelurunya sekarang, di tengah hujan dan gelap begini. Aku juga tidak bisa menyemprotkan botol obat karena akan terbawa curah hujan," ujar Nara, "menyingkirlah sejenak!" sambungnya.
Nara beringsut menjauh dan memegang senjata lasernya kembali, Toto bergulingan mencapai semak perdu yang sedikit lebat.
Ia masih bersiaga memegang lasernya, ia mencoba mengintai di balik semak dengan posisi menelungkup, darahnya sedikit berkurang karena kapsul pahit yang diberikan Nara.
Berulang kali ia menengadahkan wajahnya dan membuka mulut untuk menampung air hujan, "Sial, pahit sekali nih obat!" umpat batinnya.
Seakan-akan ia memakan empedu, ia melihat sahabatnya masih berusaha melawan 5 hatter lagi.
Mereka beruntung ledakan granat yang dilemparkan Junaid telah membunuh beberapa tentara, sehingga musuh mereka berkurang.
Darmanto dan Heru masih mengeroyok 1 hatter yang gempal seperti Toto, mereka sedikit kewalahan. Akan terapi, bukan Heru dan Darmanto jika mereka tidak memiliki akal.
Darmanto melagakan sangkur dan pedangnya membuat dentingan yang memilukan cahaya api muncul dari dentingan sangkur dan samurainya membuat si hatter bergetar.
"Ayo, terus lakukan Ting!" ucap Heru. Darmanto terus melagakan pedang dan sangkurnya, si hatter sedikit pusing karena signal dari sirkuit robotnya mulai terganggu.
__ADS_1
Di tengah kebingungan si hatter, ia memegang ke dua pelipisnya. Si hatter menjatuhkan senjatanya, membuat Heru secepat kilat menebas lehernya.
Beberapa langkah dari mereka, Junaid, Nara pun masih melawan hatter mereka melihat cara Darmanto dan melakukannya, Nara langsung menebas lehernya juga.
Marta dan Will pun melakukan hal yang sama, "Akhirnya usai juga!" ucap Will di sela napasnya yang terengah.
Ia memungut senjata milik si hatter, begitu juga Darmanto, Heru, Junaid. Mereka mengambil senjata hatter dan memeriksa tentara yang masih hidup membunuh mereka dan mengambil granat dan amunisinya.
Mereka kembali mencari Will, mereka berusaha untuk mencari tempat berteduh. Di tengah pelarian sekelebat bayangan hitam menghadang mereka, "Apakah kalian temannya, Kabir?" tanya pria berbaju serba hitam.
Ketujuhnya saling pandang, "Ayo, ikut aku!" ujarnya. Ia berlari ke arah utara, para pion saling pandang dan mengeluarkan senjatanya lagi.
Ketujuhnya mengikuti si pria berbaju hitam yang terlalu cekatan berlari seperti seekor puma membelah hujan, ketujuhnya sedikit kesulitan mengikuti larinya.
Si pria berbaju hitam berulang kali menunggu para pion untuk mengikutinya, agar tidak tertinggal jauh di belakangnya.
Mereka menyusuri tepian pantai yang berpasir, hujan masih mengguyur dengan lebatnya, ombak berdeburan menggulung di lautan.
Nara melihat sekilas, "Badai telah datang," batinnya. Ia rindu akan Pulau Kematian, ia melihat sekilas jauh nun di seberang tumpukan hitam pulau dan putihnya tembok kala guntur menerjang angkasa.
Ia memusatkan kembali pikirannya untuk berlari, Darmanto memapah Toto sambil berlari.
Marta melihat sahabat-sahabatnya berlari sangat kencang dengan berbagai senjata di punggung dan selipan bahu dan ketiaknya belum lagi di pinggang mereka.
Ia tersenyum, "Aku beruntung berada di antara mereka!" batinnya. Junaid di belakangnya menarik lengannya, " Ayo, cepat!" teriak Junaid.
Mereka berkelok ke arah batu karang di sisi pantai yang terjal, batu cadas menganga dengan runcing dan licinnya.
"Berhati-hatilah! Medan ini terlalu berbahaya, perhatikan injakan kaki kalian!" teriak si pria berbaju hitam.
Mereka sedikit berhati-hati, untuk pertama kali mereka berjalan melambat. Guyuran hujan semangkin membuat mata dan tubuh sedikit sakit karena derasnya.
Akan tetapi, mereka tidak peduli. Mereka terus berjalan, si pria berbaju hitam sudah sampai jauh di depan mereka.
__ADS_1
Ia masih dengan sabarnya menanti para pion yang sedikit berhati-hati di bebatuan karang yang terjal.
"Bila aku membunuh tentara Alberto, aku akan mengambil sepatunya. Milikku terlihat sudah aus!" lirih Toto.