
Tidak berapa lama Kabir terbatuk dan siuman. Ia memegang tengkuknya ia masih merasa pusing, ia melihat ketiga sahabatnya dan Kevin, "Apa yang terjadi? Apakah mereka susah tahu tentang penyamaran kita?" tanyanya.
"Entahlah, mereka tiba-tiba membekap dan mau menghabisiku!" ucap Darmanto.
Heru masih memandang ke sekelilingnya derap langkah kaki tentara menuruni tangga dan keluar dari lift semua pintu gerbang telah dijaga dengan ketatnya, "Kevin, mengapa kau bersama dengan kami?" tanya Kabir.
Kevin hanya memandang ke arah Kabir, "Awalnya aku kira kau akan ditumbalkan untuk diambil organ tubuhmu, karena kita belum berhasil menangkap salah satu pion dan beeluf pakaian merah dan putih.
"Jadi, aku bermaksud menolongmu!" sambung Kevin. Ia sendiri pun tidak tahu mengapa ia begitu nyaman berteman dengan Sardi, walaupun ternyata itu bukanlah nama asli mereka.
Kabir dan ketiganya membuka topeng silikon mereka, "Wow, kalian benaran para pion?" ucap Kevin begitu bersemangatnya.
Ia tidak menyangka akan bertemu dengan para pion yang sangat melegenda akhir-akhir ini, dikarenakan begitu piawainya mereka melawan Alberto.
Selain itu Alberto sudah kalang kabut akan tingkah laku pion, setiap pertempuran selalu ditayangkan di layar virtual. Sehingga semua orang di pulau maupun di luar pulau yang menonton semua mengetahuinya.
Bahkan, ada yang terang-terangan mengidolakan para pion. Mereka menyangka semua itu hanyalah sebuah game dan tontonan menghibur, tanpa disadari para pion.
Mereka menjadi salah satu trendsetter di luar pulau, berbagai kaus telah disablon dengan 12 wajah mereka. Para anak-anak, remaja, orang tua semua menyukainya.
Mereka selalu menunggu dan menonton acara tersebut, bahkan sampai berjudi on line untuk memainkan game tersebut.
Kemajuan teknologi mampu memanipulasi segala hal baik kebenaran maupun kejahatan, tak seorang pun menyangka bahwa semua itu adalah suatu permainan yang harus dibayar dengan nyawa.
Kabir masih memegang kepalanya berusaha untuk sadar sepenuhnya, denyutnya masih terasa. Ia mencoba untuk melihat sekeliling, mereka masih bersembunyi di balik tangga darurat di sayap kastil bagian pintu utara.
Mereka berusaha untuk ke luar, akan tetapi sebuah desingan peluru kembali menghujam yang hampir saja, menembus kepala Darmanto.
"Sial!" ujarnya. Ia kembali berusaha untuk menembak ke arah tentara yang berlari menuju ke arah mereka, kelimanya mengeluarkan senjata.
__ADS_1
Kevin memberikan sebuah pistol kepada Kabir, mereka menaiki tangga mencoba untuk kembali naik karena semua pintu dan jalan sudah tertutup.
Suara deru pesawat mulai bergerak terbang dari apron di atas kastil, Alberto telah meninggalkan kastilnya. Ia tidak ingin terlibat dengan semua kekacauan bersama dengan Joe, Crabs dan seorang asisten wanitanya yang sama jeniusnya dan sama rakusnya seperti Crabs.
Alberto memandang ledakan beruntun di kastilnya, "Dasar bedebah! Untuk sementara kita mengungsi dulu, kita akan kembali jika segalanya tenang," ujarnya.
Ia masih memandang dari jendela pesawat asap dan api masih bertebaran di sana, ia tidak peduli dengan semua hal di bawah sana.
Ia ingin menyelamatkan nyawanya untuk sementara waktu, ke pulau sebelah yang telah ia kuasai. Ia benar-benar jenius, lagian ia sudah menutup semua jalur masuk ke pulau.
Kabir dan keempatnya sudah mulai tersudut, mereka masih menembakkan peluru dan berkelahi di sepanjang tangga darurat untuk mempertahankan nyawa.
Junaid mencari-cari sesuatu di sepatu botnya, ia meraih sebuah chip yang sudah dimodifikasi trio mekanik menjadi sebuah remote canggih yang hanya memiliki 1 tombol peledak saja.
Ia mulai ingin menekan satu tombol itu, "Kabir, kamu suda cukup kuat untuk bertempur dan berlari?" tanya Junaid. Kabir menganggukkan kepalanya, "Bersiap-siaplah pertunukan akan, dimulai!" ujar Junaid.
Duar! Duar! Duar!
Mereka berempat berlarian berusaha untuk mencari Alberto Kuro dan menyelamatkan diri, desingan peluru bercampur dengan ledakan beruntun menghancurkan kastil.
Mereka berlarian tak tentu arah mencoba untuk ke luar dari sebagian kastil yang sudah mulai runtuh, Kabir dan ketiganya mencoba untuk menyelinap mencari keberadaan Alberto, berusaha untuk membunuhnya.
Di perjalananan mereka kembali menyusup di antara ledakan mereka berusaha untuk naik ke lantai 3 kembali, sebaliknya semua tentara sudah bersiap mengepung mereka dengan senjata lengkap, kelimanya terkepung di lantai 2.
Kelimanya dengan saling memunggungi tubuh masing-masing mencoba untuk bertahan, semua senjata sudah mengarah ke mereka.
Joe maju, "Menyerah atau mati!" sarannya.
Kelimanya hanya diam, mereka hanya menunggu keberuntungan saja. Kelimanya saling menoleh, "Apakah kalian ingin menyerah?" tanya Kabir.
__ADS_1
"Hahaha lebih baik aku mati saja! Dari pada hidup segan mati tak mau," ujar Kevin.
Ketiganya memandangnya, "Wah, aku kira kau setia dengan Alberto?" balas Junaid.
"Aku hanya terpaksa melakukan semua ini, karena suatu kesalahan di korpsku saja!" jawabnya, "sumpahku untuk membela kebenaran, bukan memihak kepada sebuah konspirasi dan tirani yang tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan hati nurani!" tukas Kevin.
Keempat pion terharu, mereka tidak menyangka ada juga segelintir orang yang benar-benar baik.
Kevin memandang semua tentara, "Apakah kalian mengingat sumpah kalian sebelum menjadi tentara di negara kalian masing-masing? Mematuhi boleh, tapi yang benar-benar sesuai dengan undang-undang negara yang berlaku bukan?
"Apakah semua hal yang dilakukan Alberto dan kita lakukan selama ini sesuai dengan janji dan sumpah kita?" teriak Kevin.
Ia mencoba untuk mengajak sehabat-sahabatnya kembali ke jalan kebenaran, sebelum baku hantam dan kematian terjadi.
"Keputusan berada di tangan kalian, aku hanya ingin tanyalah hati nurani kalian?" hardiknya.
Beberapa tentara mulai goyah, mereka menjadi terpecah, mereka saling todongkan senjata. Sehingga pada akhirnya perkelahian pun terjadi, di antara tentara yang memiliki hati dan yang buta mata hatinya.
Kabir dan kelimanya mencoba untuk terus berkelahi dan mencoba untuk mencari celah agar bisa mengalahkan Joe.
Akan tetapi, tentara yang berhati baik terlalu sedikit dan kebanyakkan mereka juga tewas karena terlalu banyaknya orang-orang yang rakus akan uang, kedudukan.
Kabir berkelahi dengan Joe ia berusaha untuk mengalahkannya, "Jika aku bisa mengalahkannya, aku pasti akan mudah mengorek keterangan di mana Alberto bersembunyi."
Kabir melancarkan serangan-serangan pukulan telak ke arah Joe, akan tetapi Joe bukanlah orang sembarangan, Kabir belum juga mampu melumpuhkannya.
Suara ribut perkelahian dan pertempuran semangkin kencang di luaran. Kabir, Darmanto, Heru, dan Junaid merasa lega para pion dan beeluf sudah menyerang sesuai dengan kesepakatan.
Di luar terlihat dari 4 penjurh pintu para pion, beeluf, samurai, dan hatter lama bersatu menyerarang kastil mereka benar-benar ingin menghancurkan segala kerajaan dan tirani dari seorang Alberto Kuro.
__ADS_1
Mereka terus bergerak mengakahkan semua tentara, merka begitu mudahnya mengalahkan dan menduduki kastil. Yahmen dan Aoi memimpin beeluf merah di bagian pintu barat sudah menghancurkan separuh kastil.