Pulau Kematian

Pulau Kematian
Si Rusa penunggu pulau


__ADS_3

Ayesha melihat ke arah Darmanto dan Junaid, "Semoga keduanya selamat," ucap Ayesha. Heru merangkul tubuh istrinya yang lemah, "Apa yang telah kau lakukan, Dek?" tanya Heru.


Ia bingung harus bagaimana menanyakan segala hal yang sangat berbeda menurutnya, Ayeshanya bukanlah Ayeshanya yang dulu ia kenal.


Kini, ia mendapati sosoknyang berbeda di tubuh istrinya.


Ia sendiri pun sudah tidak mengenalinya, "Apakah dengan semua ini, kami akan terpisah lagi?" batin Heru. Ia merasakan suatu dinding pemisah lain lagi, ia merasa suatu saat nanti mereka tidak akan bersatu selayaknya suami-istri.


Istrinya seperti sudah menyatu dengan Pulau Kematian, Ayesha memiliki sebuah ikatan batin dengan sihir aneh miliknya.


Ia semangkin galau menanggapi semuanya, "Aku tidak apa-apa. Percayalah!" balas Ayesha. Ia memahami dan mengenal bagaimana prilaku suaminya, yang terlalu over protektif kepadanya, ia berusaha untuk tersenyum.


Jauh di dalam batinnya, "Maafkan, aku Bang! Aku harus melakukan ini, aku ingin melindungi kalian agar semua orang terbebas dari Alberto! Aku ingin kau menemukan putri kita," batinnya.


Ia menggengam jemari suaminya, ia berusaha untuk tegar. Ia mencoba untuk bangkit, "Ayo, kita kembali ke gua!" ajak Ayesha.


Ia merasa sedikit lama lagi perisai pelindungnya akan memudar, karena ia bukanlah sesepuh Yahmen maupun Ketua Mano. Ia tidak banyak memiliki kekuatan untuk itu,


Hendro kebingungan membopong tubuh Darmanto yang sangat besar bak beruang kutub, "Hendro, panggillah rusamu!" ujar Ayesha.


Hendro terkesiap, "Apa?! Si rusa nakal itu?" balas Hendro. Benar saja, ia baru menyebut namanya si rusa sudah muncul di dalam perisai dengan seekor rusa lain.


Hendro berjengit, "Kamu rusa silumankah?" tanya Hendro. Saat si rusa mendekatinya dan menandukkan tanduknya lembut sebagai salam persahanatan.


Semua orang tertawa saat Hendro berlarian di dalam perisai dikejar rusa silumannya, "Hendro, ia hanya ingin bertegur sapa. Dia tidak siluman ia hanyalah penjaga Pulau Kematian ini," ucap Ayesha.


Hendro yang masih berlarian, "Apa bedanya sama-sama, hantu!" teriak Hendro. Ia lebih takut hantu si rusa dari pada kaki tangan Alberto yang sadis.


Ia terus saja berlarian mengitari sekeliling oerisai, "Mengapa si rusa ini hadir, Ayesha?" tanya Hendro.

__ADS_1


Ayesha hanya tersenyum, "Berilah perintahmu untuk membawa Darmanto dan Junaid ke punggung mereka," jawab Ayesha.


Seketika Hendro berhenti tepat serudukan tanduk si rusa menghantap bokongnya, "Waduh, hati-hati dong!" ucap Hendro.


Ia mengusap bokongnya, "Bawalah, kedua sahabatku ke gua air terjun!" perintah Hendro.


Kedua rusa itu mendekati Darmanto dan Junaid, entah bagaimana caranya sekelip mata kedua sahabat mereka sudah berada di punggung si rusa. Ia melihat ke arah Hendro sekejap dan berlari menembus perisai.


Heru menggendong belakang istrinya yang masih lemah, semua pion berusaha bergerak secepat mungkin di balik perisai pelindung milik Ayesha,


"Ayo, bergegaslah! Aku takut perisaiku tidak cukup kuat untuk menahan kita sampai ke gua air terjun!" tukas Ayesha.


Semua pion bergerak secepat kilat berlarian menuju ke arah gua air terjun, mereka melihat di sekitar gua para tentara masih berkeliaran. Kabir dan semua pion bersiap-siap ingin mengokang senjata mereka,


"Tidak, usah! Ayo, kita masuk saja." Ayesha mengajak semua orang segera masuk. Benar saja, tiada seorang tentara pun menyadari semua kehadiran mereka bergerak memasuki gua air terjun.


"Terima kasih! Pulanglah," ujar Hendro. Ia membelai kepala si rusa, ia merasakan sesuatu kedekatan.


Hendro tidak menyangka selama ini, ia telah mengejar-ngejar seekor siluman. Kedua rusa melesat pergi meninggalkan mereka, para pion berusaha untuk membersihkan diri dan menangkap beberapa ekor ikan dan memanggangnya.


Mereka tidak menemukan Sukuna, Wil, Zai, dan Toto. Mereka sedikit harap-harap cemas, mereka takut jika mereka bertemu dari salah satu pion yang palsu dan mengira semua itu adalah sahabat mereka.


"Andaikan kita memiliki hand phone, kita bisa menghubungi mereka ...," ucap Kabir. Ia dan semua orang sama cemasnya.


Mereka berdo'a di dalam hati untuk keselamatan sahabat mereka yang masih berada di luar sana, mereka tidak tahu kekejaman apalagi yang direncanakan Alberto kepada semua orang.


Mereka masih saja berdo'a dan berpikir hingga keheningan pun terjadi, tiada yang bersuara hanya suara percikan air terjun yang masih menghempas bebatuan dan terus mengalir mengelilingi seluruh pulau dan mengalir ke lautan.


Tiba-tiba dari lorong gua sebelah kanan dari lorong lava, keempatnya berlari masuk dan terburu-buru menutup pintu gua.

__ADS_1


Mereka begitu senangnya melihat kehadiran yang mereka nanti telah tiba, "Tunggu, dulu!" ucap Kirana. Membuat keempatnya menghentikan kaki mereka,


"Ada apa?" tanya keeempatnya serempak. Mereka melihat semua pion menghunuskan senjata laser ke arah mereka,


" Sukuna, di mana pertama kali kita bertemu?" tanya Ayesha. Sukuna kebingungan, "Memang, ada apa?" tanyanya bingung. Ayesha memandangnya, "Jawab saja!" jawab Ayesha.


Sukuna mengangkat alisnya, "Baiklah, di gurun! Saat aku terluka dan beberapa tentara ingin memperkosaku, kau datang dan menerbangkan semua orang dengan sihir badaimu."


Sukuna menatap lekat Ayesha dan semua pion, ia sendiri pun merasa kebingungan seakan mereka adalah orang lain. Akan tetapi, ia mencoba untuk memahami sesuatu.


Ayesha tersenyum, "Baiklah! Kau Sukuna asli," kata Ayesha senang. Semua orang memandangbke arah trio mekanik,


"Kalian bertiga, bagaimana kalian menjelaskan fungsi tombol merah di senjata laser ini?" tanya Kabir.


Ketiganya saling pandang dan tertawa, "Hahaha, itu untuk melontarkan api! Kau aneh, kami yang membuatnya. Apakah kalian, lupa?" jawab ketiganya.


Mereka saling pandang, "Apa yang telah Alberto lakukan kepada kalian?" tanya Toto. Ia sendiri semangkin bingung ia takut,


jika semua sahabatnya telah tertangkap dan Crabs sudah mencuci otaknya dengan pemutih yang banyak dijual di pasar-pasar tradisional dan supermarket.


Apalagi ketiganya melihat, wajah-wajah lelah dan cemas jelas tergambar di raut wajah mereka, " Kami menamai setial laser milik kalian dengan inisial nama kalian," ucap Zai.


"Dan yang bisa menggunakan laser itu hanya kalian dan kami bertiga," sambung Will.


Ketiganya semangkin cemas saat mereka melihat Darmanto dan Junaid tidak ada, di sudut lantai gua mereka melihat 2 mumi terbaring di sana. Mereka memandang semua orang dengan tatapan cemas juga,


"Apakah itu Darmanto dan Junaid? Apa yang sudah terjadi!" tanya Will. Ia merasakan sesuatu telah terjadi sehingha membuat semua sahabat mereja menjadi sedikit over protektif di dalam menyeleksi semua sahabat mereka.


Kabir dan yang lain menurunkan senjata mereka, "Selamat datang kembali, kawan!" ujarnya. Ia mendekati ketiganya dan memeluknya dengan erat, "Apa yang sudah terjadi, Kabir?" tanya Zai.

__ADS_1


__ADS_2