Pulau Kematian

Pulau Kematian
Kematian Alberto


__ADS_3

"Ketua Aoi! Sepuh Yahmen!" semua orang berteriak dan menangis mendekati pasangan yang penuh sahaja itu.


Mano dan Balian jatuh terduduk merengkuh keduanya, "Mano, Balian. Ingat janji kalian!


"Ayesha, ingat janjimu! Jangan menangis, aku bahagia bersama kalian. Terima kasih!" ucap Yahmen ia memuntahkan darah segar.


Aoi di sisinya tersenyum tanpa bicara, ia menggenggam erat tangan istrinya. Keduanya saling tersenyum,


"Aku selalu bersamamu, sayangku!" balas Aoi tersenyum dan menghembuskan nafas terakhirnya.


Yahmen tersenyum memandang suaminya dan ia pun menghembuskan nafas terakhirnya. Semua orang bersedih dan menangis.


"Pergilah dengan damai, saudaraku!" ucap Balian memeluk Aoi.


Ia mengingat anak kecil yang selalu ia awasi setiap waktu. Kini, bayangan itu dan keberaniannya yang luar biasa.


Perjuangan dan pengorbanan juga rasa cintanya, akan pulau yang bukan tanah airnya juga cintanya akan wanita yang baik.


Ia menepati janjinya untuk membebaskan pulau dan hidup matinya bersama Yahmen.


Hari ini ia sudah kehilangan banyak orang di dalam kehidupan mereka, Mano menangis memangku kepala sahabat, saudaranya Yahmen.


***


Sementara Kabir, Heru, Darmanto, dan Junaid masih bertarung membasmi semua pengikut Alberto.


"Apakah yang kita bunuh tadi, benaran Alberto yang asli? Atau kopiannya, saja?" teriak Kabir setelah ia membunuh orang terakhir.


Kembali keempatnya berlarian ke arah Alberto yang tertancam tombak Yahmen di pohon.


Keduanya meraba wajah si pria, keempatnya menarik topeng silikon yang menempel di wajahnya.


"Sialan bedebah, ini!" teriak keempatnya marah.


Alberto selalu saja menggunakan trik liciknya untuk mengelabui semua orang.


Keempatnya berlarian ke arah teman mereka yang masih bersedih akan kematian Yahmen dan Aoi.


Keduanya sudah dibaringkan dengan semua Klan Beeluf, Suku Hideng, dan 11 pejuang hatter.


Keempat pion, mendekati mereka, "Alberto yang dibunuh Yahmen, bukan asli. Ia masih berkeliaran entah di, mana? Berhati-hatilah!" ujar Kabir.


Semua orang terkesiap mereka telah membunuh dua Alberto palsu.


"Sebaiknya, sebagian menjaga para jenazah ini. Aku tidak ingin, Alberto membakar mereka. Para pion! Ayo, kita habisa manusia keparat itu!" teriak Darmanto kesal.


Ayesha melihat elangnya menukik dan hinggap di lengannya.

__ADS_1


"Ikuti, Si Buluk! Dia akan menuntun, kalian," katanya.


Elang yang bernama Si Buluk langsung terbang dengan menguik.


Para pion berlari ke arah yang dituntun oleh Si Buluk. Sepuluh pion berlari menembus hutan mereka mencoba mencari Alberto untuk yang terakhir kalinya.


Mereka melihat Alberto dan Joe asli juga pengawal mereka sedang berusaha menaiki sebuah kapal motor. Trio mekanik menembak 5 kapal motor yang sedang tertambat.


Ledakan beruntun, Alberto teperanjat. Ia tidak menyangka segala triknya untuk mengecoh musuhnya pada akhirnya terbongkar.


"Bunuh, mereka!" teriak Joe. Marta, Mona, Nara, dan trio mekanik bertempur dengan pengawal dan Joe asli.


Kabir, Junaid, Heru, Darmanto, dan Hendro mengejar Alberto yang sedang berlari dengan kopernya.


Pengawalnya menghadang pion, "Kabir, kejar dan jangan biarkan dia lolos!" teriak Heru.


Ia sedang menangkis pedang pengawal yang mengarah kepadanya.


Kabir secepat kilat mengejar Alberto menyusuri pulau, Kabir melemparkan sangkurnya.


Sangkur mendarat tepat di bahu Alberto, ia tersungkur mencium pasir pantai.


Kabir langsung ingin menebaskan pedangnya, tetapi sesuatu terjadi. Dari tubuh Alberto keluar sulur-sulur yang pisau yang ingin menangkis pedang Kabir.


Kabir melompat ke belakang berusaha untuk menghindari sulur-sulur tambang besi yang lentur bermata pisau di ujung sulur.


Sulurnya terus saja menyerang Kabir, "Hahaha kau pikir, kau akan mudah membunuhku? Akulah penguasa dunia ini.


"Akulah Tuhan dari segalanya!" teriak Alberto dengan pongahnya.


Kabir berjumpalitan dan bergulingan di pasir pantai di kala sulur-sulur itu menerjangnya, dan menyerangnya bertubi-tubi.


Seakan ia ingin memotong-motong Kabir laksana sayuran di atas talenan.


Kabir menebaskan pedang lasernya ke arah sulur, dan sulur meleleh. Kabir meraih salah satu sukur dan bergelantungan dan sulur-sulur lainnya berusaha untuk menjangkau tubuh Kabir.


Kabir berusaha untuk mengelak dan melompati dengan berpegangan dari sulur ke sulur lain.


Akberto memotong sulurnya sendiri. Ia semangkin murka, ia tidak menyangka Kabir begitu lihainya melompati sulur demi sulurnya bergelantungan laksana monyet di atas pohon.


"Kau harus mampus, sialan!" teriak Kabir menancapkan pedang lasernya ke pusat inti sulur di punggung Alberto.


"Aagh!" teriakan Alberto membelah senja yang mulai datang.


Lelehan besi di punggungnya menggenangi dirinya. Ia bergulingan di pantai, Kabir berdiri dengan bersiap-siap segala kemungkinam yang terjadi.


"Aakhh! Sialan kau, Kabir! Aku akan membunuhmu!" teriak Alberto dengan bergulingan.

__ADS_1


Di balik kesakitannya Alberto meraih pistolnya ingin menembakkan ke arah Kabir.


Dor!


Kabir melompat ke samping kirinya dan peluru meleset. Kabir melemparkan pedang lasernya tepat ke kepala Alberto. Membuat tubuhnya meleleh.


Kabir terduduk lemas, melihat tubuh Alberto meleleh habis seperti lelehan timah.


Ia mengingat sahabat-sahabatnya yang sedang bertempur dengan Joe dan pengawalnya. Ia berlari ke arah mereka mencabut pedang samurainya.


Sesampai di sana, ia melihat semua sahabatnya.sudah terduduk dengan pedang di tangan mereka bertumpukan di atas pasir pantai.


Semua orang memandang ke arah mereka, Kabir tersenyum berlari ke arah mereka.


Ia memeluk semua orang, mereka bersepuluh dan tetap utuh.


Mereka saling merangkulkan bahu membentuk lingkaran dan duduk berlutut saling pandang mengucapkan puji syukur kehadirat Ilahi.


Mereka bersepuluh menangis, penuh luka dan darah yang sudah mengering dan masih merembes dari luka mereka.


Elang Ayesha masih menguik di angkasa mengitari mereka.


Layar monitor di angkasa menyiarkan segalanya ke belahan penjuru dunia.


"Ayo, kita kembali kepada pasukan. Kita harus membawa Yahmen, Aoi, dan 11 pejuang hatter juga seluruh beeluf yang meninggal.


"Kita harus menguburkannya, aku sudah berjanji untuk beeluf!" ucap Heru.


Mereka bersepuluh kembali berlari, mencapai pasukan mereka. Semua orang sudah membuat tandu.


Semua heli sudah hancur tidak tersisa, Sepuh Rayun dan Meang di bantu beeluf dan pion mereka mulai mengubur Suku Hideng yang gugur.


Di lahan gedung Alberto sebagai kenangan mereka adalah saksi pejuang Suku Hideng yang bertempur dengan gagah beraninya.


Mereka memanjatkan doa-doa dan pujian kepada Allah SWT. Dengan segenap rasa kesedihan walaupun mereka berhasil membebaskan pulau.


Akan tetapi, kesedihan masih terus membayang di wajah mereka semalaman mereka mengadakan penguburan.


Sementara kano-kano telah disiapkan untuk membawa Jenazah para beeluf, Aoi, dan 11 pejuang hatter.


Sebagai kenangan mereka adalah saksi sejarah dari Pulau Kematian dan kejamnya seorang Alberto.


Subuh menjelang, mereka membawa semua jenazah yang sudah dimandikan, dikafani, dan sholatkan di kano-kano menyeberangi lautan luas.


Barisan kano mengantar mereka ke seberang. Suku Hideng pun turut menguburkan semua orang di Pulau Kematian.


Angin terhenti, alam pun seakan bersedih. Si putih, elang Yahmen tak henti-hentinya melelehkan air mata di sisi jenazah yahmen dan Aoi.

__ADS_1


Bayangan srigala di pembatas tembok menantikan Jenazah sahabatnya Aoi. Kawanan srigala yang hanya tinggal bayangan menanti di sana.


__ADS_2