
Para pion meninggalkan gua dengan membawa semua senjata hasil curian mereka, berjalan secepat mungkin menyusuri jalanan.
Melewati gurun nelalui lorong gua sebelah kanan dan terus menuju ke dalam Hutan Kegelapan, suasa pagi buta di mana matahari pun masih enggan muncul di cakrawala.
Mereka bergegas dan bergerak secepat mungkin, berlarian di antara pasir gurun. Udara sedikit hangat, "Pagi ini, sedikit indah ya?" ucap Kirana.
Ayesha di sebelahnya tersenyum, "Pulau ini sangat eksotik, andaikan tidak adanya Alberto. Di sini adalah tempat yang bagus untuk petualangan, bukan perang." Ayesha menatap gurun,
entah sudah berapa banyak darah tertumpah di gurun ini. Bangkai-bangkai manusia pun berserakan di sela timbunan pasir, tidak terhitung lagi jumlahnya.
Namun, Ayesha mengingat di sepanjang ia tinggal di sini. Pertempuran kali inilah, Alberto mendapatkan banyak kerugian baik secara materi dan nyawa.
Ayesha melihat semua pion dengan semangat yang luar biasa, walaupun semua orang tidak akan memahami di balik wajah-wajah polos dan selalu tertawa itu terdapat suatu hal yang luar biasa.
Heru memandang istrinya, ia merasakan sesuatu hal yang ia sendiri pun tidak tahu perasaan apa, "Aku melihat Ayesha menyimpan banyak rahasia," batinnya.
Ia mengingat 15 tahun yang lalu, istrinya yang selalu sakit-sakitan. Ayesha tidak bisa banyak bekerja dan tubuhnya selalu lemah, saat ia mengandung Nisa, ia harus 9 bulan di infus dan terbaring di brankar rumah sakit.
Kini, Ayeshanya menjadi salah satu wanita yang luar biasa. Akan tetapi, ia lebih banyak diam, dan termenung. Berbeda di saat pertama mereka bertemu di gua air terjun,
Heru masih melihat keceriaan dan tawa indahnya, tetapi sejak terakhir mereka bertemu di Hutan Kegelapan di pohon gerowong. Heru merasakan Ayesha banyak berubah,
walaupun ia masih tetap perhatian kepadanya, ia melihat Ayesha tidak ingin jauh darinya. Setiap tidur pun ia selalu ingin dipeluk, semua hal. Ia ingin selalu bersama dengan Heru,
"Apa yang disembunyikan oleh Ayesha?" batinnya. Ia mulai galau, "Ada apa, Kak?" tanya Kabir. Ia lebih senang memanggil Heru dengan Kak dari pada Bapak,
Heru menoleh ke arah Kabir ia hanya menggelengkan kepalanya. Mereka terus berlarian, akan tetapi dari kejauhan mereka melihat iring-iringan beberapa kendaraan sepeda motor.
Semuanya saling pandang, dan berlari secepat mungkin. Ayesha menggunakan ilmu sihirnya untuk membuat badai pasir, "Seharusnya nanti malam berangkat, akan tetapi .... " batin Ayesha.
Mereka berencana malam hari meninggalkan gua air terjun, tetapi karena Alberto terus-terusan menyisir gua air terjun dengan mengirimkan lebih banyak tentara, mereka memutuskan pagi hari pergi meninggalkan gua.
__ADS_1
Apalagi, Ayesha merasa ia tidak mampu untuk terus-terusan membuat perisai pelindung di sekitar mereka. Tenaganya selalu terkuras ia tidak sekuat para tetua,
Ayesha terus membuat badai pasir akan tetapi, ia sudah terluka kala mengobati Darmanto dan Junaid.
Mereka berlarian, di tengah-tengah pasir gurun. Heru memandang ke arah istrinya. Wajah Ayesha terlihat sangat pucat, ia tidak tega melihatnya.
Ia menarik lengan Ayesha untuk terus berlari, iring-iringan sepeda motor semangkin mendekati mereka tertawa-tawa di sela deru suara knalpot.
Mereka membawa senjata di punggung dan tangan, para pengendara sepeda motor telah mendekati mereka. Badai pasir sudah melemah, Ayesha sudah semangkin melemah di dalam berlari.
Heru mencoba merengkuh tubuh istrinya, Ayesha masih terus mengepalkan tangannya. Ia ingin menyelesaikan perlindungannya,
"Ayesha, sudahilah! Aku tidak ingin kau terluka," teriak Marta. Di dalam beberapa hari ini mereka, tahu Ayesha terus-terusan menggunakan kekuatannya.
Ayesha seketika ambruk bersamaan dengan badai pasir yang kembali jatuh buyar ke bumi, Heru secepat kilat menangkap tubuh istrinya yang semangkin ringan dan kecilnya.
"Rusa, nakal!"teriak Hendro. Si rusa langsung muncul, "Bawa Ayesha ke, para tetua!" perintah Hendro.
Semua pion bersiap mengeluarkan senjata, mereka melihat para serdadu bayaran yang di datangkan dari luar negri.
Mereka ridak menggunakan pistol, melainkan membawa senjata tajam di tangan mereka, "Hahaha, mereka terlihat biasa saja! Tidak ada yang istimewa!" ujar salah satu pria berwajah sangar di dalam bahasa Inggris.
Mereka berbicara cepat dari berbagai bahasa yang sulit dipahami, para pion hanya mengetahui Bahasa Ibu dan Bahasa Indonesia juga Inggris,
Semua pion membentuk lingkaran mereka membagi menjadi 2 kelompok saling memunggungi, "Sukuna!" ucap seseorang.
Ia turun dari sepeda motornya, "Akashi, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sukuna.
Pria bernama Akashi hanya terdiam, "Aku hanya ingin berburu, aku tidak menyangka salah satu buruanku adalah kau!" ujar Akashi tersenyum riang.
Sukuna menggenggam samurainya kebih kencang, "Sial, mengapa pria gila dan psikopat ini harus di sini?" batin Sukuna.
__ADS_1
"Akashi, dibayar berapa kau menjadi budaknya!" tanya Sukuna di dalam bahasa Indonesia. Akashi hanya tersenyum, "Kalau aku tahu kau salah satunya, aku pasti meminta bayaran yang sangat mahal!" ujar Akashi.
Sukuna semangkin berang, ia menyesal dulu sangat tergila-gila dengan Akashi hingga ia meninggalkan kuliahnya. Namun, cinta Akashi kepadanya tidak sebesar cinta Sukuna.
Akashi mengkhianatinya dan lebih memilih menjadi Yakuza ketimbang dirinya, "Aku lebih mencintai diriku untuk menjadi yakuza dari pada memilihmu!" kata Akashi.
Kata-kata itu masih terus mengingang-ngiang di gendang telinga Sukuna, hingga ia pun menjadi salah satu yakuza hebat di Jepang meneruskan Klan Yakuza Yamamoto sang ayah.
"Menjijikkan!" umpat Sukuna.
Akashi tidak menyangka ia bertemu dengan pujaan hatinya, ia sangat mencintai Sukuna.
Akan tetapi ia terlanjur membuat sumpah dengan salah satu Klan Yakuza Hiroshi, hingga ia harus melupakan Sukuna.
Akashi masih memandang wajah Sukuna, "Ia masih terlihat cantik! Sial, Alberto!" umpatnya kesal.
Akan tetapi, mau tidak mau ia harus bertempur dengan Sukuna. Akashi mengambil sebilah pedangnya, maju bertarung dengan Sukuna.
Semua serdadu telah turun dari sepeda motornya menarik senjata masing-masing, mencoba untuk saling membunuh dan mendapatkan uang yang cukup banyak dari Alberto.
Seorang pria besar memilih Kabir, ia begitu berkeinginannya untuk membunuh Kabir. Dari semua pion Kabirlah yang memiliki harga kepala yang sangat menggiurkan,
"Hei, serahkan saja kepalamu yang seharga 500 juta itu!" ucapnya di dalam bahasa Inggris.
Kabir mencoba memcerna kata si pria bule, "Wah, murah sekali! Dibandingkan dengan kerusuhan yang kami buat," ucap Kabir.
Mona dan yang lain sudah bertarung di sekitar Kabir, mereka mencoba untuk mengambil dan mempertahankan sebuah nyawa.
Lagi-lagi di angkasa layar monitor kembali bergema, memampangkan pertempuran.
Dengan menghisap cerutunya Alberto tersenyum dengan puasnya, ia berharap kali ini ia akan berhasil membunuh mereka.
__ADS_1
Ia sudah lelah, sudah hampir 3 bulan ia belum juga mampu membunuh mereka semua, bahkan salah satu dari pion itu belum ada yang meninggal.