
Para pion wanita dan beeluf masih berlarian dengan angin badai yang sering mengikuti ke mana pun langkah mereka berlari. Hal itu membuat drone dan heli Alberto selalu meledak, karena terserang badai pasir sihir milik beeluf pakaian merah.
Mereka terus memasuki Hutan Kegelapan melalui danau ase, di mana Kirana dan Kabir pernah berada di sana.
Mereka mengambil air secukupnya dan memakan makanan yang diberikan oleh sesepuh beeluf,
"Bila kalian kelaparan dan terluka, makanlah sejumput madu ini!" pesan Sesepuh Yahmen.
Mereka terus berjalan melintasi hutan kecil di danau ase, Ayesha mengetuk-ngetuk pohon gerowong di mana Kirana dan Kabir berlindung.
Tok! Tok! Tok!
Ayesha mengucapkan sesuatu di dalam bahasa sansekerta, pintu terbuka dari pohon gerowong. Mereka memasukinya dengan cepat dan kembali Kirana melihat pintu tertutup.
Mereka masuk ke sebuah ruangan yang luas yang sama persis dengan di luaran sebelum mereka masuk, wanita tua berbaju beeluf putih duduk di bawah pohon beringin rindang.
Ia tersenyum menyambut Ayesha dan semua pion, "Selamat datang, bagaimana kabar Sesepuh Yahmen?" tanya Mano.
Mereka terkejut, "Apakah sesepuh ini, Ketua Mano?" tanya Ayesha. Mereka tidak menyangka begitu mudahnya menemukan Mano.
Semenrara selama ini tiada satu pun yang berhasil menemukannya,
"Selamat datang, Ayesha dan kamu pion hebat, Kirana. Ke manakah suamimu?" tanya Ketua Mano.
"A-aku belum menikah, Sepuh!" jawab Kirana terbata, "Sekarang belum, suatu saat nanti!" balas Mano.
"sepuh, ini pemberian dari Sesepuh Yahmen!" ucap Ayesha. Ia memberikan tabung bambu dan sepucuk surat, ia menerima dan memandang kedua benda dengan mata berkaca-kaca, ia meneteskan air mata memeluk kedua benda itu.
Semua orang tidak memahami arti tulisan yang tergambar di sebuah kertas panjang berwarna putih.
Beberapa wanita beeluf datang dengan membawa buah-buahan, mereka melihat beberapa anak-anak berlarian.
Semua orang saling pandang, "Sepuh, anak-anak ini?" tanya Ayesha.
__ADS_1
"Jangan panggil aku sesepuh. Yang berhak atas itu adalah Yahmen, aku hanyalah ketua. Mereka adalah anak-anak kami, beeluf berpakaian putih menikah." Mano memandang semua orang,
"dengan para hatter, samurai, maupun ninja," ucap Ketua Mano. Ia menggendong salah satu anak yang berlarian, mendekat ke arahnya.
"Menikah dengan hatter dan samurai?"tanya Mona. Ia merasa heran beeluf yang lembut akan menikahi hatter si barbar dan samurai yang terlalu patuh seperti halnya ninja.
Ayesha kebingungan, "Aku kira beeluf tidak, menikah?" ucapnya.
Ketua Mano menurunkan si bocah yang masih ingin bermain dengan kawan-kawannya,
Mano menyentuh punggung Ayesha, "Bukan, tidak menikah. Kerena beeluf merah, tidak adanya lelaki di antara kalian. Lagian Yahmen dan Yura menyelamatkan kalian, dari Alberto. Kalian kesemuanya sudah memiliki keluarga sendiri di dunia kalian," ucap Ketua Yahmen.
Ketua Mano tersenyum, "Di Hutan Kegelapan di bagian paling dalam ini, kami berusaha untuk menjaga hutan dengan pernikahan,
"karena banyaknya kaum pria dan wanita. Hal itu, ditakutkan akan berbuat sesuatu yang dilarang alam dan agama, hingga kami memilih menikah!" jawab Mano.
"Apakah Ketua Mano menikah, juga?" tanya Nara. Ia begitu penasarannya.
Mano tersenyum,
"mereka yang masih muda-muda yang menikah, bagi kami yang tua hanya melihat mereka bahagia saja." Mano membawa mereka melintasi pepohonan yang besar-besar,
dari atas pohon mereka melihat rumah-rumah pohon di sana, para wanita berpakaian putih dan pria berpakaian sesuai klan mereka berasal yaitu, hatter, ninja, samurai, ataupun pion yang berhasil diselamatkan oleh beeluf.
Mereka melihat banyak para wanita dan pria-pria berlatih tempur di bawah pohon besar lain, "Bukankah, mereka yang terlihat tempo hari menolong kita? Selain kelompok Ketua Yura!" ucap Marta.
Ia mengenali seseorang di sana yang memiliki tanda lahir sebesar telur ayam di bahu kirinya berwarna merah, si wanita beeluf melihat ke arah Marta dan tersenyum.
Marta menghampirinya mereka bercakap-cakap, "Terima kasih, telah menyelamatkan kami di gurun!" ucap Marta. Wanita beeluf itu tersenyum,
"Kami senang, ada orang baik dan hebat seperti kalian!" jawabnya.
sedetik kemudian mereka berlatih bersama.
__ADS_1
Mereka kembali berjalan, meninggalkan Marta, mereka melintasi kawasan pohon dan tanaman buah-buahan.
Seorang pria hatter tua berada di atas batu besar,
ia sedang menganyam bambu menjadi keranjang, ia melihat Nara dan melihat golok miliknya. Ia berkomat-kamit dan golok Nara melesat, ke arah si hatter tua yang sudah sangat uzur. Ia menggengam dan memeluknya dan penuh kerinduan,
Nara begitu kagetnya, ia tidak menyangka ada sesuatu yang membuat golok itu melesat, seakan-akan semuanya seperti sebuah ilusi.
Mano melihat ke arah Nara, "Pria tua itu, adalah Balian. Si ketua hatter yang sesungguhnya," kata Mano.
Ia memandang Balian dengan rasa sayang, "Pergilah, kepadanya! Golok itu adalah miliknya, ia akan mengajarimu menggunakanya," perintah Mano kepada Nara.
Tinggallah Ayesha, Rani, Mona, Kirana, dan Hendro. Mereka masih mengikuti Mano, di depan sebuah rumah bambu bergaya Jepang.
Mereka melihat pria tua yang sedang mengajari beberapa anak, dari berbagai klan dengan memegang sebilah bambu untuk bermain pedang.
Ketua Aoi melihat ke arah mereka, ia tersenyum. Saat ia melihat samurai yang berada di punggung Mona, ia menatap dengan sebuah senyuman ia melambaikan tangan ke arah Mona.
"Pergilah, ia pemilik samurai itu. Mintalah kepadanya untuk mengajarimu, menjinakkan kekuatan sihir di dalam pedang. Yang belum selesai tempahannya, itu!" cetus Mano.
Mona mengikuti saran Mano, ia melihat ke arah Hendro. Ia tersenyum, "Jangan khawatir, calon istrimu adalah wanita yang hebat. Kamu pergilah ke arah sana, cobalah menangkap rusa itu?" perintah Mano kepada Hendro.
Seekor rusa jantan berlarian di balik pohon seakan mengejek Hendro, ia pun secepat kilat berlari mengejarnya hingga melintasi semua hutan kegelapan. Akan tetapi, sampai malam pun ia belum berhasil menangkapnya.
Ia hanya istrahat makan malam dan tidur, semua anak-anak tertawa melihat tingkah Hendro. Ia mulai kesal tetapi, ia selalu saja melihat rusa itu mengejeknya untuk menangkapnya.
Ayesha dan Rani belajar ilmu sihir kepada Mano, sedangkan Kirana ia berlatih menggunakan kunai, shuriken dari seorang wanita ninja yang tidak pernah terlihat wajahnya.
Ia begitu lelahnya berlarian dengan melemparkan shuriken, dan berulang kali terjatuh dan terbentur, dari atas pohon maupun membentur batang pohon.
Mona berulang kali kalah dipukul oleh Ketua Aoi di punggungnya dengam sebuah kayu, Mona tidak sedikit pun berhasil menyentuh tubuh Ketua Aoi.
Nara berulang kali berlarian dan jatuh tertimpa goloknya sendiri, ia merasa goloknya tidak bersahabat sejak bertemu pemiliknya.
__ADS_1
Namun, Ketua Balian selalu saja memaksanya agar berlari dengan menebas semua anak-anak panah yang ditembakan ke arahnya, rasanya ia ingin menyerah.