
Kirana memandang Marta dan Darmanto dengan kebanggaan tersendiri, "Aku senang mereka bukan musuh, kita!" jawab Kirana.
Ia tidak bisa membayangkan bila keduanya adalah musuh mereka, itu akan sangat menyulitkan bagi mereka keluar dari pulau dengan nyawa masih di kandung badan.
Kirana memandang ke arah sahabatnya yang sudah merayap turun dan kembali ke persembunyian, kembali mengintai di sana. Kirana dan Kabir percaya semua sahabatnya memiliki suatu keahlian dan kelebihan, sehingga mereka masih mampu bertahan.
Dari semua akal licik seorang Alberto Kuro, "Sampai detik ini, kita masih memiliki sebuah keberuntungan!" kata Kabir.
Malam sudah mulai bergulir mereka tidak memejamkan mata sedikit pun, mereka berharap siang nanti mereka benar-benar bisa menyelamatkan sandera dan semua sahabat mereka.
Dengan gemuruh debaran mereka mencoba untuk mencari celah di antara semuanya, berharap keberuntungan selalu datang menyapa. Mereka sangat ingin memberikan pesta kejutan kepada Alberto, detik-detik penantian terasa panjang.
Mereka menanti kegilaan apalagi yang akan diberikan seorang Alberto dan Tuan Crabs, mereka tidak mengetahui di balik semua kejahatan tersebut. Banyak petinggi hebat dari berbagai negara, mendukung dan melancarkan segala sepak terjang kedua manusia psikopat.
Sehingga segala perbuatannya tidak pernah tercium ke luar dari pulau, semua orang hanya menonton di youtobe dan laman-laman media dan game.
Mereka merasa semua itu hanyalah sebuah permainan game dimensi 7, mereka merasa kemajuan teknologi yang membuat semuanya seperti nyata.
Mereka merasa semua itu adalah sebuah intriks dan kelihaian seorang gamer terbaik di dunia, mereka tidak menyangka memainkan game dengan taruhan nyawa manusia yang sebenarnya.
Kabir merasakan sebuah keanehan, "Aku merasakan ada yang aneh, aku tidak melihat satu orang sandera pun ataukah semua ini jebakan?" ucap Kabir.
Kirana yang berada di sisinya pun memandang ke depan mereka, semua keheningan dan tidak terlihat seorang ninja. Mereka mengawasi dari atas pohon, "Aku pun merasa curiga, bagaimana bila kita menyelinap ke belakang?" usul Kirana.
"Ayo!" Kabir merosot turun ke bawah, mengendap-endap menyusuri sisi belakang rumah. Berusaha menyelinap di antara dinding papan dan kertas, mereka melumpuhkan semua ninja yang berjaga di sepanjang koridor di rumah bergaya pedesaan.
Mereka hanya menemukan beberapa ninja saja yang bertugas menjaga ruangan, selebihnya kosong melompong.
Keduanya berusaha menyusuri semua bagian-bagian rumah, tetapi tidak menemukannya.
__ADS_1
Sehingga tanpa sengaja Kirana menyentuh sebuah obor dan sebuah pintu rahasia di balik lukisan pemandangan yang indah terbuka.
Kabir dan Kirana memasuki ruangan yang menutun ke bawah melalui anak tangga terbuat dari kayu, "Seperti sebuah gua," kata Kabir.
Keduanya mencoba masuk semangkin dalam, tangan mereka bersiaga dengan pedang.
"Berhati-hatilah—" ucap Kirana.
Kres! Belum lagi ia selesai berbisik, sebuah shuriken sudah melayang memotong rambutnya yang dikucir kuda, hingga lepas dari ikatan pita kain yang terbuat dari sobekan bajunya.
Rambut Kirana tergerai semangkin pendek, ia benci para ninja yang selalu saja datang dengan diam-diamnya. Ia semangkin memandang ke sekelilingnya mencari keberadaan si ninja, tetapi mereka tidal menemukannya.
Dari balik dinding-dinding berhamburan shuriken dan kunai bertubi-tubi belum lagi anak panah, "Apa yang tersembunyi di dalam sana? Semua ini jebakan bagi yang ingin memasukinya," kata Kabir.
Ia menangkis dengan pedangnya melompat dan bergulingan ke sana kemari di lantai gua,
Kirana merogoh kantungnya ia menarik satu kunai yang memiliki selembar kertas berbahasa Jepang.
Untuk pertama kalinya ia menggunakan kunai, ia hanya melemparkannya bak sebuah permainan lempar dart boart.
Saat kunai melesat dan menancap di salah satu kayu, sebuah ledakan membahana. Sehingga Kabir dan Kirana melompat menghindarinya,
berusaha bersembunyi dari serpihan ledakan dan api. Cahaya terang dari ledakan memperlihatkan sekitar mereka, tiada lagi seorang pun tawanan yang dijadikan sandera.
Keduanya saling pandang, "Ke mana mereka membawa sandera?" tanya Kirana. Kabir hanya menggelengkan kepalanya, ia pun tidak tahu jawaban apa yang ingin ia katakan.
Ruangan kosong melompong tanpa ada seorang pun penghuninya, hanya sisa-sisa dari sebuah penahanan. Rantai-rantai dan tali bekas mengikat para tahanan,
Kirana dan Kabir terus menyusuri setiap jeruji tetapi mereka tidak menemukan seorang pun di sana. Mereka saling pandang dan menggelengkan kepala,
__ADS_1
mereka beranjak keluar dari ruangan dan menyentuh sebuah obor hingga pintu lukisan menutup. Kirana dan Kabir berlari secepar mereka bisa,
keduanya bersembunyi di balik sebuah lemari. Saat keduanya mendengar banyak derap kaki melangkah masuk, 10 ninja berpakaian merah memasuki ruang rahasia.
Kirana dengan kecepatan alaminya, melemparkan kembali kunai dan menutup pintu rahasia. Keduanya mendengar sebuah letupan ledakan yang tidak begitu terdengar dari luar ruangan rahasia,
keduanya secepat kilat keluar dari ruangan yang disulap seperti ruangan pembaca, mereka bersembunyi dan menunggu di balik barisan bunga.
Derab kaki para ninja berlarian di setiap lorong rumah dengan samurai terhunus, mereka melewati persembunyian keduanya.
Barisan ninja semangkin banyak berlarian berlompatan dari atap rumah, mendarat di tanah dengan ringan tubuh yang luar biasa.
Salah satu ninja mendarat tepat di belakang keduanya, Kabir secepat kilat menghunuskan samurainya ke perut sang ninja hingga darah menyembur.
Ninja yang sudah sekarat melemparkan. Sebuah bambu ke angkasa dan meledak, hingga mengundang banyak ninja menuju ke arah mereka.
Kabir dan Kirana langsung berlarian, di sela puluhan anak panah. Keduanya melewati jembatan dan melompat ke dalam sungai yang beraliran deras, Kirana melemparkan kembali kunainya kembali sebuah ledakan menyelamatkan keduanya.
Mereka berenang mencapai dasar sungai anak panah berjatuhan di dasar sungai, menanjap di sana. Keduanya berenang menuju hilir dan mencapai pinggir sungai, para ninja masih terus mengejar mereka.
Keempat pasangan pion menggenggam erat senjata mereka, Will dan kelompoknya ingin melompat, "Jangan dulu, percaya saja pada Kabir dan kirana. Mereka pasti, selamat!" ucap Zai.
Mereka mengurungkan niatnya untuk membantu Kirana dan Kabir, mereka sudah tidak sabar untuk memberikan pertunjukan kepada Alberto dan semua sahabat gilanya.
Kabir dan Kirana menggapai akar pohon dan masih bersembunyi di tepian sungai yang dalam, mereka berharap para ninja berhenti mengejar mereka.
Sebagian ninja mendatangi sungai, mendekati persembunyian keduanya. Dengan sekali hentakan keduanya menarik kedua ninja membawanya masuk ke dasar sungai membantainya dengan sangkur mereka.
Mayat kedua ninja mengambang di permukaan air, kedua ninja lain mendekati mereka berbicara di dalam sebuah bahasa Jepang yang tidak dipahami oleh Kabir dan Kirana.
__ADS_1
Saat mereka mengeluarkan senjata mereka dan merapalkan gerakan aneh di dada mereka, Kabir dan Kirana melompat dari dalam air menusukkan sangkur tepat di dada keduanya dan kembali membawanya ke dalam air.