Pulau Kematian

Pulau Kematian
Halusinasi


__ADS_3

Kabir dan semua pion merapat ke dinding, berharap kali ini musuh yang datang bukanlah sesuatu yang mengerikan, mereka menunggu lama namun tidak ada apa pun yang datang.


Mereka saling pandang, "Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Mona. Ia masih saja mengintip di balik jendela kertas.


"Entahlah, tiada sesuatu pun. Hanya saja, mengapa semuanya menjadi gelap?" ucap Hendro,


"berhati-hatilah, cinta!" kembali kabir menggoda Mona dengan mengedipkan salah satu matanya.


"Najis, tralala!" balas Mona yang tak kalah ketusnya, namun hatinya begitu bahagianya sampai ke langit.


Di luar suasana semangkin gelap seperti malam, "Apakah ada gerhana matahari?" tanya Kirana bingung.


Ia melihat matahari bersinar di atas pucuk bambu, namun sinarnya seperti terhalang sesuatu tirai yang menutupi rumah dan sekitaran di bawah pucuk bambu.


"Lihatlah! Bagian atas pucuk bambu sangat terang, mengapa bagian bawah sini gelap?" ucap Junaid.


"Mungkinkah ini ulah para ninja? Mereka menggunakan sebuah ilmu yang mengubah sesuatu? Seperti mempermainkan perasaan dan indra kita, seperti halusinasi!" Kirana semangkin menganalisis semuanya.


"Entahlah, Kita lihat saja Kirana! Apa yang akan datang," jawab Zai. Ia mulai cemas dan was-was, ia mengingat kejadian hujan petir kemarin membuat sedikit nyalinya ciut.


Zai memahami mereka semua memiliki keahlian dan kekuatan persaudaraan, namun bila gelap mereka hanyalah manusia biasa juga. Ya Allah, Lindungilah kami.


Zai semangkin erat menggenggam samurainya kilauan tajamnya memantulkan cahaya yang menyentuhnya.


"Aku harap, bukan sesuatu yang mengerikan!" jawab Marta di sudut kanan berdekatan dengan Heru.


"Semoga saja, namun kali ini .... "


Heru tidak mampu berkata-kata lagi.


Marta melihat ke luar jendela, ia melihat gadis kecilnya berlari kecil ke arahnya, "Marina .... " ucap Marta ingin berlari melompati dinding bambu yang tertata rapi.


Semua orang melihat ke arah Marta, dan mencegah ia berlari ke luar rumah. "Marta, sadarlah!" ucap Heru.


"Anakku di luar sana! Aku akan membawanya masuk, Kak?" jawab Marta. Pandangan matanya kosong tiada kehidupan di sana.


"Alberto menggunakan hipnotis atau ilmu halusinasi, Nara ... Apakah ada obat yang engkau ketahui?" tanya Kirana menoleh ke arah Nara.


Nara membongkar ranselnya, ia mencari sesuatu di sana. Namun ia tidak menemukannya.


"Maaf sepertinya tidak ada," jawab Nara yang terus mengacak-acak isi ranselnya.

__ADS_1


"Sepertinya, kita harus mencari sesuatu yang membuat Marta cepat sadar." Kabir mencari sebuah senjata lasernya dan menembakkan ke luar jendela ke arah langit.


Tembakan laser seperti membentur sesuatu yang bersifat kenyal seperti jeli. Ia melihat bayangan ibunya di sana penuh darah dan terluka akibat perbuatannha, "Ibu .... " lirihnya berlari ke luar menerjang dinding bambu begitu pun Marta.


Pion yang di rumah melihat mereka mendekati para ninja yang berpakaian merah sekarang.


"Sial, apa yang harus kita lakukan?" tanya Junaid ikut ke luar rumah.


Ninja menyabetkan pedangnya ke arah Kabir dan Marta yang menyongsong mereka, marta membentangkan kedua belah tangannya menyambut ninja yang menghunuskan pedang ke arahnya.


Di dalam benak keduanya mereka adalah orang mereka rindukan.


Cress!


Suara sabetan pedang, mengenai lengan marta dan bahu Kabir, "Akh!" keduanya berteriak dan tersadar.


Saat tubuh mereka terjerembab ke tanah, dengan secepat kilat dua orang ninja ingin menusukkan mata samurainya ke leher Kabir dan Marta yang sedang terbaring di tanah,


Nyaris, sebelum pedang itu menyentuh batang leher keduanya. Kabir dan Marta menangkap ujung pedang dengan tangan mereka.


"Sial, kau berbuat kecurangan!" ucap Marta marah.


Marta meraba pinggangnya meraih sangkurnya dan melemparkan tepat ke leher si ninja, membuat ia mati terjatuh menimpa tubuh Marta dengan sisa kekuatan yang marta miliki ia menahan tubuh ninja tepat di atasnya.


Marta dengan kaki kirinya yang menahan tubuh ninja berusaha sekuat tenaganya untuk mendorongnya ke samping kanannya.


Darah masih saja menetes dari telapak tangan dan bahu kananya, ia meraba kapsul yang diberikan Nara menelannya, menyemprotkan botol obat secepat mungkin ke lukanya.


Ia terbaring menatap langit yang pekat, di sana ia melihat ia dan putrinya juga mendiang suaminya tertawa bahagia, suaminya yang orang sipil.


Seorang guru SD yang baik, menggendong putri mereka tersenyum dengan bahagianya. Marta mengulurkan tangannya sebelum segalanya hilang, air mata menetes dari kedua retinanya.


Heru dan pion yang lainnya berusaha melawan kenangan yag mereka rindukan dan kesedihan yang mereka rasakan.


Tubuh mereka penuh luka, Mona berteriak histeris mengingat hujatan berbagai hater kepadanya, membuat ia membabi buta menyerang ninja 3 orang sekaligus, ia sudah bermandikan darah.


Tertawa dengan gilanya, "Matilah, kalian! Hahaha" ia berlari membantu Toto yang duduk bersujud meminta ampun kepada seseorang, "Maafkan aku, maafkanlah aku!" ucap Toto berulang-ulang.


Toto tidak peduli bila seorang ninja di depannya yang ia lihat sebagai adiknya yang telah meninggal akan membunuhnya, ia sudah pasrah untuk menebus kesalahannya.


Mona menebas leher si ninja dari samping hingga putus, ia melihat semua ninja seperti hater-nya yang selalu menghujatnya.

__ADS_1


"Toto, bangun!" teriak Mona. Ia menampar dengan keras wajah Toto, hingga ia sadar.


"Apa yang terjadi, Mona?" tanyanya melihat kesekelilingnya, "Lihatlah, mereka menjebak kita dengan halusinasi," jawab Mona murka.


Kabir melakukan hal yang sama dengan Marta, mengobati semua lukanya hanya saja lukanya tidak separah Marta. Karena Marta berlari merentangkan kedua tangannya menyongsong si ninja hingga ninja merah itu melukai bahu dan lehernya.


Ia melihat mayat ninja yang terkapar di samping Marta, Kabir mencoba mendekati Marta, ia tidak peduli lagi dengan banyak ninja yang mulai mengepung.


Semua temannya sudah di luar rumah, ia meraih denyut nadi Marta. "Alhamdulillah, ia masih hidup. Lukanya sudah mulai menutup,"


Kabir ingin membawanya ke dalam rumah, namun ia melihat ninja di atas bubungan rumah yang begitu banyak berbaris mengarahkan anak panah bambu ke arah mereka.


"Sial! Senjata laserku di dalam," umpatnya kesal, Kabir tidak melihat salah satu dari temannya membawa senjata laser.


"Awas! Di atas rumah pemanah," teriak Kabir.


Semua orang mulai tidak menyadarinya mereka seperti masuk ke dalam lingkaran halusinasi mereka, Kirana ke luar dari rumah beserta Hendro dan Nara membawa semua senjata dan ransel di punghung mereka,


"Kabir, Ledakkan rumah!" teriak Nara lari menjauh ke samping mengamankan semua senjata mereka yang tertinggal.


Kabir meraba granat di dalam sakunya dengan memanggul Marta di punggungnya, di samping kanan-kirinya semua orang masih sibuk melawan ninja dan berhalusinasi dengan semua yang mereka rasakan.


Apakah itu penyesalan maupun kegembiraan, sudah beberapa orang terluka. Bila mereka terluka dan keberuntungam datang mereka selamat.


Will masih melawan panah yang bertebaran ke arahnya dengan membuat tubuh ninja yang ia lumpuhkan sebagai tameng dan terus menembakkan laser ke arah ninja di atas bubungan rumah.


Junaid, Darmanto dengan darah yang masih menetes di tubuh mereka. Menggunakan samurai yang berlumuran darah dari lengannya, yang mengalir ke pedangnya bercampur dengan darah musuhnya.


Mencoba menggunakan sisa kekuatan mereka untuk melumpuhkan, ninja yang mengelilingi keduanya. Junaid dan Darmanto saling tatap dan menganggukkan kepala.


Mereka saling memunggungi dan menangkis serangan semua musuh mereka, darah terus menetes di tubuh mereka, "Aku bahagia berdiri bersisian dengan kalian," ucap Junaid di balik punggung Darmanto.


"Aku juga sama bangganya denganmu! Ayo, kalahkan mereka. Kelak bila napas masih ada, aku ingin minum kopi bersamamu." Junaid menebas musuhnya hingga kepala bergiling ke tanah.


"Ayo, aku juga sudah rindu kopi." Darmanto tersenyum.


Kabir mengambil granat yang ia curi dari laboratorium dan dari para tentara gadungan, ia mnggigit pengkaitnya, menarik dan melemparkan ke arah rumah.


Duar!


Sebuah ledakan membakar rumah dan ninja di atas bubungan, meratakannya dengan tanah. Ledakan rumah, membuat awan hitam menghilang dan matahari kembali bersinar menerangi hutan bambu.

__ADS_1


Semua pion tersadar dan menghabisi ninja yang tersisa, mereka berlumuran darah mereka bercampur darah musuh.


Masing-masing merawat luka dan menyembuhkannya.


__ADS_2